Abian baru saja memarkirkan mobil lamborgininya di lantai bawah perusahaan milik ayahnya. Setelah di perjalanan, ia mengemudi sambil mempelajari berkas-berkas yang akan dibahas di rapat paginya hari ini. Sekarang dengan penuh keyakinan, ia turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam perusahaan milik ayahnya itu dengan langkah tegap. Sejak kecil, Abian sangat cepat menghafal tulisan yang ia baca dalam waktu singkat. Senyum sumringah ia pasang sejak langkah kakinya memasuki lobi perusahaan. Membuat para karyawati yang tengah bekerja di bagian lobi pun dibuat mabuk kepayang akibat pesona seorang Abian Baylor yang memiliki rupa bak dewa yunani itu. Baru beberapa langkah, Abian melewati meja resepsionis, sebuah suara yang terdengar familiar mampir ke gendang telinganya. “Mbak, saya bis

