Teringat dengan janjinya, Rani mengubah rasa takut menjadi tantangan. Ia terus menajamkan tatapannya membalas Fatih yang semakin memangkas jarak. "Aku tidak takut denganmu. Lagipula, kau suamiku sendiri." Rani tetap di tempat. "Dasar," pekik Fatih. Dia mundur dan mengurungkan niatnya. "Di mana harga dirimu? Apakah sebelumnya kau pernah menjajakan tubuhmu pada laki-laki di luar sana? Aku heran, kau begitu berambisi mendekatiku." "Terserah apa kata kamu. Yang jelas, aku adalah istrimu. Tidak akan membiarkanmu dekat-drkatt dengan wanita mana pun. Kalau kau tidak mau Om Bram tau apa yang kau lakukan di kantor tadi, maka jauhi dia." Rani membungkam Fatih dengan ucapannya. Rani dengan jalan sedikit pincang mengarah ke kamar mandi. Kali ini, Fatih yang kesal atas sikap berani Rani. Seisi r

