Seorang pria berparas tampan, tubuh atletis, dan berperawakan tinggi sedang berbaring di sofa panjang ruang kerjanya dengan meletakkan tangan kanannya menutupi matanya yang terpejam. Terlihat tangan kirinya sedang memegang sebuah foto. Pria tersebut tidak sedang tertidur, namun hanya memejamkan matanya memikirkan apa yang harus Ia lakukan mengenai percakapannya dengan keluarganya beberapa hari yang lalu.
"Bimo, dia anak dari sahabat Bunda. Dia gadis yang sangat manis, ceria dan penuh perhatian. Bunda rasa Dia akan cocok denganmu. Bunda mohon terimalah Dia. Dia tidak punya siapapun lagi di dunia ini...."
Kata-kata Bundanya, Bunda Lisa,terus terngiang di telinganya. Bundanya tidak pernah memohon sebelumnya sehingga Ia benar-benar memikirkannya. Dari foto yang Bundanya berikan Bimo dapat melihat dengan jelas bahwa yang Bundanya katakan tentang gadis itu memang benar.
" Kalau saja Bian tidak menolaknya mungkin Ayah lebih menyetujui Mira untuk Bian. Mira terlalu baik untukmu. Hmmm.....Ayah heran mengapa Bian menolaknya padahal tipe seperti Mira lah yang yang Bian cari selama ini."
Ucap Septiyan, Ayah Bimo tegas. Septiyan memang sangat menyayangi Bian ya karena Bian anak kandungnya. Sedangkan Bimo hanya anak angkatnya. Lina, Ibu Bimo meninggal karena sakit sejak usia Bimo 10 tahun dan Ryan, Ayah Bimo, menghilang beberapa bulan sebelum Ibunya meninggal. Lina merupakan adik dari Lisa, Bundanya saat ini. Karena prihatin dengan ketiga keponakannya maka Lisa memutuskan mengangkat Bimo dan kedua adiknya Andi dan Ari sebagai anaknya.
Semua keluarga Bian menerimanya dengan senang hati karena memang mereka semua sudah akrab. Lina, Ibu kandung Bimo meninggalkan warisan berupa rumah sederhana dan sedikit tabungan. Untungnya Bimo dan kedua adiknya termasuk pintar sehingga mereka selalu dapat beasiswa.
Usia Bimo yang sepantaran dengan Bian dan hanya berbeda beberapa bulan dengan membuat mereka selalu bersama sehingga sering terjadi persaingan. Namun Bimo sering mengalah atas permintaan Septiyan, Ayah angkatnya. Sehingga hubungan mereka semua tetap harmonis.
Bimo yg merasa tidak bisa selamanya menumpang pada keluarga Bian membuatnya memutuskan bekerja sampingan sejak usia 18 tahun. Saat usianya 24 tahun setelah menyelesaikan S2nya Bimo mencoba mendirikan perusahaan sendiri dan kini perusahaan tersebut telah berkembang pesat di usianya 28 tahun saat ini.
Setelah memikirkannya selama beberapa hari Bimo akhirnya sudah memutuskan akan mengikuti kemauan orang tua angkatnya untuk menunjukkan baktinya. Bimo menghubungi Bundanya dan memberitahukan kalo Bimo bersedia menikah dengan Mira.
Malam ini malam sabtu, seluruh keluarga Bimo ,Pasangan Robi dan Dina serta puteranya Berli, Irfan dan Isterinya Ina , Ari, Andi, kecuali Bian serta Bunda dan Ayahnya sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka selalu berkumpul jika memiliki kesempatan. Disaat semua sedang asyik berbincang, Lisa meminta semua orang diam karena dia ingin menghubungi seseorang.
"Hallo Bunda, ...." sahut seorang perempuan dari ujung telephone.
"Hai Mira Sayang..." sahut Bunda Lisa, Dina, dan Ina yang sudah sangat mengenal suara perempuan tersebut karena mereka sering berhubungan bahkan bertemu.
"Astaga....Mbak Dina dan Mbak Ina?..." Tanya Mira terkejut karena Dina, Roby suaminya dan Berli anaknya tinggal di Amerika melanjutkan perusahaan ayah Roby. Sedangkan Ina dan Irfan bekerja di Jepang.
