I Love You Stupid Girl

3676 Kata
"Hei... gadis bod*h... Kenapa tidak mengerti juga.... Harus berapa kali aku menjelaskan... Bukankah ini sudah ada rumusnya. Aisshhh.... Kau benar-benar gadis bod*h...." ucap seorang pria dengan kesalnya karena wanita yang diajari sulit mengerti. "Aish.... Kavi, kenapa Kau selalu mengatakan aku bodoh.... Aku tidak bodoh aku hanya sulit memahami.... Lagi pula aku hanya tidak bisa pelajaran matematika...." jawab wanita bernama Vira itu juga kesal kepada pria yang bernama Kavi. "Hanya matematika Kau bilang?.... Kau itu sangat bodoh pada semua pelajaran fisika, kimia, kesenian..." "Aish.... tapi aku pintar bahasa inggris, bahasa jepang, sejarah, pengetahuan sosial..." "Iya itu karena Kau hanya pintar menghapal. Tapi kau bodoh... bahkan sangat bodoh dalam hal ME...MA...HA...MI...." ucap Kavi pasti sembari menunjuk kening Vira berulang kali. "Aish.... Kau benar-benar menyebalkan.... Aku tidak mood lagi.... Aku pulang..." Ucap Vira sembari memberesi barang-barangnya kemudian pergi meninggalkan Kavi yang tengah menatapnya hingga menghilang dibalik pintu yang kemudian membuat Kavi menghela nafas kuat dan sedikit heran. Kavi dan Vira adalah tetangga dekat sejak 3 tahun yang lalu. Kedua orang tua mereka bersahabat sehingga sejak Vira kelas 1 SMA orang tua Vira meminta agar Kavi membantu Vira belajar. Kavi merupakan anak yang pintar dan satu tingkat lebih tinggi daripada Vira sehingga dirasa sangat cocok untuk menjadi guru privat Vira. Kavi anak yang cool dan jarang bicara. Namun jika bersama Vira dia menjadi cerewet sekali lebih tepatnya suka mengomeli Vira yang selalu ia sebut gadis bod*h. Sebenarnya Vira tidak terlalu bodoh karena Vira dapat memahami yang Kavi ajarkan walau setelah 5 kali pengulangan dan itupun jika Vira fokus. Vira terkadang sulit sekali fokus karena masalah yang sama yaitu masalah yang tidak lain dan tidak bukan adalah pesona Kavi yang bagi Vira sangat keren ketika mengajarinya. Namun sangat meyebalkan setelahnya karena terus memanggilnya gadis bod*h. Vira sering kali terpesona oleh Kavi sehingga membuatnya lebih fokus menatap Kavi dari pada menatap pelajarannya. "Aish... dia itu menyebalkan sekali.... Tidak bisakah Ia bersikap baik sekali saja padaku seperti sikapnya pada Mbak Mona..." Gerutu Vira kesal di kamarnya. Vira biasanya bisa menahan kesalnya diomeli Kavi berjam-jam asal bisa bersama Kavi. Namun kini dia hanya bisa bertahan selama satu jam hal itu disebabkan karena tadi sebelum Ia belajar bersama Kavi, Vira melihat Kavi dan Mona nampak akrab dan tertawa bersama. Vira sangat kesal, lebih tepatnya cemburu. Kavi selama ini tidak pernah bersikap baik padanya sedangkan Kavi sangat baik dan bisa tertawa saat bersama Mona yang merupakan sahabatnya. Kavi hanya bersikap baik pada Vira jika Vira sakit sehingga Vira sering berharap sakit apalagi ketika Kakaknya sedang tidak ada di rumah maka otomatis yang akan merawatnya adalah Kavi. Vira bahkan sering kali banyak memakan buah asam di pagi hari hanya agar Ia diare dan lemas sehingga Kavi akan merawatnya. Itulah salah satu lagi alasan Kavi memanggil Vira dengan sebutan gadis bodoh karena Kavi sudah sering memperingatinya namun Vira tetap melakukannya. Vira hanya tinggal di Bandung