“Lo?” Abian mendelik saat mendapati wanita yang baru tadi malam diselamatkannya sudah berada di depan pintu kamarnya dengan pakaian yang masih sama. “Ha-hai … kirain belum bangun.” Wanita yang tengah memakai kemeja warna marun itu tersenyum pada Abian. Pipinya sedikit memerah lantaran d**a bidang Abian yang terekspos, tertangkap netra nya. “Lo demam?” Abian menempelkan punggung tangannya di dahi Thea. “Hah?” Thea melongo. “Pipi lo nih, kok berubah warna jadi merah sih. Jadi mirip boneka deh! ” Abian bergerak mencubit pipi Thea sekuat tenaga. “Ish!” Thea buru-buru menepis tangan Abian kuat dan mundur satu langkah. “Galak amat, Neng.” Abian mengusap punggung tangannya seraya melirik Thea, gadis yang tingginya hanya sebatas pundaknya. “Lagian, dari mana lo tau kamar gue?” Abian menyipit