"Iya..... kami semua sedang bersama Ra, liburan.... Ada Ayah dan adik-adik semuanya...." Jawab Roby.
"Ooh.... senang sekali bisa liburan bersama...." sahut Mira.
"Anteeee..... angeeen..." ucap Berli yang masih berusia 3 tahun.
"Belli...... tante juga kangen Sayang..."jawab Mira lagi dengan naga gemas.
"Emmmm..... sepertinya Ayah dilupakan..." ucap Septiyan yang memang dekat dengan Mira.
"Hehe... Maaf Ayah..... Ayah apa kabar..... Ayah, Bunda, dan semua sehat-saja kan ?..." Ucap Mira malu karena sudah lama berbincang baru menyapa Pria yang sudah seperti ayahnya sendiri. Septiya tersenyum tipis namun tetap memperlihatkan perasaan senangnya .
"Iya mbak.... Mbak tidak menyapa kami?" Celetuk Andi yang supel.
"Maaf?... Ini siapa ya?... Penyanyi terkenal itukah?... Wah senangnya bisa bicara dengan Artis terkenal...."ucap Mira menggoda Andi. Walaupun belum pernah bertemu dengan Andi namun Mira sudah pernah sekali berbicara dengan Andi lewat telepon jadi sedikit mengenal suaranya.
"Wah.... Mbak Mir bisa aja..." Ucap Andi sedikit tersipu. Yang lain hanya tertawa melihatnya sedangkan Bimo sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ternyata seperti ini suaranya, lembut dan ceria.... Sepertinya orang yang supel, baik dan lembut tapi bersemangat...." Pikir Bimo mengenai calaon istrinya itu. Sedikit senyuman terukir diwajah Bimo membayangkan Mira. Tidak ada yang memperhatikannya kecuali Irfan yang memang sejak awal mengamati bagaimana ekspresi adiknya itu saat mendengar suara Mira. Mengetahui jika sepertinya adiknya yang biasanya dingin namun sekarang dapat tersenyum hanya karena mendengar suara Mira membuatnya yakin bahwa Bimo mulai tertarik dengan Mira.
"Mira sebaiknya kau mulai lagi dengan menyapa kami semua agar tidak ada yang merasa diabaikan lagi...." Celetuk Irfan santai mencoba agar Mira menyapa Bimo juga.
"Oh... Oke Kak.... Mira menyapa yamg belum saja ya.... Hehe.... Hallo Kak Robby .... dan Kak Irfan...." Ucap Mira Ceria.
"Hallo juga Kak Andi..." lanjut So Eun.
"Yak.....Mbak.... Walaupun aku lebih tua darimu namun kau kan sebentar lagi akan menikah dengan salah satu Kakakku jadi sebaiknya jangan memanggilku Kakak.... ?" Ucap protes Andi sedikit cemberut. Bimo langsung menatap tajam Andi karena tiba-tiba mengungkit masalah pernikahan. Sedangkan yang lain hanya terkekeh melihatnya.
"Baiklah.... Maaf...hehe..." ucap Mira pelan merasa bersalah dan sedikit tidak enak membahas pernikahannya dengan Bian. Mira belum tahu kalau rencananya berubah karena Mira sudah berjanji akan bersedia menikah dengan siapapun pilihan keluarga Septiyan.
"Hallo Mbak..." Ari yang semula tidak bersuara kini mencoba mencairkan suasana kembali karena ia merasa Mira juga tidak nyaman membahasnya.
"Oh....Hai Ari.... Maaf lupa menyapamu...." ucap Mira berusaha normal kembali.
"Mira, kamu melupakan sesorang yang belum disapa..." ucap Bunda Lisa, memancing reaksi Bimo yang nampak mukanya langsung gugup.
" Oh.... Hehe....Maaf.... Hai...Kak... Bimo..." lanjut Mira sedikit gugup setelah mengingat siapa yang dilupakan. Dalam keluarga tersebut hanya tersisa Bimo dan Bian. Namun saat ini Bian sedang pergi mengembangakan bisnis hotelnya sehingga tidak ada di sana.
" Ehmmm..... Hai..." jawab Bimo berusaha mengeluarkan suara senormal mungkin.
"Mira, apa Kamu bisa menginap disini malam ini?... Besok kami berencana liburan bersama. Bagaimana?..." Tanya Ina yang diiyakan yang lain kecuali Bimo tentunya. Entah kenapa Bimo merasa jantungnya berpacu lebih cepat dan dia merasa sepertinya belum siap bertemu Mira.
"Maaf Mbak.... Aku tidak bisa.... Malam ini rencananya aku, Mbak Meli dan Mbak Ira, dan beberapa pegawai akan lembur untuk membuat pesanan kue yang lumayan banyak sehingga tidak bisa ditinggalkan.... Apalagi hampir setengah pegawai tidak bisa bekerja...." Jawab Mira merasa tidak enak.
Setelah hampir satu jam mereka berbicara akhirnya sambungan telepon diakhiri. Keluarga Septiyan terlihat senang karena selama bertelponan dengan Mira mereka dapat melihat beragam ekspresi Bimo yang biasanya jarang diperlihatkan seperti terkejut, kesal, menggerutu hingga tersenyum-senyum sendiri. Bimo yang asyik dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari bahwa seluruh keluarganya memperhatikan tingkahnya.
Sebulan telah berlalu, malam ini adalah acara yang ditunggu-tunggu keluarga Bimo yaitu hari pertunangan Bimo. Rona bahagia terlihat jelas di wajah Bimo dan Mira walaupun ekspresi berbeda. Mira dengan senyum cerahnya sedangkan Bimo yang hanya sesekali menunjukkan senyum malu. Bimo dan Mira sama-sama bahagia dengan pilihan keluarga mereka.
Selama sebulan ini mereka sering melakukan pendekatan walaupun tanpa sengaja. Seperti awal mulanya mereka bertemu di pesta rekan bisnis Bimo yang memakai jasa Mira dkk sebagai produsen kue dan makanan ringan. Saat itu Bimo dan Mira sedang berada di taman belakang. Bimo yang melihat Mira yang notabenenya calon istrinya terlihat gugup. Sedangkan Mira yang belum mengetahuinya bahkan belum mengetahui bahwa orang dihadapannya adalah Bimo hanya sedikit tersenyum dan entah kenapa jantungnya berdebar cepat. Mereka hanya diam diposisi mereka tanpa ada pembicaraan bahkan tanpa memandang, hanya Bimo yang sedikit melirik untuk memperhatikan gaya calon istrinya.
Seminggu setelah pesta, tidak ada kemajuan berarti dalam hubungan mereka walaupun Mira sudah mengetahui siapa calon suaminya. Dan Mira sangat senang mengetahuinya apalagi saat melihat foto calon suaminya uang ternyata adalah pria yang ditemuinya dipesta. Tanpa diduga Bimo dan Mira bertemu di taman dekat sekolah Mira bekerja sebagai guru Bimbingan Konseling. Saat itu Bimo, dan Mira sama-sama sedang berjalan santai untuk menyegarkan pikiran mereka.
Mereka berdua sama terkejutnya namun juga mereka tetap memberanikan diri saling menyapa. Mereka mencoba saling mengenal dan ternyata mereka banyak memiliki kesamaan cara berfikir walaupun sifat keduanya berbeda. Mira yang cukup supel, terbuka dan ceria sedangkan Kim Bum yang dingin dan tertutup namun mereka nyaman dengan hubungan mereka.
Saat ini Bimo dan Mira sedang berada di atas panggung untuk bertukar cincin yang telah dipersiapkan mereka, cincin yang simple namun elegan. Setelah mereka bertukar cincin semua orang bersorak meminta mereka berciuman. Akhirnya dengan malu-malu Bimo mencium kening Mira lembut dan dalam. Mira hanya meneteskan airmata haru merasakan ciuman Bimo di keningnya.
Kemudian Bimo tersenyum dan menghapus airmata Mira setelah melepaskan ciumannya. Mereka pun berpelukan menunjukkan rasa sayang masing-masing yang selama sebulan ini disembunyikan. Acarapun kemudian dilanjutkan dengan pesta dansa.
Ketika acara telah berakhir, seluruh keluarga Bimo tengah berkumpul di ruang keluarga. Mereka saling bercanda dan menggoda pasangan baru itu. Bimo dan Mira terlihat malu-malu namun tangan mereka tetap saling berpegangan sejak turun panggung tadi.
"Ayah.....Bunda.....apa aku terlambat?..." Tanya seorang pria yang baru tiba dengan nafas terengah-engah dan tas ransel yang disandang di sebelah bahunya.
"Kak Bian....Bian.." sontak seluruh mata memandang pria tersebut kemudian tersenyum senang.
"Puteraku..." sambut Septiyan dengan senyuman hangat kemudian memeluk anak kesayangannya itu. Bian pun membalas pelukan Ayahnya dengan erat dan tersenyum melepas rindu setelah selama 2 tahun sibuk mengembangkan bisnisnya. Namun senyum itu tidak berlangsung lama saat melihat seseorang, tidak, melainkan sepasang pria dan wanita yang berdiri dengan tangan bergandengan.
"Kalian??....." tanya Bian heran dan kaget kepada pasangan tersebut.
"Iya Kak Bian.... berkat kamu, sekarang manusia dingin alias Kak Bimo kini sudah memiliki calon istri...." Jawab Andi sembari merangkul Bimo. Entah mengapa perasaan Bimo dan Mira sekarang menjadi tidak enak seperti ada firasat buruk yang akan terjadi. Melihat ekspresi Bian yang seperti tidak bahagia membuat Bimo dan Mira melepaskan genggaman tangan mereka. Semua keluarga menunggu apa yang akan terjadi melihat sepertinya aura Bimo yang berubah menjadi suram.
"TIDAAAAKKK....." Teriak Bian kemudian berlari meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya. Brakkk....bunyi suara pintu yang ditutup kasar. Bimo dan Mira terkejut kemudian saling memandang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Mira hanya bisa menghela nafas dan berdoa semoga tidak akan terjadi masalah berarti dalam hubungannya dengan Bimo.
Seminggu setelah pertunangan tidak ada komunikasi antara Bimo dan Mira hingga kini mereka sepakat bertemu. Mereka tetap hening dan sesekali menyesap minuman mereka. Sepertinya Mira sudah tahu akan ada sesuatu yang buruk dengan hubungan mereka. Mira menghela nafas panjang sebelum akhirnya memecah keheningan antara mereka.
"Kaakk..... aku sudah tahu semua....Aku menerima keputusan Kak Bimo...." Ucap Mira lembut dengan senyum manisnya. Walau sebenarnya hatinya saat ini sedang menangis.
"Maaf....." Ucap Bimo pelan sebagai jawaban tanpa menatap Mira. Bimo merasa tidak sanggup manatap mata wanita yang dicintainya itu. Bimo yang dulu dingin dan kuat kini menjadi sangat rapuh. Bimo seharusnya tetap pada prinsipnya dulu tidak ingin mencintai seseorang karena akan sakit jika kehilangan. Namun apa boleh buat dengan hanya mendengar suaranya, melihat senyumnya dan bahkan menyebut namanya sudah membuat perasaan cintanya semakin kuat.
"Tidak Kak..... Kak Bimo tidak perlu meminta maaf.... Huft.... Seharusnya aku yang meminta maaf.... Kak Bimo ingat saat pertama kali kita berkencan aku bertanya kenapa bukan Kak Bian yang dijodohkan denganku?..." Tanya Mira. Bimo mengangguk serta mengernyitkan dahinya tanda bingung dengan arah pembicaraan Mira.
"Dan saat Aku bertanya seperti itu Kak Bimo langsung marah kepadaku mengira aku lebih senang jika aku dijodohkan dengan Kak Bian....." Lanjut Mira mencoba menggoda Bimo. Sedang Bimo kembali mengalihkan wajahnya takut jika Mira melihat wajah merah dan gugupnya. Bimo akui dia cemburu saat itu. Bimo sudah mulai merasakan perasaan pada Mira saat mendengar suaranya, atau bahkan saat melihat fotonya pertama kali.
"Tapi aku senang Kak Bimo marah karena itu...." Ucap Mira lagi dengan tersenyum. Awal kencan pertama mereka, Bimo bersikap dingin sehingga Mira berfikir Bimo terpaksa menerima perjodohan ini. Tapi saat Bimo marah, Mira dapat melihat ada kecemburuan dimata Bimo. Sejak itu Mira yakin Bimo juga mencintainya walau tidak pernah ada kata cinta terucap antara mereka berdua.
" Kaak..... sebenarnya aku bertanya seperti itu karena sejak lima tahun yang lalu Kak Bian mendekatiku.... Tapi aku selalu menolaknya karena aku tahu aku akan dijodohkan.... Saat itu aku belum tahu kalau Kak Bian adalah anak Bunda Lisa.... Aku baru mengetahui beberapa bulan yang lalu... Sejujurnya aku juga sudah mempersiapkan diri jika akan menikah dengannya walau sebenarnya bukan itu yang aku harapkan.... Tapi ketika Bunda bilang Kak Bimo lah yang akan dijodohkan denganku aku sangat bahagia...." Cerita Mira panjang lebar diakhiri senyum tulus yang menunjukkan dia jujur mengucapkan semuanya. Bimo hanya mendengarkan dan menatap wajah Mira. Bimo mencoba tegar seperti Mira saat ini.
" Aku mengira Kak Bian sudah tidak menyukaiku lagi karena aku yang selalu menolaknya apalagi dia menghilang selama dua tahun tanpa kabar.....Tapi ternyata dia menolak perjodohan ini karena tidak tahu bahwa Akulah wanita yang dijodohkan dengannya....." Lanjut Mira menerawang. Kalau saja dia menceritakan dari awal mungkin tidak seperti ini kejadiannya. Namun Mira hanya merasa sangat bahagia saat itu karena dapat bersama orang yang dicintainya.
Bimo tidak dapat berkata apapun. Dia merasa bodoh dan pengecut karena tidak memperjuangkan cintanya. Tapi tidak mungkin Bimo menolak permintaan Ayahnya untuk mengalah 'lagi' kepada Bian. Bimo terlalu banyak berhutang kepada keluarganya itu. Bimo berharap Mira dapat berbahagia dengan Bian yang sangat mencintai Mira. Bimo yakin dia bisa hidup tanpa Mira.....tapi dia juga yakin tidak akan sebahagia seperti saat bersama Mira.
Seminggu ini Bimo takut bertemu Mira. Takut jika Mira memaki bahkan membenci Bimo karena tidak mempertahankan hubungan mereka. Tapi ternyata Mira masih bersikap hangat kepadanya dan menerima keputusannya dengan lapang d**a. Itulah yang membuat Bimo semakin mencintainya. Bagi Bimo, Mira adalah mahkluk paling istimewa dan sempurna, memiliki wajah cantik, dewasa, lembut, tidak egois dan sangat mengerti dirinya tanpa perlu Bimo banyak berucap.
Ingin sekali Bimo berkata 'Aku Mencintaimu' namun Dia tidak mau hal itu justru membuat mereka sulit berpisah. Bimo tahu pasti jika Mira tahu bahwa Bimo mencintainya dan Bimo pun tahu Mira mencintainya jadi itu sudah cukup untuk menguatkan mereka.
"Kaak......apapun yang terjadi kuharap Kak Bimo bisa bahagia....." ucap Mira sebelum akhirnya meninggalkan cafe favorit mereka.
"Tidak.....Aku tidak yakin bisa bahagia tanpamu....Tapi Aku harap Kamu harus selalu berbahagia Mira... Aku mencintaimu..." Ucap Bimo membalas ucapan Mira. Namun tentu Mira tidak mendengarnya karena kalimat itu hanya Bimo ucapkan dalam hatinya. Bimo hanya bisa terus memandangi kepergian Mira dan akhirnya airmata yang sedari tadi ditahannya kini sudah menetes.
"Aku harap.....aku tidak menyesali keputusanku ini..." gumam Bimo seraya berdiri dan meninggalkan tempat kenangan kebersamaannya dengan Mira walau hanya beberapa kali.