Acara resepsi pernikahan sudah berakhir. Seluruh undangan kembali ke villa yang sudah disiapkan keluarga Septiyan. Sedangkan pasangan pengantin menempati hotel VVIP yang sudah didesain khusus untuk pengantin baru. Mira sedang berdiri di balkon kamarnya menunggu Bimo yang sedang mandi. Mira tersenyum bahagia mengingat perjalanan cintanya yang singkat namun cukup sulit hingga akhirnya kini ia bisa bersatu dengan cintanya.
Mira sedikit terkesiap saat ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang diikuti aroma maskulin yang kini tercium sangat dekat dengannya.
"Apa yang Kamu pikirkan..." tanya Bimo lembut sembari mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di bahu Mira.
"Hanya mengingat perjalanan Kita hingga kita sampai di sini...."
"Hmm.... perjalanan yang singkat namun sulit...."
"Kaakk.... Aku mencintaimu..." Lirih Mira malu-malu.
"Aku juga mencintaimu...." Ucap Kim Bum sembari mulai mengecup-ngecup pipi dan leher Mira. Mita sedikit merasa geli namun ia suka dengan kehangatan yang Bimo berikan padanya.
"Sebaiknya kita masuk....diluar sudah mulai dingin...." lanjut Bimo tanpa menghentikan kegiatannya.
"Eungh.... Iya .... Kaak...." Ucap Mira yang mulai tidak tahan dengan perbuatan suaminya padanya sehingga membuatnya merinding geli dan juga panas. Bimo tersenyum melihat istrinya yang wajahnya sudah mulai memerah karena gairah. Bimo pun menggendong Mira ala bridal style dan membaringkannya di ranjang king size mereka.
Bimo mulai mencium lembut bibir mungil Mira yang nampak sangat lembut. Tangan Bimo tidak tinggal diam mencoba meraba seluruh tubuh istrinya dan meremas-remas lembut p******a Mira. Mira menahan tengkuk Bimo ingin memperdalam ciuman mereka dan membalas tiap lumatan Bimo pada bibirnya.
Setelah merasa butuh oksigen mereka pun melepaskan ciuman yang sudah mulai panas itu. Bimo tersenyum melihat wajah merona istrinya yang semakin membuat istrinya nampak semakin cantik.
"Kakaak mencintaimu istriku.... Kakaak akan selalu berusaha membuatmu bahagia...." Ucap Bimo lembut kemudian mencium kening Mira lembut dan dalam menyalurkan seluruh rasa cintanya.
"Aku juga Kaak .....I love you, So dont ever let me go?..." Ucap Mira manja sembari membelai wajah Bimo. Bimo terkekeh gemas dengan tingkah manja istrinya yang belum pernah istrinya tunjukkan sebelumnya.
"Tentu.... setelah semua yang kita lalui sampai akhirnya kita bisa bersama... itulah takdir kita... Karena itu Kakak berjanji tidak akan melepaskanmu kecuali Kamu yang melepaskan Kakak untuk kebahagiaanmu..." Ucap Bimo lembut kemudian mencium sekilas bibir Mira.
"Mira tidak akan pernah melepaskan Kakak untuk kebahagiaan Mira karena kebahagiaan Mira saat bersama Kakaak..." Ucap Mira kemudian mencium Bimo yang dibalas lumatan Bimo. Selanjutnya mereka melakukan malam pertama mereka penuh cinta, kelembutan dan kehangatan.
~oO0Oo~
6 bulan berlalu, tidak ada masalah berarti dalam rumah tangga Bimo dan Mira. Semua orang bahagia melihat keromantisan Bimo dan Mira. Mereka yang selalu nampak mesra berbanding terbalik dengan Bian dan Sukma. Walaupun Sukma berusaha menjadi istri yang baik namun Bian hanya menganggap Sukma seperti pembantu bahkan cenderung suka memukuli Sukma jika sedang kesal.
Dennis prihatin dengan keadaan Sukma namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Sukma yang melarang. Sukma tidak ingin Bian melukai Dennis karena Bian sangat marah jika melihat Sukma bersama Dennis walau mereka tidak melakukan apapun.
Brakk....Blamm.... Suara buka tutup pintu secara kasar terdengar di apartemen yang ditinggali Bian dan Sukma. Sukma yang sedang memasak menghela nafasnya kasar tidak berniat melihat apa yang terjadi karena baginya itu merupakan hal wajar yang dilakukan Bian. Jika kesal Bian akan membuka dan menutup pintu kasar kemudian ke kamarnya berteriak dan membanting semua barang di kamarnya. Sukma tidak pernah menghentikannya karena itu kamar Bian bukan kamarnya. Walau mereka sudah menikah namun mereka berbeda kamar.
Sukma menjatuhkan piring yang ia pegang saat terkejut karena saat membalikkan badannya ia melihat wajah Bian yang menatapnya marah. Bian menarik Sukma kasar ke kamarnya lalu memojokkannya didinding dan menciumnya kasar. Setelahnya Bian melemparkan Sukma ke ranjangnya tidak peduli Sukma yang meringis merasakan sakit pada perutnya yang membuncit. Bian Pun mulai menyerang Sukma menyalurkan kekesalannya.
Bian sangat kesal hari ini karena ia kalah tender dengan perusahaan Bimo. Apalagi saat makan siang ia melihat kemesraan Bimo dan Mira. Bian benar-benar merasa kalah dengan Bimo dan ini semua ia yakini berkaitan dengan Sukma yang menjebaknya karena itu Bian melampiaskan semua kekesalan pada Sukma tidak peduli saat ini Sukma tengah hamil anaknya.
Bian tidak menghentikan aksi kasarnya menyetubuhi Sukma walau mendengar tangisan Sukma. Bian terus mengenjot kuat miliknya merasakan kepuasan melampiaskan rasa kesalnya dengan cara seperti ini. Setelah menyalurkan kekesalan dan cairannya pada Sukma, Bian membaringkan tubuhnya disebelah Sukma yang sudah n***d dan lemas tak berdaya.
"Terima Kasih Sukma..... Aku benar-benar lega." Ucap Bian lembut dan tulus. Bian heran mengapa tidak ada sautan dari Sukma, biasanya Sukma akan selalu membalas Bian dengan omelannya. Apakah Sukma benar-benar lelah pikirnya. Bian pun memalingkan wajahnya mencoba melihat Sukma. Tampak Sukma memejamkan matanya, wajahnya nampak lemah dan pucat. Bian pun sedikit khawatir lalu mendudukkan dirinya mencoba melihat kondisi Sukma lebih jelas. Alangkah syoknya Bian saat melihat banyaknya darah segar yang mengalir di antara kedua paha Sukma.
~oO0Oo~
Bian menangis dan merutuki kebodohannya melakukan s*x pada istrinya dengan kasar tanpa peduli istrinya yang sedang hamil. Bian menyesali perbuatannya. Hanya karena kesal dan merasa kalah Bian membahayakan nyawa istri dan anaknya. Kini Ia hanya bisa menunggu dokter memeriksa keadaan istrinya saat ini di Rumah Sakit.
Terdengar banyak derap langkah kaki tergesa-gesa mendekat ke arahnya. Bian mencoba melihatnya. Ternyata itu adalah sahabat-sahabat Sukma termasuk Bimo, Mira dan Dennis. Dennis dengan sigap mendekati Bian dan menghajarnya tanpa perlawanan dari Bian. Bimo, dan Satri yang melihatnya berusaha memisahkan mereka. Walau Bimo kesal karena perbuatan Bian, namun melihat kondisi Bian yang sepertinya terpuruk membuat Bimo iba.
"Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Sukma, Aku akan membunuhmu...." Teriak Dennis kesal. Selama ini Dennis bersabar karena tidak mau Sukma stress disaat kehamilannya.
"Sudahlah Kak.....ini rumah sakit" Ucap Satri setelah berhasil memisahkan keduanya. Tepat saat itu dokter keluar dengan raut muka sedih. Miryang melihatnya segera menghampiri dokter dan menanyakan keadaannya. Sedangkan Bian hanya tetap pada posisinya diam seperti patung tidak sanggup mendengar berita dari dokter.
"Maaf.....pasien mengalami pendarahan hebat.... Dan kondisi bayinya pun cukup mengkhawatirkan.... Sekarang pasien tidak sadarkan diri..... Kami akan segera mengeluarkan bayinya secara sesar agar dapat menanganinya lebih maksimal mengingat kondisi ibunya yang lemah....."Jelas dokter tersebut.
Semua yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas dan menangis mendengarnya.
"Lakukan yang terbaik dokter...." Ucap Bimo sambil memeluk Mira menyalurkan kekuatan pada istrinya yang pasti merasa sangat bersalah mengingat semua terjadi karena Sukma berkorban untuknya.
"Tentu Kami akan berusaha sebaik mungkin.... tapi Kami butuh banyak darah untuk didonorkan pasien sementara stok darah golongan B masih kurang." Jawab dokter.
"Aku akan mendonorkan darahku...." Ucap Bian, dan Satri. Dennis menatap Bian tajam, walau Bian menyadarinya dia tidak mempedulikannya karena saat ini Ia hanya fokus pada Sukma.
"Walau kau mendonorkan seluruh darahmu, Aku tidak akan pernah memaafkanmu.... Setelah Sukma sadar, Aku akan mengurus perceraian kalian.... Aku tidak akan membiarkan Sukma kembali bersamamu...." Ucap Dennis tegas setelah dokter meninggalkan mereka. Bian tidak membalasnya, dia hanya berjalan menyusul dokter untuk mendonorkan darahnya.
Seminggu sudah berlalu, Sukma masih belum sadarkan diri sementara bayi laki-lakinya kini sedang di inkubator melakukan perawatan. Kondisi bayi tersebut masih sangat kecil namun sudah membaik karena bayi Sukma termasuk bayi yang kuat. Selama seminggu di RS Mira, Bimo, Ira, Meli, Satri dan Dennis selalu bergantian menjaga Sukma. Dennis bahkan tidak pernah jauh dari Sukma, tidak ingin saat ia pergi terjadi hal buruk pada Sukma.
Mira sedang duduk di ranjang kamarnya dengan pandangan kosong. Selama seminggu ini dia selalu menjaga Sukma karena rasa bersalahnya. Jika bukan Kedua mertuanya yang memaksa, mungkin Mira tidak akan pulang. Bimo yang baru masuk membawa makan malam mereka menatap sendu Mira. Dia benar-benar sedih dengan keadaan istrinya itu. Bimo mengerti bagaimana perasaan Mira karena Ia pun merasakannya. Namun Kim Bum sadar penyesalan saat ini juga tidak berguna.
"Mira Sayang ini makanlah.... Kakaak sudah memasak nasi goreng kesukaanmu...." Ucap Bimo lembut setelah meletakkan makanan tersebut dimeja sebelah ranjang mereka. Mira hanya diam tidak menanggapi bahkan menatap Bimo pun tidak.
"Mira.... katakanlah sesuatu.... Kita bicara ....Itu lebih baik daripada Kamu menyimpan sendiri perasaanmu...." Ucap Bimo sembari mengusap wajah Mira lembut. Bimo merindukan kebersamaannya dengan Mira. Setelah kejadian yang menimpa Sukma, Bimo sadar Mira sedikit menghindarinya.
"Kak Bimo.... Kita berpisah saja...." ucapan pelan Mira terasa mengguncang Bimo membuat kegiatan Bimo membelai wajah Mira terhenti.
"Mira...." suara Bimo tercekat mendengar penuturan Mira. Bahkan kini Mira telah berdiri menjauhi Bimo menuju balkon. Bimo segera menyusul Mira untuk memastikan maksud ucapan Mira.
"Kaak.... Aku tidak bisa bersamamu saat Sukma kritis seperti ini.... Ini semua salahku...hiks.... Sukma melakukan itu semua untukku...hikz.... " Ucap Mira kemudian dengan derai airmata saat Bimo memeluk erat dirinya dari belakang.
"Kau ingat malam pertama kita apa yang kau ucapkan? ....'I Love you, so dont ever let me go'.... jadi Kakaak tidak akan melepasmu...." Ucap Bimo pelan namun yakin.
"Tapi... Kakaak bilang.... hikz .... akan melepaskanku.... hikz jika aku melepaskan... hikz....Kakaak....hikz"
"Tapi untuk kebahagiaanmu.... Apa Mira bahagia jika saat ini kita berpisah?..." Bimo mulai menanggapi Mira dengan lembut mencoba memberi pengertian pada Mira. Bimo sadar ucapan Mira ini hanya karena rasa bersalahnya pada Sukma. Mira diam, tidak dapat menjawab pertanyaan Bimo walau Ia tahu pasti jawabannya.
"Kakaak juga tidak akan bisa bahagia tanpamu Mira,.... Kakaak tahu kau merasa bersalah....Kakaak juga demikian.... tapi inilah takdir kita dan juga Sukma.... Kamu tahu, Sukma bahkan rela meninggalkan Kak Dennis walau Kak Dennis tetap mau menerimanya.... karena Sukma tidak ingin usahanya sia-sia....Dan sekarang Mira ingin usahanya sia-sia hmm?...." Tanya Bimo lembut kemudian mencium pipi Mira. Mira semakin menangis mendengar penuturan Bimo. Bimo segera membalikkan badan Mira menghadapnya.
"Jangan menangis.... Kita hanya bisa berdoa semoga Sukma segera membaik.... Dan Kita harus yakin Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan pada hambanya disaat yang tepat.... " Ucap Bimo lembut kemudian segera mencium lembut bibir Mira yang ia rindukan. Mira membalas ciuman Bimo sama lembutnya walau sedikit bergetar karena sisa menangis . Bimo sadar Mira juga sama seperti dirinya yang merindukan kehangatan mereka.
"Rasanya asin karena airmatamu... Kakaak tidak suka...." Ucap Bimo setelah melepaskan ciumannya membuat Mira menunduk dan cemberut. Bimo terkekeh pelan melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan kemudian Bimo mengecup sekilas bibir Mira.
"Karena itu Mira jangan pernah menangis lagi ... Sekarang masih Kakaaj maklumi dan terima rasa asinnya... tapi tidak lain kali..." Ucap Bimo lembut. Mira yang mendengarnya tersenyum kemudian memeluk Bimo erat. Mira sangat merindukan pelukan hangat Bimo.
"Mira..... Kakaak merindukanmu...." bisik Bimo pelan di telinga Mira membuat Mira tersenyum bahagis. Disaat seperti ini memang mereka harusnya bersama menghadapinya agar semakin kuat. Dan Mira menyadari kesalahannya itu. Karena menghindari Bimo membuat Ia lemah dan berfikir buruk yaitu ingin bercerai melupakan jika Tuhan tidak menyukai hal itu Mira melepas pelukannya kemudian menatap dan membelai lembut wajah tampan suaminya yang selama seminggu ini Ia hindari.
"Maafkan Aku karena sudah berfikir buruh... Aku mencintaimu Kaak.... dan Aku juga merindukanmu...." Ucap Mira tersenyum yang diikuti Bimo. Kelegaan menghampiri Bimo setelah jantungnya berdegup kencang saat Mira mengucapkan ingin berpisah.
Bimo pun kembali mencium bibir Mira sembari menarik pinggang Mira untuk berada dipelukannya. Pelan namun pasti Mira mengalungkan kedua tangannya pada leher Bimo kemudian menarik lembut tengkuk Bimu dan ia menjinjitkan kakinya ingin agar lebih leluasa mengimbangi Bimo.. Bimo yang mengerti bahwa gairah sudah menghampiri mereka akhirnya tersenyum senang. Setidaknya saat ini hal itu dapat membuat mereka melupakan kesedihan mereka. Mereka tidak menunggu lama untuk saling melumat. Mira terus menekan tengkuk Bimo dan Bimk memeluk erat pinggang Mira ingin tidak ada jarak antara mereka. Setelah merasa kurang oksigen mereka melepas ciuman mereka dan tersenyum.
Mata mereka saling menatap lembut penuh cinta. Kemudian Bimo segera menggendong Mira ala bridal style. Bimo terus menatap lembut Mira yang kini berada digendongannya membuat istrinya itu merona. Bimo tersenyum senang ternyata istrinya juga menginginkannya. Mira yang merasa tidak tahan ditatap terus oleh Bimo segera mencium kembali bibir suaminya yang juga ia rindukan. Bimo sedikit terkejut kemudian membawa istrinya itu ke tempat peraduannya tanpa melepas ciuman mereka.
~oO0Oo~
Lima tahun kemudian
"Papa...." teriak bocah kecil sambil berlari memanggil seorang pria yang baru keluar bandara bersama seorang wanita cantik. Pria itu segera menggendong bocah tampan itu yang sangat Ia rindukan.
"Kaak Kevin....aku juga ingin digendong Papa Bian...." Ucap gadis kecil yang tadi ikut berlari bersama Kevin cemberut.
"Aku dulu dong Kak Ani... Akukan yang paling kecil....." Ucap gadis kecil yang baru tiba bersama seorang pria yang menggendongnya.
"Tidak.... Kamu kan sudah digendong Daddy Satri..." Jawab Rani putri pertama Bimo dan Mira yang kini sudah berada digendongan Bian. Bimo, Satri, dan Dennis hanya tersenyum melihat tingkah anak mereka. Walau merasa berat karena mengendong dua anak sekaligus namun dia bahagia setelah semua perbuatan jahatnya, namun kini semua orang tetap menyayangi mereka termasuk anaknya, Kevin.
"Dara.... bagaimana kalau Tante saja yang menggendong?...." Tanya Silvia, gadis yang datang bersama Bian.
"Yee...." Ucap Dara anak dari Ira dan Satri girang.
"Bian...... mari pulang... Semua sudah menunggu di rumah...." Ucap Bimo seraya mengambil Rani dari gendongannya karena merasa Bian kesulitan. Selama perjalanan Bian melihat pemandangan Jakarta yang lama ia tinggalkan sembari mengingat bagaimana perjalanannya hingga kini semua berakhir happy.
Flashback
Sebulan sudah Sukma tidak sadarkan diri, sebulan itu juga Bian tidak menemui Sukma. Bukan tidak ingin, hanya Bian masih merasa bersalah. Bimo dan Mira selalu datang menjenguk Sukma. Walau Mira masih merasa bersalah, namun Mira berfikir semua yang dikatakan Bimo benar sehingga Mira memutuskan untuk tetap bersama.
Bian selalu bersembunyi-sembunyi saat melihat keadaan Sukma maupun anaknya karena tidak ingin mencari keributan. Setiap hari Bian juga melihat kesungguhan Dennisl merawat Sukma bahkan mengerjakan pekerjaan kantornya di RS. Bian sesungguhnya sudah mulai menyukai Sukma karena selama 6 bulan mereka tinggal bersama Sukma selalu memenuhi keperluannya walau terkadang diiringi dengan omelan Sukma. Namun entah mengapa Bian senang dengan omelan Sukma, mungkin karena Bian sebelumnya selalu diperlakukan lembut. Tapi perasaan kesal pada Sukma karena memisahkannya dengan Mira membutakan perasaan Bian sehingga Bian selalu menepis perasaannya.
Bian yang merasa sangat bersalah atas kondisi memprihatinkan Sukma dan anaknya membuatnya menceraikan Sukma tepat saat Sukma sadar setelah dua bulan koma. Bian pun tulus minta maaf pada Sukma, Dennis, Bimo, Mira dan seluruh keluarganya. Semua menerima permohonan maaf Bian dengan senang.
Sebulan setelahnya Dennis dan Sukma memutuskan menikah dan Bian menyetujuinya bahkan rela agar Kevin mengenal bahwa Dennislah Papanya. Dennis bahagia mendengarnya karena itu dia pun mengizinkan Kevin memanggil Bian dengan sebutan Papa juga.
Beberapa bulan kemudian Bian memutuskan menetap di Jepang untuk memulai hidup baru. Septiyan mengizinkan dengan syarat Bian harus mengunjunginya saat Septiyan tersebut memintanya datang. Bian menerimanya dengan senang hati. Setahun kemudian Bimo dan Mira dikaruniai anak perempuan yang lucu dan diberi nama Maharani . Setahun kemudian Ira dan Satri dikaruniakan seorang anak perempuan juga.
Flashback end
Kini semua keluarga beserta sahabat mereka tengah berkumpul di sebuah Aula besar karena saat ini tengah diadakan pesta pernikahan penyanyi terkenal Ari Kurniawan dengan kekasihnya Putri Agnesia. Semua berkumpul dengan penuh kehangatan. Tidak ada lagi rasa iri dan marah.
"Papa Bian, kapan Papa akan menyusul Papa Ali menikah?..." Tanya Kevin polos diatas pangkuan Bian. Karena Kevin yang bingung memiliki dua Papa membuatnya memutuskan untuk memanggil semua pamannya Papa dan semua tantenya Mama. Tentunya hal itu diikuti oleh anak-anak yang lebih kecil darinya. Semua tidak ada yang melarang bahkan cenderung bahagia karena dengan demikian akan membuat hubungan keluarga walau tanpa hubungan darah semakin kuat.
"Hei....siapa yang mengajarkan kamu bertanya seperti itu Kevin?...." Tanya Bian lembut walau sebenarnya sedikit malu dan kesal. Sedangkan semua yang mendengarnya hanya terkekeh karena jika mereka yang bertanya pasti dijawab dengan tatapan tajam Bian.
"Tidak ada.... Papa Ali kan adik Papa Bian tapi sudah menikah.... Jadi Papa Bian kapan akan menikah dengan Mama Silvia ?.." Tanya Kevin lagi dengan tatapan polos menunggu jawaban. Bian langsung tersedak kaget dengan penuturan anaknya itu. Silvia hanya tersenyum dan menepuk-nepuk pelan punggung Bian. Lagi-lagi yang lain tersenyum dan kali ini dilengkapi ekspresi penasaran menunggu jawaban Bian.
"Kak Bian.....kurasa Kak Bian sudah benar-benar berubah jadi kurasa sudah saatnya Kak Bian melupakan semuanya.... Kami pun sudah melupakannya..." Ucap Mira lembut yang tahu bahwa Bian masih ragu untuk mencintai karena takut menjadi orang yang jahat seperti dulu lagi. Bimo hanya tersenyum mendukung penuturan istrinya.
"Iya Kak..... Ku yakin Kau bisa menjadi orang yang sangat mencintai istri dan anakmu kelak seperti kini Kak Bian yang sangat mencintai Kevib..." Lanjut Sukma diiukuti anggukan yakin dari Dennis.
"Kau tenang saja Kak... jika Kami merasa Kau akan salah jalan maka kami akan langsung menarikmu paksa agar Kau kembali kejalan.yang benar lagi...." Celetuk Ryan yang kini tengah memangku Redi di sebelah istrinya Meli.
"Kau harus move on Kak....Bukankah Kau juga mencintainya..." Ucap Satri santai yang sontak membuat Bian menatapnya tajam sementara yang lain terkekeh geli.
"Iya.... bahkan Kakak sudah jatuh cinta padanya saat pertama Silvia yang notabenenya sekretarismu itu mengomelimu karena Kau terlalu sibuk bekerja hingga lupa makan...." Timpal Ari sembari mengunyah makanan yang baru saja disuapi istrinya.
"Hei... hentikan.... Sampai kapan kalian mau mengolok-olokku...." Teriak Bian kesal dengan wajah memerah menahan malu.
"Sampai Kakak memberikan kotak kecil berwarna merah di kantong celanamu itu pada Mbak Silvia....." Celetuk Aldi santai tanpa sadar telah membuat semua orang terkejut karena kini Aldi sedang memejamkan matanya menikmati belaian lembut Tiara kekasihnya pada kepalanya yang Ia letakkan dipangkuan Tiara.
"Astaga.... ALDIIII.... Kau benar-benar....." Teriak Bian frustasi karena rencananya ketahuan entah bagaimana Aldi mengetahuinya.
"Ini.... pakailah jika ingin menikah denganku..." Ucap Bian cepat sembari meletakkan kotak dengan sebuah cincin mewah didalamnya. Silvia terkejut bukan main. Namun Ia juga senang karena bossnya ini yang terkadang menyebalkan memang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Biaannn... Kau ini tidak ada romantisnya..." protes Irfan.
"Siapa suruh bocah itu membongkar semuanya...." Ucap Bian jutek menutupi kegugupannya karena Silvia belum juga memakai cincinnya. Sebenarnya Bian berencana menyatakan perasaannya setelah acara ini kepada Silvua bahkan dia sudah menyiapkan helikopter untuk menunjukkan tulisan 'Will You Marry Me' yang sudah dibuat ditengah laut dengan lampu hias. Biab benar-benar kesal karena rencananya gagal, belum lagi jika dia ditolak didepan semua orang.
"Aku tidak bisa memakainya...." Ucap Silvia tegas yang membuat semua menatap tak percaya. Sedangkan Bian sudah menundukkan kepalanya menutupi raut kecewa diwajahnya. Bian merutuki kebodohannya karena bisa berfikir Silvia akan menerimanya yang mempunyai masa lalu menyakiti wanita yang merupakan istrinya yang sedang hamil. Bian berfikir tentu saja setelah hal buruk yang Ia lakukan tidak mungkin ada wanita yang mau hidup bersamanya. Biab hanya mampu tersenyum miris namun tidak ada marah atau dendam seperti dulu.
"Walau tidak bisa memberikan suasana yang romantis.... setidaknya Kau harus memakaikannya padaku sambil berlutut...." Ucap Silvia sembari menatap lembut Bian. Semua orang kembali bernafas lega diikuti Bian yang sontak mendongakkan wajahnya menatap Silvia tak percaya.
"Iya Via..... Aku setuju... kapan lagi Kau membuat boss mu berlutut didepanmu... hhaha..." UcapIsterinya Irfan diakhiri tawa yang diikuti semua orang. Bian tidak menunggu lama. Ia langsung menarik Silvia berdiri, lalu ia memasangkan cincin pada jemari Silvua kemudian menarik Silvia ke dalam pelukannya. Semua tertawa dan bertepuk tangan bahagia.
" Kita akan menikah minggu depan..." Ucap Bian pelan kemudian menatap Silvia penuh cinta.
EPILOG
"Kaakk..... Aku mencintaimu...." Ucap Mira lembut kemudian mencium pipi Bimo sekilas. Bimo yang sedang memandang haru kebahagian Bian dan Silvia yang sedang mengucap janji suci pernikahan di depan pendeta sontak terkejut.
"Aku sangat mencintai Kakak dan bahagia bisa mencintai Kakak....Terima kasih Kakak tidak melepaskanku waktu itu.... Mungkin jika Kakak melepaskanku waktu itu aku tidak akan bisa bahagia seperti sekarang.... Terima kasih.... Aku benar-benar mencintai Kakak...." Ucap Mkra lembut menatap wajah Bimo kemudian mengecup sekilas bibir suaminya itu lalu merangkul erat lengan kekar suaminya dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.
"I love you, So dont ever let me go..... Kakak akan selalu mengingat perkataanmu itu.... Kakak juga mencintaimu...." Ucap Bimo lembut sembari menarik dagu Mira lembut untuk menghadapnya. Kemudian Bimo mengecup lembut bibir kemudian kening Mira dalam dan lama penuh cinta tidak peduli kini semua pasang mata tengah menatap mereka termasuk pasangan Bian dan Silvia yang juga tersenyum menatap mereka.
The End