I Love You, So Don't Ever Let Me Go (3)

2859 Kata
Sinar matahari pagi sudah memasuki sebuah kamar di apartemen seorang wanita bernama Mira melalui celah-celah jendela yang tertutup gorden. Seorang wanita tengah menangis terisak setelah malam tadi kehormatannya direnggut paksa oleh pria yang sangat Ia kenal. Sejak dini hari wanita itu hanya bisa menangis meratapi nasib. Suara isakan tangis tersebut tidak juga membuat pria yang terlelap nyenyak disampingnya terbangun. "Mas..... Maaf....." gumam wanita itu pelan sambil terisak. Pria tampan yang terlelap pun mulai bergerak sepertinya akan terbangun. Bian mulai menegakkan tubuhnya untuk duduk sembari memegang kepalanya yang pusing. Bian segera menolehkan kepalanya setelah merasakan kehadiran seorang wanita yang kini tengah menatapnya tajam dengan mata sembabnya. Mata kedua orang tersebut pun akhirnya bertemu dengan pandangan berbeda sang wanita menatap tajam sementera sang pria menatap kaget. ~oO0Oo~ Bimo tengah membaringkan tubuhnya di ranjangnya nampak lelah. Semalaman ia tidak bisa tidur mengingat pertemuannya dengan Mira juga sesuatu yang Ari sampaikan saat ia pulang ke rumah tadi malam. "Kak, Kak Bian baru saja menghubungi Ayah dan berkata bahwa ia ingin memajukan jadwal pernikahannya dengan Mbak Mira...." Bimo menghela nafasnya. Dia memang sudah berkata akan berusaha menerima semua ini namun tetap saja rasanya sakit dan berat menjalaninya. Tanpa terasa airmata menetes dari pelupuk matanya dan membuat basah ranjang yang Ia tempati. "Bimo, boleh Bunda masuk?...." Tanya Lisa setelah membuka sedikit pintu kamar Bimo melihat apakah anaknya tersebut sudah bangun atau masih terlelap. "Ya Bunda..." Ucap Bimo seraya menghapus sisa airmatanya dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. "Kamu sakit Bimo? ... Wajahmu pucat dan sayu..." Tanya Lisa sembari mengusap pelan wajah Bimo. "Nggak Bunda.... Bimo hanya lelah...." Ucap Bimo kemudian membaringkan kembali tubuhnya namun kini dengan meletakkan kepalanya di pangkuan Bundanya. "Bimo Kamu sudah mendengarnya kan?... Apa Kamu tidak ingin mencegahnya?... Bunda rasa Mira mencintaimu...." Ucap Lisa lembut sembari mengusap rambut Bimo lembut yang membuat Bimo memejamkan matanya merasa nyaman. "Nggak Bunda..... mungkin sekarang Mira mencintaiku.... Tapi nanti pasti Kak Bian bisa membuatnya mencintainya....." "Selama 5 tahun Bian mendekati Mira, tapi Mira tidak pernah menganggapnya lebih dari teman..... Namun hanya sebulan kalian bersama, sudah nampak cinta yang kuat antara kalian.... Bunda tidak yakin hal itu dapat hilang bahkan berubah begitu saja...." Ucap Lisa lagi. Bimo hanya diam tidak tahu harus berkata apa karena ia merasa yang Bundanya katakan benar. "Apa ini karena Ayah dan Bunda?..." ".........." "Bimo walaupun Kami bukan orang tua kandungmu, kami tetap menginginkan kebahagiaanmu, Ari dan Ardi..... Kalau Kamu ingin mencegahnya Bunda akan mendukungmu...." Ucap Lisa lembut. "Kami juga akan mendukungmu Bimo...." Ucap Irfan yang baru datang bersama isteri dan anaknya juga yang lainnya. Irfan dan Ryan beserta keluarganya datang setelah semalam mendapat kabar bahwa pernikahan Bian dan Mira dipercepat. Sementara Ari tidak bisa datang karena sedang tour keliling Asia. "Kak...." Ucap Bimo setelah melihat siapa yang datang. Namun Bimo masih betah berada dipangkuan Bundanya. Sudah lama dia tidak bermanja-manja dengan Bundanya itu karena kesibukannya. "Kamu masih memanggil kami Kakak?... Padahal Kamu tidak menganggap kami Kakakmu.... Kamu bahkan tidak meminta bantuan kami...." Ucap Irfan mewakili yang lain. "Bantuan apa Kak?... Aku sedang tidak ada masalah..." Jawab Bimo datar seperti biasa. Ia tidak ingin keluarganya semakin kasihan padanya. Tuk...tuk....tuk.....tuk. Jitakan dari Irfan, Ryan beserta isteri mereka mendarat mulus di kepala Bimo yang membuat Bimo duduk dengan wajah kesal kepada Kakak dan kakak iparnya. Sedangkan Kakak dan Kakak iparnya hanya terkekeh. Setidaknya melihat wajah kesal Bimo lebih baik daripada wajah sayu Bimo. "Sudahlah Bimo, kami akan bicara pada Ayah dan Bian un....." Ucap Ryan terpotong. "Tidak Kak..... Tidak perlu.... Kurasa pilihan Ayah yang terbaik....." "Bimo....." Ucap keluarganya kesal sekaligus iba melihat kekeraskepalaan Bimo. "Ini bukan karena Bunda dan Ayah tapi ini karena...... Ayahku....." "..........." "Ayahku adalah Ayah yang tidak bertanggung jawab.... Dia menikahi Ibu namun Ia juga menikahi orang lain..... Bahkan Ia rela meninggalkan Ibu dan kami anak-anaknya.... Selama bersama Ibu pun Dia tidak benar-benar memperhatikan Ibu.... Aku..... Aku takut sifat Ayahku nanti menurun padaku sehingga suatu saat Aku akan menyakiti Mira.... Karena itulah selama ini aku tidak mau berhubungan dengan wanita karena aku tidak mau menyakiti...." "Bimo...." Bunda Lisa langsung memeluk Bimo haru dengan pemikiran Bimo. Sedangkan yang lain hanya bisa menghela nafas tidak tahu harus berkata dan melakukan apa. Diam-diam mereka semua ikut meneteskan airmatanya memikirkan Bimo yang belum pernah jatuh cinta namun harus kehilangan cinta pertamanya bahkan mungkin cinta terakhirnya. Mereka hanya berdoa semoga yang terjadi adalah benar yang terbaik. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang juga menitikkan airmata mendengar pembicaraan keluarga itu. Tidak berbeda jauh dengan Bimo, kini Mira pun tengah menangis ditemani Ira dan Meli. Sejak semalam Mira tidak bisa tidur setelah membaca pesan dari Bian yang menyatakan pernikahan mereka akan dipercepat. Mira sempat tertidur beberapa saat karena lelah menangis namun ketika bangun dan mengingat semuanya lagi Mira kembali walau kini hanya airmata yang menetes tanpa isakan. ~oO0Oo~ Seminggu berlalu berarti seminggu lagi pernikahan Bian dan Mira akan terlaksana namun tidak nampak raut wajah kebahagiaan di wajah calon pengantin maupun orang terdekat mereka terutama wajah Bimo, Mira, Bian dan Sukma. Bimo dan Mira nampak sedih dan tidak bersemangat sementara Bian dan Sukma nampak kacau dan frustasi mengingat hal yang terjadi seminggu yang lalu. Flashback pov "Sukma..... apa yang kau lakukan di sini? Mana Mira? ...." teriak Bian kaget. "Karena memang Aku yang tidur di sini sejak semalam dan Mira sedang bersama Meli dan Ira..." Jawab Sukma tegas setelah berusaha tidak menangis lagi. "Apaaa??? ..... Tidak .... Kamu pasti menjebakku?.... Semalam Aku melakukan dengan Mira lalu pagi tadi pasti Kamu membawa Mira pergi lalu Kamu tidur disini agar kami tidak jadi menikah...." ucap Bian frustasi merasa rencananya kacau. "Iya..... Aku memang menjebakmu.... Karena aku tidak mau Kamu menikah dengannya...." "Apa??... Aku tidak tahu Kamu wanita picik.... Bukankah selama ini Kamu mau membantuku mendekati Mira?... Lalu kenapa kini Kamu mengacaukannya hah?... " teriak Bian lagi sembari mengguncang- guncang tubuh Sukma. "Iya.... Aku memang wanita picik..... Aku berharap dengan begini kita akan menikah dan Aku akan menjadi wanita kaya...." Ucap Sukma sinis walau airmata menetes dipipinya. "Kamu benar-benar menjijikan.... Aku akan membunuhmu jika Kamu berani menceritakan pada semuanya..." teriak Bian lagi lalu memakai pakaiannya dan pergi dari apartemen itu meninggalkan Sukma yang terisak. Flashback pov end "Arggghhhkkk......" teriak Bian frustasi. Drrtt....drt...drt.... Handphone Bian bergetar menandakan ada pesan masuk. From : Ayah To : Bian Pulanglah Ada masalah serius Bian merasa ada hal buruk yang akan terjadi. Dia pun bergegas ke rumahnya. Sampai di rumahnya ada berbagai tatapan langsung memandangnya. Seluruh keluarganya, Mira dan juga Sukma. Bian menghela nafas kasar. Ternyata Sukma benar-benar mengatakan semuanya. Bian dapat melihat wajah marah sekaligus sedih di wajah orang tuanya. Kakak, Kakak Ipar dan adik-adiknya menatap Bian geram. Bimo hanya diam menutupi kekesalannya. Ingin dia menghajar Bian yang sudah mengecewakan keluarganya terutama Ayah dan Bundanya padahal Bimo bersusah payah bahkan rela menyerahkan cintanya hanya karena ingin Ayahnya bahagia. "Sudahlah..... biarkan Kak Bian menikah dengan Sukma dan Mbak Mira menikah dengan Kak Bimo...." Ucap Ardi santai memecahkan keheningan. Sementara seluruh keluarga kaget mendengar penuturannya karena mereka belum sempat memikirkan semua itu, mereka masih kecewa dengan sikap Bian yang berencana memperkosa Mira namun yang terjadi malah Sukma yang terkena. "Tidaaak..... Aku tidak akan membiarkan itu.... Aku mencintai Mira.... Lagipula Sukma tidak hamil.... Yang terjadi hanya kesalahan karena wanita ini menjebakku.... Aku tidak ingin menikah tanpa cinta.... Mungkin juga Sukma sudah terbiasa melakukannya mengingat dia bahkan rela menyerahkan tubuhnya hanya untuk menjebakku...." Ucap Bian panjang lebar mencoba membela diri. Plakkk......tamparan dari Sukma mendarat mulus di pipi Bian. Mira hanya mampu menangis sedih akan nasib sahabatnya. Apa ini rencana Sukma untuknya. "Kamu jahat Kak Bian.... Setelah Kamu memperkosaku kamu tega menghinaku.... Aku melakukan ini semua karena Aku mencintaimu..... Aku tidak ingin Kamu menikah dengan orang yang tidak mencintaimu..." Ucap Sukma emosi namun sambil menundukkan kepalanya. Plakkk.....tamparan mendarat lagi di pipi seseorang yaitu Sukma. Semua orang terkejut melihat Mira yang lembut tega menampar sahabatnya sendiri. Apa Mira begitu kecewa terhadap sahabatnya yang tega menggagalkan pernikahannya. Bimo yang melihatnya tak tahan sehingga langsung memeluk Mira. Bimo tahu diantara semua orang pasti Mira yang paling sedih dan juga bersalah kepada semua orang termasuk Sukma. "Kaakk..... Dia.....hikz....hikz." Ucap Mira terputus sesegukan dan memeluk Bimo. "Hei.... lepaskan.... Kamu tidak boleh memeluk calon istriku..." teriak Bian kemudian menarik Bimo dan meninjunya. "Kamu lihat, Mira mencintaiku.... Dia bahkan menangis karena tidak mau pernikahan Kami batal...." Ucap Bian yakin sambil mencengkram kuat kerah baju Bimo. Bimo hanya menatap datar dan bibir terkatup rapat berusaha tidak menanggapinya dan membuat emosinya meluap. "Hentikan Kak.... AKU TIDAK MENCINTAIMU...." teriak Mira kuat membuat Bian terkejut dan melepaskan cengkramannya. Semua orang yang berada disana terkejut dengan ucapan Mira. Bukan karena tidak menyangka namun terlebih karena keberanian Mira mengungkapkan perasaannya. Bimo yang paling terkejut dengan yang Mira katakan. Apalagi kini Mira mendekati Bimo dengan airmata yang semakin deras kemudian mengusap pelan luka pada pipi dan bibir Bimo. "Maaf Kak...." Ucapnya pelan dan lembut. Bimo hanya membalasnya dengan senyuman tipis masih sedikit bingung harus bagaimana. Mira kemudian membalikkan badannnya dan menatap tajam Sukma dan menariknya keluar dari rumah keluarga Bian. Sepertinya Mira ingin menyelasaikan masalah antar sahabat berdua. Bian masih tercengang melihat Mira yang sama sekali tidak mempedulikannya. Ayah dan Bunda Bian menatap tajam Bian sekilas kemudian meninggalkannya. Sementara keluarganya yang lain menghampiri Bimo dan membawanya ke kamar Bimo untuk mengobati lukanya. ~oO0Oo~ Hikz...... hikz..... hikz.... Suara isakan tangis kini mengema di apartemen Mira. Isakan tangis itu terdengar dari Mira, Ira dan Meli. " Kenapa Kamu melakukan ini Sukma ... hikz..... kenapa??..." tanya Mira yang kini terisak dipelukan Ira. "Aku sudah bilang kan....Aku mencintainya....." Jawab Sukma santai atau lebih tepatnya pura-pura santai. "KAmU BOHONG..... bukankah Kamu sangat mencintai Dennis.... Bahkan kalian berencana menikah beberapa bulan lagi...." teriak Ira kesal menghadapi sahabatnya yang berusaha menjadi orang jahat. "Apa ini maksudmu cara untuk membantu Mira?.... Aku tidak menyangka kau senekad ini...." tanya Meli pelan. Meli dan Ira pada malam itu hanya mengikuti perintah Sukma untuk mengajak Mira tinggal ditempat mereka untuk menghibur Mira dan Ia akan berbicara dengan Bian karena Sukma cukup kenal dengan Bian. Mereka tidak menyadari bahwa ternyata Sukma merencanakan semua ini karena sudah mengetahui kalau selama mereka berjalan-jalan Bian mengikuti mereka dengan tatapan membunuh. "Gadis bodoh..... Kamu benar-benar bodoh Sukma.....hikz...." Ucap Mira sembari memukul Sukma karena kesal Sukma rela menyerahkan keperawanannya dan meninggalkan cintanya hanya demi Mira. Ira dan Meli segera memisahkan mereka yang kini sama-sama sudah terisak. "Sukma.... kita akan menemui Mas Dennis dan mengatakan semuanya.... Aku yang akan menjelaskannya....." Ucap Mira yakin setelah semua tenang. Sukma kaget mendengar penuturan Mira. "Aku yakin Mas Dennis akan menerima semuanya..... Mas Dennis orang yang baik dan sangat mencintaimu...." Lanjut Mira. "Nggak ..... Mira .... Aku..." "Tidak ada tapi-tapian...." Ucap Mira tegas. Sementara Meli dan Ira tidak tahu harus bagaimana. Jika Dennis kembali pada Sukma maka Mira dipastikan akan tetap menikah dengan Bian. Sukma menatap Meli dan Ira meminta pembelaan namun Meli dan Ira juga tidak mau Sukma kehilangan orang yang sangat dicintai dan juga mencintainya. ~oO0Oo~ Mira, Sukma, Ira, Meli, Satri, dan Dennis sudah berkumpul di apartemen Dennis. Satri ditelpon oleh Ira untuk mengantar mereka. Dennis masih terkejut mendengar cerita Mira sedangkan Mira dan Sukma tidak berhenti meneteskan airmata. "Sukma..... Aku mencintaimu sebelum hal ini terjadi..." Ucap Dennis memegang kedua tangan Sukma dan meminta Sukma berdiri. Sukma sedih mendengar kata-kata Dennis yang Ia fikir tidak akan menerima Sukma lagi. "Dan Aku semakin mencintaimu setelah hal ini.... Mas bangga bisa mencintai gadis malaikat sepertimu.... Mas akan menerima apapun adanya dirimu bahkan jika Kamu hamil... Mas juga akan menerima anakmu seperti anak Mas sendiri...." Lanjut Dennis lembut kemudian memeluk Sukma. Semua yang mendengarnya tersenyum haru. Namun mereka juga turut sedih karena hal ini berarti Mira akan tetap menikah dengan Bian dan usaha Sukma sia-sia. Walau sedih, Mira cukup senang sahabatnya dapat berbahagia. Dilain tempat, Septiyan mengumpulkan keluarganya untuk mengumumkan sesuatu "Pernikahan Bian akan tetap terjadi mengingat undangan yang sudah tersebar...." Ucap Septiyan tegas kemudian meninggalkan seluruh keluarga yang masih terkejut sedangkan Bian menyeringai senang ternyata Ayahnya selalu membelanya..... ~oO0Oo~ Di sebuah gereja mewah kini sudah banyak berkumpul para tamu undangan yang sedang menatap kagum pada dekorasi gereja sembari menunggu mempelai wanita tiba. Seorang pria tampan dengan stelan tuksedo putihnya nampak gagah namun dari wajahnya nampak raut wajah yang sedang gugup. Bunyi musik mulai terdengar menandakan mempelai wanita siap memasuki gereja didampingi seorang pria paruh baya. Senyum hangat Septiyan berikan kepada mempelai wanita yang berada di sampingnya untuk menenangkan sang wanita yang gugup. Sang wanita sudah berada di dekat altar, Septiyan pun segera menyerahkan tangan sang wanita kepada mempelai pria. Sang pria pun membalikkan wajahnya dan menerima tangan sang wanita dengan senyuman. Pasangan pengantin tersebut nampak tersenyum haru karena akhirnya kini mereka dapat berdiri berdampingan di atas altar dan akan mengucap janji suci mengikat cinta mereka berdua. Setelah mengucapkan janji pernikahan dan mereka dinyatakan sah sebagai suami istri, Bimo pun mencium lembut bibir mungil istrinya. Tepuk tangan dan sorak sorai meriah mengakhiri ciuman lembut mereka. Bimo dan Mira melihat semua tamu yang hadir dan memberikan senyum hangat kepada para sahabatnya Ira, Meli, Satri, dan Sukma. Mira menatap dalam mata Sukma menyampaikan ucapan terima kasih dan juga beribu maafnya mengingat pengorbanan sahabatnya. Flashback "Bian, minggu depan Kamu tetap menikah namun bukan dengan Mira melainkan dengan Sukma...." Ucap Septiyan tegas. "Ayah...... Nggak...." Teriak Bian menolak. "Tidak.... Ini keputusan mutlak... Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu.... Ayah juga tidak mungkin membiarkan Mira menikah dengan pria yang tidak baik untuknya yang bahkan tega ingin memperkosanya..... Ayah tidak menyangka Kamu bisa melakukannya..... Mungkin ini salah Ayah yg selalu mengikuti maumu... Kalau Kamu menolak perintah Ayah maka Kamu akan Ayah keluarkan dari keluarga besar Kami..." Ucap Septiyan penuh emosi yang selama ini tertahan. Bian segera berlalu pergi dengan penuh amarah. "Bimo, seminggu setelah pernikahan Bian, Kamu akan menikah dengan Mira di Bali...." Ucap Septiyan menatap lembut Bimo. "Ay...yah...?!" Gumam Bimo pelan terkejut sama halnya dengan anggota keluarga yang lain. Namun akhirnya mereka tersenyum. "Maaf.... selama ini Ayah sering memaksamu mengalah dengan Bian.... Ayah hanya ingin menebus kesalahan Ayah padanya....." Ucap Septiyan berusaha tetap menunjukkan wibawanya. Septiyan selalu menuruti kemauan Bian karena waktu Bian berusia 7 tahun Septiyan pernah menolak menemani Bian bermain di taman bermain karena pekerjaan sehingga supir yang menemani mereka. Bian yang kecewa kabur saat supirnya lengah. Namun akhirnya Bian tertabrak mobil dan hampir meninggal. Sejak itu Septiyan menuruti semua kemauan Bian untuk menebus rasa bersalahnya. "Ayah....." Ucap Bimo pelan seraya berdiri mendekati Ayahnya yang kini tengah menghadap keluar jendela tidak ingin menunjukkan wajah sedihnya. "Walaupun Ayah bukan Ayah kandungmu, namun ketahuilah Ayah juga menyayangimu. Kamu berbeda dengan Bian..... Kamu bisa berfikiran positif dalam menghadapi semua masalah, sedangkan Bian selalu penuh emosi.... Karena itu Ayah percaya padamu, walau Kamu selalu mengalah dengan Bian Kamu tetap akan menjadi pria yang kuat...." Jelas Septiyan. Bimo sangat senang mendengar penuturan Ayahnya itu. Ternyata selama ini Ayahnya menyayangi dan memperhatikannya. Bimo segera memeluk Septiyan erat penuh haru. Walau awalnya terkejut namun akhirnya Septiyan pun membalas pelukan anaknya itu dan mengusap pelan punggung Bimo yang kini Ia rasa sudah jauh lebih besar dan lebih tinggi dari terakhir kali ia memeluknya 10 tahun lalu. Keluarga yang lain menatap penuh haru Ayah dan anak yang sedang berpelukan dengan airmata haru yang mengalir. Flashback end Sukma dan Bian menikah seminggu yang lalu di Jakarta sesuai rencana. Namun kini Sukma didampingi Dennis menghadiri pernikahan ipar sekaligus sahabatnya itu karena Bian yang tidak ingin hadir. Walau Sukma sedih karena harus menikah dengan orang yang tidak dicintainya namun Sukma ikut bahagia dengan kebahagiaan sahabatnya apalagi Dennis masih bersedia menemaninya sampai kapanpun. Flashback "Maaf Mas...." Ucap Sukma pelan setelah melepas pelukannya dari Dennis. Dennis terkejut dan diam menunggu kelanjutan ucapan Sukma. "Maaf..... tapi Aku akan tetap melakukan rencanaku Mas.... Aku ingin membuat Mira bahagia sesuai janjiku pada Tante Rini (Ibu Mira)...." "Sukmaa...." Ucap Mira, Meli dan Ira pelan tak percaya. "Aku kotor Mas.... Aku juga tidak yakin Mama dan Papa akan menerimaku.... Walau mereka menerimaku, Aku tetap tidak bisa membatalkan rencanaku Mas.... Maaf...." "Sukma, jangan bodoh..." Ucap Mira frustasi karena keras kepalanya sahabatnya itu. "Mira.... Aku tidak ingin usahaku sia-sia padahal Aku sudah mengorbankan semuanya.... Anggap saja ini untuk menebus mata yang sudah Ibumu berikan padaku.... Jadi hutangku lunas dan setelah ini aku tidak akan membantumu lagi... Kamu mengerti?..." Ucap Sukma berusaha santai dan diakhiri sedikit candaan. Dulu Sukma sempat buta karena kecelakaan namun saat Ibu Mira akan meninggal Ibu Mira mendonorkan matanya untuk Sukma hingga kini Sukma bisa melihat. Sukma merupakan yatim piatu namun keluarga Mira merawatnya seperti anak sendiri sehingga Sukma merasa sangat berhutang budi pada keluarga Mira. "Dasar wanita bodoh dan keras kepala...." Ucap Meli dan Ira lalu memeluk Mira dan Sukma bersamaan. Setelah berhenti menangis dan berusaha menerima semua yang terjadi pada mereka, semua pun tersenyum. Sukma kembali menatap Dennis yang kini tengah menatapnya lembut. "Mas..... Maaf...." Ucap Sukma pada Dennis. "Haah.... dari tadi Kamu selalu minta maaf.... Apa stok kata maafmu masih banyak Hmm??..." Ucap Dennia lembut sembari mengusap pipi Sukma. Sukma tersenyum menanggapi gurauan Dennis. "Tapi....seperti kata Mas tadi, Mas akan tetap menerima bagaimanapun dirimu.... Mas akan selalu berada disampingmu memastikan Kamu selalu bahagia.... Mas akan pergi darimu hanya jika Kamu sudah benar-benar bahagia.... Mas tidak terima penolakan..." Lanjut Dennis serius. "Aku pun tidak berniat menolaknya....Mas harus siap jadi pelampiasanku jika aku kesal pada suamiku... "Ucap Sukma kemudian segera memeluk Dennis. "Tentu ... Mas akan selalu siap." Flashback end
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN