Thea membungkam kembali. Pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Abian ia anggap angin lalu. Ia tak mau terjerumus lebih jauh pada pesona laki-laki yang Thea akui punya kelebihan itu. Kelebihan yang mungkin tak akan bisa ia temukan pada laki-laki lainnya. “Sariawan, bukan. PMS, juga bukan.” Abian mengetuk-ngetukkan telunjuk kanannya pada dagu dengan arah pandangan ke atas. “Jangan-jangan Lo … lagi kerasukan hantu lift ya?” Uhuk! Uhuk! Thea tersedak air liur sendiri yang barusan ia telan untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Batuknya ternyata lumayan parah hingga membuat air mata gadis itu bercucuran. “Eh, kamu nggak papa?” Abian beringsut maju, menepuk-nepuk punggung Thea sedikit kuat hingga akhirnya batuk Thea mereda. “Kalau ngomong jangan ngasal deh!” semprot Th