bersama kakak laki-laki pertamanya yaitu Fandi. Sedangkan Bunda, Ayah dan kakak keduanya tinggal di Jepang mengurus bisnis di sana. Waktu itu Vira sempat terkena gejala tipes yang menyebabkan Ia menggigil dan diare namun Fandi sedang keluar kota jadi Kavu yang merawatnya walau ada pembantu Vira di rumah itu. Vira menumpahkan emosinya pada boneka beruang besar pemberian Kavi saat Vira berhasil mendapat nilai 100 pada pelajaran matematika untuk pertama...dan terakhir kalinya. Kavi berjanji akan memberikan hadiah pada Vira jika Vira bisa mendapat nilai sempurna pada ujian kenaikan kelas dari kelas 1 ke kelas 2 dan hasilnya ketika Vira berhasil Kavi mau tidak mau membelikan Vira boneka beruang yang sangat besar sesuai permintaan Vira. Setelah puas menganiaya boneka beruang itu akhirnya Vira terlelap. ~oO0Oo~ "Kavi...." teriak Vira keras saat melihat Kavi sedang mengeluarkan motornya dan akan pergi ke kampus. Kavi menolehkan wajahnya menatap Vira sekilas dengan wajah datarnya kemudian berbalik untuk mengunci pagarnya. Ketika akan menjalankan motornya Kavi merasa ada seseorang yang telah naik ke motornya lalu memeluknya erat. "Kavi aku ikut... Antar aku ke sekolah Ya...." Ucap Vira sedikit manja membuat Kavi menghela nafas lalu tanpa berkata apa-apa langsung menjalankan motornya. Begitulah hubungan KaRa (Kavi dan Vira). Walaupun kemarin mereka saling kesal dan berteriak namun keesokannya mereka bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Kavi berkuliah di kampus yang kebetulan searah dengan sekolah Vira. Saat akan melewati halte Vira melihat Mona sedang menunggu bus. Vira sedikit khawatir dan takut Kavi menurunkannya karena lebih memilih bersama Mona. Vira pun memeluk erat kemudian mengalihkan matanya pura-pura tidak melihat Mona. Kavi yang menyadari keberadaan Mona hanya membunyikan klakson sebagai tanda menyapa Mona. Vira yang merasa sudah melewati halte merasa senang Kavi tidak menurunkannya. Vira penasaran apa Mona marah atau kecewa dengan Kavi karena tidak mengajaknya bareng ke kampus, karena itu Ia melihat ke arah Mona. Vira sedikit heran karena Ia tidak melihat wajah sedih, kecewa atau marah melainkan wajah tersenyum. "Apa hanya dengan klakson dari Kavi dan dapat melihat Kavi sudah membuat Mbak Mona senang?..." pikir Vira dengan polosnya karena itulah yang Vira rasakan saat tanpa sengaja bertemu Kavi. Walau Kavi hanya melihatnya sekilas tanpa berkata apapun itu sudah bisa membuat Vira tersenyum sendiri. "Kavi, kenapa Kau tadi tidak mengajak Mbak Mona?...." tanya Vira ketika Kavi sudah menurunkan Vira depan sekolahnya. " Bukankah Kau yang tanpa permisi sudah naik ke motor ku lalu memelukku erat...." Ucap Kavi datar namun membuat Vira merona mendengar kata 'memeluk erat'. Vira cukup malu mendengarnya karena itu seperti mengatakan Vira gadis yang tergila-gila pada Kavi dan tidak ingin melepaskan Kavi, walau sepertinya benar. "Huuh.... tapi kan Kau tadi bisa menurunkan ku di halte lalu mengajak Mbak Mona....." jawab Vira pura-pura kesal dengan ucapan Kavi tentang 'memeluk erat'. "Aku.... aku.... sedang terburu-buru..."Jawab Kavi datar namun sedikit gugup sembari memalingkan wajahnya agar tidak melihat wajah Vira. "Lalu kenapa Kau sekarang bisa santai di sini bukannya langsung pergi..." tanya Vira polos lagi yang membuat seketika itu juga Kavi menatapnya kesal lalu segera memakai helmnya dan menjalankan motornya meninggalkan Vira yang mengernyit bingung. Namun setelahnya Vira hanya mengendikkan bahu tak peduli lalu berjalan memasuki sekolahnya dengan tersenyum senang karena baru saja memeluk Kavi selama perjalanan dari rumah ke sekolahnya yang menghabiskan waktu 30 menit karena Kavi mengendarai motornya dengan santai. ~oO0Oo~ Vira pov "Hei, gadis bod*h.... apa yang Kau fikirkan?.." tanya Kavi langsung ketika sampai di taman belakang rumahku dan mendapatiku yang melamun. Aku hanya melihat sekilas ke arah Kavi lalu kembali melihat bunga matahari yang memenuhi taman belakang rumahku. "Hei gadis bodoh.... Kau kenapa?..." tanya Kavi padaku sedikit....khawatir? "Tidak... tidak mungkin Ia khawatir..." pikirku lalu mengeleng-gelengkan kepalaku agar pikiran itu hilang. "Hei... gadis bodoh..." ucapnya keras sembari menangkup kepalaku agar berhenti menggeleng. Saat aku berhenti menggeleng-gelengkan kepalaku aku dapat melihat jelas wajahnya yang kini menatap wajahku lekat dengan pandangan khawatir. Aku yang sadar wajahku berada dekat dengan wajahnya langsung memerah. Sepertinya Ia menyadari apa yang ia lakukan sehingga Ia tiba-tiba melepaskan tangannya dari wajahku. "Ehm.... aku sudah tau bahwa Kau bodoh dari kemampuan berfikirmu Jadi jangan tunjukkan kebodohanmu yang lain dengan tingkah anehmu..." ucapnya kembali seperti biasa...datar. "Aishhh....menyebalkan...." gerutuku kesal. "Ckckck.... jangan kau tunjukkan wajah bebekmu itu..." Ucapnya dengan sedikit terkekeh dan tersenyum yang membuatku kembali terpesona. Jarang-jarang aku melihat tertawa dan senyum manisnya untukku. Apa hanya dengan memajukan mulutku karena kesal sehingga baginya seperti bebek dapat membuatnya tersenyum. Kalau begitu aku akan sering-sering memajukan mulutku saja saat kesal, pikirku. "Hei.... apa yang Kau fikirkan?.... Kenapa tersenyum seperti itu?..." tanyanya sedikit heran dan ngeri melihatku tersenyum karena pikiranku. "Bukankah Kau bilang kemampuan berfikirku nol, jadi mana mungkin aku berfikir..." ucap datar karena pertanyaannya membuatku kembali kepada apa yang aku pikirkan tadi. "Aish... sebaiknya Kau gunakan otakmu itu untuk belajar bukan berfikir yang tidak-tidak..." ucapnya lagi sedikit heran yang membuatku heran. Kenapa Ia tidak kesal menanggapiku yang menjawab asal pertanyaannya. "Bukankah Kau bilang aku tidak punya otak... jadi bagaimana aku menggunakannya.. ." ucapku lagi datar mencoba membuatnya kesal, karena sepertinya sikap kesalnya sangat menggemaskan pikirku. "Huuh... ada apa sebenarnya denganmu?..." tanyanya lembut sambil menghela nafas heran dan khawatir sepertinya. Apa sikapku yang berbeda dari biasanya membuatnya khawatir? Tapi aku senang jika seperti itu....hehe...tawaku dalam hati. "Sudahlah ikut denganku saja daripada Kau melamun tidak jelas..." Ucap Kavi lagi lalu menarikku ke kamar ku menyuruhku berganti pakaian. "Aish Kavi, hari ini hari minggu.... Jadi tidak ada jadwal privat...." Ucapku protes. "Dasar gadis bod*h.... kalau untuk belajar untuk apa Aku memintamu berganti pakaian?...Cepatlah bersiap.... Temani aku mencari buku sekalian kita akan mencari buku pelajaran untuk ujian kelulusanmu bulan depan...." Ucap Kavi sembari membuka lemariku dan mengambil baju santai berupa kaus lengan panjang berwarna putih kombinasi merah pada lengannya dan celana jeans panjang sebagai bawahannya. Sepertinya Kim Bum sengaja langsung memilihkan pakaian untukku karena tahu jika Aku yang memilih sendiri maka akan menghabiskan waktu yang lama. Vira pov end. Vira dan Kavi kini tengah berada di toko buku besar dengan kesibukan masing- masing. Kavi yang tengah asyik membaca buku pelajaran mencari buku yang Ia butuhkan sementara Vira malah asyik memilih-milih novel. Kavi yang melihatnya hanya menghela nafas dan tersenyum kemudian menghampiri Vira. Vira hanya melirik Kavi sekilas lalu kembali asyik dengan kegiatannya. Kavj yang merasa Vira sangat lama langsung mengambil salah satu novel ditangan Vira yang Kavi anggap cukup menarik. Kavi segera membayar semua buku yang Ia beli termasuk buku milik Vira yang tentunya membuat Vira senang. Setelahnya Kavi mentraktir Vira makan siang dan tentunya Vira tidak menyia-nyiakannya maka Vira memesan banyak makanan plus camilan dan eskrim. Hal itu membuat Kavi tersenyum tipis tetap mempertahakan sikap datarnya dan menggelengkan kepalanya. Vira sedikit terkejut dan heran saat Kavi menggandeng tangannya lembut. Vira ingin bertanya namun diurungkan karena takut Kavu malah akan melepaskan gandengannya. Kavi mengajak Vira melihat pakaian dan pernak-pernik wanita menyuruhnya memilih-milih bahkan Kavi dengan sabar menghadapi Vira yang selalu sulit memilih walau terkadang sedikit kesal. Merasa Kavu tidak pernah bersikap manis seperti ini Vira memanfaatkannya dengan bersikap mesra kepada Kavi seolah mereka sepasang kekasih. Vira berjalan mesra sembari memeluk pinggang Kavi dan merangkulkan tangan Kavi dibahunya. Kavi tentunya terkejut dan ingin melepaskannya namun dibatalkan saat Vira semakin memeluknya erat dan menunjukkan senyum polos dan sedikit manja dan Kavi hanya bisa menghela nafas dan memalingkan wajahnya. Akhirnya seharian itu mereka berpelukan sepanjang jalan. Bahkan saat Vira lupa memeluknya giliran Kavi yang memeluk Vira. Diperjalanan pulang Vira terus saja tersenyum senang sambil memeluk Kavi erat sampai tiba di depan rumahnya. "Hei gadis bodoh..... ini sudah sampai.... Apa Kau tidur?" "Hehe... Tidak.... Terima Kasih Kak Kavi untuk hari ini.....kapan-kapan Kakak harus mengajakku jalan-jalan lagi..." "Kakak? Akhirnya Kau memanggilku Kakak..." ucap Kavi menyindir. "Aish.... dulu Aku juga awalnya memanggilmu Kakak.... Tapi karena Kau yang selalu menyebalkan dan memanggilku gadia bodoh jadi Aku malas memanggilmu Kakak..." gerutu Vira kesal. "Baiklah... Aku tak peduli Kau memanggilku apa asal Kau tetap memanggilku setiap hari..." ucap Kavi sembari menatap Vira yang sedang mencari Kunci gerbangnya karena tidak ingin mengganggu pembantunya yang mungkin sudah tidur mengingat sekarang sudah pukul 9 malam. "Aish... tentu saja Aku akan tetap memanggilmu... Akukan tidak bisu...." ucap Vira kesal lalu menyerahkan kunci gerbangnya kepada Kavi bermaksud meminta Kavi yang membukanya karena Vira selalu kesulitan. "Dasar gadis bodoh..." ucap Kavi kemudian membukakan pintunya. "Kavi, minggu depan kita ke bioskop lagi bagaimana?..." tanya Vira yang kembali bersikap manja memeluk lengan kiri Kavi. "Untuk apa? Menghabiskan uang saja sedangkan Kau tidak serius menontonnya....bahkan mungkin Kau tidak tahu film apa yang tadi kita tonton..." "Hehhe..." tawa garing Vira malu mengingat selama menonton Ia hanya sibuk menikmati saat-saat memeluk Kavi dengan tenang karena semua yang berada diruangan itu asik menonton film sementara Vira asik mendengar suara detak jantung Kavi yang cepat dan keras tanpa peduli alasannya. "Sudahlah.... Aku pulang..." ucap Kavi berjalan ke arah motornya. Namun Vira menahan lengan Kavi membuat Kavi membalikkan badannya menghadap Vira. "Kenapa...? " tanya Kavi sembari mengernyit heran namun Vira hanya tersenyum kemudian kembali memeluk Kavi erat membuat Kavi terkejut dan menahan nafasnya. Lalu Vira mencium pipi kiri Kavi dan berlari setelahnya. Kavi pun akhirnya bisa kembali bernafas dan kemudian segera membawa motornya sambil tersenyum. ~oO0Oo~ Seminggu berlalu sejak 'kencan' itu. Seperti biasanya keesokan harinya KaRa bersikap biasa kembali. Dengan kekesalan dan sedikit pertengkaran membumbui kehidupan sehari-hari mereka. Kavi kembali mengajar Vira dilengkapi dengan berbagai omelannya mengingat minggu depan Vira ujian. Namun Vira nampaknya kali ini serius belajar selama seminggu untuk menghadapi kelulusannya. Vira menatap sedih pemandangan di depannya saat baru saja akan memasuki rumah Kavi. Vira awalnya berniat memberikan oleh-oleh Kakak keduanya yaitu Sandy yang Sabtu pagi ini baru tiba di Bandung untuk liburan. Namun Vira malah melihat Kavi sedang memeluk erat Mona. Sontak saja hal itu membuat airmata Vira menetes dan segera meninggalkan rumah Kavi tanpa memberikan oleh-oleh dari Sandy. Vira menangis memasuki rumahnya lalu melemparkan oleh-oleh itu ke sofa dan segera berlari ke kamarnya membuat Sandy, Fandy serta Bunda, Ayahnya heran. Kakak-kakaknya sedikit khawatir sehingga berniat menyusul Vira namun dicegah oleh Bundanya karena Vira jika menangis tidak ingin diganggu. Dan sebentar lagi Vira akan kembali bersikap seperti biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa. Minggu pagi ini Vira kembali merenung seperti minggu lalu dan teringat dengan nasehat Laily sahabatnya minggu lalu. "Vira sebaiknya Kau segera mengungkapkannya dari pada bingung dengan sikap Kak Kavi padamu.... Kalau ternyata Ia memiliki rasa yang sama sepertimu itu bagus.... Kalau pun Ia tidak memiliki rasa sepertimu setidaknya Kamu bisa antisipasi untuk mengurangi kadar cintamu agar tidak sulit ketika harus melepasnya...." Ucap Laily minggu lalu. "Ada apa lagi denganmu?... Kenapa bersikap seperti minggu lalu lagi?..." tanya Kavi langsung dengan nada menyindir saat melihat Vira melamun. Vira hanya diam bahkan tidak menoleh kearah Kavi karena jika melihat Kavi pasti Vira akan menangis mengingat apa yang Ia lihat kemarin. "Sepertinya hari ini lebih buruk...bahkan matamu nampak sembab..." gumam Kavi khwatir seraya menangkupkan kedua tangannya di pipi Vira dan memaksa lembut wajah Vira agar menghadapnya. Vira yang melihat wajah Kavi sangat dekat sontak membuat airmatanya mengalir walau tanpa suara. Kavi tentu saja semakin khawatir lalu berusaha mengusap airmata Vira namun percuma karena airmata Vira justru semakin deras. Ditengah kepanikannya Kavi langsung memeluk Vira untuk menenangkannya. 30 menit berlalu Vira masih berada dipelukan Kavi walau kini sudah tenang dan tidak menangis. "Ada apa sebenarnya?..." tanya Kavi lembut sembari mengusap punggung dan rambut Vira lembut. Vira segera melepaskan pelukan Kavi dan berdiri menjauhi Kavi. "Tidak ada apa-apa...." ucap Vira datar walau sedikit bergetar karena sisa-sisa tangisannya. "Jangan berbohong... Kau itu gadis bodoh jadi Kau juga sangat bodoh dalam berbohong..." ucap Kavi ingin membuat Vira kesal. Kavi merasa lebih baik melihat Vira kesal daripada bersedih seperti saat ini. "Sudahlah.... aku tidak ingin bertengkar.." "Katakan dulu Kau kenapa...." "Aku tidak apa-apa Kavi.... Kavi mulai nanti malam Kau tidak perlu mengajariku lagi.... Kak Sandy yang akan mengajariku... Kau tidak perlu khawatir.... Kau juga untuk sementara jangan menemuiku dulu karena aku ingin fokus dengan ujianku..."ucap Vira lalu berniat pergi namun langsung ditarik kembali oleh Kavi sehingga Vira menghadap Kavi dan Kavi langsung menahan bahu Vira. "Ada apa sebenarnya? Aku tahu bukan itu masalahnya... jangan memintaku untuk tidak menemui tanpa alasan yang jelas..." ucap Kavi kesal. Vira diam menatap Kavi lalu segera mengalungkan tangannya dan mencium Kavi yang membuat Kavi kaget sehingga melepaskan tangannya dari bahu Vira. "Aku.mencintaimu Kavi.....hikz...." ucap Viramenunduk malu setelah melepaskan ciumannya. "Aku tidak ingin semakin mencintaimu jika bersamamu sementara Kau tidak mencintaiku..." lanjut Vira tersendat karena menahan tangis. "Vira......" "Sudahlah Aku tahu Kau tidak mencintaiku.... mana mungkin Kau menyukai wanita yang selalu kau sebut gadis bodoh... Aku menerimanya Kavi.... Tenang saja Aku tidak akan bunuh diri hanya karena ditolak...." Ucap Vira sembari berusaha tersenyum. "Vira tunggu.... Aku... mau... menjelaskan..." "Sudahlah Kavi.... Aku tahu Kau menyukai Mbak Mona.... Aku melihatmu kemarin... Mbak Mona pintar jadi sepertinya akan cocok dengan mu..." "Vira Anastasya... bisakah Kau diam... Aku mau bicara..." ucap Kavi kesal karena ucapannya selalu dipotong. "Hahaha... Kavi Kau tahu Aku benar-benar malu sudah mengatakan perasaanku... apalagi Kau menolaknya... Jadi Aku harap Kau benar-benar tidak menemuiku dulu sampai aku tidak malu lagi bertemu dengan mu...." ucap Vira lagi disertai tawa hambar lalu segera berlari kekamarnya meninggalkan Kavi yang masih syok. ~oO0Oo~ "Dasar gadis bodoh...." rutuk Kavi kesal sembari terus melajukan motornya menuju bandara untuk menemui Vira. Sejak minggu lalu Kavi tidak menemui Vira sesuai permintaan Vira karena tidak ingin mengganggu konsentrasi Vira. Hari ini tepat berakhirnya ujian Vira. Kavi yang merasa rindu dengan Vira pun segera ingin menemui Vira malam harinya namun yang Kavi dapat adalah kabar bahwa Vira akan ikut Kakak dan orang tuanya tinggal di Jepang. Kavi pun segera melajukan motornya dengan kecepatan penuh walau Ia berusaha tetap berhati-hati. Kini Kavi sudah tiba di bandara lalu segera berlari mencari Vira. Kavi terus-terusan merutuki kebodohan Vira yang akan pergi tanpa memberi tahunya dan mendengar penjelasannya. "Dasar gadis bodoh.... Apa Kau tidak tahu kalau Aku juga mencintaimu.... kalau tidak mana mungkin aku lebih memilih menghabiskan waktu seharian setiap hari bersama gadia bodoh sepertimu.... Walau tidak ada jadwal privat pun Aku menghampirimu... Aku bersikap datar dan sering mengomelimu karena Aku terlalu gugup dekat denganmu Vira Anastasya..... Bahkan Kau pasti merasakan detak jantungku yang cepat dan keras saat kau memelukku...." ucap Kavi menjelaskan dalam hati karena saat ini Ia belum juga menemukan Vira. "Gadis Bodoh....." teriak Kavi keras saat melihat Vira bersama Kakak dan orang tuanya yang akan segera check in. "Kavi... " gumam semuanya serentak. "Ada apa Kau kemari?..." tanya Vira ketus walau sebenarnya Ia merindukan Kavi dan ingin memeluk Kavi sebelum Ia pergi. Kavi hanya melirik kesal Vira lalu berbicara dengan Kakak dan orang tua Vira. "Ayah, Bunda apa Vira akan ikut kalian?..." tanya Kavi serius. "Iya Kavi... Dia ingin kuliah di sana..." jawab Bundanya Vira tersenyum. "Kenapa...?" "Apalagi tentu saja karena kesepian...." jawab Vira kesal. "Kesepian apa?... Bukankah Kau selalu menggangguku di rumah...." ucap Kavi juga kesal sementara yang lain hanya tersenyum menyaksikan perdebatan kedua orang itu. "Iya... karena itu seharusnya Kau senang Aku pergi jadi tidak ada yang mengganggumu...." "Aku lebih suka Kau ganggu.... itu sudah jadi kebutuhanku..." jawab Kavi pasti lalu mengalihkan matanya menghadap orang tua Vira lagi. Sedangkan Vira yang mendengar ucapan Kavi hanya mencibir sepertinya tidak mengerti maksud kata-kata Kavi. "Bunda, Ayah, Vira kan gadis bodoh jadi kenapa harus kuliah jauh-jauh?... Lagi pula siapa nanti yang akan.mengajarinya..." Ucap Kavi sedikit gugup. "Astaga.... Kavi..." "Tapi Kavi, Fandi juga akan pindah ke Jakarta jadi tidak akan ada yang menemaninya di rumah..." Ucap Ayah Vira lembut. "Aku....Vira bisa tinggal bersamaku.... Aku yakin Mama dan Papa akan menyetujuinya.... dan ada Bibi Mei juga disana...." "Kavi... kenapa Kau sangat memaksa...?" tanya Vira kesal. "Karena kalau Kau pergi, Aku yang kesepian.... lagi pula Kak Sandy kuyakin kau tidak akan sanggup mengajari gadis bodoh seperti dia...." "Hei....Kavi.... awas kau" Ucap Vira marah dan berniat mencekik Kavi namun kalah gesit dengan Kavi. Kavi yang melihat Vira berniat mencekiknya segera memegang dan menahan tangan Vira lalu mendekapnya erat agar tidak bisa bergerak. Vira sempat berontak namun saat menyadari kini Ia dipeluk Kavi membuatnya merona dan lupa untuk memberontak. "Aku akan memberikan ini sebagai jaminannya bahwa Aku akan menjaganya..." ucap Kavi sembari mengeluarkan kotak merah kecil yang berisi cincin couple. Hal itu tentu membuat Vira dan keluarganya kaget namun dengan persepsi berbeda. "Aish Kavi.... Bagaimana mungkin Kau hanya memberi dua cincin seperti itu bahkan tidak ada berliannya sama sekali.... Menurutmu Ayah dan Bunda akan mau menukarku dengan cincin itu.... Kau tahu Ayahku bahkan mampu membeli 1000 cincin yang lebih bagus dari itu...." ucap Vira kesal karena merasa ditawar murah oleh Kavi. Kavi hanya menghela nafas kesal dengan kebodohan Vira. Kakak, Ayah dan Bunda Vira terkekeh mendengar ucapan Vira lalu mereka mengambil dan mengamati cincin Couple itu. Sontak saja hal itu membuat Vira syok merasa orang tuanya akan menukar dengan cincin yang walau bagus namun tentu tidak sebanding dengan harga Vira. Sandy tersenyum melihat adanya tulisan KaRa di bagian dalam cincin itu. Orang tua Vira dan Sandy pun mengembalikan cincin itu kemudian tersenyum. "Bunda... Ayah .... hikz... Kalian benar akan... menukarku dengan cincin itu.... Hikz... hikz... Huwaaa" tangis Vira histeris membuat banyak pasang mata melihatnya. Kavi segera membekap mulut Vira lalu Sandy mulai bicara. "Bunda... Ayah... sebaiknya biarkan Vira di sini.... Aku percaya pada Kavi.... Lagi pula akan sangat sulit mencari guru baru yang bisa sabar mengatasi Vira seperti Kavi..." Ucap Sandy yang ditanggapi oleh anggukan dan senyuman orang tua Vira. Sedangkan Vira yang syok tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya diam merasa tak percaya orang tuanya benar-benar meninggalkannya hanya karena Cincin. Vira masih belum sadar walau keluarganya sudah pergi. Bahkan Vira juga tidak menolak saat Kavi menariknya. Namun Vira tersadar saat melihat bahwa kotak cincin itu masih dipegang Kavi. "Yak... Kavi kenapa Kau tidak jadi memberikan cincin itu sebagai jaminan?... Itu artinya aku ditukar dengan cuma -cuma? Tidaak....hmmpppt" teriakan Vira berhenti saat merasakan sesuatu menempel dibibirnya. Saat menyadari sesuatu itu ternyata bibir Kavi sontak Vira membulatkan mata tak percaya. Kavi melepaskan ciumannya saat merasa Vira tidak berteriak lagi. Kemudian Kavi memakaikan cincin itu dijari Vira dan jarinya "Kavi apa maksudnya?... Kenapa Kau menciumku?... " tanya Vira polos yang membuat Kavi memerah gugup. "Waktu itu.... Kau men...ciumku kenapa?" tanya Kavi cepat tapi gugup. "Karena Aku mencintaimu..."jawab Vira polos dan heran dengan maksud pertanyaan Kavi. "Jadi Kau sudah tahu kenapa Aku menciummu?..." tanya Kavi ragu yang dijawab oleh gelengan polos Vira. "Huuh....dasar gadis bodoh..." "Iya...aku gadis bodoh... Jadi katakan saja tak usah menyuruhku berfikir..." ucap Vira kesal. Kavi diam ragu dan gugup untuk mengatakannya. "Kalau Kau tidak mau mengatakannya aku akan membuang cincin ini lalu menyusul orang tuaku..." Ancam Vira yang membuat Kavi segera menarik Vira kedalam pelukannya seolah tidak ingin Vira benar-benar pergi. "Tidak.... jangan pergi... Aku Mencintaimu..." ucap Kavi cepat setelah memeluk Vira. Vira langsung tersenyum senang diikuti senyuman lega Kavi yang telah mengungkapkan perasaannya. Kavi melepaskan pelukannya lalu menatap lekat dan mengelus wajah Vira yang kini merona. Setelah mengetahui perasaannya terbalas membuat Kavi lega dan kini berani menatap wajah Vira. "I Love You, stupid girl.... gadis bodoh....." ucap Kavi lembut kemudian kembali memeluk Vira. "I Love You too, Kavi..." jawab Vira sembari mengeratkan pelukannya. "Kavi, Kau tahu aku bodoh tapi kenapa mencintaiku..." tanya Vira dalam pelukan Kavi. "Karena Kau satu-satunya gadis bodoh, gadis bodoh untuk Alkahfi Yanuar.... Cinta tidak butuh alasan tapi yang Aku tahu cinta juga dapat diartikan dengan kebutuhan.... Dan aku membutuhkanmu untuk selalu berada disampingku... Hanya Kamu, Vira Anastasya, gadis bodohku..." jelas Kavi tetap dengan memeluk Vira merasakan kenyamanan dan kebahagiaan dalam pelukan itu The End
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN