Aku Benci Dia

1114 Kata
Benar kata orang, seberapa lama sepasang manusia menjalani status yang bernama pacaran bukan berarti mereka berjodoh. Kalau dipikir-pikir menyedihkan juga menghabiskan waktu dan kasih sayang hanya untuk menjaga jodohnya orang lain. “Mungkin Genta bukan jodoh lo.” Thea melirikkan matanya pada sosok gadis hitam manis yang merupakan tangan kanan di kafenya. Gadis bernama lengkap Kansha Indonesia itu sedikit banyak mengetahui bahwa bos cantiknya itu memiliki seorang kekasih yang berprofesi dokter dengan nama Genta. Bagaimana tidak tahu, Thea dan Kansha dulu merupakan teman satu SMA di sekolah dan menyaksikan bagaimana perjalan kisah bos cantiknya itu. Akan tetapi, Kansha tak seberuntung Thea. Ia mendapatkan ijasah SMA tanpa melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi seperti Thea. Kondisi ekonomi keluarganya yang membuatnya hanya bisa mengantongi ijasah SMA. Namun, ia masih merasa bersyukur karena saat dirinya tengah mencari pekerjaan, Thea menawarinya untuk sudi bekerja di kafe yang ternyata Thea rintis semenjak mereka berada di kelas XII. “Bodoh ya gue!” ucap Thea seakan kisah cintanya itu merupakan hal yang patut ia sesali dalam hidupnya. “Kalau udah pinter, ngapain masih terus sekolah?” timpal Kansha sambil terkekeh. “Tapi, gue masih nggak nyangka aja sih, cowok yang setahu gue nggak pernah neko-neko kayak gitu, bisa juga berkhianat.” “Gue udah ngebosenin kali bagi dia. Seorang cewek manja yang terus menerus minta buat dingertiin!” Setahu Kansha, bos cantiknya itu terlihat mandiri dan tidak pernah mengeluh. Gadis yang berasal dari keluarga golongan atas yang sudah mampu merintis usaha sendiri dari uang saku yang sering ia dapatkan dari ayahnya. Namun, Kansha juga tidak menampik bahwa sosok Thea akan berubah menjadi manja saat berdekatan dengan Genta. Ya, saat mereka memiliki waktu berdua, sosok Thea yang terlihat tidak mau bergantung pada orang lain itu berubah menjadi sangat manja. “No comment kalau itu.” Kansha mengedikan bahu, ragu akan ucapan yang disampaikan bos sekaligus sahabatnya itu. Terus, rencana elo setelah ini?” lanjut Kansha. “Gue udah punya tekad bakalan pindah ke Malang. Ngehandle cabang kafe baru di sana.” Thea sudah memutuskan hal tersebut. Tak baik baginya bertahan di tempat yang membuatnya kini tak merasa nyaman lagi. “Kapan lo berangkat?” tanya Kansha. “Seminggu lagi, mungkin,” jawab Thea sembari menumpukan dagunya pada kedua tangan. “Oke, gue bakal ikut!” putus Kansha. “Serius?” Thea merasa senang tatkala mendengar sahabatnya itu akan menemaninya di kota yang Thea sendiri tak pernah berkunjung ke sana. Kansha mengerutkan dahinya dan bibirnya yang sedikit mengerucut itu membuka suara, “Gimana ya? Gue nggak tega aja sih, ngebiarin bos cantik gue jadi orang ilang sendirian di sana,’ “Ish, asem lo!” Thea menoyor pelan kepala Kansha, membuat si pemilik kepala tertawa. “Seenggaknya, gue bisa melepas rindu di tempat gue dibesarkan,” ucap Kansha yang memnag menghabiskan masa kecilnya di Malang dan baru pindah ke Jakarta saat ia masuk sekolah menengah pertama dikarenakan ikut ayahnya. *** “Kamu kenapa?” seorang perempuan yang masih memakai seragam khas pegawai kantoran duduk tepat di hadapan Genta. Mereka kini tengah berada di apartemen Genta, tepatnya di ruang utama. Ruang yang sering mereka tempati tatkala bertukar pendapat. “Putus. Aku habis diputusin Thea.” Genta menyugar rambutnya. Ada guratan kesedihan yang terlihat jelas di manik matanya dan perempuan yang dihadapannya itu sangat tidak menyukai ekspresi itu. Ada keterkejutan yang menghiasi wajah perempuan di depan Genta itu. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum smirk diam-diam. “Kok bisa? Bukannya kalian baik-baik aja?” “Gue juga nggak tau kesalahan gue apa, Mil? Thea tiba-tiba mutusin gue semalem. Dan hari ini, di saat gue berusaha nemuin di di kampus buat memperjelas semuanya, Thea tetep bersikeras buat putus tanpa ngasih tau alasannya. Dan udah nganggep gue orang asing, gitu.” Genta meremas rambutnya. Wajahnya sendu. Milka, perempuan yang sebelumnya ditelpon Genta untuk datang ke apartemennya itu, kini menggeser tubuhnya, mendekati Genta. “Mungkin lo udah buat kesalahan yang fatal sama dia.” “Kesalahan apa, Mil?” Genta menoleh ke arah Milka. Manik matanya kini sudah mengembun. “Lo tau sendiri kan kalau gue itu selalu mengalah sama dia. Karena gue cinta banget sama dia.”Genta menepuk kuat dadanya sendiri. “Cinta gue itu nggak sebercanda itu!” pekiknya. “Gini, Gen. Sebenernya, dari pertama gue liat dia, gue itu nggak seneng sama tingkahnya yang terlalu manja ke elo. Persis kayak anak kecil yang selalu minta diperhatikan. Padahal jelas-jelas, elo itu orang sibuk,” omel Milka. “Dan gue cinta ke elo. Gue nggak suka cewek itu jadi pacar lo, Gen,” lanjut Milka dalam hati. “Ya udah lah. Putus ya putus aja. Lagian, Thea kayaknya udah main di belakang gue, sampai akhirnya dia hamil.” Genta mengarahkan pandangannya pada foto mantan kekasihnya yang terpajang di dinding. Ia kini kembali mengingat bagaimana Thea terus saja muntah di depannya. “Ha-hamil?” ulang Milka tak percaya. Genta mengangguk mantap. Lalu ia menggenggam jemari Milka. “Elo jadi cewek yang harus bisa jaga diri ya, Mil? Jangan kayak mantan pacar gue.” Milka memandang lekat manik mata Genta yang dalam sekejap ia menemukan kilat amarah di sana, membuat dirinya kembali tersenyum samar. “Gen?” “Hem?” Dengan yakin, Milka berkata, “Sekarang, gue bisa jadi … pacar Elo nggak?” *** “Thea?” Reno menyapa putrinya yang baru lima menit yang lalu memasuki rumah mewah berlantai dua. Rumah yang ia bangun atas kerja kerasnya selama menghandle perusahaan. Thea yang dipanggil justru tak mengindahkan. Kaki jenjangnya itu terus saja bergerak melewati ruang tamu yang masih terlihat gelap, segelap pemandangan di luar sana karena matahari sudah kembali ke peraduannya. “Thea?” Sekali lagi Reno memanggil putrinya. Ia sedikit meninggikan suaranya melihat sang putri yang tak juga menghentikan langkahnya. Thea akhirnya berhenti, bukan karena panggilan dari Reno yang sedikit meninggi, namun gejolak dalam perutnya yang semakin menjadi. Gadis yang memakai kemeja garis-garis itu membekap mulutnya rapat. Sementara kedua telinganya mendengarkan langkah kaki sang ayah yang semakin mendekat. “Putri ayah dari mana saja? Nggak biasanya malam-malam baru pulang.” Sambil berjalan mendekat, Reno berucap. Ia merasa putri semata wayangnya itu akhir-akhir ini berusaha menghindarinya. Sikap manja yang biasanya putrinya itu tunjukkan padanya menghilang secara tiba-tiba. Thea membisu. Ia ingin melangkah maju namun rasanya sudah tak sanggup. Tepat, di saat Reno berada di sampingnya, Thea berlari kencang ke arah wastafel yang ada di dapur. Tak peduli dengan panggilan yang kembali dilayangkan sang ayah padanya. Ia memuntahkan seluruh isi perutnya kembali. Bahkan, kali ini lebih hebat dari biasanya. Matanya kini mulai berkunang-kunang, perlahan tubuhnya merosot ke lantai. Dalam keadaan yang masih menyender dinding wastafel dapur, samar-samar Thea melihat ayahnya melangkah tergesa ke arahnya. “Aku benci ayah ….” ucap Thea pelan sebelum pada akhirnya, ia menutup mata. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN