I Cry (Final Part)

3614 Kata
Seminggu berlalu sejak pertengkaran antara Mas Dimas dan Ibunya. Dan selama itu pula Kami tidak pernah membahasnya. Aku merasa bersalah dan ingin mengungkapkan pendapatku agar Mas Dimas menemui Ibunya dan meminta maaf. Namun Aku menunggu waktu yang tepat karena ingin Mas Dimas tenang terlebih dahulu. Aku juga mencoba memikirkan cara mengatasi masalah kami. Dan kurasa Aku sudah mendapatkan solusinya. Aku harap Mas Dimas mau mendukungnya. "Kamu belum tidur?!..." tegur Mas Dimas ketika memasuki kamar. Ia baru saja dari ruang kerjanya saat Aku izin ke kamar karena merasa lelah. Namun memikirkan masalah Mas Dimas dan orang tuanya membuatku tidak bisa tidur. "Aku menunggu Mas.... Aku ingin memeluk Mas..." ucapku berusaha sedikit manja. Mas Dimas tersenyum geli sebelum mengecup bibirku kemudian berbaring bersamaku. Dengan cepat Aku memeluk tubuh tegapnya dan meletakkan kepalaku di atas d**a bidangnya. "Jadi apa yang ingin Kau bicarakan?..." ucap Mas Dimas santai sembari sesekali mengusap lengan atas dan juga rambutku. Aku tersenyum simpul saat Mas Dimas mengetahui keinginanku tanpa perlu Aku memulainya. Sudah lebih dari 9 tahun bersama tentu membuat kami saling menghafal kebiasaan kami. "Eumm... Mas.... Apa Kamu ada menghubungi orang tuamu?..." Aku berusaha bertanya dengan nada santai. Mas Dimas menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku. "Belum..." jawab Mas Dimas singkat. "Mas... Apa tidak sebaiknya..." "Aku akan menghubungi mereka saat waktunya tepat...." "Kapan?..." "Entahlah.... Tapi ku rasa percuma menemui mereka jika mereka masih menuntut cucu..." "Tapi Mas...." "Aku akan menemui mereka... Itu pasti Sayang..." "Aku mengkhawatirkan Ibu Mas..." "Tenang saja... Ayah sudah mengabariku... Ibu sehat-sehat saja.... Bahkan Ibu bersikap biasa saja.... Tapi...." "Tapi kenapa Mas?..." "Tapi.... Ibu tidak mau membahas atau bahkan menyebut namaku lagi...." "Mas...." "Hhahhh... Sebenarnya Mas bingung harus bagaimana... Apakah sekarang Mas sudah menjadi anak durhaka?..." "Tidak... Tidak Mas.... Kalian hanya berselisih paham saja.... Aku yakin setelah Mas menemui Ibu dan meminta maaf maka Ia akan memaafkanmu dan menerimamu kembali..." "Ku rasa tidak jika Aku masih tidak mengikuti kemauannya..." "Apa Mas berfikir akan..." "Tidak.... Mas bersumpah.... Mas rela bersujud di depan Ibu setiap hari sampai Ibh mau memaafkan Mas... Tapi Mas tidak akan pernah mau mengikuti kemauan Ibu yang menurut Mas lebih banyak negatifnya dari pada positifnya..." "Terima kasih Mas... Aku mencintaimu..." Aku benar-benar merasa bersyukur dan berterima kasih karena Mas Dimas mau mempertahankanku dan pernikahan kami bahkan hingga melawan keinginan Ibunya. "Mas.... Aku memiliki ide untuk masalah tuntutan Ibu..." "Apa?....Katakanlah..." Kami melonggarkan pelukan kami dan kini posisi kami berbaring miring saling menghadap. "Bagaimana.... Jika kita... Melakukan... adopsi anak..." Aku berucap ragu sembari menatap d**a Mas Dimas, tidak berani menatap langsung matanya. Takut melihat penolakan dari tatapan Mas Dimas. "Kenapa?..." Mas Dimas nampak santai bertanya. "Maksud Mas?..." "Kenapa Kamu ingin mengadopsi anak?... Karena Kamu benar-benar menginginkan anak?... Atau... Hanya agar Ibuku senang karena ada cucu...." Aku terdiam sesaat sebelum menjawabnya. "Aku menginginkan anak.... Tapi Aku juga berharap Ibu Mas juga menjadi luluh karena anak itu...." "Jangan terlalu berharap... Karena yang Ibu inginkan adalah penerus yang benar-benar keturunan keluarga Kami..." Jelas Mas Dimas membuat raut sedih seketika muncul di wajahku. "Namun... Jika Kamu benar-benar menginginkan seorang anak... Kita tetap bisa mengadopsinya... Walau Ibuku tidak menyukainya namun Aku yakin Kamu dan Aku akan cukup memberikan kasih sayang yang Ia butuhkan kan?..." Hibur Mas Dimas. Aku otomatis menatap Mas Dimas dan tersenyum lebar setelahnya. "Aku mencintaimu Mas... Sangat mencintaimu...." Ucapku sembari memeluk erat Mas Dimas menunjukkan rasa bahagia dan terima kasihnya atas segala pengertian dari Mas Dimas. "Aku lebih mencintaimu Sayang... Tujuan hidupku adalah membahagiakanmu..." Ucap Mas Dimas tulus walau masih tersisa kesedihan karena hubungannya dengan Ibunya. Namun untunglah Ayahnya tidak ikut memusuhinya. ~o0O0o~ "Ayah...." Sapa Dimas sembari memeluk erat Ayahnya yang Ia rindukan karena sudah sebulan mereka tidak bertemu. Dimas dan Anggun sengaja mendatangi rumah orang tua Dimas berharap emosi Ibunya sudah mereda. "Anggun... Kamu tidak ingin memeluk Ayahmu ini?..." tegur Ayah Dimas karena Anggun tidak juga mendekatinya setelah Ia melepas pelukan Dimas. Anggun mengerjap sesaat sebelum mendekati dan berhambur kepelukan mertuanya itu. "Ayah lebih merindukanmu dari pada pria itu..." Bisik Ayah Dimas mencoba menghibur menantunya yang pasti sedih dan tertekan karena sikap isterinya. Dimas hanya tersenyum melihat kebersamaan Ayah dan isterinya. Mereka pun mulai berbincang bertiga menanyakan kabar, pekerjaan dan lainnya. Namun Dimas masih ragu menanyakan tentang Ibunya yang tidak jua muncul setelah satu jam Dimas dan Anggun di sana. "Sayang.... Aku mau pergi arisan..." Suara Ibu Dimas tiba-tiba muncul membuat suasana hening seketika karena kegugupan Dimas dan Anggun. "Aku pinjam pak Kardi ya.... Kamu tidak kemana-mana kan?..." tanya Ibu Dimas dengan santai mendekati suaminya tanpa melirik sedikitpun pada Dimas dan Anggun seolah mereka tak ada. "Hmm.... Aku hanya akan di rumah... Berhati-hatilah..." Ibu Dimas hanya mengangguk dan mengecup sekilas bibir suaminya itu kemudian melenggang dengan santai keluar rumah. Badan Dimas lemas seketika melihat Ibunya yang menganggapnya tidak ada. "Mas...." lirih Anggun sedih dan merasa bersalah. Dimas menegakkan tubuhnya dan berusaha tersenyum untuk menenangkan Anggun. "Ayah Kami pergi dulu... Kami akan mulai pergi ke berbagai panti untuk mencari bayi yang baru lahir... Aku harap Ayah mendoakan kami agar berhasil...." Dimas berucap berusaha santai. "Hmm... Jika itu yang terbaik, Ayah mendoakanmu..." setelah memberikan pelukan mereka, Dimas dan Anggun pun pergi dari rumah keluarganya itu. Tanpa Dimas sadari sebuah mobil bersembunyi agar tidak terlihat oleh Dimas. Mobil itu adalah mobil yang ditempati Ibunya Dimas. "Ibu merindukanmu Dimas....hikz..." Ibu Dimas menangis mengingat puteranya ada di dekatnya tadi namun Ia tidak berani bahkan hanya untuk menatapnya. Selama satu jam Dimas di rumahnya, selama itu pula Ratih mendengarkan semua yang Dimas katakan pada suaminya. Dan Dia berpura-pura akan pergi juga mengabaikan Dimas hanya agar Dimas melihatnya sehat dan tidak perlu memikirkannya. Ratih tahu Dimas sudah tertekan karena paksaannya untuk memberi cucu, jadi Ratih tidak mau Dimas juga tertekan karena kesehatannya yang menurun. "Kenapa Kau keras kepala sekali?!... Seperti Ibu....hikz...." Ratih tidak membenci Dimas atas semua ucapan Dimas waktu itu. Namun Ia masih merasa marah dan kecewa pada Anggun walau jika ingin jujur, rasa sayangnya pada Anggun masih ada. Tapi Ratih merasa tidak terima sekaligus iri karena Anggun memiliki Dimas yang dengan tegas dan yakin selalu mendukungnya. Sedangkan dulu Ia hanya menerima semua tekanan dari keluarga suaminya seorang diri sedangkan suaminya sibuk bekerja sehingga kurang memperhatikan Ratih. Karena itu sekarang ini suaminya tidak bisa bersikap tegas pada Ratih mengingat sedikit banyak semua itu karena sikapnya dulu pada Ratih. "Pak Kardi,.... Kembali ke rumah..." Ucap Ratih setelah menenangkan diri selama sepuluh menit. "Baik Nyonya..." jawab sang supir kemudian mulai memutar arah kembali ke rumah keluarga Prasetyo. ~o0O0o~ "Att...ta...ta...taa...ohh.... Sayang Bunda sudah bangun...." Anggun langsung menciumi gemas pipi gembil bayi laki-laki berusia lima bulan itu. "Oek....at..ta..ta....na....ya..." Seakan iri melihat saudara kembarnya mendapat perhatian lebih, bayi laki-laki disebelahnya pun menangis dan bergumam seolah memanggil Bundanya. "Ohh....sayang yang gelap ini sudah bangun...." Goda Anggun kepada bayi laki-laki yang memang warna kulitnya lebih gelap dari pada kembarannya. Namun bayi mungil itu tidak peduli dengan godaan Anggun karena Ia langsung tertawa saat Anggun menciumi ketiaknya. "Sepertinya Aku harus mulai terbiasa diabaikan..." Suara Dimas terdengar disertai desahan seolah lelah. Anggun otomatis mengalihkan tatapannya ke arah suaminya itu dan segera mengalungkan tangannya pada Dimas dan memberikan ciuman pada Dimas untuk membungkam keluhan Dimas walau itu hanya pura-pura. Mereka tidak perlu terburu-buru ciuman karena kedua putera mereka tidak pernah mengganggu mereka ketika mereka bermesraan. Seolah mengerti cinta besar antara kedua orang tua mereka. Anggun dan Dimas bertemu kedua putera menggemaskan mereka 5 bulan yang lalu tepat 2 hari setelah dilahirkan dalam keadaan prematur. Ibu yang melahirkan mereka meninggal tepat setelah mereka dilahirkan. Ibu mereka ke rumah sakit tanpa keluarga sehingga tidak ada yang menjemput mereka di rumah sakit. Beruntung rumah sakit masih mau merawat kedua bayi tersebut hingga seorang dokter yang merupakan sahabat Dimas mengetahui hal itu dan segera memberitahukan kepada Dimas. Selama sebulan kedua bayi prematur itu dirawat di rumah sakit sembari menunggu mungkin ada keluarga dari bayi tersebut. Setelah 1 bulan dan memastikan bayi tersebut tidak jua dijemput akhirnya mereka di bawa pulang ke rumah Dimas setekah mengurus surat-surat resminya agar nanti tidak ada kendala hukum. "Mereka sedang apa?..." tanya Dimas mendekati kedua bayi imut itu setelah melepaskan pelukan Anggun. Dan kini Anggun yang cemberut mencibir melihat Dimas tanpa basa basi melepas pelukannya untuk menemui putera mereka. Namun wajah cemberut itu tidak berlangsung lama karena langsung diganti dengan wajah sumringah menceritakan tentang apa saja yang kedua bayi itu lakukan. "Arbi baru saja menangis karena cemburu saat Aku menciumi Ardi...." cerita Anggun sembari memeluk Dimas dari samping. Mereka sama-sama menatap kedua Putera mereka penuh rasa cinta dan syukur. "Mas.... Kita jadi ke rumah Ibu Ratih?..." lirih Anggun. "Haruskah?!..." Gumam Dimas tidak yakin. Setiap 1 bulan sekali Dimas dan Anggun mengunjungi keluarga Dimas. Sudah 4 kali mereka ke sana. Empat kali itu juga Dimas dan Anggun selalu berlutut jika bertemu Ratih. Tidak pernah lebih dari 2 menit karena Ratih selalu langsung pergi tanpa mengatakan apapun pada Dimas dan Anggun. "Aku kasihan pada Arbi dan Ardi..." Gumam Dimas mengucapkan alasannya ragu ke rumah keluarganya. Setiap kerumah keluarganya, mereka tidak bertahan lama karena Arbi dan Ardi pasti menangis histeris. Dimas, Anggun dan bahkan Ayahnya Dimas pun sudah berusaha menghentikan tangisan mereka namun tidak bisa. Sehingga mereka hanya bertahan 30 menit di rumah itu. Tapi anehnya tangisan mereka otomatis berhenti ketika mereka sudah dibawa keluar gerbang rumah itu. "Tapi... Bukankah kita sudah berjanji pada diri kita sendiri bahwa kita akan selalu berusaha mendapatkan ampunan dari Ibu Ratih... Ini semua untukmu, untukku, untuk anak-anak kita...untuk keluarga kita..." Bujuk Anggun menatap Dimas lembut sembari pengusap pinggang Dimas dimana Ia memeluknya. Dimas terdiam sesaat menatap Anggun. Dimas tahu jika Anggun selalu merasa sangat bersalah karena sudah membuat hubungannya dengan Ibunya menjadi buruk. "Baiklah.... Untuk keluarga kita... Kita akan ke rumah Nenek dan Kakek... Siapa yang mau Ayah gendong... " Dimas berucap semangat memancing reaksi kedua puteranya. Dan dengan riangnya kedua putera mereka itu tertawa dan mengangkat tangan juga menggerakkan kakinya seolah menarik perhatian Dimas agar memilihnya. Semua ekapresi dan perasaan sedih Dimas Dan Anggun hilang melihat kebahagiaan di wajah Arbi dan Ardi. ~o0O0o~ Baru sampai pintu gerbang rumah Ratih, Arbibyang semula tidur nyenyak di car seat nampak mulai menggeliat seolah tidak nyaman. Begitu juga Ardi yang berada di pangkuan Anggun. Dimas dan Anggu nampak cemas dan gugup bersamaan. Tepat setelah memarkirkan mobil, Dimas langsung turun untuk menggendong Arbu dan menimangnya sebelum Arbi menangis. Dimas juga Anggun menghela nafas dan terdiam sesaat sebelum memasuki rumah Ratih sembari terus menimang putera mereka agar tetap tidur nyenyak. "Apakah mereka merasakan kebencian Ibu Ratih pada kita sehingga mereka selalu tidak nyaman berada disini?..." Gumam Anggun tiba-tiba. Dimas menatap Anggun merasa sepemikiran. Bukankah bayi terkadang bisa merasakan hal seperti itu, pikir mereka. Hal ini membuat Dimasvdan Anggun sempat ragu, namun mereka menguatkan tekad mereka. Setidaknya mereka harus kembali bersujud di kaki Ratih terlebih dahulu dan bisa pergi kemudian. Mereka tidak ingin hubungan keluarga mereka rusak selamanya. "Akhirnya kalian datang juga....Kakek sudah sangat merindukan cucu-cucu kakek..." Ucap Ayah Dimas mengambil Arbi dari gendongan Dimas. Dimas dan Anggun bertatapan kemudian tersenyum melihat kebahagiaan Ayah Dimas saat melihat Arbu dan Ardi. Mereka pun duduk di ruang keluarga dan berbincang bersama yang lebih dominan membicarakan perkembangan Arbi dan Ardi. "Ayah.... Ibu di mana?..." Tanya Dimas. Ayahnya menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Dimas. "Ibumu di kamar... Dia tidak enak badan..." Jawab Ayahnya sedih. "Ibu sakit apa?... Apakah sudah diperiksa ke dokter?..." Tanya Anggun khawatir. "Dokter Roger sudah memeriksanya... Katanya Ratih banyak pikiran dan stress..." Mereka semua terdiam tidak tahu harus bagaimana. Mereka tahu apa yang membuat Ratih stress namun mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika Ratih kekeuh dengan keinginannya mendapatkan keturunan dari Dimas. "Sebenarnya sejak pertengkaran Kamu dengan Ibumu, Dia menjadi pemurung... Dia memang berusaha tetap beraktivitas biasa dan tetap menjaga kesehatan... Dan Aku tahu itu hanya agar Ia terlihat kuat..." jelas Ayahnya Dimas. "Tapi belakangan ini Ia sering diam dan tiba-tiba menangis... Makan juga menjadi tidak teratur... Karena itu sekarang dia benar-benar drop..." lanjut Ayahnya. Dimas terdiam dengan mata berkaca-kaca dan perasaan bersalah. "Mas... Temuilah Ibu... Hibur dia... Bujuk dia... Jika Kamu tidak bisa mengatakan apapun... Kamu hanya perlu memeluknya..." ucap Anggun dengan suara bergetar menahan tangis. "Kamu... Tidak akan meninggalkanku kan?..." ucap Dimas lirih dan ragu. Ia takut saat Ia berbicara dengan Ibunya, Anggun pergi secara diam-diam karena tidak ingin menyakiti Ratih lagi. "Aku tidak akan kemana-mana tanpa Mas..." Yakin Anggun tersenyum sembari menggenggam tangan Dimas. "Ayah akan memastikan Anggun tetap disini selama apapun kamu bersama Ibumu..." Ucap Ayahnya meyakinkan Dimas. "Baiklah... Aku akan menemui Ibu..."gumam Dimasbdan mengecup kening Anggun dan kedua puteranya berharap kekuatan dari mereka. ~oO0Oo~ Dimas menarik nafas dalam-dalam sebelum memasuki kamar Ratih secara perlahan agar tidak menggangu Ratih jika sedang beristirahat. Namun yang Dimas lihat justru Ratih yang sedang berkaca dan merias diri seolah akan pergi, bukan Ratih yang berbaring karena sakit. Ratih terkesiap saat Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Dimas sedang menatapnya. "Ada apa Kau kemari?..." tanya Ratih dengan nada datarnya sembari berjalan mengambil sepatu yang akan Ia kenakan. Dimas terdiam sulit berucap dan hanya bisa menatap lekat Ibunya yang dulu sangat memanjakannya. "Jika tidak ada yang ingin Kau katakan, pergilah... Aku harus bersiap dan segera pergi..." Ratih duduk di tepi ranjang sembari memakai sepatunya. "Jangan pergi... Beristirahatlah..." ucap Dimas akhirnya setelah berhasil melihat mata Sayu Ibunya dibalik make up yang Ratih gunakan untuk menutupi muka pucatnya. "Tidak perlu pura-pura peduli padaku... Aku bukanlah siapa-siapa mu..." ucap Ratih berusaha dingin namun tetap terdengar nada tercekat di kalimat akhirnya. Dimas tidak bisa berdiam lebih lama lagi dan segera mendekati Ratih dan duduk disebelah Ratih sebelum memeluk Ratih erat. Ratih sempat terkejut namun Ia segera memberontak setelah kesadarannya pulih. Ia merasa belum siap dengan pelukan Dimas. Setelah memberontak sekuat tenaga namun tidak mendapatkan hasil apa-apa karena tubuh besar Dimas akhirnya Ia menyerah dan diam namun tidak membalas pelukan Dimas. "Maaf...hikz... Ampuni Dimas... Ku mohon ampuni Aku Ibu...hikz..." Dimas berucap dengan nada getar dan juga sedikit isakan tangis. Ratih masih diam seolah tidak terpengaruh dengan apa yang Dimas ucapkan. "Aku anak yang berdosa dan tidak tahu diri... Hikz... Jangan sakit atau menderita hanya karena Aku... Aku mohon...hikz..." ucap Dimas lagi. Saat bersamaan terdengar suara tangisan Arbi dan Ardi membuat Dimas fokus pada tangisan kedua puteranya seolah ikut merasakan kesedihan Dimas. Dimas yang lengah membuat Ratih kembali mencoba memberontak dan berhasil lepas dari pelukan Dimas. "Kata siapa Aku menderita dan sakit hanya karena kamu... Jangan bermimpi... " Tegas Ratih membuat Dimas terkejut dan sedih. Tanpa mempedulikan ekspresi Dimas, Ratih pun mengambil tasnya dan pergi dari kamarnya. Dimas terdiam beberapa saat dengan perasaan sedih yang mendalam mengingat sikap Ratih yang seolah sudah sangat membencinya. Dimaa sadar dari kesedihannya saat tidak mendengar suara tangisan kedua puteranya lagi. Dengan rasa khawatir Dimas pun bergegas ke ruang keluarga takut jika Anggun membawa pergi kedua puteranya. Namun Apa yang Dimas lihat di ruang keluarga berhasil membuat Dimas shock dan tidak menduga. ~o0O0o~ Ratih keluar dari kamarnya dengan airmata yang mengalir di matanya namun juga senyuman di bibirnya. Ratih sejujurnya ingin mengucapkan banyak hal pada Dimas namun hal itu harus dia tunda karena tidak tahan mendengar tangisan kedua putera angkat Dimas dan Anggun. "Apa yang kalian lakukan sehingga kedua cucuku menangis?..." Teriak Ratih membuat Anggun dan Ayah Dimas yang sedang menenangkan Arbi dan Ardi terkejut. Karena keterkejutan mereka, mereka tidak memperhatikan kalimat Ratih dan justru menatap takut Ratih saat Ratih mendekati mereka. "Berikan padaku..." ucap Ratih tegas dan langsung membawa Ardi kedalam gendongannya dan dalam waktu sekejap Ardi berhenti menangis. "Apa Kamu sudah lama tidak menggendong bayi sehingga tidak tahu membuat bayi diam... Gendong dia dengan benar..." ucap Ratih tegas kepada Suaminya. Suaminya Pun dengan patuh mengikuti cara Ratih menggendong Ardi. Dan Arbi pun langsung diam seketika. Kedua bayi itu justru tersenyum ceria begitu pun Ratih yang menatap Ardi dan Arbi bergantian. Suaminya juga tersenyum menatap Ratih dan Anggun bergantian. Tanpa bisa dicegah, air mata haru keluar dari mata Anggun. Ia tidak peduli jika saat ini Ratih masih tidak peduli atau bahkan benci kepadanya asal Ibu mertuanya bisa kembali tersenyum dan menerima kedua putera angkatnya. Anggun tersenyum lebar kepada Dimaa saat melihat Dimas datang dengan tatapan khawatir dan berakhir shock ketika melihat Ratih tersenyum sembari menggendong Ardi. "Ibu..." lirih Dimas seolah mencoba meyakinkan jika itu benar-benar Ibunya yang selama ini tidak mempedulikan Arbi dan Ardi. Ratih duduk di sofa sembari menimang Ardi dipangkuannya sebelum menanggapi Dimas. "Jangan terlalu besar kepala jika Aku sakit karena memikirkan mu... Aku tidak selemah itu... Aku sakit karena memikirkan kedua cucuku... Karena bermusuhan denganmu membuat ku tidak bisa mendekati mereka selama 4 bulan ini..." ucap Ratih santai masih menatap Ardi tanpa melirik Dimas sama sekali. Dimas tidak peduli apapun lagi setelah mendengar Ratih menyebut Arbi dan Ardi sebagai cucunya. Dimas mendekati Ratih dengan perasaan haru kemudian langsung bersujud di depan Ratih dan menyandarkan keningnya di lutut Ratih. Tanpa bisa ditahan, isakan Dimas kembali terdengar. Dimas tidak bisa berkata apa-apa selain menangis karena lega, bahagia juga haru. Ia berharap ini awal dimana Ibunya mau kembali menerima Anggun. Ditempatnya berdiri, Anggun hanya bisa meneteskan airmata haru dan juga senyum lega melihat hubungan Dimas dan Ibunya yang nampaknya akan membaik. Walau Ia tetap tidak diterima atau bahkan dibenci oleh Ratih pun Ia tidak peduli asal hubungan Dimas dan Ratih membaik. "Apa Kau merasa hebat?..." Ratih akhirnya bersuara dengan suara bergetarnya karena tidak bisa menahan lagi segala kesedihannya. "Apa Kau merasa hebat... hikz hingga selalu minta ampun bahkan bersujud didepan ku ... hikz.. padahal Aku yang bersalah... Kau mau mengolokku yang memiliki ego tinggi untuk mengakui kesalahan...hikz...?!" Ratih tidak bisa menahan tangisannya lagi dan kini Ia pun terisak sembari mengusap kepala Dimas yang juga bergetar karena tangisannya. "Kemarilah... Duduk disamping Ibu dan peluk Ibu lagi..." pinta Ratih. Tanpa menunggu lama Dimas pun memenuhi keinginan Ibunya. Ayah Dimas akhirnya bisa tersenyum lega dan bahagia melihat anak dan isterinya kembali bersatu. Ia mengusap matanya yang sudah memerah menahan tangis sembari tersenyum menatap Anggun yang juga tersenyum menatapnya. "Kau akan tetap disana?... Tidak mau bergabung bersama kami...." ucap Ratih menatap sendu Anggun. Dimas pun tersenyum dan mengangguk menatap Anggun pertanda Ia juga meminta Anggun mendekat. Anggun tersenyum bahagia dan segera berhambur mendekati orang-orang tersayangnya. Akhirnya Ratih berada ditengah-tengah Anggun dan Dimas masih dengan tangisan haru mereka. "Maafkan Ibu...hikz... Maafkan keegoisan Ibu yang hampir memisahkan kalian...hikz... Ibu yang bersalah... Maafkan Ibu...hikz..." Ucap Ratih. Tidak ada yang membalas perkataan Ratih. Mereka hanya menikmati kembalinya kebersamaan mereka. Mereka tidak peduli siapa yang salah. Yang terpenting sekarang mereka kembali bersama sebagai keluarga. "Atta....ta...he.he..." Tangisan mereka berhenti dan tergantikan dengan senyuman saat melihat Ardi tertawa sembari berceloteh menatap mereka. Namun kemudian terdengar tangisan Arbi. "Ini... Gendong Arbi juga... Sepertinya Ia iri dengan Ardi yang Kau gendong..." ucap suaminya kepada Ratih. "Alasan... bilang saja Kau lelah karena menggendongnya... Dasar pria tua..." ejek Ratih namun dengan senyuman. Dimas pun mengambil Ardi agar Ratih bisa menggendong Arbi yang langsung terdiam bahkan tertawa dan berceloteh menatap Ratih. "Sepertinya mereka sering menangis ketika kemari hanya agar Ibu memperhatikan mereka..." gumam Dimas tersenyum. "Dan akhirnya berhasil..." sahut Anggun. Dimas, Anggun, Ratih dan Ayah Dimas kini tersenyum dan mencoba membalas setiap celotehan tidak jelas dari Arbi dan Adri. ~o0O0o~ "Malam ini Kita akan tidur nyenyak..." Gumam Dimas dengan senyuman bahagianya. Anggun yang berbaring sembari memeluk Dimas pun tersenyum menyetujui. "Karena tidak ada tangisan Arbi dan Ardi di kamar kita?..." Tanya Anggun menggoda. "Itu juga... Kkk.... Tapi tangisan mereka tiap malam tidak mengganggu namun justru memberi kebahagiaan... Benar kan?...." Ucap Dimas menatap Anggun penuh rasa cinta dan syukur karena akhirnya mereka bisa bersama tanpa harus menyakiti Ibunya. Dan mengenai Arbi dan Ardi yang tidak bersama mereka itu dikarenakan Ratih yang membawa kedua bayi itu di kamarnya. Malam ini Dimas dan Anggun memutuskan menginap di rumah Ratih. Dan mungkin akan kembali tinggal di sana karena tidak ingin Ratih kesepian dan agar Anggun juga tidak kesulitan mengasuh dua bayi saat Dimas bekerja. "Perjuangan kita tidak sia-sia... Dan terlebih Tuhan memberikan Arbi dan Ardi sebagai anugrah terindah untuk kita... Tanpa mereka mungkin Ibu belum akan mengampuni kita...." Gumam Dimas lagi menerawang. "Mungkin akan lama... Walau Aku yakin sejujurnya Ibu sudah memaafkan kita... Namun seperti kata Ibu tadi, egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya... Dan memang tidak ada yang bisa menolak Arbi dan Ardi sehingga Ibh pun menyerah pada mereka..." Anggun berucap semangat penuh kebahagiaan sembari memeluk Dimas lebih erat dan mencari posisi ternyamannya. Mereka terdiam sesaat menikmati perasaan bahagia atas kembali bersatunya keluarga mereka. "Mengenai Arbi dan Ardi yang bersama Ibu... Bukankah sekarang kesempatan kita?!..." Ucap Dimas tiba-tiba dengan senyuman yang menampilkan sedikit seringaiannya. "Kesempatan untuk?!..." Tanya Anggun penuh tanya. "Menikmati malam penuh cinta dan gairah..." Ucap Dimas bersemangat sembari berpindah posisi ke atas Anggun dan menghujani Anggun dengan ciuman-ciuman di seluruh wajahnya. Sedangkan Anggun hanya tertawa menyambutnya dengan penuh luapan perasaan bahagia. "Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu..." Ucap Dimas menatap intens mata Anggun dan kemudian memberikan ciuman dalam penuh gairah bahkan sebelum sempat Anggun membalas kata-kata cinta Dimas. Dalam hidup selalu diiringi dua pilihan... Namun terkadang pilihan itu bukan selalu antara yang benar dan salah... Semua bergantung bagaimana kita menjalani pilihan kita... Bisakah kita membuat pilihan kita membawa kita pada kebahagiaan... Niat baik dan perjuangan tidak pernah memberikan hasil yang mengecewakan.... Jika pada awalnya yang kita dapat adalah sebuah kekecewaan maka itu berarti bukan hasil akhir... Dan kita hanya perlu berjuang lagi untuk mendapat hasil akhir sesuai keinginan kita yang membawa pada kebahagiaan... THE END Semoga reader puas dengan cerita saya kali ini ya... Maaf bagi yang meminta untuk tiba-tiba Dimas dan Anggun mendapat keajaiban bisa memiliki anak tapi saya ga buat cerita seperti itu. Dalam cerita saya ini menunjukkan semua orang bisa berbahagia jika mereka mau... Tidak semua orang bisa memiliki anak... Karena itu saya membuat cerita ini agar mereka yang tidak bisa memiliki anak bisa terus bersemangat menjalani hidup dan mencari cara lain untuk bahagia... Kebahagiaan itu hanya bisa didapat jika kita mau meraihnya bukan hanya menunggunya.... Tetaplah berfikir positif dan bersyukur... Have a nice day
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN