I Cry (Spesial Part)

2272 Kata
"Aku sudah lelah menyakiti diriku sendiri dan dirinya.... Kini saatnya Aku bersikap egois... Ini hidupku dan Aku kali ini akan berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan dihidupku... Dan Aku pun tahu bahwa kebahagiaanku sama dengan kebahagiannya... Maka Aku dan Dia kini akan berjuang bersama mendapatkan kebahagiaan kami... Tidak peduli jika kami Egois...." Ku tuliskan tekadku di buku diaryku.... Ini buku diary yang baru ku beli sengaja untuk menceritakan perjuanganku sejak awal untuk mendapatkan kebahagiaan. Perjuangan yang baru dimulai dan akan membutuhkan banyak tenaga, uang dan terlebih keteguhan hati. Tap....tap....tap.... Hahh...hahhh Suara langkah kaki bergegas disusul helaan nafas keras mengalihkan fokusku dari buku diary ku. Ku lihat suamiku Dimas sedang membungkuk dengan nafas lelah setelah berlari dari rumah hingga ke taman belakang tempatku berada saat ini. Mungkin Ia sudah mengelilingi rumah ini untuk mencariku. "Apa yang terjadi Mas?...." Tanyaku meletakkan buku diaryku di meja kemudian melangkah mendekatinya. Aku bisa melihat jelas peluh di dahinya dan wajahnya yang tampan nampak lelah. "Hhhah.... Aku kira Kau pergi...hhh" Mas Dimas menatapku lembut penuh cinta juga kelegaan. Aku tersenyum mengusap peluh di dahinya kemudian berjinjit untuk mengecup sekilas bibirnya. "Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu.... Tidak lagi...." Mas Dimas tersenyum kemudian menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan di d**a bidangnya yang kurindukan dan selalu membuatku nyaman. "Aku senang Anggun ku yang pintar sudah kembali..." Mas Dimas sedikit menggodaku dan Aku hanya bisa mencubit pelan pinggangnya yang justru membuatnya terkekeh kemudian melonggarkan pelukannya. "Aku mencintaimu... Selalu dan selamanya..." ucap Mas Dimas lembut dengan tatapan yang selalu berhasil menghipnotisku. Aku tersenyum malu dengan rona merah di pipiku namun tidak bisa mengalihkanku dari tatapannya yang tajam sekaligus lembut penuh cinta. "Sebaiknya kita kembali ke kamar.... Aku masih mengantuk...." Ajak Mas Dimas merangkul pinggangku. Baru kemarin Ia kembali ke rumah setelah selama seminggu Ia di rawat di rumah sakit. Selama itu juga Ibu mertuaku tidak datang mengunjungi kami lagi. Aku berharap saat ini Ia mulai luluh dan bisa menerimaku melihat tekad kami untuk terus bersama. "Jangan kemana-mana... Tetaplah di sampingku...." Mas Dimas memelukku erat mengajakku berbaring. Aku tersenyum tipis kemudian menghadapkan tubuhku padanya untuk balas memeluknya. "Aku tidak akan kemana-mana... Aku akan selalu bersamamu.... Aku mencintaimu..." Mas Dimas tersenyum dalam keadaan mata yang terpejam sebelum akhirnya dengkuran halus mulai terdengar. Aku pun mulai berusaha menyusulnya ke alam mimpi. ~o0O0o~ Sebulan berlalu dan kehidupanku bersama Mas Dimas kembali seperti semula, penuh senyum dan canda tawa. Kami tidak lagi memikirkan tentang anak, atau belum terpikirkan, Kami hanya berusaha menikmati kehidupan kami saat ini. Terkadang masih terselip rasa bersalah di diriku jika mengingat keluarga Mas Dimas yang menginginkan keturunan. Namun seolah tahu tentang kegalauanku, Mas Dimas selalu mengingatkan ku jika Ia mencintaiku dan tidak ingin Aku pergi. Aku tidak tahu sampai kapan kehidupan tenang kami bertahan, karena pasti ada masanya dimana tiba-tiba kehadiran seorang anak menjadi pikiran bagi kami. Namun untuk saat ini Aku hanya terus bersyukur karena Tuhan memberikanku seorang suami yang tulus mencintaiku dan menerima apa adanya. Tiap hari Aku selalu berdoa semoga kami akan terus bersama dan menghadapi semua masalah bersama. Dan kurasa masalah mulai datang hari ini tepat saat kulihat wajah Ibu mertuaku memasuki ruang keluarga rumahku. "Ibu....." Sapaku mencium tangannya dan berusaha tenang juga memberikan senyuman tulusku. Ibu Mertuaku tidak membalas senyumanku dan hanya terus melangkahkan kaki menuju sofa keluarga kemudian duduk di sana sembari menatapku yang masih terdiam di tempatku seolah memintaku untuk duduk di dekatnya. "Aku tidak akan basa-basi... Aku kemari untuk memberikan solusi atas masalah kemandulanmu..." Jantungku mulai berdegub kencang dan perasaanku mulai was-was mendengar kalimat dari ibu mertuaku itu. Entah mengapa Aku merasa ragu dengan solusi yang Ia maksudkan. Aku sudah konsultasi ke dokter mengenai kemandulanku dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengatasinya. Kemandulan bagi seorang wanita ialah jika indung telur tidak dapat menghasilkan sel telur. Jadi jika Ibu ingin anak dari Mas Dimas yang dibutuhkan hanya sel telur dari....wanita lain. "Ibu akan mencarikan seorang wanita yang bisa menghasilkan keturunan untuk Dimas...." Aku terdiam dengan keterkejutan jelas terlihat di wajahku dan tentu saja Aku tidak menyukai rencana ini. "Tenang saja, Dimas tidak perlu menikahinya.... Dan kalian juga tidak perlu bercerai... Wanita itu hanya akan hamil dan melahirkan anak Dimas... Dan setelah lahir kalian yang akan mengurusnya..." Jelas Ibu mertuaku berusaha menenangkanku atau meluluhkanku. "Tapi.... Apa Mas Dimas akan menyetujuinya?..." Aku bertanya lirih berusaha menekan rasa sesak di hatiku. "Itulah tugasmu... Kau harus membujuknya...." Tegas Ibu mertuaku sembari menatapku tajam. Aku hanya bisa menundukkan wajahku dengan tangan yang saling meremas mencoba menghilangkan ketakutanku. "Dimas tidak bisa memberikan keturunan bagi keluarga Prasetyo karenamu... Jadi sebaiknya Kau berhasil membujuk Dimas untuk ini... Karena kalau tidak, Aku akan melakukan apapun untuk membuat kalian berpisah...." Tegas Ibu mertuaku lalu beranjak meninggalkanku. Sementara Aku hanya bisa terdiam dengan airmata yang semakin lama semakin mengalir deras. "Hikz.... Aku harus bagaimana Mas... Hikz... Aku tidak ingin Kau memiliki anak dengan wanita lain....hikz... Tapi Aku juga tidak bisa memberimu anak... Hikz.... Mengapa Aku tidak sempurna Mas....hikz...." Aku meraung sembari memukuli dadaku yang sesak. ~oO0Oo~ Aku terus berfikir apa yang harus Aku lakukan. Bagaimana caranya mengatakan keinginan Ibunya kepada Mas Dimas. Aku benar-benar takut. Jika Aku menyampaikan keingian Ibunya padanya, Aku yakin Mas Dimas akan murka dan berfikir jika Aku akan kembali meninggalkannya. Namun, jika Aku tidak menyampaikannya, Aku takut Ibu mertuaku akan benar-benar memisahkan kami. Entah sudah berapa lama Aku berdiam diri di balkon kamar tanpa sadar kini sudah sore. Aku belum juga tersadar hingga sepasang tangan kekar memelukku dari belakang. Tanpa perlu menoleh Aku bisa mengetahui jika itu tangan suamiku, Mas Dimas. Aku memejamkan mata menikmati pelukan ini dan tanpa sadar perasaan sedih, takut dan bimbangku menguap begitu saja berganti dengan rasa nyaman dan tenang dalam dekapan pria yang kucintai. "Sepertinya Kamu sangat menikmati pemandangan dari sini sehingga tidak menyadari kepulanganku..." ucap Mas Dimas sesekali mengecup pipiku. "Aku tidak menikmatinya sama sekali..." jawabku jujur masih dengan memejamkan mata merasakan kehangatan pelukan Mas Dimas. "Berarti Kamu memikirkan sesuatu... Ada masalah?..." Terdengar sedikit nada khawatir di suara Mas Dimas kini. " Entahlah.... Aku lupa semuanya setelah Mas memelukku..." Aku tersenyum simpul dalam setiap ucapanku. "Kalau begitu Aku akan selalu memelukmu agar Kamu tidak memikirkan masalah apapun..." Maa Dimasmengeratkan pelukannya sembari menciumi pelipis, pipi, telinga, leher, hingga bahuku. "Ahn.... Aku tidak yakin pelukan ini akan bertahan lama... Ahh..." Suara desahanku mulai terdengar saat Ma Dimas mengulum telinga kiriku. "Aku hanya ingin membuat Kamu benar-benar melupakan masalahmu... Dan hanya mengingat tentang cinta dan juga gairah...." Ms Dimas berucap dengan nada semangat penuh senyum kemudian membopongku ke kamar. Aku hanya tersenyum mengikuti kemauan Mas Dimas dan juga sepertinya kemauanku. Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk menceritakan tentang keinginan Ibunya pada Mas Dimas. Saat ini Aku hanya ingin menciptakan kebahagiaan kami tanpa mau terlalu memikirkan orang lain yang bahkan tidak memikirkan kebahagiaan kami. ~oO0Oo~ "Kamu membuatku kecewa...." suara sergahan dari Ibu mertuaku tiba-tiba menyentakku dari keasyikanku menghias cake. "Ibu..." gumamku terkejut. "Kau meremehkan ucapanku..." ketusnya dengan tatapan penuh kemarahan padaku. Aku hanya terdiam tidak bisa membantah. Sudah sebulan sejak ancamannya dan Aku belum juga menyampaikan pada Mas Dimas. Aku terlalu takut untuk mengatakannya dan juga Mas Dimas yang selalu bersamaku berusaha membuatku tenang hingga Aku akhirnya melupakan semua ucapan Ibu Mertuaku. "Apakah Kamu tidak merasa bersalah sudah membuat keturunan keluarga Prasetyo berakhir?... Kau benar-benar egois..." Ucap Ibu mertuaku penuh kemarahan. "Kamu tidak perlu berbagi suami.... Aku hanya ingin Dimas membuatnya hamil kemudian bisa membuangnya setelah Ia melahirkan anak.... Tidakkah Kamu mengerti?.... Aku tidak akan memisahkan kalian..." "Aku... Tidak bisa..." Akhirnya Aku berhasil mengeluarkan suaraku. "Apa??..." "Aku tidak mungkin melakukannnya karena itu akan menyakiti kami berdua... Walaupun itu kami lakukan, bagaimana kami bisa memisahkan Ibu dan anaknya?... Banyak alasan hingga Aku tidak bisa melakukannya... Aku tidak bisa Ibu hikz.... Aku tidak bisa melihat Mas Dimas bersama wanita lain walau hanya sebentar hikz.... Walau tanpa cinta...hikz... Aku tidak bi-...plakk.." Belum sempat Aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba sebuah tamparan sudah sampai di pipi kiriku. "Kamu egois.... Benar-benar egois... Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan keluarga kami....Kamu tidak pantas hidup... Aku bersumpah akan memisahkan kalian berdua...." Aku sungguh ketakutan mendengar sumpah yang terucap penuh amarah dari Ibu mertuaku. "IBUUU...." tiba-tiba terdengar teriakan penuh amarah yang berhasil mengejutkanku juga Ibu mertuaku. "Mas Dimas..." lirihku ketika melihat di dekat meja makan terlihat suamiku yang sedang mengepalkan tangan dan juga menatap Ibu mertuaku penuh emosi. "Dimas..." terdengar lirihan dari Ibu mertuaku yang sepertinya terkejut juga takut. Apalagi di belakang Mas Dimas ada Ayah mertuaku yang menatapku sedih penuh rasa bersalah. "Bagaimana bisa Ibu mengucapkan kalimat seperti itu pada Anggun... Dia isteriku... Bagaimana bisa Ibu menyumpahinya..." suara Mas Dimas terdengar bergetar antara marah dan juga sedih. Aku tidak bisa lagi menahan airmataku melihat tatapan terluka Mas Dimas pada Ibu mertuaku dan juga tatapan bersalah dan takut ketika menatapku. "Ibu.... Hanya ingin menyadarkannya... Dia terlalu egois... Dia tidak bisa mengerti jika keluarga Prasetyo butuh keturunan... Ibu hanya ingin-..." "CUKUP....cukup Ibu.... Kau menyakitiku dan juga melukai harga diriku..." "Ibu tidak-..." "Dia isteriku.... Bagaimanapun dan apa yang Ia lakukan itu tanggung jawabku... Aku suaminya yang mendidiknya seperti itu... Aku yang memohon padanya agar tidak meninggalkanku karena itu janji pernikahan kami... Dan Aku juga tidak bisa tanpanya... Jadi jika keluarga Prasetyo tidak bisa melanjutkan keturunan... Itu adalah kesalahanku... Itu adalah tanggung jawabku... Jadi Ibu tidak berhak meneriaki bahkan menyumpahi isteriku seperti itu..." suara suamiku terdengar tegas membuat Ibu mertuaku sedikit menciut. Sedangkan Aku hanya bisa terdiam mencoba menghilangkan rasa bersalah didiriku yang sudah membuat hubungan ibu dan anak menjadi hancur. "Tapi Ibu tidak bisa membiarkan itu... Ibu tidak akan membiarkan keturunan keluarga Prasetyo berhenti... Kau tidak tahu bahwa Ibu bahkan rela melakukan berbagai cara agar Kamu lahir.... Agar keluarga Prasetyo bisa meneruskan keturunan... Ibu menerima berbagai sindiran dan hinaan karena bertahun-tahun menikah tapi belum memiliki keturunan... Apalagi Ayahmu anak tunggal... Ibu melakukan berbagai pengobatan agar Kamu lahir sebagai sebagai penerus keluarga Prasetyo ...hikz... Ibu melakukannya walaupun itu semua menyakitkan...hikz..." Ibu mertuaku menyampaikan semua unek-unek dan isi hatinya penuh perasaan sedih dan juga marah. Semua perkataannya membuatku prihati sekaligus merasa bersalah. "Sayang..." Ayah mertuaku bergumam lirih dan memeluk Ibu mertuaku berusaha menenangkannya. Aku juga bisa melihat tatapan terluka juga perasaan bersalah karena sudah membuat Ibu mertuaku melalui semua itu. "Jadi.... Apa isteriku juga harus melalui itu?... Jika bisa tentu Anggun juga akan melakukannya... Tapi kami tidak bisa melakukan apapun... Tidak bisakah Ibu mengerti?!..." "Bisa.... Dia bisa melakukan seperti yang Ibu sarankan... Kau bisa-..." "Tidak... Aku tidak bisa... Ibu merasakan bagaimana sakitnya sindiran, hinaan... Tapi kenapa Ibu melakukannya juga kepada Anggun... Bahkan Ibu lebih kejam daripada orang-orang yang dulu menghina Ibu... Apakah Ibu sadar?... Ibu lah yang sebenarnya egois... Ibu tidak memikirkan kebahagiaanku dan juga Anhhun..." "Tapi ini semua demi keluarga Prasetyo...." "KALAU BEGITU KENAPA TIDAK IBU DAN AYAH YANG MELAKUKANNYA... KENAPA TIDAK AYAH YANG IBU CARIKAN WANITA LAIN UNTUK MELAHIRKAN PENERUS KELUARGA PRASETYO....plakk" "Mas...." tanpa bisa menahan diri Aku terpekik ketika Ibu mertuaku menampar pipi Mas Dimas kuat. Ibu mertuaku bernafas terengah karena luapan emosinya. "Bagaimana bisa Kau meminta Ibu melakukan itu?... Aku Ibumu.... Bagaimana bisa Kau..." "Itulah yang Aku pertanyakan tadi... Bagaimana bisa Ibu meminta Anggun melakukannya... Kalian sama-sama