Show Your Love (2)

2925 Kata
Setelah 3 hari di rawat di rumah sakit akhirnya Malika diperbolehkan pulang. Kini Malika sedang berada di teras taman belakang seorang diri mengingat yang terjadi beberapa hari yang lalu. Sesuai dugaan Malika, kegiatan mereka sebulan yang lalu membuahkan hasil. Seluruh keluarga besar mereka sangat bahagia mendengar kabar tentang akan hadirnya anggota keluarga baru. Malika juga sejujurnya senang namun perasaan senang itu sedikit terbayangi rasa gelisah akankah Andro mau mengakui dan menerima janin di kandungannya itu. "Mika..... masuklah.... diluar dingin...." ucap Andro terkesan datar walau ada perhatian dikalimat itu. "Mas ..... bisa kita bicara?..." ucap Malika pelan hanya cukup didengar olehnya dan Andro. Andro menatap Malika yang tengah menunduk dan memunggunginya kemudian Andro pun berjalan mensejajarkan tubuhnya hingga kini mereka berdiri bersebelahan. Mereka berdua sama-sama menatap taman di depan mereka. "Katakan...." "Mas.... menerima anak yang berada dikandunganku?...." tanya Malika sedikit takut. "Tentu.... Dia anakku...." yakin Andro sedikit kesal dengan pertanyaan Malika. "Mas ..... Apa Kau pernah berfikir tentang pernikahan kita?..." Malika berucap pelan. "Apa maksudmu?..." Andro bertanya datar dengan nada acuh tak acuh. "Apa Kau pernah berfikir untuk menjadikan pernikahan kita adalah pernikahan yang pertama dan terakhir untuk kita?..." Malika mencoba memberanikan diri mengutarakan isi hatinya. "Tidak.... aku tidak pernah memikirkannya...." tentunya jawaban itu membuat Malika kecewa. Andro memang tidak pernah memikirkan hal itu. Semua bayangannya selama ini tentang menjalani pernikahan bersama Karin. Dan ketika pada akhirnya Ia menikah dengan Malika, Andro hanya menjalaninya dan tidak pernah memikirkan bagaimana nantinya karena Ia tidak ingin kembali memiliki bayangan atau harapan tentang pernikahannya namun akhirnya gagal lagi. Ia tidak ingin sakit untuk kesekian kali karena apa yang Ia harapkan tidak terjadi. "Mas .... Apa mungkin suatu saat nanti Kau bisa mencintaiku?..." Pertanyaan Malika kali ini berhasil membuat Andeo menatap Malika. Mendapat tatapan dari Anďro membuat Malika sedikit menciut. Namun Ia mencoba memberanikan diri untuk tetap melanjutkan pembicaraan. "Sejujurnya Aku sudah berniat mundur dan mengalah agar Kau bisa bersama Karin, wanita yang Kau cintai.... Namun kehadiran janin ini membuatku berfikir jika Aku tidak boleh mengalah untuk anak ini...." Andro masih menatap Malika menunggu kelanjutan kalimat Malika. Walau Malika tidak berani menatap Andro namun Malika berusaha untuk berani melanjutkan apa yang ingin Ia sampaikan. "Karena itu Aku ingin mempertahankan pernikahan kita.... Namun Aku juga tidak ingin memaksa Mas dan membuat Mas menderita...." "Katakan intinya...." "Apa menurut Mas Aku bisa mengalihkan rasa cintamu dari Karin.... dan membuatmu mencintaiku?...." Andro terkejut mendengar kalimat yang terkesan berani dari Malika yang biasanya sangat takut bicara padanya. Bahkan kini Malika berani menatapnya walau terlihat ketakutan dan keraguan dari tatapannya. "Aku ingin mempertahankan pernikahan kita bukan karena keterpaksaan Mas.... Aku ingin mempertahankan pernikahan kita karena rasa cinta... Bisakah Mas mencintaiku?..." Andro terdiam beberapa saat tetap menatap Malika. "Bisakah Kau juga mencintaiku?...." Ujar Andri. "Aku..... mencintaimu Mas...." ucap Malika jujur walau dengan nada gugup. "Tapi Aku tidak pernah melihat itu...." Malika terdiam. "Jika Kau memang mencintaiku... tunjukkan.. Agar hatiku bisa melihat dan merasakannya... Jika Kau tidak pernah menunjukkannya maka Aku tidak yakin.... bisa mencintaimu...." ucap Andro datar dan mulai berbalik berniat meninggalkan Malika. Malika terdiam mendengar perkataan Andro. "Menunjukkan rasa cintaku?...." lirih Malika tidak mengerti dan tidak yakin bisa melakukannya. Untuk menatap Andro saja sulit apalagi harus menunjukkan rasa cintanya dengan memberikan perhatian pada Andro. Malika terdiam dan berfikir sejenak seolah mencerna dan meyakinkan diri dengan apa yang Andro katakan. Merasa udara cukup dingin Malika pun mulai masuk rumah dan segera menuju kamarnya masih dengan pikiran tentang menunjukkan rasa cintanya. Malika sejujurnya tidak tahu bagaimana menunjukkan rasa cinta itu. ~oO0Oo~ Setelah mandi pagi Andro pun mulai bersiap untuk ke kantor mengenakan pakaian yang setiap hari selalu Malika siapkan. Andro melakukan semua kegiatannya sedikit lambat kali ini karena masih memikirkan perbincangannya dengan Malika semalam. "Apakah mereka bisa memperbaiki pernikahan mereka?..." pikir Andro. Sejujurnya Andro bahagia akan memiliki seorang anak. Namun sebagai orang yang memiliki sifat kaku membuatnya tidak tahu harus bagaimana menunjukkannya. Ia pun merasa belum terlalu dekat atau nyaman bersama Malika sehingga Ia masih tidak bisa bersikap biasa saja. Semalam Ia berkata jika ingin Ia mencintai Malika maka Malika harus menunjukkannya agar Andro juga merasakannya. Namun sekarang Andro sadar dia egois. Ia dengan mudahnya meminta Malika terbuka dan menunjukkan perasaannya padahal Malika merupakan orang yang sangat tidak percaya diri dan pemalu. Sedangkan Ia sendiri merasa sulit merubah sifat kakunya yang terkesan datar dan dingin. Happ Andro terkejut ketika dasi yang sudah Ia pegang diambil oleh tangan mungil tentunya tangan isterinya, Malika. Malika pun langsung mengalungkan dasi itu di leher Andro dan mulai memakaikannya. Andro dapat melihat jelas wajah Malika yang memerah saat melakukannya karena Ia yakin sejujurnya Malika gugup dan malu. Malika memasangkan dasi itu dalam diamnya karena mencoba menahan degupan jantungnya karena kini wajahnya begitu dekat dengan wajah Andro dan Malika pun bisa mencium aroma maskulin Andro. "Aku akan mencoba menunjukkannya..... Jika Aku menunjukkannya, bisakah Mas juga mencoba menerima kehadiranku?...." ucap Malika setelah selesai memakaikan dasi Andro dan kini So Eun menatap mata tajam Andro. "Aku tidak tahu....." jujur Andro mengalihkan tatapannya dari Malika yang kini menatapnya. Walaupun Malika kecewa dengan jawaban Andro namun Ia tetap berusaha tenang. Sedangkan Andro juga sedikit merasa bersalah namun Ia merasa tidak bisa menjanjikan hal yang tidak yakin bisa Ia lakukan. Mencoba mengumpulkan keberaniannya, Malika pun memeluk tubuh tegap suaminya. "Beri Aku waktu Mas...." Andro terdiam tidak mengerti maksud Malika juga terlalu terkejut dengan pelukan Malika. Selama ini hanya Karin wanita yang pernah memeluknya (Selain Ibunya ) erat seperti ini. Dan pelukan Malika kali ini entah kenapa terasa berbeda. Mungkin karena Ia belum terbiasa dengan pelukan Malika, pikir Andro. "Aku akan berusaha menunjukkan rasa cintaku agar Mas bisa sedikit mencintaiku..... Jika setelah anak kita lahir namun Mas belum juga bisa mencintaiku, maka Aku akan melepaskan Mas.... Mas bisa bersama wanita yang Mas cintai....." lanjut Malika masih sangat menikmati pelukan pertamanya untuk Andro. Beberapa menit mereka bertahan dengan posisi mereka hingga terdengar suara Andro menginterupsi kegiatan Malika. "Aku.... Aku harus bekerja...." Andri tidak tahu harus bagaimana menanggapi Malika atau pun membalas pelukan Malika sehingga Ia memilih mengalihkannya. Sontak Malika segera melepaskannya dengan perasaan malu juga kecewa akan tanggapan Andro. Ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk berani melakukan skin ship dengan Andro namun tanggapan Andro justru seolah menolak perlakuannya sehingga itu benar-benar membuatnya malu juga sedih. "Maaf Mas.... Sebaiknya Mas sarapan dulu.... Aku sudah menyiapkannya...." ucap Malika menunduk. Andro pun segera mengambil jasnya lalu berlalu ke ruang makan sementara Malika mengikutinya dengan membawa tas Andro. Andro langsung duduk di kursinya dan bersiap mengambil makanan. Namun Malika sudah mengambil terlebih dahulu untuk diberikan pada Andro. Sedangkan Andro hanya diam tanpa protes atau memberi tanggapan. Kemudian mereka pun sarapan hanya dalam keadaan hening. "Mas..... Kau ingin Aku bawakan makan siang ke kantor Mas?.." tanya Malika saat Andro akan keluar rumah. "Tidak perlu...." tolak Andro datar dan melanjutkan langkahnya menuju mobil. "Mas...." langkah Andro terhenti ketika Malika kembali memanggilnya sembari menarik sebelah tangannya. "Ada apa?,,,." tanya Andro penasaran namun tetap dengan wajah datarnya. Malika tidak menjawab namun hanya mendekatkan tubuhnya dan mulai berjinjit dengan memegang lengan Andro untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Cupp Dengan segala keberaniannya Malika pun berhasil mempertemukan bibirnya ke bibir tipis Andro. Tubuh Andro pun menegang penuh keterkejutan. Ini merupakan ciuman pertama mereka selain ciuman mereka saat malam pertama mereka ketika Andro sakit. Hanya beberapa detik bibir mereka saling menempel namun itu cukup membuat d**a mereka sesak karena degupan jantung mereka. "Selamat bekerja Mas....berhati-hatilah...." ucap Malika menunduk malu. "Hmm....." Andro hanya bergumam sebelum memasuki mobil dan berangkat ke kantor. Di tempat berbeda mereka berdua memegang bibir masing-masing seolah masih merasakan ciuman singkat mereka. Malika tersenyum malu mengingat hal berani yang Ia lakukan sementara Andro terus memegang bibirnya sembari berfikir apa yang Ia rasakan dari ciuman Malika tadi. Perasaannya lebih aneh daripada saat Malika memeluknya tadi. "Ck....." decam Andro saat Ia tidak menemukan jawabannya. ~oO0Oo~ Dua bulan sudah Malika melakukan semua yang Ia bisa untuk menunjukkan rasa cintanya pada Andro. Malika mencoba semakin berani memulai skin ship kepada Andeo walau tanggapan Andro masih kaku atau terkesan tanpa balasan untuk Malika. Namun Malìka tetap meneguhkan hatinya untuk menunjukkan rasa cintanya agar Andro bisa mencintainya. Setiap pagi Malika selalu menyiapkan keperluan Malika ke kantor dan selalu memberikan pelukan setelah selesai memakaikan dasi Andro. Malika pun selalu memberikan ciuman Kilat di bibir Andro setiap Andro akan berangkat ke kantor namun selama dua bulan itu juga Andro tidak pernah membalasnya atau memulai skin ship terlebih dahulu. Malika juga mencoba berani memegang tangan Andro dan memainkannya ketika mereka bersama. Walau Andro tidak pernah membalas tapi Malika cukup senang Andro tidak protes, bahkan Andro juga tidak menolak jika Malika bersandar dan memeluknya ketika mereka menonton bersama di apartement mereka. Malika yang tahu Andro merupakan orang yang kaku pun berusaha menerima sifat Andro dan akan terus mencoba menunjukkan perasaannya. Namun tekad Malika sepertinya saat ini benar-benar diuji ketika Ia melihat Andro berjalan bersama Karin. Saat ini sebenarnya Malika ingin mengajak Andro memeriksakan kandungannya namun justru Ia melihat Andro keluar dari kantornya bersama Karin. Selama ini Andro selalu menolak jika Malika ingin ke kantornya, apa karena hanya Karin yang diperbolehkan, pikir Malika. Dengan keadaan kalut akhirnya Malika kembali ke mobilnya mengacuhkan sekretaris Andŕo yang menyapanya. Walau dalam keadaan sedih namun Malika tetap memeriksakan kandungannya yang Ia rasa bermasalah karena Ia sering merasakan sakit. Sepertinya penderitaan Malika melihat Andro bersama Karin hari ini belum cukup sehingga harus ditambah dengan berita jika kandungannya sangat lemah dan Malika harus istirahat total dan juga tidak boleh banyak pikiran apalagi stress. Sejak hari itu Malika nampak lemas karena kondisi tubuhnya dan juga hatinya. Namun Ia tetap bertekad untuk meluluhkan hati Andro dengan terus memulai skin ship. Walau Ia merasa itu tidak berpengaruh sama sekali dan sulit menghapus cinta Andro pada Karin. "Kapan jadwalmu memeriksakan kandungan?..." pertanyaan Andro berhasil mengangkat wajah Malika yang semula hanya menunduk menatap makan malamnya. "Minggu lalu.... Aku sudah memeriksakannya...." jawab Malika pelan. "Kenapa Kau tidak pernah mengajakku?..." ucap Andro datar. "Aku sudah akan mengajak Mas....tapi sepertinya Mas sibuk....." "Kau tidak akan tahu jika tidak bertanya..... Aku bisa saja meluangkan waktu...." "Walau saat itu Mas sedang bersama Karin?..." entah mendapat keberanian darimana akhirnya kalimat sinis itu terucap dari mulut Malika. Andro menatap Malika terkejut namun tidak membantah. "Mas.... boleh Aku kembali ke kamar lebih dulu?.... Aku merasa kurang enak badan....." izin Malika dan langsung beranjak ketika Andro menganggukkan kepalanya. "Mas tidak perlu membereskannya....Nanti setelah Aku merasa lebih baik...Aku akan membereskannya...." ucap Malika sebelum benar-benar beranjak. Andro menatap punggung Malika yang nampak lemah dengan perasaan bersalah dan sedikit khawatir. Namun lagi-lagi Ia tidak tahu harus melakukan apa. Di dalam kamarnya Malika terus memikirkan apa yang harus Ia lakukan, haruskah Ia melanjutkan usahanya untuk menunjukkan rasa cintanya atau menyerah. Ia tidak tahu dengan memberikan perhatian dan juga sikap mesra pada Andro apakah sudah membuat Andro melihat rasa cintanya atau belum. Dan Ia juga tidak tahu apalagi yang harus Ia lakukan jika Andro tidak pernah membalas atau bahkan melihat perhatiannya. Keesokan harinya Malika tetap melakukan tugasnya sebagai seorang isteri dengan menyiapkan segala keperluan Andro namun tanpa pelukan dan ciuman. Skinship yang Malika lakukan hanya sebatas memakaikan dasi Andro tanpa memberikan pelukannya atau ciuman kilat saat Andro akan masuk mobilnya. Andro merasa kehilangan momen itu namun Ia berusaha terlihat biasa saja padahal Malika berharap jika Ia tidak mencium atau memeluk Andro maka Andro yang akan melakukannya. Namun harapan Malika sia-sia karena selama sebulan setelah itu pun Andro tetap tidak merubah sikapnya. ~oO0Oo~ "Apa yang harus Aku lakukan?..... Cķ...." gerutu Andro menarik-narik rambutnya. "Apa Aku yang harus memulainya?..." Andro kembali bermonolog. Itulah yang sering Andro lakukan selama sebulan ini sejak Malika tidak lagi memeluk atau menciumnya. Bahkan Malika juga jarang tersenyum padanya. Jika mereka menonton pun mereka akan duduk berjauhan, tidak ada lagi Malika yang bersandar padanya. Dan Andro merasa kehilangan segala momen itu. Namun Ia terlalu kaku dan gengsi untuk menunjukkannya atau memulainya. Andro yang awalnya merasa kaku namun sudah merasa nyaman dengan setiap skinship yang Malika lakukan. Tapi kini Ia kehilangan itu semua dan Ia sadar itu semua karena kesalahannya. Tok....tok....tok.... "Masuk.,,.." "Pak Andro..... ada telpon dari rumah sakit....." setelah mendengar apa yang disampaikan sekretarisnya, Andro segera berlari dengan perasaan khawatir. "Mama..... apa yang terjadi??....hahh" tanya Andro panik ketika melihat Ibunya. "Mama tidak tahu.....tadi Mama mengajak Malika berbelanja keperluan bayi.... Ia memang nampak lemah dan pucat namun Ia tidak menolak.... tapi saat di pusat perbelanjaan tiba-tiba Ia pingsan....dokter sudah memeriksanya dan kini Malika sudah dipindahkan keruang perawatan...." jelas Mama Andro menenangkan. "Aku ingin menemuinya....." "Iya ....masuklah..... tapi Ia masih belum sadarkan diri.... kata dokter kandungannya lemah dan Ia harus banyak istirahat dan tidak boleh stress.... seharusnya Kau menyediakan pembantu agar Malika tidak lelah mengurus rumah seorang diri....." nasehat Mama Andro. Andro hanya mengangguk sekilas kemudian kemudian memasuki ruang rawat Malika. Andro memasuki ruang rawat dan melihat Malika sedang terbaring lemah. Ia memandang Malika prihatin dan merasa bersalah. Andro tahu bukan lelah fisik yang membuat Malika lemah melainkan lelah hati karena menghadapi sikap Andro yang kaku dan dingin bahkan setelah Malika menunjukkan cinta dan perhatiannya. Dan lagi Malika mungkin merasa Andro lebih bahagia bersama Karin. "Maafkan Aku... Sekarang Aku sudah memikirkannya.... memikirkan tentang pernikahan kita... Aku ingin mencoba memperbaikinya.... " lirih Andro menggenggam tangan Malika. ~oO0Oo~ Sesuai janjinya, Andro pun mulai menunjukkan perhatiannya walau masih kaku seperti saat ini. "Istirahatlah... Aku akan mengambilkan minum...." Malika hanya mengangguk lemah dan duduk di ranjang dengan bersandar headborad ranjang. Selagi menunggu Andro, Malika melihat sekelilingnya menikmati kamar bernuansa hitam putih itu. Ya karena sekarang Malika akan tidur di kamar Andro. Andro yang memintanya dan setelah 3 hari dirawat kini Malika pun sampai di kamar Andro. Ada perasaan senang dalam hati Malika saat Andro menyampaikan hal itu dan juga perhatian yang Andro berikan walau mungkin alasannya karena ingin mengawasi Malika dan juga tidak ingin pembantunya tahu jika mereka pisah kamar. Sejak mengetahui kandungan Malika lemah dan Malika tidak boleh lelah, Andro pun mempekerjakan seorang pembantu dan juga seorang supir untuk membantu Malika. Keheningan terjadi di kamar Andro padahal kini pasangan itu belum juga memejamkan mata. Mereka nampak gugup karena ini kali pertama mereka tidur seranjang ( setelah insiden malam pertama ). "Mau ke mana?..." tanya Andro saat melihat Malika akan beranjak dari ranjang. "Mengambil minum.....Aku haus....." gumam Malika. Malika memang biasanya selalu menyediakan air minum di kamarnya karena Ia sering kali haus saat malam hari seperti saat ini. Namun Ia lupa meminta pembantu atau Andro menyediakannya tadi. "Aku saja..... Kau tunggu di sini...." tanpa menunggu jawaban dari Malika, Andro pun beranjak. Malika tersenyum tipis senang akan perhatian Andro. "Terima kasih sayang... sepertinya karena takut kehilanganmu Ayahmu menjadi perhatian pada Bunda.... Bantu Bunda mendapatkan Ayahmu ya...." lirih Malika tersenyum sembari mengusap perutnya yang mulai membuncit. Hari-hari berlalu dan Andro tetap menunjukkan perhatiannya. Secara perlahan Andro bisa mengurangi sikap kakunya. Malika pun benar-benar memanfaatkan kehamilannya untuk meminta banyak hal pada Andro, seperti Ia yang ingin Andro menyuapinya dengan alasan ngidam atau meminta Andro mengusap perutnya karena tegang. Awalnya memang Malika yang meminta namun kini Andro menjadikan hal itu sebagai kebiasaan. Setiap akan tidur Ia pasti mengusap perut Malika begitupun sebelum dan sepulang kerja. Awalnya mereka hanya tidur berjauhan kemudian perlahan dengan tangan yang bertautan dan kini mereka tidur dengan berpelukan. Kini kehamilan Malika sudah menginjak 6 bulan dan perut Malika sudah membesar. "Dia bergerak...." takjub Andro ketika merasakan pergerakan saat mengusap perut Malika. "Hmm.... semakin hari Ia semakin lincah dan kuat...." sahut Malika tersenyum menatap perutnya yang masih diusap Andro. "Kau...., baik-baik saja?...." tanya Andro sedikit ragu dan kaku. "Saat dia menendangmu keras.....Kau baik-baik saja?.... Tidak sakit?..." lanjut Andro saat melihat Malika mengernyit tidak mengerti maksud pertanyaan Andro. "Aku baik-baik saja... walau terkadang nyeri tapi Aku bahagia karena itu pertanda Ia sehat dan kuat...." jawab Malika tersenyum menatap Andro karena merasa senang dengan pertanyaan yang menunjukkan Andro mengkhawatirkannya bukan hanya bayinya. Kini mereka pun saling bertatapan dan Andro menatap bibir Malika yang kini tersenyum bahagia padanya. Andro merasa Malika jarang sekali tersenyum seperti itu padanya hingga kini Ia pun ikut tersenyum. Perlahan wajah Andro pun semakin mendekat dan telah menempel tepat di bibir mungil Malika. Malika membulatkan mata terkejut sementara Andro merasa menyukai sensasi mencium bibir Malika, Andro pun mulai menggerakkannya walau Malika masih terdiam karena terkejut. Namun tidak lama kemudian Malika pun membalas ciuman Andro. Tangan kanan Andro menahan tengkuk Malika sedang tangan kirinya menahan pinggang Malika. Andro melepaskan ciumannya menatap Malika seolah melihat reaksi Malika. Merasa Malika tidak menolaknya, Andro pun kembali mencium Malika dan Malika mengalungkan tangannya pada leher Andro. Ciuman mereka pun semakin panas dan menuntut namun tetap lembut hingga terjadilah penyatuan tubuh mereka. ~oO0Oo~ Sejak saat itu hubungan Andro dan Malika mulai membaik walau terkadang Andro kaku dan Malika pemalu. Namun Andro berusaha menunjukkan perhatiannya. Malika berharap ini sebagai pertanda jika Andro sudah mulai mencintainya. "Mas... malam ini Mas akan pulang cepat?.." Malika berucap ragu. "Tidak tahu... tapi sepertinya ya... Ada apa?.." tanya Andro sedikit kaku. "Tidak ada... hanya saja Aku ingin menyiapkan makanan yang spesial untukmu....." "Ada apa?..." "Hari ini ... ulang tahun pernikahan kita Mas.... Bisakah kita menghabiskan malam bersama....." ucap Malika menunduk malu. Sedangkan Andro terdiam karena terkejut, Ia melupakan hari itu. "Baiklah.... akan Mas usahakan...." gumam Andro setelah tersadar dari keterkejutannya. Malika yang mendengarnya pun tersenyum. ~oO0Oo~ "Malika... Mas tidak bisa pulang cepat... terjadi sesuatu dengan Karin... Mas akan menjelaskannya nanti...." senyum yang menghiasi sepanjang hari ini langsung hilang dalam sekejap. Kini Malika hanya bisa meneteskan airmatanya sembari menatap segala hidangan yang sudah tertata rapi di meja. " Karin masih yang terpenting bagimu ternyata Mas..." Malika tersenyum miris. Tangan Malika bersiap membuang segala hidangan itu namun kemudian mengurungkannya mengingat itu sama saja membuang rezeky. Malika pun memutuskan memberikannya kepada pembantu dan juga supirnya sebelum Ia ke kamarnya untuk menyembunyikan kesedihannya di balik selimut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN