Melamar

1255 Kata
Thea tengah berjalan mondar mandir dalam ruang kerjanya. Sesekali kedua tangannya terangkat untuk meremas kepalanya. Ada hal serius yang tengah bersarang di otaknya dan ia belum juga menemukan solusinya. “Heran juga di kota besar seluas ini kenapa hanya makhluk berjenis kelamin laki-laki yang mengirim lamaran kerja ke kafeku. Kemana populasi wanitanya?” gerutu Thea. “Thea, kita benar-benar butuh pekerja sekarang. Kafe sedang ramai-ramainya. Kalau terlalu lama pelayanan kita, kemungkinan mereka akan beralih ke kafe yang lain,” seru Kansha yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja Thea di lantai dua dengan seragam karyawan yang melekat pada tubuhnya. “Kira-kira bagian apa yang sangat urgent untuk di isi pegawai sekarang?” “Bagian pelayan dapur.” Thea memang teringat bahwa hanya dua orang yang saat ini tengah bekerja di bagian tersebut, mengingat kafenya yang masih terbilang baru jalan beberapa bulan, ia tidak memprediksi jika pelanggannya akan membludak seperti sekarang ini. “Kamu terpaksa harus menerima lamaran dari sejumlah makhluk berjenis kelamin laki-laki yang sudah masuk ke sini.” “Terlambat, Sha. Semua berkas lamaran mereka udah gue bakar tadi malam.” Thea memijit pelipisnya. “Ya ampun!” Kansha menepuk jidatnya kuat. “Mana Bosnya?!” Terdengar sebuah teriakan seseorang yang disusul dengan penampakan seorang laki-laki yang begitu saja membuka pintu ruang kerja Thea. “Maaf, Mbak, Mas ini memaksa buat masuk padahal saya sudah mencegahnya,” Salah seorang pegawai kafe milik Thea berkata sembari menundukkan kepalanya. “Nggak apa-apa, Li. Kamu boleh kembali bekerja.” Terlihat seorang laki-laki berkacamata dengan gaya rambut yang tertata miring ke sebelah kanan tanpa ragu berjalan mendekati Thea. “Stop di situ, Mas!” Thea mencoba menghentikan langkah kaki laki-laki di depannya sesaat setelah ia melihat punggung pegawainya menghilang dari pandangannya. “Kejauhan Mbak, ngomongnya.” Laki-laki itu tak mengindahkan larangan Thea. “Eh, berhenti, Mas!” cegah Kansha buru-buru menarik lengan laki-laki berkacamata tersebut. “Masnya bisa bicara dengan saya saja,” lanjut Kansha karena mengerti keadaan bosnya yang memang tak bisa didekati oleh laki-laki. “Loh, Mbak Cantik di depan itu, bos kafe ini kan? Kenapa saya harus ngomong sama Mbak?” “Iya. Tapi prosedurnya lewat saya dulu.” “Aduh Mbak, nanggung amat sih. Lah wong bosnya sudah ada di depan mata saya, kok ya saya harus muter-muter.” “Memang Masnya mau ngapain?” “Mau ngelamar mbak bos cantik.” “Apa?!” seru Thea dan Kansha bersamaan. “Idih, Mbak berdua kompak banget. Mau banget nih saya lamar?” “Kansha, kayaknya orang ini setengah waras deh!” Tunjuk Thea pada laki-laki yang berpenampilan ‘ndeso’ di depannya itu sementara tangannya masih mencengkeram erat bahu kursi kerjanya. “Kok Mbak, jadi ngatain saya? Ck,ck,ck. Mbak, meskipun saya ini orang dari kampung, tapi saya diajarkan untuk tidak mengata-ngatai orang. Tidak sopan kata emak saya.” Bukankah laki-laki itu sudah berperilaku tidak sopan dengan memaksa masuk ke ruang kerjanya? “Terus orang kampung macam Anda tiba-tiba datang ke ruang kerja saya dan bermaksud melamar saya, gitu?” tanya Thea. “Mbak salam paham nih. Saya memang mau mengajukan lamaran tapi buat kerja di sini bukan buat nikahin Mbak.” “Ehem.” Thea mengusap-usap hidungnya guna menghilangkan rasa gugupnya. “Ngomong kek Mas dari tadi. Siapa nama Anda?” “Nama lengkapnya Wagino. Tapi, panggilannya Ino. Jangan panggil saya Wawa, Gigi atau bahkan Nono, ya Mbak!” Thea langsung menepuk jidatnya manakala mendengar ocehan laki-laki bernama Ino itu. “Oke Ino. Anda saya terima dan saya tempatkan di bagian pelayan dapur. Tolong sekarang Anda bisa langsung ke tempat pencucian piring ya?” “Saya nggak mau kerja sebelum tahu gaji saya berapa Mbak.” “Dua juta, Oke?” “Oke, Mbak!” Ino tiba-tiba maju menarik Thea dalam pelukannya. “Makasih ya Mbak, akhirnya saya dapet uang buat menyambung hidup.” Ino lalu melepaskan pelukannya dan keluar begitu saja dari ruang kerja Thea dengan wajah yang berbinar, meninggalkan sang bos cantik yang masih berdiri mematung bak patung selamat datang. “Laki-laki dengan wajah tanpa dosa,” gumam Kansha sembari menggelengkan kepalanya. *** “Ada mbah dukun lagi ngobatin pasiennya. Konon katanya, sakitnya karena diguna-guna ….” seru Ino yang tengah menyenandungkan lagu salah satu penyanyi Indonesia. “Waduh Mas Ino kerjanya semangat bener ya!” celutuk Kansha sembari meletakkan beberapa piring kotor ke tempat pencucian piring, tempat di mana laki-laki dengan kacamata bulat berada. “Eh, Mbak Manis. Ngagetin saya aja. Harus semangat dong Mbak, kata emak saya, kalau kerja itu yang sungguh-sungguh biar gajinya berkah.” “Wah, betul itu. Tapi jangan panggil saya Mbak Manis, panggil saja Kansha, kayaknya usia kita nggak beda jauh, Mas.” “Kansha juga jangan panggil saya Mas, panggil saya Ino aja," pinta Ino. “Oke Ino. Sebentar lagi jam setengah dua belas. Ino bisa istirahat untuk makan siang. Sekarang lanjutin deh pekerjaannya, saya mau balik ke depan lagi.” “Siaapp!!” Ino mengangkat tangannya seperti hormat pasukan tentara. Lalu ia kembali menggeluti pekerjaan mencuci piringnya dengan sangat cekatan sambil bersenandung ria. “Cantik, ingin rasa hati berbisik,” seru Ino kembali bersenandung dengan wajah bahagianya. Dibalik kebahagiaan yang tengah dirasakan Ino, Thea justru tengah terpekur di atas meja kerjanya sembari menopang dagu. Mengamati foto bayi laki-laki yang terpampang dalam ponselnya juga foto kedua orangtuanya yang terlihat tersenyum bahagia di sana. Geonal Putra Zahair, nama adik laki-lakinya yang kini telah berusia lima bulan. Wajah adik laki-lakinya itu cenderung lebih mirip Hanny, sang Bunda. Memang seperti itu biasanya, anak laki-laki kebanyakan lebih mirip ibunya, sedangkan anak perempuan cenderung lebih mirip ayahnya. Thea mengusap perlahan foto adik laki-lakinya itu. Dari semenjak adiknya lahir, Thea belum bisa datang mengunjunginya. Bukan belum bisa hanya ia belum ingin pulang, masih dengan penyebab yang sama. Ia belum sepenuhnya memaafkan perbuatan sang ayah meskipun setahun sudah berlalu semenjak kepergiannya. Itulah kekurangan Thea yang sebenarnya. Ia memang begitu sulit memaafkan kesalahan orang lain. Untuk mengobati rasa rindunya, Thea seringkali bertegur sapa melalui video call dengan adik dan bundanya. Ia melakukannya di jam-jam ayahnya berada di perusahaan. Sengaja, agar ia tak melihat wajah sang ayah ikut dalam pembicaraan video call- nya. Thea meringis, tatkala merasakan kandung kemihnya penuh. Buru-buru ia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga satu demi satu, menuju ke toilet yang terletak di lantai bawah, mengingat toilet di ruang kerjanya mengalami kerusakan sejak kemarin dan belum juga diperbaiki. Langkah tergesa-gesa yang dilakukan Thea, berhasil membuatnya menabrak bahu salah seorang pegawainya yang tengah membawa setumpuk piring di tangannya. Bagaikan seseorang yang sudah terlatih dalam permainan sirkus, sang pegawai yang ditabrak berhasil merengkuh pinggang Thea agar tidak jatuh dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya berhasil menangkap kembali beberapa piring yang sempat terlepas dan terlempar ke atas. “Astaghfirullah!” seru si pegawai cukup lantang, membuat beberapa pegawai lain yang tengah bekerja di bagian dapur seketika menghentikan aktivitas mereka. Thea mengerjapkan matanya beberapa kali juga menetralkan degup jantungnya yang tengah bermarathon. “Mbak Bos Cantik baik-baik saja?” tanya si pegawai yang tak lain adalah Ino. Hembusan napasnya berhasil membelai wajah Thea karena memang jarak wajah mereka berdua yang cukup dekat. PLAK!! Reflek, tangan kanan Thea melayang dan mendarat keras di pipi kanan Ino. Sukses menimbulkan rasa pedas bagi Ino yang mendapat serangan tiba-tiba dari bos cantiknya. Tak hanya itu, tumpukan piring yang berada di tangan kirinya kehilangan keseimbangan dan jatuh, menimbulkan suara yang cukup nyaring. Thea melepaskan dirinya dan mendorong tubuh Ino kencang. Tanpa berkata sedikitpun, ia melanjutkan langkahnya menuju toilet tanpa memperhatikan berbagai macam ekspresi para pegawainya yang mengisi dapur. "Dasar pria kurang ajar!" gumam Thea dengan rasa malu bercampur marah di hatinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN