Menyukai atau disukai?
Mana yang lebih diinginkan?
Sudah satu minggu berlalu. Tidak ada hal aneh yang terjadi pada Kiara selama ini. Malah bagi Gilang dan Ben, cewek itu sudah benar-benar sehat. Karena Kiara sudah berani beradu mulut kembali dengan Gilang, sudah memakan es krim di ruang keluarga dan ditemani televisi yang menyala, dan selalu setia menunggu Gilang pulang sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Keadaan kantin saat ini bisa dibilang cukup ramai, karena bel istirahat baru berbunyi lima menit lalu. Di saat Asya dan Madeline memilih untuk membeli makan dan mengantre panjang untuk mendapat giliran, Kiara memilih untuk duduk diam setelah mendapatkan teh botol miliknya. Tidak makan tidak apa, asal bisa minum yang dingin-dingin di siang yang panas kali ini.
"Sendirian aja?"
Kiara mendongakkan kepalanya, kemudian memperhatikan lelaki berjambul tebal dengan matanya yang berwarna cokelat sedang menatap ke arahnya. Bukan Kiara namanya, jika memilih untuk menjawab. Karena pada kenyataannya, cewek itu kembali menundukkan kepalanya, memfokuskan diri pada gawainya dan membiarkan cowok itu berdiri di depannya.
"Gue duduk sini y—"
"Ada orang!" sela Kiara pelan tetapi tajam. Ia tidak mengalihkan fokusnya, tetapi telinganya jelas masih berfungsi dengan baik saat ini.
Seakan tidak mendengar yang Kiara ucapkan, cowok itu malah menduduki kursi di depan Kiara. Melihat dari ekor matanya, Kiara memilih untuk kembali mendongakkan kepalanya dan menatap sinis cowok itu.
"Tajem amat matanya!" Cowok itu berseru dengan senyumannya. Senyuman yang justru membuat Kiara jadi jijik melihatnya.
Kiara lagi malas mencari perhatian. Jadi, lebih baik ia menjauh. Tanpa berkata-kata, ia mengambil teh botolnya dan bangkit berdiri.
"Eh, tunggu!"
Sentuhan yang jelas terasa di tangan Kiara membuat cewek itu menoleh dan menatap tajam cowok itu. Sudah tidak kenal, berani sekali pegang-pegang. Memang Kiara cewek apaan?
Mungkin, kalau di novel-novel, kejadian seperti disebut dengan PDKT. Tetapi bagi Kiara, kejadian ini disebut menganggu.
"Lepas gak?" tajam Kiara.
Cowok itu menggeleng. "Cuma mau kenalan! Galak banget sih! Gue lebih tua dari lo, loh!"
Kiara menaikkan satu alisnya, seolah memandang rendah cowok itu. Lalu ada masalah apa jika cowok itu lebih tua? Apa karena ia lebih tua jadi bisa seenaknya dengannya?
Ia pikir yang melakukan senioritas hanya beberapa orang saja, seperti Gilang contohnya. Ternyata, yang tidak pernah Kiara lihat ataupun Kiara sadari ada di dunia ini pun juga berani melakukan senioritas padanya.
"Lepas!" desis Kiara. Kilat marah dan terganggunya tersirat jelas dari matanya. Sepertinya, tujuannya untuk tidak menjadi pusat perhatian gagal. Karena kenyataannya, sudah banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya. Sama halnya dengan Sami yang terduduk manis di ujung kantin, dengan ekspresi datarnya itu.
"Gue cuma mau ngajak kenal—"
"Gue gak mau!" Kiara kembali bersuara tajam.
Kiara tersenyum sinis. Sepertinya cowok itu sedang menguji kesabarannya. Kedua matanya kembali ia tajamkan pada cowok itu, dan dengan sekali hentakan, Kiara berhasil mendorong cowok itu sampai terhuyung ke belakang. Jangan salahkan Kiara telah membuat malu dia. Tetapi salahkan dia, karena telah mengganggu ketenangan Kiara.
"Lo pikir lo cakep kali ya!?" Kiara berujar sarkastik. Melihat cowok itu menggeram di posisi duduknya, Kiara kembali tersenyum sinis sebelum berbalik dan menjauhi cowok itu.
Bukan hanya Kiara yang tersenyum, Sami pun sama. Bahkan senyumannya bisa dibilang paling lebar di antara yang lain. Kiara memang tidak bisa diajak bermain-main.
"Gila, malu banget dah!" Charles berujar sembari memperhatikan cowok berjambul yang baru saja bangkit dari posisinya.
Arya yang duduk di samping Charles mengangguk pelan, seolah tidak percaya apa yang baru saja terjadi. "Ngeri juga si Rara," sahutnya takut.
Charles kemudian menoleh pada Sami. "Udah pada tau belum Rara adiknya Gilang?"
Sami yang awalnya tersenyum berubah menjadi kembali tidak berekspresi. "Lo tau dari mana?" tanyanya tajam.
Melihat reaksi terkejut Sami, Charles dan Arya jadi saling melempar tatapan heran. "Kemarin di jurang, si Gilang sama Ben teriak-teriak—" balas Arya pelan, takut salah bicara.
Sami diam. Iya juga, dia melupakan hal yang itu.
"Diem aja, gak usah pada tahu."
...
Kiara menutup telinganya rapat-rapat. Sudah hampir sepuluh menit lamanya ia berada di dalam lingkaran yang tidak ia sukai. Tetapi, kenyataan kalau dirinya tidak bisa kabur membuatnya jadi meringis sendiri.
Selepas pulang sekolah, bukannya memilih untuk pulang, teman-teman Kiara malah memilih untuk mengintrogasinya. Tidak hanya Madeline dan Asya, tetapi banyak yang lain juga. Sedangkan Kiara, jelas ia memilih untuk fokus pada gawainya dan berusaha untuk tidak peduli dengan sekitar, meski kenyataannya tidak bisa juga.
"Aduh! Udah dong, pulang!" keluh Kiara pada akhirnya.
Tetapi, bukan Angkasa namanya kalau pergi tanpa mendapatkan apa-apa. Karena berapa kali pun Kiara meringis ataupun megeluh, itu tidak akan berarti apa-apa bagi mereka.
Berita tentangnya yang mempermalukan cowok kelas dua belas memang sudah tersebar luas dalam dua jam. Ia jadi menyesal karena melakukan hal itu tadi.
"Lo berasa ratu ya?"
Suara pelan namun ada nada sarkastik yang jelas terdengar di telinga Kiara membuat cewek itu mendongakkan kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Gia. Sepertinya selain Araya, Gia adalah haters nomor dua Kiara.
"Atau...." Gia menggantung ucapannya, kemudian berjalan mendekat pada Kiara. Lingkaran yang awalnya terbentuk rapi, secara perlahan memudar untuk memberi jalan pada Gia. "Lo emang suka cari perhatian?" tanyanya dengan sinis.
Kiara memutar bola matanya malas. Kenapa jadi ia yang dianggap cari perhatian? Ada juga Gia yang cari perhatian. Kenapa harus peduli dengan masalah orang lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan cewek itu?
"Iya, emang suka. Lo enggak tahu?" Kiara membalas dengan nada sumringahnya.
Gia melipat kedua tangannya, kemudian menatap tajam Kiara, membuat Kiara jadi bingung sendiri. Sebenarnya apa masalahnya dengan Kiara sih?
"Lo tuh anak baru, gak usah banyak gaya!" sindir Gia terang-terangan.
Melihat keadaan yang mulai ramai, Kiara mendesah. Sepertinya hari ini ia sudah cukup membuat keramaian, apa harus lagi?
Kiara bangkit dari duduknya, ia mengambil tasnya kemudian menatap sinis Gia. Berdebat dengan Gia pasti tidak ada akhirnya, melihat cewek itu sepertinya semangat sekali memojokkannya.
"Yang banyak gaya gue, yang repot lo," gumam Kiara, kemudian melewati Gia begitu saja.
Mungkin bagi para penonton, hal ini sama sekali tidak asik. Perdebatannya belum mencapai k*****s, tetapi sudah dihentikan.
"Ra!"
Suara yang dikenal olehnya, membuatnya menoleh kembali ke belakang. Di depan pintu kelasnya, Sami memperhatikannya, sebelum memilih untuk menghampirinya.
"Balik sama siapa?" Sami bertanya, setelah langkah kakinya menyamai langkah Kiara.
"Dijemput."
Sami mengangguk mengerti. "Udah berangkat supirnya?"
Kiara menggeleng. "Gue mau kerja kelompok bentar, baru balik."
"Bareng gue aja."
Tidak ada nada paksaan, tetapi pengungkapan yang tiba-tiba membuat Kiara jadi terkejut sendiri.
"Ngerepot—"
"Enggak." Sami lebih dulu menyela. "Telfon gue aja kalau udah selesai. Gue mau ke lapangan bentar. Jangan kabur!"
Kiara terkekeh, kemudian mengangguk. Bisa-bisanya Sami berpikir ia akan kabur.