“Gue reflek!” ucap Thea di depan Kansha. Mereka tengah makan siang berdua di ruang kerja Thea.
"Tetep aja lo yang salah! Bekas telapak tangan lo terpampang jelas tau di pipinya.” Kansha berusaha menyadarkan kesalahan sahabat sekaligus bos cantiknya itu.
Thea menghela napasnya. Perasaan gengsi dan takut tengah bersarang dalam hatinya.
“Sekarang dia lagi apa?”
“Makan siang. Sambil tak suruh buat ngompres pipinya yang lebam.” Kansha menepuk pipinya sendiri, membuat Thea meringis.
Setelah menghela napas dalam-dalam, Thea berkata, “Lo tau sendiri kalau gue punya___”
“Androphobia dan nggak ada keinginan sedikitpun buat nyembuhin ketakutan itu. Elo emang bahagia hidup dengan kondisi kayak gitu?” Kansha melipat tangannya di depan d**a.
“Gue …” Thea menunduk.
“Elo mau jadi perawan tua? Inget Thea, ada masanya nanti elo bakal ditagih sama bunda lo buat nikah. Gue gak yakin kalau elo sanggup mempertahankan ego elo untuk tetap menjauhi laki-laki.” Kansha mengingatkan hal yang mungkin akan terjadi ke depannya di hidup sahabatnya itu.
“Gue masih ngerasa aman untuk sekarang.” Bohong! Thea sudah berkata bohong. Sesungguhnya beberapa akhir ini ia sering menumpahkan air matanya diam-diam setelah memastikan Kansha tertidur. Thea merasa seperti burung yang terjebak dalam sangkar.
“Lo udah bisa move on?” Kansha memicingkan matanya.
“Maksud Lo?”
“Genta udah punya pacar baru. Lo nggak mau nyaingin dia apa?” Dengan santai, kalimat itu meluncur dari mulut Kansha.
***
Genta masih bergelung di dalam selimut. Ia baru saja tidur pukul tiga dini hari. Bukan karena ia melembur sebab pekerjaan. Ia meluangkan waktunya untuk menjaga sang pacar yang mendadak terserang demam setelah pacarnya itu pulang dari kantor, tempat ia bekerja di bagian keuangan.
“Beb?” Milka berusaha memanggil Genta saat dirinya merasakan haus.
“Bebby?” panggil Milka sekali lagi dengan panggilan kesayangan yang ia sematkan pada Genta seminggu setelah mereka meresmikan diri untuk berpacaran. Bagaimana dengan Genta? Genta memanggil Milka dengan panggilan ‘s**u’ dikarenakan memang nama depannya yaitu Milk yang berarti s**u jika diterjemahkan.
Genta mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Mencari secercah cahaya dan berusaha mengusir rasa kantuk yang masih bergelayut pada kelopak matanya.
“Bebby Genta?”
“Iya, Su,” jawab Genta serak.
“Aku haus.”
Genta melompat dari sofa yang menjadi tempat tidurnya, mengambil gelas kosong dari atas meja, mengisinya kembali hingga penuh dan memberikannya pada Milka.
Setelah meletakkan gelas yang isinya tinggal setengah di atas meja, Genta menempelkan telapak tangannya di atas dahi Milka. “Udah agak turun panasnya.” Ia kemudian berjalan mendekati tas kerjanya, mengambil stetoskop dan memeriksa denyut jantung sang kekasih.
“Ih, kenapa coba meriksanya harus pakai alat?” oceh Milka sembari mengerucutkan bibir pucatnya.
“Emang maunya pake apa?” timpal Genta sembari memindah-mindahkan stetoskop di area d**a Milka.
“Langsung pakai tangan kamulah, kalau nggak, pake bibir kamu, Beb.” Milka mencolek dagu Genta.
“Hiii, ngeri!” Genta bergidik setelah memastikan jantung Milka berdetak normal. Ia menyentil dahi kekasihnya pelan.
“Ini minum obat penurun panas dulu.” Genta menyodorkan sebuah obat berbentuk pil pada Milka.
“Ish, kenapa coba harus minum obat? Kebanyakan minum obat nggak baik buat jantung.”
“Terus, s**u maunya gimana?”
“Skin to skin contact. Aku kamu berpelukan tanpa pakaian. Itu lebih manjur loh buat nurunin demam aku.” Milka menampilkan puppy eyesnya, membuat Genta merasa gemas.
“Astaga mulutnya!” Genta menepuk pelan bibir Milka, membuat si pemilik bibir mengecup cepat tangan Genta.
“Eh! Main nyosor aja!” Genta menyentil kembali dahi Milka sedikit kuat, sukses membuat wanita berambut sebahu itu meringis.
Setahun berpacaran dengan Milka, membuat Genta menyadari bahwa Milka terlalu gencar menggodanya. Jika dulu Thea lebih manja kekanakan, sedangkan Milka lebih genit menggodanya ke hal-hal yang bersifat ‘dewasa’.
Jujur, Genta sangat menghormati harga diri seorang wanita. Ia tak ingin melakukan hal yang lebih intim sebelum statusnya sah sebagai seorang suami. Itu ajaran yang selalu ia ingat dari ibunya sampai sekarang. Akan tetapi, semakin ke sini, Genta semakin takut jika sifat normalnya sebagai laki-laki akhirnya tidak bisa ia kendalikan lagi karena terlalu sering diberi stimulus.
Genta kembali mengingat hari itu, hari di mana pertama kali dalam hidupnya ia bangun tidur dalam keadaan yang menjijikan. Ia mendapati cairan lengket yang begitu banyak menghiasi ‘adik kecilnya’. Padahal dirinya tidak merasa telah bermimpi ‘basah’ dan saat itu tak biasanya ia bangun dalam keadaan pusing serta sedikit mencium bau alkohol dari mulutnya.
“Maaf ya.” Genta mencium sekilas dahi Milka, bekas ia menyentil tadi. Sekilas wajah Thea muncul dalam pikirannya dan Genta benci itu “Aku mandi dulu ya? Habis ini aku buatin kamu sarapan.”
Genta beranjak meninggalkan Milka seorang diri. Setelah berhasil mengambil handuk, ia masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan shower sembari menengadahkan kepalanya. “Setelah setahun berlalu, kenapa gue keinget lo lagi sih … Thea.”
***
Thea masih berdiri terpaku di sisi kanan meja pemesanan, mengamati para pegawainya yang tengah menikmati makan siang. Semuanya berjumlah sepuluh, bertambah sebelas setelah pegawai barunya masuk. Mereka memiliki rentang usia yang berbeda. namun yang paling tua berusia sekitaran 35 tahun dan yang termuda ada dua orang, mereka masih bersekolah di SMA sisanya seusia dengan Thea atau mungkin hanya berselisih dua sampai tiga tahun darinya.
Bhahaha!!
Tak biasanya, tawa para pegawainya mengisi acara makan siang mereka hari ini. Thea menajamkan pandangannya pada seorang laki-laki yang tengah berceloteh dan sukses membuat pegawai lain yang duduk dekat dengannya tertawa riuh.
“Memang jenis makhluk langka,” gumam Thea.
“Masih berdiri aja loh?” Kansha menepuk pundak Thea dari belakang.
“Ish, lo ngagetin gue tau. Untung jantung gue nggak copot!” Thea mengelus dadanya
“Lah lo berdiri terus sambil bengong. Lagi liatin apa lo?”
“Pegawai gue lah, kayaknya seru banget makan siang mereka.”
“Gue juga mikirnya gitu. Semenjak pegawai baru itu datang. Ada warna baru di kafe kita.” Arah mata Kansha menuju pada Ino, si laki-laki berkacamata.
“Panggil dia ke ruangan gue. Gue mau minta maaf. Dan lo, juga harus ikut masuk!’ perintah Thea lalu melangkahkan kakinya kembali naik ke lantai dua.
Kansha menggelengkan kepalanya sambil melihat sahabatnya dari belakang. Setelah itu, ia pun berjalan mendekati Ino.
“No, kalau udah selesai makan siangnya. Kamu naik ke lantai atas ya? Ke ruangan bos," titah Kansha pada pria yang pipinya terlihat menggembung
“Siapp! Ini udah selesai kok.” Ino berdiri, membawa wadah makanannya ke bagian dapur dan mencucinya. Ia kemudian naik ke lantai dua, ruang di mana bos cantiknya berada bersamaan dnegan Kansha yang mengikutinya.
“Kansha, apa saya bakal di marahi lagi?” tanya Ino sembari berjalan bersisian dengan Kansha.
“Nggak bakal," jawab Kansha smebari mengibaskan tangannya.
“Hah, syukurlah. Sumpah, saya tadi kaget, tiba-tiba dapet serangan fajar dari mbak bos cantik.”
“Serangan Fajar? Ada-ada aja kamu, No.” Kansha tertawa. “Yang penting setelah masuk nanti, kamu harus jaga jarak dengan bos ya?”
“Emang kenapa, Sha? Beliau alergi ya, sama orang kampung macam saya?” tanya Ino heran dengan ucapan yang dikeluarkan Kansha tentang bosnya itu.
“Bukan. Tapi beliau punya Fobia.”
“Fobia?”
“Ya, sama orang laki-laki.”
“Ehheemm!!”
“Eh, mbak bos cantik.” Ino menyapa bosnya sembari meringis.
“SILAHKAN DUDUK DI SANA.” Tunjuk Thea pada sebuah kursi yang jaraknya terbentang tujuh langkah kaki manusia dewasa dari posisi Thea duduk.
“Jauh banget Mbak Bos cantik,” timpal Ino sembari manyun.
“APA KAMU BILANG?” Thea kembali berteriak saat ucapan yang keluar dari mulut pegawai barunya tidak jelas ia dengar.
“Jauh.” Di mata Thea, hanya mulut pegawai barunya saja yang ia tangkap bergerak namun sangat samar terdengar ucapan pria itu.
“APA?!” jerit Thea
“JAUH DI MATA NAMUN DEKAT DI HATI,” teriak Ino sambil bernyanyi.
“KAMU MAU MAIN-MAIN SAMA SAYA?!” Thea mendelikkan matanya tanpa menurunkan intonasi suaranya.
“Enggak ….” Jawab Ino seraya menggerak-gerakkan kedua tangannya di depan dadanya.
Kansha yang melihat ulah dua manusia yang berada satu ruang dengannya itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia kemudian memutuskan untuk mendekati sahabatnya itu.
“Elo, kalau terus teriak-teriak gini, lama-lama pita suara lo rusak. Biarin si Ino duduknya lebih deket, gue udah siapin kresek kalau-kalau fobia lo muncul,” bisik Kansha memberikan saran.
“Elo aja deh yang ngewakilin gue minta maaf sama tuh orang!”
“Kagak bisa Thea. Lebih etis elo sendiri langsung minta maaf.”
“Please, tolongin gue.”
“Kagak bisa.”
“MBAK BUK BOS CANTIK, MASIH LAMA KAH?” teriak Ino yang menyadari jika ia berbicara dengan nada normal kembali dicerca bos cantiknya itu.
“EH, KAMU TERIAKIN SAYA?!”
“Yah, salah lagi,” gumam Ino sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Thea, dia teriak karena bisa kedenger suaranya sama lo. Bukannya nggak sopan,” ujar Kansha mencoba menjelaskan pada sahabatnya yang terlihat tengah bergencatan senjata dengan pegawai barunya itu.
“Oh, bener juga ya. Ya udah. Tarik kursinya dia biar agak maju ke sini,” ucap Thea pasrah.
“Good choice.”
Kansha kini berjalan menuju Ino yang terlihat masih mematung di kursi.
“No, kamu duduk maju lebih dekat dengan bu bos, biar kalian ngomongnya nggak teriak-teriak.”
“Alhamdulillah. Soalnya suara saya udah mulai serak, Mbak.”
“Sorry ya. Maklumin aja bos kamu itu.”
Setelah mengangguk, Ino memajukan dirinya mendekati Thea sambil menunduk.
“Stop! Di situ aja!” hardik Thea saat melihat Ino sudah duduk dengan jarak tiga langkah darinya.
“Ehem, saya … minta maaf.”
***