perempuan yang mencintai suaminya... Seharusnya Ibu juga tahu bagaimana perasaan Anggun ketika memintaku menghamili wanita lain..." Mas Dimas berujar lirih. Ada nada bersalah dalam suaranya karena sudah berteriak dan mengucapkan kalimat laknat itu. Namun sepertinya Mas Dimas berusaha menyembunyikannya agar Ibu mertuaku tidak memanfaatkan hal itu. "Tapi itu...." "Cukup.... Aku tidak bisa lagi... " Mas Dimas berujar lemah. Aku pun mendekatinya dan memeluknya berusaha menenangkannya. "Mas... Tenangkan dirimu... " lirihku mengeratkan pelukanku untuk menenangkannya. Mas Dimas nampaknya sedikit tenang dan Ia pun balas memelukku. "Ku mohon hentikan Ibu.... Mungkin sekarang Ibu tidak bisa memiliki cucu karenaku... Namun, jika Ibu tidak menghentikan sikap Ibu... Maka Ibu pun akan kehilangan anak mulai saat ini..." ucapan Mas Dimas berhasil menghentikan gerakan tanganku yang mengusap punggungnya. Mas Dimas masih memelukku erat saat mengucapkan kalimat menyakitkan itu sehingga Aku tidak bisa melihat bagaimana ekspresi kedua mertuaku mendengar kalimatnya. "Dimas.." suara Ayah mertuaku terdengar dengan nada meminta agar Mas Dimas menarik ucapannya. Sedangkan Aku tidak bisa mendengar apapun suara dari Ibu mertuaku. "Sebaiknya Ibu pergi... Jika tidak ingin Aku benar-benar melakukannya..." ucap Mas Dimas. "Sebaiknya kita pergi Isteriku..." bisikan Ayah mertuaku terdengar tanpa balasan dari Ibu mertuaku. Namun sepertinya Ibu mertuaku menurut, terbukti dengan terdengarnya langkah kaki menjauh. Tidak lama setelah itu pelukan Mas Dimas semakin erat disusul dengan wajahnya yang Ia susupkan di rambutku. "Mas...hikz..." Aku tidak bisa menahan isakan dan airmataku saat terdengar isakan dari balik rambutku. Isakan dari tangisan Mas Dimas. Kami pun akhirnya menangis berdua meratapi kisah kami. Namun yang Aku yakini dalam tangisan Mas Dimas adalah Ia bukan menangis karena menyesali keputusan untuk mempertahankan ku. Namun Ia menangis karena sudah mengeluarkan kalimat yang sangat menyakitkan untuk orang tuanya. "Jangan tinggalkan Aku.... Aku mencintaimu..." Lirih Mas Dimas masih pada posisi yang sama dan juga dengan suara bergetar. "Hmmm.... Aku tidak...akan kemana-mana....Aku juga mencintaimu Mas Dimas...." Aku berusaha berucap tenang tanpa mengeluarkan isakan tangisku yang masih bersisa. Mas Dimas melonggarkan pelukannya kemudian menangkup wajahku dengan tangan besarnya beruaaha menghapus sisa airmata di wajahku. Aku tersenyum kemudian menghapus sisa airmata di wajahnya. "Mas....orangtuamu?!... Apa-..." "Aku sudah mengucapkan sumpah pernikahan di mana Aku akan bersama isteriku di saat susah maupun senang... Dan Aku akan berusaha menepatinya...." Airmata sudah berkumpul di pelupuk mataku seoleh mengantri untuk keluar mengetahui pengorbanan Mas Dimas untukku. "Cup... Jangan menangis lagi.... Kita akan menghadapi semua bersama...hmm?..." Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk tanpa bisa berkata seolah suaraku tersangkut di tenggorokan. Cupp....Cupp...Cupp.... Mas Dimas tersenyum dan mengecup bibirku berulang kali. "Aku mencintaimu....Cup..." "Aku juga mencintaimu Mas....Cup..." Kami tersenyum bersama kemudian kembali menyatukan bibir kami. Kali ini bukan hanya kecupan namun juga ciuman yang lembut dan panjang menyalurkan besarnya rasa cinta kami. THE END ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN