Setelah terakhir kali pertemuan di cafe, baik Bimo maupun Mira mencoba untuk tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Bimo terus bekerja mengembangkan perusahaannya yang kini telah memiliki cabang di berbagai kota. Mira bekerja sebagai guru Bimbingan Konseling untuk mengatasi murid yang bermasalah. Namun karena pembawaan Mira yang supel dan bersahabat membuat banyak murid terutama wanita yang menjadikannya teman curhat. Bahkan ada yang menunggu Mira di Apartemennya agar bisa segera curhat kepada Mira.
Mira juga tetap menyempatkan untuk membantu Meli dan Ira di Toko Roti pada hari sabtu dan minggu. Sebenarnya Meli dan Ira sudah menolaknya karena selama dua minggu ini setelah Mira kembali ditunangkan dengan Bian sepertinya Mira sengaja menyibukkan dirinya agar sedikit melupakan pernikahannya dengan Bian yang akan berlangsung tiga bulan lagi. Meli dan Ira prihatin dengan keadaan Mira walaupun Mira tetap berusaha ceria. Tapi segala kesibukan Mira membuatnya sedikit lemas dan kurus.
Mira pov
"Tidak apa Kak kalau Kak Bian tidak bisa menjemputku......Aku bisa pulang dengan bis..... Kak Bian tidak perlu khawatir......" Ucapku kepada Kak Bian diseberang telepon. Akhirnya Kak Bian mengakhiri pembicaraan kami karena Dia sedang bersama kliennya yang berasal dari Jepang sehingga akan sangat susah mengatur jadwal ulang pertemuan jika Kak Bian membatalkannya. Aku mengerti posisinya. Bahkan Aku cukup senang bisa terhindar darinya.
Apakah Aku jahat jika berfikir seperti itu. Sudah 1 bulan Aku tidak bertemu dan berhubungan dengan Kak Bimo. Jujur Aku sangat merindukannya. Walau terakhir bertemunya Aku berusaha tegar dan mencoba menerima semuanya dengan lapang d**a. Namun, perasaanku tidak bisa berubah. Bahkan hanya dengan mengingat kebersamaan kami selama sebulan walau dengan intensitas jarang, itu semua tetap membuatku semakin mencintainya.
Entah apa yang salah dengan diriku. Semua perlakuan baik dan perhatian dari Kak Bian tidak bisa membuatku mencintainya. Bahkan Aku sengaja menyibukkan diriku agar bisa mengurangi intensitas pertemuan dengannya. Sebenarnya bukan alasan yg direncanakan juga. Namun karena banyak murid yang mengantri ingin curhat denganku sehingga membuatku menerima semuanya hingga sekolah tutup. Lelah juga, namun Aku tidak tega menolaknya. Bahkan ada juga yang rela mendatangi dan menungguku di apartemen hanya untuk curhat denganku. Kak Bian yg mengetahui situasiku pun tidak bisa membantu atau menolak. Karena pernah Dia memarahi murid-murid yang selalu ingin curhat dengan ku sehingga mengganggu saat Kak Bian ingin berkencan denganku. Namun yang terjadi semua murid marah padaku sehingga sering menimbulkan masalah di sekolah. Sejak itu Aku menerima semua murid yg ingin curhat denganku.
Kak Bian selalu berusaha membuatku tersenyum dengan sifatnya yang supel dan humoris. Namun perasaanku tetap sama selama 5 tahun Kak Bian mendekatiku yaitu hanya menganggapnya teman. Apa perasaan selama 1 bulan bersama Kak Bimo begitu kuat sehingga sangat sulit tergantikan. Bukan, itu bukan hanya perasaan selama 1 bulan. Namun itu perasaan yang muncul sejak lama. Sejak 7 tahun yang lalu sejak Bunda Lisa menceritakan tentang seluruh anak- anaknya.
Bunda Lisa memang menceritakan tentang seluruh anak-anaknya namun entah kenapa sejak awal Aku hanya tertarik mendengar tentang Kak Bimo walau tanpa mengetahui wajahnya karena Bunda Lisa tidak pernah memperlihatkannya. Apalagi semakin dewasa sifat Kak Bimo semakin keren. Kak Bimo yang rela bekerja keras untuk adik-adiknya tanpa memikirkan kehidupan pribadinya. Tidak mudah dekat dengan wanita, dingin, tertutup namun dapat bersikap manja pada seluruh keluarganya jika dia sangat lelah.
"Kak Bimo.... Aku merindukanmu..." gumamku pelan disertai airmata yang menetes. Namun Aku segera menghapusnya saat terdengar suara murid-muridku memanggilku. Apa yg dilakukan sepuluh muridku jam 9 malam di halte bis ini bahkan masih menggunakan seragam.
Setelah menanyakan alasan murid-muridku berada disini akhirnya Aku tahu ternyata mereka sebenarnya sudah menantiku untuk curhat. Namun mereka sempat makan malam dulu sehingga mereka tidak melihatku keluar sekolah. Merekapun mulai berebut untuk bercerita padaku. Aku lelah dan ingin menolak namun tidak tega. Akhirnya Akupun ketinggalan bis terakhirku karena mereka menahanku dan berjanji akan mengantarku pulang. Saat mereka berdebat siapa yg akan lebih dulu curhat, tiba-tiba ada seseorang yang menarikku sehingga Aku berada sedikit menjauh dari mereka. Saat Aku melihat siapa orang itu ternyata dia adalah.... Kak Bimo.
Mira pov end
~oO0Oo~
Bimo pov.
"Huft....hari ini bener-benar melelahkan.... Aku merindukanmu..." gumamku kemudian mencoba memejamkan mataku dan meminta supir taksi untuk membangunkan ku jika sudah tiba dirumah. Untungnya besok hari sabtu sehingga Aku bisa beristirahat dengan puas.
Walaupun tubuhku lelah sehabis melakukan perjalanan bisnis ke Kalimantan namun Aku tetap tidak bisa tertidur. Saat Aku membuka mata Aku melihat sekolah dimana wanita yang kucintai bekerja. Andaikan Aku bisa bertemu dengannya setidaknya melihatnya pasti Aku bisa bersemangat kembali. Tidak lama kemudian Aku melihat halte tempat biasa Mira menunggu bis. Tapi tidak mungkin Mira berada disini mengingat jadwal bis-nya sudah berakhir 1 jam yang lalu.
Aku segera meminta supir taksi berhenti saat mataku menangkap siluet wanita mungil diantara beberapa murid. Setelah kuperhatikan Mira sepertinya nampak lelah dan pusing dengan keributan disekitarnya. Sepertinya murid yang ingin curhat dengannya semakin banyak saja. Tidak tega melihat wajah lelahnya akhirnya Aku menghampirinya dan menariknya dari kerumunan murid-murid itu. Aku dapat melihat wajah terkejutnya saat mengetahui siapa yg menariknya. Ingin Aku memeluknya tapi Aku tidak bisa.
Tidak ingin semakin terhipnotis, akhirnya aku mengalihkan tatapanku kepada murid-muridnya dan menatapnya tajam. Lalu berkata "Jangan menemui Bu Mira sampai hari senin.... Akan ada aturan baru jika kalian ingin curhat.... Tunggu sampai hari senin. Aku harap kalian mematuhinya..." Ucapku tegas. Kemudian Aku membawanya ke taksiku. Sepertinya Mira masih belum menyadari apa yang terjadi. Aku juga tidak yakin Mira mendengar kata-kataku pada muridnya tadi. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin membawanya ke apartemennya agar Dia bisa segera beristirahat.
Bimo pov end
~oO0Oo~
"Bagaimana keadaanmu? Sepertinya kamu benar-benar lelah?..." Tanya Bimo setelah beberapa menit terjadi keheningan.
Saat ini Bimo dan Mira sedang berada di cafe pinggir jalan. Bimo awalnya ingin mengantar langsung Mita ke apartemennya namun melihat Mira yang lemas sepertinya belum makan malam dan Bimo tidak yakin Mira akan makan jika lemas seperti ini. Mira pasti lebih memilih tidur daripada makan.
"Aku baik Kaak..." jawab Mira dengan senyuman lemah namun tetap manis.
"Sepertinya penggemarmu makin banyak?"
"Ya.... karena saran Kak Bimo untuk membuat daftar tamu agar lebih tertib membuat mereka nyaman sehingga semakin membuat mereka semangat bercerita denganku"
"Oo.....seharusnya kamu bisa sedikit tegas menolak mereka.... Menerima mereka semua membuatmu kelelahan."
"Hmm....tapi Aku tidak tega Kaak...."
"Baiklah.... karena itu berawal dari saran Kakak maka Kakak juga yg akan bertanggung jawab.... Kamu percaya pada Kakak kan?"
"Sangat.... Tentu saja Aku sangat percaya pada Kakaak...."
Mereka tetap berbincang-bincang disela kegiatan makan mereka. Walau awalnya canggung namun mereka tetap nyaman saling bercerita.
~oO0Oo~
Setelah selesai makan, Bimo segera mengantar Mira pulang. Pertemuan mereka diakhiri dengan usapan tangan Bimo di kepala Mira saat Mira sudah berada di depan apartemennya. Pertemuan yang berlangsung singkat tersebut sangat berarti bagi Bimo dan Mira. Setidaknya dapat melepas rindu dan memberi semangat.
Karena kata-kata dari Bino pada murid-murid Mita, Mira dapat sedikit santai saat akhir pekan ini karena tidak ada murid yang memintanya curhat hingga malam. Maka Mira pun dapat lebih semangat bekerja pada hari senin ini. Ia pun sudah siap menghadapi banyaknya murid yg ingin curhat dengannya. Walau lelah namun Mira senang dapat membantu.
Saat ini jam istirahat. Biasanya Mira akan sibuk dengan banyaknya murid yg ingin menemuinya. Namun saat ini tidak, Mira bisa tenang dan Ia harus berterima kasih pada seseorang. Walaupun orang itu tidak mengatakannya namun Mira yakin bahwa Bimo lah yg membuat pengumuman di mading hari ini. Pengumuman itu benar-benar membantu.
"Dikarenakan banyaknya murid yang juga ingin sharing dengan Ibu Guru Mira Rahmani maka akan dibuat aturan baru. Bagi seluruh murid yang ingin sharing diharapkan mengirimkan permasalahannya ke email rahmani07@g*******m.
Email akan diusahakan segera dibalas untuk memecahkan permasalahan kalian. Jika menurut Ibu Guru Mira Rahmani masalah kalian ringan maka Ibu Guru Mira Rahmani hanya akan membalas email kalian. Namun jika termasuk berat maka Ibu Guru Mira Rahmani akan mengatur jadwal pertemuan dengan kalian. Sekian dan terima kasih..."
Mira tersenyum membacanya. Mira tidak terfikirkan solusi seperti ini. Dia pun mengirim pesan singkat untuk mengucapkan terima kasih.
"Terima Kasih Kaak.... Lagi-lagi Kakak memberikan solusi yang tak terfikir olehku...:-)"
"Yah.... Semoga kali ini benar-benar membantu bukan malah menambah masalah baru..."
"Iya... Mereka sepertinya juga senang karena tidak perlu terang-terangan menemuiku.... Tapi sepertinya akan semakin bertambah murid yang ingin sharing denganku... Mengingat murid yang awalnya malu sharing kini bisa tetap sharing tanpa harus tatap muka..."
"Maaf kalau solusi Kakak menyulitkanmu.... Seandainya bisa Kakak ingin membantu.... Tapi Kakak sangat tidak pandai menyelesaikan masalah remaja...."
"Tidak apa Kaak.... Ini sudah sangat membantu.... Lagipula Kakak juga tentunya sangat sibuk... Aku akan meminta bantuan kepada temanku..."
"Hmm... Iya... Semoga Temanmu bisa membantumu...."
Pembicaraan melalui pesan singkat pun berakhir. Walau singkat namun cukup membuat senyum mereka bertahan lama.
~oO0Oo~
Mira pov
Sudah seminggu kehidupanku berjalan lancar. Aku tidak disibukkan lagi dengan keluh kesah murid-muridku. Aku hanya akan menemui beberapa muridku jika masalah mereka benar-benar pelik. Selain itu Aku juga meminta bantuan sahabatku Sukma untuk membantu membalas email muridku. Aku, Sukma, Meli dan Ira sudah bersahabat sejak SMP. Sekarang Sukma bekerja sebagai penulis novel. Dengan adanya mengetahui masalah remaja saat ini membuat referensi Sukma dalam membuat novel lebih luas dan nyata.
Hari sabtu ini Aku berencana untuk refreshing dengan Sukma, Meli dan Ira ke mall. Sudah lama kami tidak berjalan bersama. Mereka berjanji bertemu pukul 10.00 di cafe tempatku terakhir bertemu dengan Kak Bimo. Membuatku teringat memori tentangnya bahkan kini Aku seperti melihat wajahnya di Cafe ini.
Apa ini hanya halusinasiku??! Tapi jika ini hanya halusinasiku mengapa nampak nyata Kak Bimo menatapku bahkan berjalan ke arahku. Tapi kenapa dalam halusinasiku juga ada Sukma, Mbak Meli dan Mbak Ira ? Juga ada Kak Randy dan Kak Satri, sahabat Kak Bimo.
"Miraa.... " teriak Mbak Ira menyadarkanku dari halusinasiku. Kini Aku benar-benar sadar ternyata itu bukan halusinasiku. Ternyata Mbak Ira dan Kak Satri berencana mengadakan perayaan hari jadi mereka yg pertama dengan bersenang-senang bersama sahabat mereka otomatis Aku sebagai sahabat Mbak Ira dan Kak Bimo sebagai sahabat Kak Satri pun ikut serta. Jujur Aku senang, namun itu akan membuatku semakin sulit melepasnya.
Mira pov end.
~oO0Oo~
Setelah bersantai dan minum sejenak di Cafe, mereka memutuskan untuk berbelanja, makan siang kemudian nonton ke bioskop. Walau awalnya canggung namun kini mereka sudah dapat bercanda dan santai. Sesekali Bimo dan Mira saling curi pandang. Saat ini mereka tengah menunggu Satri dan Ira membeli tiket menonton. Hanya Satri dan Ira yang tahu apa yang akan mereka tonton dan yang lain harus menerimanya. Saat di dalam bioskop tanpa sengaja Bimo dan Ira duduk bersebelahan.
Baru 30 menit film dimulai, Bimo sudah memilih keluar dari bioskop setelah memukul pelan kepa Satri yang sudah terkekeh geli. Melihat Bimo yang pergi dengan sedikit kesal, Mira pun memutuskan menyusul Bimo karena sejujurnya film ini sedikit membosankan bagi Mira.
"Kenapa Kaak?..." Tanya Mira sat menghampiri Bimo yang sedang duduk di kursi tunggu di sekitar bioskop.
"Satri tahu Aku sangat tidak menyukai film horor tapi sepertinya Dia sengaja membeli tiket film itu..." Ucap Bimo datar walau terdengar nada suaranya sedikit kesal. Mira pun hanya mengangguk karena tidak tahu harus menanggapi apa.
"Lalu kenapa Kamu keluar?..." Tanya Bimo heran.
"Aku khawatir dengan Kakaak... Aku kira terjadi sesuatu sehingga Kakaak buru-buru keluar...." Mira berucap dengan tersenyum canggung sedangkan Bimo berusaha menahan senyumnya mendengar kekhawatiran Mira.
"Jika Kakak baik-baik saja, maka sebaiknya Aku kembali masuk saja... Kakak bisa menunggu kami di tempat yang Kakak inginkan..." Ucap Mira kemudian karena tidak tahu harus bagaimana disaat Ia hanya berdua dengan Bimo dalam keadaan canggung. Padahal sejujurnya Mira lebih memilih berjalan-jalan santai mengelilingi mall daripada kembali menonton film yang membosankan itu.
"Tunggu...." Ucap Bimo sembari menahan tangan kanan Mira dengan tangan kirinya dengan posisi Bimo yang masih duduk sedangkan Mira berdiri.
"Bisakah Kamu bersama Kakak saja... " Ucap Bimo pelan sedikit ambigu membuat Mira terdiam sesaat.
"Maksud Kakak, Kamu menemani Kakak sekarang dan tidak perlu kembali ke dalam... Kakak... ingin berdua denganmu...." Lanjut Bimo menjelaskan maksudnya. Mira tak bersuara namun menganggukkan kepalanya.
Setelah 1 jam mereka berjalan mengelilingi mall tanpa bergandengan tangan dan hanya berjalan berdampingan, kini mereka berdua duduk di sebuah restaurant outdoor yang lumayan luas dengan posisi berhadapan. Setelah memesan 2 milkshake, 1 mie goreng spesial dan 1 french fries, mereka pun kembali terdiam tanpa adanya pembicaraan bahkan hingga mereka menikmati pesanan 10 menit kemudian. Mira pum akhirnya memecah keheningan.
"Kaak.... apa tidak ada cara lain?..." tanya Mira tetap menghadap french fries sembari menusuk-nusuknya tanpa menatap Bimo.
"Hufh.... Maaf .... sepertinya Aku tidak bisa melakukan apapun...."
" Aku sedikit menyesal dengan janjiku pada Bunda Lisa yang mengatakan akan menerima siapapun yang dijodohkan denganku.... Seharusnya Aku meminta agar Aku bisa memilih...."
"Tidak ada yang perlu disesali.... Ini sudah takdir..."
"Aku merasa takdir mempermainkanku.... Di saat Aku ingin mengurangi kadar cintaku, saat itu juga kita kembali bertemu yang membuatku semakin sulit menerima semua ini...."
"Kau ingin Kakak pergi jauh agar kita tidak bertemu lagi?..."
"Tidak.... Maaf Kaak..... Kakaak jangan pergi .... Aku ingin mengetahui bagaimana keadaan Kakaak...... Setidaknya dengan mengetahui Kakaak bahagia itu bisa membuatku selalu mencoba bahagia...." Ucap Mira lirih sembari menatap Bimo.
Bimo menatap dalam Mira yang mulai meneteskan air mata. Bimo segera berdiri menghampiri Mira kemudian memeluk Mira dan menenangkannya . Padahal Bimo pun sama seperti Mira, sulit menerima takdir ini. Bimo masih memeluk Mira dengan posisi berdiri dan membenamkan wajah Mira di perutnya.
"Kalau Kamu ingin melihat Kakaak bahagia maka Kamuu juga harus bahagia terlebih dahulu.... Karena hanya itu yang bisa membuat Kakaak bahagia ...." Ucap Bimo dengan suara bergetar mencoba untuk tidak meneteskan airmata.
"Mira... Kakaak akan berusaha menerima takdir kita..... Percayalah Tuhan menyayangi Kita karena itu Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan kepada kesayanganNya.... Itulah yang Kakaak yakini selama ini... Jadi Kamu juga harus berfikir seperti itu.... Kamu juga nantinya pasti akan bahagia walau mungkin tidak bersama Kakaak..."
Mira melonggarkan pelukannya dan perlahan menatap wajah Bimo kemudian Mira mencoba tersenyum menandakan Dia akan mengikuti kata-kata Bimo yang memang menurutnya benar. Walau kini kadar cinta Mita semakin bertambah namun mungkin cintanya takkan bersatu, Mira tidak menyesalinya. Mira tidak akan pernah menyesal mencintai pria seperti Bimo yang membuatnya lebih memaknai kehidupan.
Mata mereka saling menatap kemudian perlahan tapi pasti Bimo mulai menundukkan wajahnya dan mencium kening Mira dalam. Mira perlahan memejamkan matanya meresapi cinta yang Bimo salurkan melalui ciuman di keningnya. Setelahnya mereka tersenyum mencoba mulai melapangkan d**a untuk menerima takdir mereka. Bimo pun kembali ke kursia dan mereka melanjutkan menikmati pesanan mereka dengan sembari membicarakan hal-hal ringan yang dapat sedikit menghibur mereka. Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata melihat kejadian itu. Ada yang terharu, bahagia, dan juga marah. Kemarahan yang membuat orang itu nekat ingin melakukan sesuatu agar Bimo dan Mira berpisah.
~oO0Oo~
"Mereka nampak bahagia saat ini" Ucap Ira yang melihat adegan Bimo dan Mira bersama sahabat-sahabatnya.
"Hmm.... Aku tidak pernah melihat wajah bahagia dan hangat Bimo seperti saat ini..." Satri menimpali sambil merangkul Ira yang mulai berkaca-kaca sedih dengan masalah yang dihadapi Bimo dan Mira.
"Mira baru kali ini merasakan jatuh cinta bahkan sebelum mereka bertemu.... Tapi kenapa harus begini takdirnya.... Aku tidak rela..." Meli berucap pelan namun sedikit geram.
"Seandainya Aku bisa, Aku ingin membantu mereka...." Ucap Randy setelah menarik Meli kepelukannya mencoba menenangkan.
"Benarkah kalian ingin membantu? Kalau begitu Aku akan mengatakan sesuatu...." Sukma menyampaikan idenya setelah melihat seseorang yang sedang menatap Bimo dan Mira penuh amarah. Sahabat-sahabatnya sedikit bingung dengan maksud dari rencana yang Sukma sampaikan. Namun karena Sukma meyakinkan mereka untuk percaya padanya jadi mereka mau tidak mau pasrah mengikuti rencana Sukma tanpa sepengetahuan Bimo dan Mira.
"Bimo... Mira ...." panggil Ira, Satri, Meli, Sukma dan Randy.
"Kalian ini makan-makan tidak menunggu ku..." Ucap Satri.
"Kami menunggumu untuk membayar pesanan Kami..." Ucap Bimo datar masih ingat kejahilan Satri yang membuatnya harus menonton film horor. Satri hanya berdecak kesal namun mereka mulai duduk mengelilingi Bimo dan Mira untuk memesan makanan. Kemudian mereka pun berbincang-bincang santai seolah tidak ada masalah apapun yang terjadi.
~oO0Oo~
Prangg.... bunyi suara botol pecah.
Seorang pria muda jalan terseok-seok akibat mabuk berat. Penampilannya menunjukkan bahwa pria tersebut adalah pengusaha muda namun kini dengan kemeja yang sudah berantakan, dan dasi yang hampir terlepas. Wangi alkohol dapat tercium dengan jelas dari tubuh pria itu. Pria tersebut nampak sangat depresi.
Walau dalam keadaan mabuk berat, entah bagaimana pria tersebut bisa sampai pada tujuannya yaitu sebuah apartemen. Di pintu apartemen tersebut terdapat nomor 6977. Setelah yakin dengan nomor apartemen yang ditemui merupakan nomor apartemen yang dituju, pria tersebut mulai berteriak.
"HEI MIRAAA CALON ISTRIKU.... BUKA PINTUNYA....dug...dug...dug...." Bian, pria mabuk itu mulai berteriak dan menggedor pintu apartemen tersebut. Saat ini pukul 02.00wib dini hari sehingga penghuni apartemen lain masih asik terlelap dan setiap apartemen diberi kedap suara agar tidak saling mengganggu kehidupan masing-masing penghuni apartemen.
Setelah 10 menit, apartemen tersebut dibuka oleh seorang wanita cantik berambut panjang yang wajahnya tidak terlalu jelas karena lampu apartemen yang padam. Bian kemudian mendorong paksa wanita tersebut dan menutup pintu apartemen Mira dengan sekali tendang tanpa mengizinkan wanita itu bicara. Bian memojokkan wanita itu ke tembok kemudian mulai mencium paksa penuh nafsu. Walau wanita itu terus menolak namun percuma karena dia tidak bisa menahan emosi Bian.
"AKU BIAN ADALAH CALON SUAMIMU, BUKAN BIMO..... TAPI KENAPA AKU TIDAK BOLEH MENCIUM ATAU MEMELUKMU SEMENTARA DIA BOLEH.... MALAM INI AKU AKAN MEMBUATMU MENJADI MILIKKU SEUTUHNYA......" Ucap Bian setelah melepaskan ciumannya. Lalu mulai mencium lagi bahkan Bian sudah merobek baju tidur wanita itu.
" AWALNYA AKU TIDAK INGIN MELAKUKANNYA... NAMUN SEPERTINYA TIDAK ADA CARA LAIN.... AKU SUDAH MENGATAKAN PADA ORANG TUA KITA BAHWA PERNIKAHAN KITA AKAN DILAKSANAKAN LEBIH CEPAT YAITU DUA MINGGU LAGI.... JADI TENANG SAJA, AKU AKAN BERTANGGUNG JAWAB..." Ucap Bian lagi lalu menggendong wanita yang sudah setengah n***d itu di atas bahunya dan membawanya ke kamar .
Bian melemparkan wanita itu ke atas tempat tidur dan mulai melucuti pakainya sendiri lalu berkata,
"Mira, bersiaplah kamu akan segera menjadi milikku seutuhnya....". Ucap Bian lalu mulai menggerayangi tubuh wanita itu.
Entah apa yg dipikirkan wanita itu, atau mungkin wanita itu sudah lemas sehingga pasrah saja atas perlakuan Bian. Wanita itu hanya bisa menangis dan berucap 'Maaf' entah untuk siapa.