Teng.....Teng.....Teng
Lonceng gereja terdengar berbunyi nyaring di sebuah gereja besar yang kini menjadi saksi pernikahan antara dua insan manusia. Sang pria nampak berdiri di altar menunggu Sang wanita yang sedang berjalan didampingi pria paruh baya.
Sang wanita mungil itu nampak cantik dengan balutan gaun pengantinnya yang berwarna putih. Senyum bahagia juga haru jelas tercipta di wajah Sang wanita karena Ia akan menikah dengan pria yang Ia cintai.
Senyum tipis terlihat sekilas di bibir sang pria ketika sang calon mertua menyerahkan tangan anak gadisnya kepadanya sebelum mengucap janji suci di depan sang pendeta.
"Mohon jaga dan sayangi puteriku..... maklumi dan terimalah segala kekurangannya karena Ia hanya gadis polos... Berbicaralah dengan lembut maka Ia akan menuruti semua yang Kau inginkan..... Terimalah Ia sebagai isteri dengan hatimu....." petuah sang Ayah Mertua bernama Wibowo dengan tulus menatap sang mempelai pria.
"Baik.....Ayah...." jawab Pria tampan tersenyum tipis meyakinkan.
Pernikahan pun berlanjut secara khidmat dan sang mempelai wanita menangis haru dan senyum bahagia dengan statusnya sekarang sebagai Nyonya Andromeda Bagaskara. Namun senyum itu perlahan hilang saat Ia melihat wajah sang suami masih datar. Hanya menghela nafaslah yang bisa Ia lakukan karena Ia sadar suaminya tidak mencintainya. Pernikahan ini terjadi karena perjodohan dua keluarga.
Pemberkatan selesai dan kini semua tamu undangan nampak mulai berseru untuk pengantin.
"Cium.....cium. ....cium...."
Malika merona malu mendengar seruan itu namun Ia juga tidak sabar menunggu ciuman pertama dari suaminya itu. Andro menatap sang isteri intens masih dengan wajah datarnya. Perlahan wajah Andro mendekat dan Malika mulai memejamkan matanya menunggu bibir Andro melekat di bibir atau keningnya karena biasanya kedua tempat itulah yang memiliki arti spesial saat dicium. Di bibir berarti Kau mencintai dan sangat memujanya dan di kening berarti sangat menyayangi sekaligus ingin melindungi. Namun yang Andro berikan justru ciuman kecil di pipi membuat undangan mendesah kecewa termasuk sang mempelai wanita. Tapi Ia tetap berusaha tersenyum wajar karena Ia tahu inilah resiko menikah dengan pria yang mencintai wanita lain.
"Malika..... Selamat......" ucap seorang wanita cantik seumuran dengannya yang merupakan sepupunya. Malika menerima dengan senyum tipis ucapan dan pelukan sepupunya itu.
"Meda, selamat....." wanita itu pun memeluk Andromeda erat dan cukup lama karena Andro membalasnya dan seolah enggan melepasnya. Malika menatap miris adegan itu karena Ia tahu suaminya sangat mencintai sepupunya yang merupakan sahabat Andri.
"Terima Kasih Rin...." lirih Andro masih memeluk wanita bernama Karin itu.
"Hmm.....berbahagialah...." suara Karin nampak bergetar menahan tangis melepas sahabatnya sejak kecil. Perlahan Karin melepas pelukannya walau Andro nampak enggan. Karin tersenyum sekilas kepada Malika sebelum turun dari pelaminan dengan diikuti tatapan lekat Andro membuat d**a Malika terasa sesak. Namun, Malika tetap berusaha tersenyum karena ini seharusnya adalah hari bahagianya.
~oO0Oo~
Pasangan pengantin yang baru saja menikah kini sudah tiba di apartemen sang pria dengan suasana yang hening juga canggung. Tepat setelah resepsi, Andro memaksa untuk langsung tinggal di apartementnya dengan alasan agar lebih leluasa. Keluarga Andro dan Malika pun tersenyum maklum lalu menggoda pasangan itu berfikir jika mereka ingin leluasa saat malam pertama.
"Kamarmu ada di lantai atas...." ucap Andro dengan nada datarnya lalu melangkah menuju sebuah pintu di lantai bawah.
"Apa artinya kami pisah kamar?...." batin Malika sakit.
"Huft......" menghela nafas, itulah yang bisa Malika lakukan saat ini. Setelah tiba di kamarnya Malika pun duduk termenung di ranjangnya mengingat bagaimana perjodohan ini terjadi.
Flashback
"Kau mencintainya kan?...." Arman, Papa Andro menunjuk ke arah sofa yang berisi Mamanya, Malika, dan juga Karin. Tiga keluarga itu sedang berkumpul bersama karena saling bersahabat.
"I....iya...." ucap Andro tidak yakin dengan siapa yang ditunjuk Papanya. Namun Ia berfikir Papanya menunjuk Karin karena hanya Karin wanita yang dekat dengannya selama ini. Sedangkan dengan Malika, Andro hanya sesekali menyapa mengingat Malika yang pendiam dan pemalu.
"Calon besan..... benarkan anak Ku mencintai puterimu Malika ..... hhaha...." Arman tertawa bahagia memeluk Andro. Malika yang mendengarnya tersenyum malu dan bahagia namun senyum itu hilang saat melihat Andro terkejut dan menatap Karin. Awalnya Ia ragu mengenai perasaan antara Andro dan sepupunya Karin karena mereka memang dekat dan bersahabat. Namun dugaan itu semakin kuat ketika kini melihat Andro menatap sedih Karin dan sebaliknya. Malika ingin membantah perjodohan itu namun melihat Ayahnya dan Papanya Andro sudah berpelukan dan saling tertawa bahagia juga Bundanya dan Mamanya Andro mereka sudah mulai membicarakan pernikahan dengan sangat semangat membuatnya mengurungkan niatnya. Ia berfikir untuk menunggu mungkin Andro lah yang akan mengatakan penolakan perjodohan ini.
Namun tidak terdengar sama sekali berita penolakan dari Andro hingga akhirnya mereka menikah. Sejak perjodohan itu Androsama sekali tidak mau menyapa Malika walau saat itu Ia bersama Karin. Andro bahkan menatapnya datar, tidak seperti dulu. Sebelum perjodohan itu Andro memang tidak akrab dengan Malika seperti dengan Karin namun Andro masih mau menyapanya sekedar berbasa-basi. Malika juga tidak tahu bagaimana bisa orang tua mereka berfikir Andri mencintai Malika padahal mereka sama sekali tidak dekat. Mereka memang bertetangga namun Andro dan Malika bertemu hanya jika Malika kebetulan sedang bersama Karin.
Flashback end
~oO0Oo~
Kehidupan rumah tangga Andro dan Malika mulai berjalan. Orang-orang yang melihat akan berfikir jika rumah tangga mereka baik-baik saja karena tidak pernah terdengar berita pertengkaran mereka. Namun tidak ada yang tahu jika kehidupan rumah tangga mereka sangat hampa. Walau Malika berusaha melakukan tugasnya sebagai seorang isteri dengan baik namun Andro tetap hanya menunjukkan wajah datarnya.
Setiap pagi Malika selalu menyiapkan sarapan dan Andro pun selalu memakannya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Malika pun selalu menyiapkan segala kebutuhan Andro, membersihkan rumah, memasak, mencuci pakaian Andro dan lainnya. Namun tetap saja tidak ada komunikasi yang baik antara mereka. Malika yang memang pendiam dan pemalu selalu takut untuk memulai pembicaraan atau berbasa-basi. Andro yang memang selalu pasif tidak pernah memulai pembicaraan apalagi Ia juga tidak menginginkan pernikahan ini membuatnya tidak mau berusaha untuk memperbaiki rumah tangga mereka.
Pernikahan mereka pun berlanjut hingga kini sudah berusia 5 bulan dan tetap tidak ada perubahan. Mereka masih tidur di kamar terpisah dan hanya berbicara jika ada hal penting. Andro pun masih sering menemui Karin di hari libur seolah tidak ingin berlama-lama bersama Malika. Malika hanya bisa menangis sendiri di kamarnya mengingat statusnya sebagai isteri Andro namun Ia sendiri merasa hanya sebagai pembantu.
"Mas Ando.....hikz......sampai kapan Aku harus begini.....hikz.....jika Kau memang tidak ingin menikah denganku kenapa tidak menolaknya sejak awal.....hikz.....kenapa harus menerima pernikahan ini jika hanya membuat Kau dan Aku menderita..... hikz..... Aku mencintaimu Mas.....hikz.....Tak bisakah Kau merasakannya? ..... hikz..... Sakiiit....." Malika menangis terisak di kamarnya sembari memukuli dadanya yang terasa sesak. Malika ingin sekali mengubah kehidupan rumah tangganya namun Ia terlalu takut jika tanggapan Andro negatif sehingga membuatnya semakin sakit hati. Perceraian, itu sempat terlintas di pikiran Malika namun Ia tidak bisa, mengingat orang tuanya yang sangat bahagia dengan pernikahan ini. Ia juga tidak ingin orangtuanya sedih mengingat pernikahan anak satu-satunya berantakan. Malika merasa untuk saat ini Ia hanya harus menerimanya dan menunggu Andro melihatnya.
~oO0Oo~
Malika baru saja selesai menyiapkan sarapan dan menunggu Andro keluar kamar. Sudah 30 menit namun Andro juga tidak terlihat.
"Apakah Mas Ando tidak bekerja?....Atau Mas Ando kesiangan?..." lirih Malika sembari melihat pintu kamar Andro yang tidak juga terbuka. Dengan langkah ragu Malika mendekati kamar Ando.
Tok....tok....tok....
Malika berusaha mengetuk pintu kamar Andro berharap Andro bangun dan membuka pintunya. Sudah berulang kali Malika mengetuk pintunya namun Andro tidak juga membuka pintu kamarnya. Malika pun mulai cemas berfikir Andro sakit karena kelelahan mengingat sudah beberapa hari ini Andro pulang larut malam dan pergi pagi sekali.
"Mas..... Mas Ando...." panggil Malika pelan setelah mencoba membuka pintu dan beruntung pintunya tidak terkunci. Malika melihat Andro masih tidur di ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya.
"Mas..... Mas baik-baik saja? ,...." Malika berujar khawatir ketika melihat Andro tidur dengan keringat di wajahnya padahal suhu kamar Andro cukup dingin.
"Mas Ando..... Kau demam?..." Malika semakin khawatir ketika merasa suhu badan Andro sedikit tinggi. Dengan cepat Malika kembali ke dapur untuk mengambil air hangat dan mengompres Andrk. Malika mengompres kening Andro dengan lembut dan telaten. Tidak lupa Malika juga membuka baju Nadrk mengingat baju Andro yang sedikit basah karena keringatnya. Andro nampak gelisah dalam tidurnya karena tubuhnya yang kurang sehat. Malika sedikit memijat tangan, kaki dan tubuh Andro agar peredaran darah Andro lancar.
Setelah Andeo nampak tenang dalam tidurnya, Malika pun kembali ke dapur untuk membuat bubur. Satu jam kemudian akhirnya Andro membuka mata dan terkejut mendapati Malika sedang duduk di dekatnya di tepi ranjang.
"Mas.....Kau... sudah bangun?....Kau demam ...karena itu....Aku di sini merawatmu,,,," ucap Malika pelan sedikit takut Andro tidak suka dengan keberadaannya. Andro tidak berucap apapun dan mencoba duduk. Malika yang melihat Andro kesulitan pun mencoba membantunya. Andro duduk bersandar dengan wajah lesu dan tubuh tampak lemas.
"Aku akan mengambilkan bubur untuk Mas Ando...." Andro tidak menjawab apapun dan hanya memijat pelipisnya karena kepalanya terasa sangat sakit. Tidak berapa lama Malika datang dengan membawa bubur.
"Mas.... makanlah..... buka mulutmu... Aku..... akan menyuapimu....." ragu Malika. Andro membuka matanya menatap Malika kemudian mulai menegakkan kepalanya. Malika meniup sebentar bubur itu sebelum menyodorkan kepada Andro dan Andro memakannya tanpa membantah.
"Sudah....." Andro merasa tidak sanggup melanjutkan makannya karena kembali sakit kepala.
"Mas minum obat dulu.....kemudian berbaringlah lagi...." Andro meminum obat yang Malikà berikan kemudian berbaring kembali. Malika sedikit membantu hanya dengan merapikan selimut Andro. Ingin sekali Malika memijat atau membelai kepala Andro untuk meredakan sakit kepala Andro namun lagi-lagi Malika takut akan penolakan Andro.
Siang itu Malika tetap diam di kamar Andro menunggui Andro karena mungkin Andro membutuhkan sesuatu. Walaupun suhu tubuh Andro sudah menurun namun tubuh Andro masih lemah dan masih sering sakit kepala.
Sembari duduk Malika melihat-lihat sekeliling kamar Andro yang nampak rapi dan maskulin dengan kombinasi warna hitam putih. Malika tersenyum entah karena alasan apa, mungkin karena Ia cukup senang bisa berada di kamar pria yang Ia cintai.
Perlahan senyum Malika memudar ketika melihat beberapa foto diatas meja kerja Andro. Di sana terdapat foto Andro dengan keluarganya dan juga foto Andro bersama wanita yang tentunya adalah Karin. Malika berusaha mengalihkan matanya tidak ingin terlalu lama melihat senyum bahagia Andro bersama Karin di foto itu. Album foto, tangan Malika sontak terangkat ketika melihat sebuah album foto yang terletak di atas nakas sebelah ranjang Andro.
Dalam album itu terdapat foto Andro sejak dari bayi hingga sekarang bersama orang-orang terdekatnya seperti keluarga dan tentu saja dengan Karin. Foto itu nampak tersusun rapi di album itu hingga pada halaman terakhir terdapat satu foto yang tidak berada di tempatnya sepertinya karena sengaja dilepas. Foto tersebut merupakan foto Andro, Malika dan Karin. Malika ingat itu merupakan foto saat ulang tahunnya yang ke 23. Foto itu di dapat tanpa sengaja saat sepupu Andro, Adrian mengambilnya tiba-tiba. Dalam foto itu terlihat jelas jika Andro saling bertatapan dengan Karin sedangkan Malika yang duduk tidak terlalu jauh dari mereka nampak menatap Andro tentunya tanpa Andro sadari.
"Apa Mas Ando melepas foto ini karena tidak ingin ada satupun fotoku di album ini?..." batin Malika sedih. Tanpa bisa ditahan setetes airmata Malika keluar mengalir dari ujung pelupuk matanya.
Drrttt
Ponsel Malika bergetar karena ada panggilan masuk.
"Hallo....."
".........."
"Iya Papa.... Mas Ando sedang demam jadi tidak bisa bekerja....."
"........."
"Eoh?....Benarkah?...."
"............"
"Baiklah Pa......Aku akan menyampaikan pada Mas Ando...."
"..........."
"Iya Pa....selamat siang...."
Malika tersenyum miris setelah panggilan itu terputus.
"Jadi itukah alasannya?!.... Apa Mas sakit karena mengetahui jika Karin akan bertunangan....." lirih Malika sedih merasa bersalah telah memisahkan Andro dari wanita yang sangat Ia cintai.
"Apa Aku harus merelakanmu dan melepaskanmu Mas?.... Mengetahui Ia akan bertunangan saja membuatmu sakit.... Apalagi jika Kau benar-benar tidak bisa memilikinya?!....Aku tidak suka melihatmu sakit Mas....." lirih Malika sembari mengusap kepala Andro pelan tidak ingin Andro terbangun. Tanpa Malika sadari Andro sedikit tersadar dan mendengar semua ucapan Malika namun Ia lebih memilih tetap memejamkan matanya.
~oO0Oo~
Malam harinya Malika terbangun setelah cukup lama tertidur ketika menjaga Andro. Namun Malika sedikit heran ketika Ia merasa nyaman dalam tidurnya tanpa merasa pegal karena tidur di kursi. Perlahan mata Malika terbuka dan Ia terkejut ketika mendapati kini Ia tidur di atas ranjang terlebih dengan tangan yang melingkar di pinggang Andro. Malika berfikir apa Ia berjalan sambil tidur walau Ia belum pernah mengalami itu namun baginya itu alasan paling logis daripada berfikir jika Andro yang melakukannnya terlebih Andro masih lemah.
Malika bergerak ingin beranjak namun tiba-tiba dua buah tangan kekar menariknya hingga Ia kembali berbaring.
"M...Mas....Ando...." gugup Malika.
"Jangan pergi....." lirih Andro kemudian memeluk Malika dan menyembunyikan kepalanya di cerukan leher Malika.
"M....Mas..... Mas Ando..... Kau kenapa?...." suara Malika gugup terlebih darahnya berdesir merasakan pelukan Andro. Andro tidak menjawab dan justru semakin mengeratkan pelukannya. Tanpa bisa ditahan tangan Malika terangkat mengusap rambut lebat Andro. Sejujurnya ini adalah kegiatan yang sering Ia bayangkan dan ternyata sungguh perasaannya sangat bahagia kini. Namun kebahagiaan itu menghilang saat ia sadar jika Andro melakukan ini karena sedang sakit dan itu karena memikirkan Karin. Mungkin juga Andro kini sedang membayangkan bahwa yang dalam pelukannya kini adalah Karin. Tanpa dikomando airmata menetes dari kedua mata almond Malika.
Perlahan kepala Andro terangkat dan kini Ia menatap Malika. Malika tidak begitu jelas melihat wajah Andro karena kini kamar mereka gelap tanpa nyala lampu dan hanya ada pencahayaan sinar bulan sedikit. Andro mengusap pipi Malika sebelum akhirnya bibirnya menempel lembut pada bibir Malika dan berhasil membuat mata Malika membulat dengan degup jantung yang berdegup kencang. Malika sadar apa yang terjadi sehingga Ia berusaha menyadarkan Andro dengan cara mendorong dan memukul-mukul d**a bidang Andro. Namun Andro tetap pada aktifitasnya melumat lembut bibir Malika dan hanya melepas ciuman itu untuk bernafas.
Malika pun mulai pasrah dan menerima ciuman Andro. Ciuman Andro terasa begitu lembut sehingga Malika mulai terlena dan membalas perlakuan Andro walau dalam hatinya sakit mengingat Andeo melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Malika berusaha menikmatinya dan mengingat jika ini merupakan salah satu kewajibannya sebagai seorang isteri apapun alasan suami melakukannya.
Ciuman mereka semakin lama semakin panas dan Andro mulai meraba tubuh Malika. Secara perlahan pakaian Malika pun terlepas tanpa sisa dari tubuhnya. Setelah menyesapi kulit mulus Malika, Andro pun bangkit melepaskan seluruh pakaiannya. Andro sempat menatap Malika sejenak masih dengan nafas keduanya memburu akibat gairah mereka. Tanpa sadar Malika mengusap wajah Andro, turun hingga ke perut six pack Andro sebelum Andro kembali menghujani Malika dengan ciuman. Malika hanya bisa melenguh nikmat hingga tubuh mereka menyatu dan k*****s secara bersamaan.
~oO0Oo~
Sebulan sudah waktu berlalu, dan sejak Andro dan Malika melakukan hubungan suami isteri, sejak itu pula mereka semakin canggung. Andro semakin dingin begitu pula Malika yang semakin tertutup. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam hati atau pikiran mereka karena mereka sama-sama orang yang suka diam dan menyembunyikan masalah mereka.
Ketika pagi itu Malika terbangun dan mengingat jelas apa yang terjadi, Ia langsung saja merapikan dirinya dan kembali ke kamarnya. Seharian Malika menangisi nasibnya. Ia tidak menyesal menyerahkan harta berharganya pada orang yang Ia cintai terutama pria itu merupakan suaminya. Namun Ia sedih mengingat alasan Andro melakukan hal itu. Ia juga memikirkan apa yang harus Ia lakukan. Baru saja Ia berniat mengalah agar Andro dan Karin bisa bersatu, namun hal ini justru terjadi. Bagaimana jika Ia hamil dan tentunya tidak mungkin Ia bisa berpisah dengan Andro karena Ia ingin anaknya tetap memiliki seorang ayah. Haruskah Ia berdoa agar tidak hamil?. Namun disatu sisi Ia berharap Ia bisa hamil agar Ia bisa tetap bersama Andro dengan alasan anak mereka. Namun lagi-lagi sisi naif dan malaikat Malika tidak tega jika harus menahan Andro sementara Andro mencintai wanita lain.
Ditengah segala pemikirannya itu, Malika menjadi sosok yang semakin pemurung tanpa senyum walau hanya senyuman tipis. Selama sebulan itu Malika hanya sekali berbicara dengan Andro yaitu saat menyampaikan jika bulan ini Karin akan bertunangan di Yogyakarta dan mereka harus menyediakan waktu untuk menghadirinya mengingat keluarga Karin merupakan orang terdekat keluarga Andro dan Malika.
Hari ini pun tiba, Malika sedang menyiapkan pakaian Andro untuk dibawa ke Jeju. Malika ingin menolak karena tidak ingin melihat Andro menjadi pesakitan nanti saat melihat wanita yang Ia cintai bertunangan dengan pria lain. Malika bisa saja beralasan Ia tidak enak badan karena sesungguhnya Ia memang merasa lemah beberapa hari terakhir. Namun Ia tidak ingin membuat keluarganya khawatir dan mungkin saja meminta Andro untuk merawat Malika dan tidak perlu ke Yogya.
"Malika.... Kau baik-baik saja?... " Malika otomatis tersentak mendengar suara Andro yang tiba-tiba mengalun walau datar namun Malika merasa ada sedikit kekhawatiran di nada suara Andro saat melihat Malika agak goyah sembari memegang kepalanya.
"Aku baik-baik saja.....Ak...Aku... sudah menyiapkan keperluan Mas Ando.... Aku akan ke atas untuk bersiap...." ucap Malika berlalu dengan wajah menunduk tidak ingin bertatapan dengan Andro terlebih Andro hanya mengenakan handuk di bagian pinggang ke bawah karena baru selesai mandi. Andro menatap nanar punggung Malika karena sesungguhnya Ia ingin bicara kepada Malika. Namun melihat Malika yang selalu menghindar membuat Andro pun ragu walau rasa bersalah semakin kuat di hatinya.
Satu jam Andro sudah menunggu Malika namun Malika tidak juga turun dari lantai atas. Andro yang sudah siap pun berinisiatif memanggil Malika ke kamarnya. Betapa terkejutnya Andeo ketika melihat Malika sudah terbaring tidak berdaya di lantai dengan pintu kamar terbuka karena Malika sepertinya pingsan saat akan keluar kamar. Dengan panik Andro menggendong Malika menuju mobilnya ke rumah sakit dan melupakan acara pertunangan Karin di Yogya.