“Mbak Sus, bisa bantu saya bawa makanan ini?” Abian memanggil seorang wanita berseragam putih yang kerap dikenal sebagai suster-saat ia berjalan melewati lorong rumah sakit menuju kamar Thea. Sang suster yang berjalan berhadapan dengan Abian seketika berhenti. Yang mana Mas, yang harus saya Bawa? Duh kasiannya,” timpal sang suster yang kemudian membawa nampan yang dibawa Abian, sedangkan Abian kini hanya membawa dua potong roti ukuran jumbo yang ia pilih untuk makan siangnya. “Ini mau dibawa kemana, Mas?” “Oh, belum aku kasih tau ya, Mbak? Sorry deh. Dibawa ke ruang Melati nomor dua puluh lima.” “Yang sakit, siapa, Mas? Masih nenek-nenek ya?” tebak sang suster. Mereka kini tengah berjalan beriringan. “Nenek-nenek?” ulang Abian sambil mengernyit. “Iya, habisnya, kok Mas sampai jauh-j

