Penerbangan menuju Bangkok berlangsung lancar. Dua sejoli yang masih saling sikut itu terlihat kaku dan beberapakali memalingkan wajah. Seorang pramugara yang tersenyum pada Rani dan mendapat balasan serupa membuat Fatih mengeluarkan ultimatum. "Di mana-mana selalu menggoda lelaki." Pemuda itu menggeleng kepalanya. "Biarin dan terserah!" Rani tersenyum miring. "Lagian kamu juga sebagai suami selalu mengacuhkan aku. Katamu pernikahan ini tidak akan lama, ya, sudah, jangan urus aku!" Fatih mendelik. Ia mencebik menarik bibir atasnya karena geram. Pesawat mendarat dengan sempurna, mereka jalan menuju lobi keluar dan menggeret koper masing-masing. Fatih sengaja berjalan lebih dulu dan menunggu taksi. Setelah mobil berhenti di hadapan mereka, semua barang masuk bagasi. Rani mengambil po

