“Nona, berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah saya lakukan, Anda kemungkinan mengalami fobia terhadap laki-laki. Hal ini disebut dengan Androphobia, yaitu sejenis perasan takut berlebihan ketika berhadapan dengan laki-laki. Adapun reaksi fobia yang terjadi pada diri Anda adalah Anda akan merasakan mual dan muntah. Saran saya, Anda memerlukan penyembuhan secara psikologis, Nona. Kalau tidak, kemungkinan terburuknya, Anda tidak akan pernah tahu seperti apa rasanya menikah dan berumah tangga.”
Sebuah informasi dari dokter yang Thea peroleh saat mendapati dirinya pingsan tatkala ia terpaksa melayani beberapa pengunjung berjenis kelamin laki-laki di kafenya. Ya, Thea sekarang memiliki fobia terhadap laki-laki dan penyebabnya karena dua laki-laki yang begitu penting dalam hidupnya.
Sudah seminggu sejak ia memutuskan untuk menghandle kafenya yang ada di kota Malang, Thea memutuskan hanya memperkerjakan pegawai perempuan tanpa adanya laki-laki. Namun, bukan berarti ia tak mempersilahkan pengunjung kafe berjenis kelamin laki-laki untuk menikmati makanan di kafe barunya ini.
Thea sudah membuat jam khusus bagi makhluk berjenis kelamin laki-laki yang hendak makan di kafenya, yaitu mulai dari jam empat sore sampai jam sepuluh malam. Di jam-jam itu, Thea akan meminta Kansha sepenuhnya yang mengawasi kinerja para pegawai di kafenya. Dirinya sendiri akan kembali ke kontrakan kecil yang ia sewa tidak jauh dari lokasi kafenya.
Menikah? Berumah tangga?
Dua kata itu seolah lenyap dalam cita-cita hidup seorang Thea. Semenjak pengkhianatan dua laki-laki yang berarti dalam hidupnya, ia sanksi untuk percaya terhadap laki-laki lagi.
Drreet!
Ponsel yang ia letakkan di atas meja bergetar. Matanya menyorot pada kontak nama yang terpampang di layar ponselnya, tanpa ragu, Thea pun menjawab panggilan masuk itu.
“Assalamu’alaikum, Bunda.”
[Wa’alaikumsalam. Gimana kabar kamu di sana?]
“Thea cukup betah di sini Bund,” ucap Thea ketika menjawab pertanyaan Hanny dalam panggilan teleponnya. “Juga sangat merindukan Bunda,” lanjut Thea dalam hati. Thea tidak ingin Bundanya merasakan kekhawatiran, mengingat dirinya yang tak pernah jauh dari sang bunda. Kepergiannya waktu itu pun tidak sepenuhnya direstui oleh Hanny.
[Thea, Bunda mau mengabari kalau Thea akan menjadi seorang kakak]
DEG!
Jantung Thea terasa berhenti berdegup kala mendapatkan berita mengejutkan dari Hanny. Ia kembali mengingat sebuah surat yang sempat ia titipkan pada Nela, sekretaris sang ayah sebelum keesokan harinya ia berangkat ke Malang.
Untuk Ayah, yang dulu aku cintai dan kagumi.
Ayah, Thea menulis surat ini karena Thea tidak ingin berbicara tak sopan tatkala harus berbicara empat mata dengan ayah. Bagaimanapun, Thea masih harus tahu sopan santun terhadap orangtua yang meskipun sudah mengkhianati statusnya sebagai imam keluarga bukan?
Ayah tentu tidak amnesia. Ayah tentu tau pasti di hari ulangtahun ayah, Thea mengunjungi ayah di perusahaan. Mungkin ayah tidak akan merasa terkejut kalau putrimu ini tahu pasti perzinahan yang ayah lakukan dengan wanita lain di kamar kantor ayah. Sayangnya, sampai saat ini Thea belum mendengar ‘permintaan maaf’ dari mulut ayah padaku juga pada Bunda.
Tahukah ayah? Di hari yang sama, Thea juga menjumpai Genta melakukan perzinahan seperti ayah. Dua laki-laki yang selama ini menjadi dua orang terpenting di hidup Thea secara bersamaan menghancurkan hati Thea begitu dalam. Thea rasanya nggak bisa bernapas lagi di hari itu.
Ayah, kala itu Thea berpikir, ‘Apakah kekurangan Bunda bagi ayah? Apa kekurangan Thea buat Genta?’
Thea masih berusaha berfikir waras namun masih tetap tak mengerti. Ayah memang sudah menyakiti hati Thea, tapi ‘sedikit saja’ Thea masih berharap, Ayah nggak akan lagi menyakiti hati Bunda.
Thea akhirnya memutuskan untuk pergi. Thea harap ayah bisa membahagiakan Bunda. Tidak lagi bermain wanita di belakang Bunda.
Tolong jangan harap Thea akan segera pulang. Yang pasti, Thea akan pulang lagi ke rumah di saat hati Thea sudah mampu untuk memaafkan ‘kesalahan’ ayah.
Untuk hati yang Ayah sakiti,
Putrimu yang cantik
Thea Putri Zaihar
Thea mengusap buliran air mata yang berhasil turun tanpa disertai isak tangisnya. Thea sangat tahu bagaimana kehadiran seorang anak kembali sangat diharapkan oleh kedua orangtuanya di usia mereka yang hampir memasuki usia senja. Semoga kehadiran calon adiknya itu bisa menjadi sebab tawa untuk kedua orangtuanya, terutama untuk sang Bunda.
“Thea ikut bahagia mendengarnya. Sudah berapa usianya, Bund?”
[Kata dokter delapan minggu]
“Yah, belum keliatan jenis kelaminnya dong!”
[Thea maunya adik laki-laki atau perempuan]
“Apa saja, Bund. Yang penting sehat wal’afiat sampai Bunda melahirkan”
[Makasih, Sayang. Kapan Thea akan pulang?]
“Oh, ayolah Bund. Thea baru satu minggu di sini. Thea pasti akan pulang tapi nggak sekarang”
[Oke-oke. Baik-baik ya di sana. Jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan ya, Sayang. Dapat kecup hangat dari Ayah. Bunda tutup dulu. Assalamu’alaikum]
“Okey Bun. Wa’alaikumsalam.”
Thea menghela napas. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi putar yang didudukinya. “Thea lebih berharap calon adik Thea laki-laki, biar bisa ngejaga Bunda dari laki-laki manapun yang berusaha menyakiti Bunda,” gumam gadis yang kini tengah menatap langit-langit ruang kerjanya di kafe barunya.
***
Seorang laki-laki yang belum juga melepas jas kedokterannya, tengah merebahkan diri di sofa ruang santai apartemennya. Terhitung sudah satu tahun lamanya ia tak lagi menjalin komunikasi dengan sang mantan kekasih. Ibunya yang paling menyesalkan kandasnya hubungan dirinya dengan sang mantan kekasih yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri.
Genta beranjak bangun dan memutuskan untuk memasuki kamar mandi. Ia butuh menyegarkan diri dari rasa lengket yang menemaninya akibat aktivitasnya selama di rumah sakit.
Brakz!
Sebuah bingkai foto terjatuh dari atas meja tidurnya tatkala Genta tergesa-gesa mengambil handuk yang tergeletak di atas ranjangnya. Ia memungut bingkai foto yang kacanya sudah pecah itu.
Tak lama kemudian, air mata mengumpul di pelupuk mata Genta, tatkala melihat dua manusia yang saling tersenyum pada foto yang tengah ia pegang. Foto dirinya dengan Thea. Mungkin ini adalah foto terakhir yang ia simpan sampai sekarang karena setelah ini Genta memutuskan untuk membakarnya.
Semua sudah berakhir. Thea sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri perjalanan cinta mereka dengan sebuah pengkhianatan. Satu tahun Genta memberikan mereka waktu, berharap masih ada secercah harapan akan hubungannya, namun sampai saat itu, Thea tak juga lagi menampakkan batang hidungnya. Itu berarti Thea memang benar-benar mengharapkan hubungan mereka berakhir.
Tring! Tring! Tring
“Hem?”
“…."
“Oke, aku akan jemput kamu. Aku mau mandi dulu sekarang.”
Klik!
Genta menyunggingkan senyum tatkala panggilan di ponselnya telah berakhir. Ia kemudian memasuki dapurnya, menyalakan kompor gasnya dan mulai membakar foto kenangan terakhirnya bersama Thea. Setelah ini, dirinya memutuskan untuk menjalin hubungan baru dengan seorang wanita. Wanita yang menurutnya lebih bisa mengerti dirinya dibandingkan sang mantan kekasih.
Sebagaimana sifat khas seorang Genta, ketika ia memutuskan untuk menjalin kisah yang baru dengan seorang wanita, ia akan berlaku setia. Jadi, untuk apa lagi menyimpan kenangan dengan sang mantan?
***
“Aku kangen kamu,” seru seorang wanita yang kini tengah memeluk Genta dari belakang. Sementara dirinya tengah sibuk membuat nasi goreng di atas kompor.
“Peluk-peluk deh sepuasnya. Mumpung udah ketemu.” Genta membiarkan wanita yang kini berstatus sebagai kekasihnya itu untuk bergelayut manja di punggungnya.
“Kalau peluk aja masih kurang, Beb. Maunya lebih,” Jari lentik dari pacar Genta mampir menarik hidung mancungnya.
“Eits, kalau minta lebih. Nunggu kita sah dulu ya?”
“Kan ini udah sah!”
“Sah jadi suami istri maksudnya.”
“Sah-in yuk besok ke KUA?” Aktivitas yang dilakukan Genta spontan berhenti. Seketika pikirannya melalangbuana pada interaksi yang ia lakukan bersama Thea, sama persis dengan yang tengah dilakukannya seperti sekarang.
“Sayang, kita makan berdua udah, cuci piring berdua udah, masak berdua juga udah. Terus kapan tidur berduanya?” Genta tengah memeluk tubuh Thea dari belakang, yang dipeluk tengah membuat nasi goreng kesukaannya.
“Kalau udah sah jadi suami istri-lah!”
“Sah-in sekarang yuk, kita ke KUA!”
“Genta ….” Panggilan sang pacar yang tak lain bernama Milka itu sukses membuyarkan lamunan Genta.
“Kamu duduk gih, aku siapin nasi gorengnya nih, udah matang.” Tanpa menjawab pertanyaan dari Milka, Genta lebih memfokuskan dirinya dengan persiapan makan malam mereka di apartemen Milka tentunya. Karena di lubuk hatinya, nama Thea masih bertahta di sana.
“Oke.” Nada suara Milka terdengar kecewa dan Genta memutuskan untuk tidak terlalu mempersoalkannya. Wanita yang sebenarnya adalah anak angkat dari bibinya itu terlihat lesu karena lagi-lagi, laki-laki yang dicintainya itu tidak merespon ucapannya saat menjurus ke hal yang lebih serius terkait dengan hubungan mereka.
Dari awal, Milka sudah sadar diri bahwa pacarnya itu masih belum sepenuhnya melupakan sang mantan kekasih. Setidaknya, Milka tahu pasti bahwa Genta berusaha untuk merajut tali kasih dengannya dengan sungguh-sungguh bukan semata-mata karena pelampiasan sakit hatinya terhadap sang mantan kekasih.
“Genta, aku cinta kamu. Kalau kamu?” Tanpa malu, Milka mengungkapkan kalimat yang sudah lama ingin ia keluarkan semenjak ‘rasa’ itu memenuhi hatinya untuk Genta. Wanita itu meremas jemari tangan kekasihnya.
Genta menatap lekat wajah Milka, dalam sepersekian detik. Pria itu tengah berusaha meyakinkan hatinya, berperang dengan rasa yang tak seharusnya masih ada. Sampai akhirnya, ia berkata, “Aku … juga."
***