Trust Me (Final Part)

3949 Kata
"Mau sampai kapan Kau bersikap seperti itu sama Robby?...." "Entahlah... Mungkin sampai Dia menyerah..." "Apakah sikap Robby belum menunjukkan keseriusannya?..." "Serius bukan berarti tidak akan berkhianat..." "Kalau begitu tidak akan ada yang bisa memastikan seseorang tidak akan berkhianat... Lalu Kamu akan seorang diri terus?..." "Mungkin... jika itu bisa menghindari dari rasa sakit..." " Kamu yakin Kamu hanya akan tersakiti jika dikhianati?... Apa Kamu tidak akan merasa sakit saat Dia benar-benar menyerah?... Apa Kamu tidak akan merasa sakit saat Dia bersama wanita lain?..." ". . . . . ." "Kau tahu apa yang paling menyakitkan?... Yaitu penyesalan saat Kamu sudah kehilangan orang yang benar-benar mencintaimu dan sangat memperjuangkanmu..." Dian menghela nafas dan hanya bisa terdiam mengingat percakapannya 2 hari yang lalu dengan Robby. Tepat sehari sebelum kepergian Robby. Dan sekarang Dian hanya bisa manahan tangis seorang diri. Mungkin ini maksud Sandy tentang rasa sakit karena penyesalan. Dian akui semua yang Sandy katakan benar. Robby sudah menunjukkan keseriusannya. Walau yang Robby ketahui bahwa Dian melupakan hubungannya dan hanya mengingat Sandy sebagai kekasihnya saat ini, namun Robby tetap berusaha mendekatinya dan menunjukkan perasaan cintanya pada Dian. Sandy juga sudah menjelaskan tentang alasan Robby mencium Cherly, yaitu hanya untuk membuat Dian tidak merasa bersalah jika Dian mengakhiri hubungannya dengan Robby. Namun ingatannya akan nasib Ibu, bibi dan sahabatnya membuatnya takut untuk menjalin hubungan dengan Robby. Apalagi sesungguhnya Ia mencintai Robby, sehingga jika suatu saat nanti Robby mengkhianatinya maka Dian yakin bahwa Dia pun akan mengalami sakit dan kehancuran seperti Ibu, Bibi dan sahabatnya. Dian berusaha untuk melupakan tentang Robby dengan fokus pada pekerjaannya, namun ketika sampai rumah dan tidak ada apapun yang ia kerjakan, maka Dian akan kembali mengingat Robby juga rasa sakit karena Robby pergi. ~o0O0o~ 3 hari berlalu, dan akhirnya Dian kalah. Tubuhnya kalah oleh rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Memikirkan Robby membuatnya sering melamun, lupa makan dan banyak pikiran hingga akhirnya berdampak pada kesehatannya. Kesehatannya menurun dan akhirnya Ia pingsan dan di bawa ke rumah sakit oleh keluarganya. "Bagaimana perasaanmu?..." Tanya Sandra ketika menjenguk Dian. "Perasaan apa?..." Lirih Dian. "Tubuhmu sudah lebih baik?..." Jawab Sandra setelah menghela nafas prihatin. "Masih lemas...." Jawab Dian tak bertenaga. "Ck.... Kau sudah menghubunginya?..." Tanya Sandy sedikit geram. "Siapa?..." Tanya Dian seperti berpura-pura tidak mengerti maksud Sandy. "Tidak usah berpura-pura... Sampai kapan Kamu mau seperti ini?... Berpura-pura kuat dan menyembunyikan semuanya... padahal Kamu sebenarnya menderita..." Ucap Sandy kesal. "Nanti Aku akan baik-baik saja... lagipula Dia sudah menyerah dan pergi... Aku terlambat..." Dian berucap lirih kini dengan mata terpejam karena mulai kembali merasakan sakit kepala. Cklekk "Dokter Sandra... sudah waktunya membuka praktek... " Suster yang baru masuk mengingatkan jadwal Sandra untuk menerima pasien. Sandra pun langsung keluar bersama suster meninggalkan 3 orang di ruangan itu. "Dia mencintaimu, Kamu tahu itu... Kamu pun mencintainya kan?!... Jika kalian saling mencintai kenapa harus mempersulit keadaan dengan semua masalah yang sebenarnya tidak ada..." Cerocos Sandy lagi. ". . . . ." " Kamu tidak ingin melakukan sesuatu?... Aku yakin sekali saja Kamu memintanya kembali...maka Dia pasti kembali..." " Untuk apa?... membawanya pada hubungan yang tidak pasti karena keraguanku?!..." "Kamu tidak ingin menghilangkan keraguanmu?... Dia sudah membuktikannya dengan terus bertahan bersamamu beberapa bulan ini walau yang Ia ketahui adalah Kamu tidak mengingat hubunganmu dengannya... Padahal semua itu... hanya kebohonganmu..." Sandy berucap sembari menatap seorang yang hanya terdiam sejak memasuki ruangan ini. Orang itu nampak terkesiap namun tidak juga mengucapkan apapun. "Ya.... Aku membohonginya agar Ia menjauhiku... Dan rencanaku berhasil..." Lirih Dian miris. "Dan sekarang Kamu merasa bahagia?... Bukankah Kamu justru menyesali itu... Karena itu kini Kamu berada disini... Kenapa Kamu tidak mengatakan padanya tentang traumamu... mungkin Dia bisa membantumu... " Saran Sandy. "Setelah Aku menyakitinya... membohonginya?... Aku tidak bisa melakukan itu..." "Dia sudah berjuang... Kamu tidak mau mencoba tuk berjuang juga?..." Tanya Sandy melembut saat melihat pelupuk mata Dian yang terpejam mulai mengeluarkan air. "Aku.... takut..." Lirih Dian bergetar dan perlahan suara isakan tertahan mulai terdengar. Sandy menghela nafas pelan merasa prihatin. "Ssi...app...pa..?.." Dian terkesiap sebentar saat merasakan seseorang menggenggam tangannya dan yang Ia yakini bukan Sandy. "Aku pergi dulu... Kau jaga Dia... " Pamit Sandy menepuk pundak Robby sebelum akhirnya melangkah keluar. Tubuh Dian menegang mengetahui kepada siapa Sandy berucap. Ia berusaha tetap memejamkan matanya agar tidak terbuka dan melihat wajah pria yang sangat Ia rindukan. Ia yakin jika saat ini Ia melihat wajah Robby maka tangisan Dian akan semakin kuat. "Aku akan selalu bersamamu... Istirahatlah...." bisik Robby sebelum akhirnya mencium kening Dian lama. Bibir Dian mulai kembali bergetar menahan tangis. Robby hanya menatap wajah Dian yang masih terpejam kemudian mengecup lembut tangan Dian membuat Dian semakin sulit menahan isakannya. "Mau ku peluk?..." Tanya Robby berbisik dan merasa sakit melihat wajah pucat Dian dengan tangisan tertahannya. Robby langsung memeluk Dian lembut saat melihat Dian mengangguk pelan masih dengan tangisan tertahannya. Tanpa bisa dicegah, sesaat setelah Robby memeluknya Dian langsung menumpahkan tangisannya sembari membalas pelukan Robby. Tanpa Dian sadari air mata Robby pun menetes mendengar tangisan Dian. " Aku mencintaimu... sangat..." Bisik Robby dengan suara bergetarnya sembari mengecup pipi Dian. Dian tersenyum disela tangisannya. Ia merasa sudah tahu apa keputusan yang harus diambilnya. Trauma itu masih ada... namun mungkin Dian akan mencoba mengatasinya dengan bantuan Robby. ~o0O0o~ Dian terbangun ketika matahari sudah mulau terbenam dan langit berwarna orange gelap. Tidak terasa beberapa menit setelah Robby memeluknya, Dian akhirnya tertidur pulas . Setelah kesadarannya pulih dan matanya terbuka jelas, Dian mulai melihat sekelilingnya yang terasa sepi. Ia melihat Ibunya, Marini sedang membaca majalah di sofa seorang diri. Kesedihan mulai menghinggapi Dian saat menyadari tidak ada Robby di ruangan itu. "Kamu sudah bangun Sayang.... Apakah ada yang sakit atau Kamu menginginkan sesuatu?...." Tanya Marini. Dian masih terdiam sembari menatap pintu belum menyadari suara Ibunya. "Dian?!...." Ucap Marini kembali berusaha menyadarkan Dian. "Bunda.... Bunda di sini?..." Ucap Dian berusaha santai dan tersenyum. "Hmm.... Kamu mencari Robby?...Dia-" "Aku tidak mencarinya... Bunda... Aku haus...." Ucap Dian berusaha mengalihkan. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Dian... Tidak semua pria jahat... Dan Bunda yakin Robby sangat mencintaimu... Dia sudah menunjukkannya..." Nasehat Marini sembari membantu Dian duduk dan memberikan Dian minum. "Bukankah Ayah dulu juga seperti itu... tapi pada akhirnya... " Dian berucap dengan wajah datar. "Iya... Pada akhirnya Ayahmu menyakiti Bunda.... Tapi Bunda tidak menyesali itu..." Ucap Marini tersenyum lembut menatap Dian yang kini mengernyit heran. "Karena berkat Dialah Bunda memiliki puteri sepertimu... Setiap kejadian ada hikmahnya..." Lanjut Marini. "Tapi Aku takut..." Jujur Dian. "Jika suatu saat nanti Robby menyakitimu... Walau Bunda harap tidak... Kamu hanya perlu yakin Tuhan tahu yang terbaik untukmu... Kamu hanya perlu selalu berfikir positif maka Kamu akan tahu ada hikmah di balik semua yang terjadi..." Ucap Marini. "Setidaknya Kamu sudah mencoba menghadapi ketakutanmu... Dan Kamu tidak akan menyesal sudah melewatkan sesuatu yang mungkin akan membawamu pada kebahagiaan..." Nasehat Marini sembari mengelus kepala Dian. Cklekk "Kamu sudah bangun..." Tanya Robby yang baru memasuki ruangan sembari membawa sebuah bungkusan. "Bunda yang menyuruhnya pergi mencari makan tadi karena sejak pagi Dia belum makan ketika berangkat dari Jepang karena khawatir padamu..." Jelas Marini ketika melihat wajah heran Dian. "Kenapa? Kau mencariku?...." Tanya Robby menggoda Dian berusaha untuk mencairkan suasana. "Kamu sudah disini.... Bunda pulang dulu ya... kepala Bunda sakit..." Ucap Marini sembari sedikit meringis dan memegang kepalanya. "Bunda perlu Aku antar?..." Tanya Robby sedikit cemas menatap Wanita yang Ia harap akan menjadi Ibu mertuanya. Sedangkan Dian hanya terdiam karena tahu jika itu hanya alasan Bundanya agar Dian bisa berdua dengan Robby. "Tidak perlu.... Bunda sudah dijemput seseorang... Bunda pergi ýa..." Pamit Marinibmengecup kening Dian dan mengusap bahu Robby. "Apa yang Kamu inginkan sekarang?... Kamu ingin minum atau makan?... Aku membawakanmu bubur yang enak... tidak seperti bubur rumah sakit...." Robby bertanya lembut walau sedikit canggung. Dian terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Robby sebelumnya. "Aku mencarimu...." Gumam Dian menunduk membuat Robby sedikit tidak yakin dengan pendengarannya. "Aku tadi mencarimu ... Aku kira Kamu pergi lagi...." Ucap Dian dengan nada tegas menatap Robby walau matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku akan selalu bersamamu... Jika Kamu menginginkan itu... Aku berjanji..." Ucap Robby tersenyum senang dengan pengakuan Dian. "Bukankah Kamu akan kembali ke Jepang?... Jika tidak, bagaimana pekerjaanmu?... " Dian kembali berbicara dengan nada tegasnya tidak mau menunjukkan kelemahannya saat merasa Robby akan pergi. "Pekerjaanku sudah selesai... Aku hanya mewakili CEO rapat... Sebenarnya hanya 2 hari... namun Aku tetap disana untuk sementara karena harus memikirkan sesuatu..." Jawab Robby menatap intens mata Dian seolah menyatakan jika semua berhubungan dengannya. "Apa yang Kamu pikirkan?.... dan apa yang Kamu dapatkan?... " Tanya Dian memastikan. "Apalagi?!.... Yang kupikirkan Kamu... dan yang ku dapatkan.... ini..." Robby mengeluarkan sebuah kotak beludru biru dan kemudian membukanya untuk menunjukkan pada Dian. "Cincin?..." Gumam Dian. "Aku melihat cincin ini... sangat indah... lalu Aku teringat padamu... walau sejujurnya memang Aku selalu teringat padamu.... " Jelas Robby tersenyum menatap cincin yang Ia jumpai ketika berjalan-jalan di Jepang. Berharap bisa menenangkan diri dari segala pikirannya tentang Dian, namun justru Ia selalu teringat Dian. Dian hanya bisa terdiam takjub. Tidak menyangka Robby masih menginginkannya setelah apa yang Ia lakukan. "Tadinya Aku hanya ingin membelinya dan menyimpannya karena tidak yakin bisa memberikannya padamu... mengingat Kamu yang masih menjadi 'kekasih Sandy'...." Ucap Robby menatap tajam Dian ketika mengucap 'kekasih Sandy'. "Aku...." Dian terdiam gugup tidak tahu apa yang harus Ia ucapkan disaat Dian yakin Robby sudah mengetahui semuanya setelah mendengar percakapannya dengan Sandy. " Aku tidak akan bertanya padamu apa alasannya karena sepertinya Aku sudah tahu... Yang akan Aku tanyakan... Apa Kamu masih mencintai Sandy?..." Tanya Robby mulai menginterogasi karena sepertinya saat ini Dian juga ingin memastikan sesuatu padanya. "Tidak...." Ucap Dian pelan namun menatap Robby yakin dan terkesan bahwa pertanyaan Robby itu tidak mungkin. "Kamu mencintai pria lain?... Rian?..." "Tidak...." Lagi, Dian seperti meremehkan pertanyaan Robby dan menghela nafas lelah. Robby terdiam sesaat mencoba menelaah sesuatu. "Kau pernah mencintai Sandy?...." Tanya Robby tidak yakin karena takut jika jawabannya mengecewakan. Namun, Ia merasa harus memastikan sesuatu. Dian terdiam sesaat tidak yakin harus jujur atau berbohong. Namun pada akhirnya Ia memilih jujur. Karena jika ingin menyelesaikan masalah mereka maka mereka harus memulainya dengan saling jujur. "Tidak...." Robby membulatkan mata terkesiap karena terkejut. "Kamu pernah mencintai pria lain..." "Tidak...." Jawab Dian memejamkan mata dan menghela nafas karena tahu pada akhirnya kemana pertanyaan ini akan mengarah. Tubuh Robby menegang karena kembali terkejut karena jawaban Dian. Dan akhirnya Ia mengingat semua perkataan Sandy dan Sandra padanya. "Aku tidak akan pernah membuat traumanya kembali walau Aku bersama wanita lain....." Sandy. "Iya..... Kau benar... Rian tidak akan membuat traumanya kembali..." Sandy. "Trauma Dian bukan trauma ketakutan akan pria... Tetapi ketidakpercayaan dan ketakutan akan perasaan disakiti oleh pria yang Ia cintai..." Sandy. Sekarang Dian sakit karena Ia pergi. Sandy juga berulang kali mengatakan Dian takut bersama Robby karena Ia pernah melihat orang terdekatnya tersakiti karena orang yang Ia cintai. Apakah itu artinya... "Kamu.... mencintaiku?..." Tanya Robby penuh harap sembari mendekat pada Dian dengan duduk di tepi ranjang Dian. Dian menatap Robby sesaat untuk meyakinkannya bahwa Ia memang harus mengatakan perasaannya. "Iya.... Aku mencintaimu...." Ucap Dian yakin menatap intens mata Robby. Tak butuh waktu lama sebelum akhirnya Robby memeluk Dian erat. "Akhirnya... Aku juga mencintaimu... sangat mencintaimu..." Ucap Robby penuh haru. Sementara Dian hanya terdiam di pelukan Robby dengan mata berkaca-kaca penuh haru namun masih ada ketakutan di dirinya. Tapi Dian mencoba mengabaikannya dan akan berusah memulai semuanya dari awal bersama Robby. Perlahan Dian mulai membalas pelukan Robby dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa Ia akan memberikan Robby kesempatan dan mencoba menjalin kembali hubungannya dengan Robby. ~oO0Oo~ 3 Bulan Kemudian "Dian, Kamu masih sibuk?..." Tanya Robby ketika masuk ke ruangan Dian dan menemukan Dian masih menatap layar laptopnya padahal siang ini mereka sudah berjanji untuk pergi siang ini. "Aku akan mengakhirinya..." Ucap Dian menyimpan data kemudian menutup laptopnya. "Ayo.... Ibuku dan Bunda sudah menunggu kita untuk fitting baju pengantin...." Robby mengucapkannya dengan mata yang berbinar bahagia walau Ia mencoba untuk tidak tersenyum terlalu lebar. "Hmm...." Gumam Dian singkat sembari menyambut uluran tangan Robby. Dian tersenyum tipis menatap Robby yang nampak bahagia, berbeda dengannya. Sejujurnya Dian bahagia saat akhirnya menerima Robby yang kembali melamarnya 2 bulan yang lalu namun tetap saja Ia tidak bisa menghilangkan 100% ketakutannya. Ada perasaan ragu untuk menerima Robby saat itu. Namun melihat tatapan penuh harap dari Bundanya, kedua orangtua Robby, dan Robby sendiri, membuat Dian menerima lamaran itu. Walaupun dengan sebuah syarat yaitu... perjanjian pranikah. Sebagian besar menolak permintaan Dian tersebut karena merasa itu berarti Dian tidak mempercayai Robby. Apalagi 90% dari surat perjanjian pranikah itu memihak Dian. Yang utama dari surat perjanjian pranikah tersebut adalah Robby tidak boleh berselingkuh. Jika Robby berselingkuh, walau hanya sebuah affair, maka mereka akan berpisah dengan ketentuan anak akan di bawa Dian (Jika mereka nanti memiliki- nya), sebagian besar harta Robby akan menjadi milik Dian, Dian akan menyebarkan segala bukti perselingkuhan ke media sosial secara besar-besaran, dan yang terakhir Robby akan di ke***i. Namun akhirnya Robby tetap menyetujui semua itu untuk menunjukkan keseriusannya dan juga karena Ia yakin dan berkomitmen jika Ia tidak akan pernah berselingkuh. "Dian.... Apa yang Kamu pikirkan?... " Tanya Robby menyadarkan Dian yang terdiam sejak tadi padahal kini mereka sudah tiba di depan butik. "Tidak ada Rob... Ayo kita masuk..." Dian berusaha menunjukkan senyumnya. Robby tersenyum tipis dan mengangguk walau Ia tahu So Eun masih ragu menikah dengannya. Saat di butik Dian mulai sedikit melupakan ketakutannya karena antusias dari Bundanya dan Juga Ibu Robby, termasuk Robby yang hanya melihat ketiga wanita itu berbincang sambil sesekali memberikan skinship pada Dian seperti mengusap kepala Dian, merangkul pundak Dian, memainkan rambut Diann ataupun mengecup kening Dian. Kim Bum bertekat untuk lebih menunjukkan rasa cintanya agar So Eun semakin yakin padanya. Drrrtt....drrrttt... Ponsel Robby berbunyi dan Ia sedikit menjauh karena tidak ingin mengganggu pembicaraan ketiga wanita itu dengan desainer baju pengantin mereka. "Ada apa?...." ".........." "Kau tidak bisa mengatasinya?...." "..........." "Baiklah.... Aku akan segera kesana...." Panggilan terputus meninggalkan Robby yang memejamkan mata sembari menghela nafas keras. Saat matanya terbuka, terlihat jelas kekhawatiran dan ketakutan di mata Robby. Robby menarik nafas sejenak sebelum memasuki butik kembali untuk pamit kepada Dian karena harus ke kantor. " Dian, Ibu, Bunda, Saya harus kembali ke kantor... ada urusan mendadak...." Ucap Robby to do point berusaha santai agar mereka, terutama Dian tidak mengetahui bahwa ada masalah. Dian mengernyitkan kening heran namun Robby hanya tersenyum dan mengecup pipi Dian untuk mengalihkan Dian dari tatapan menyelidiknya. Akhirnya setelah sedikit perdebatan dengan Ibu dan Calon Ibu mertuanya sedangkan Dian hanya terdiam heran, Kim Bum pun akhirnya dibolehkan pergi. "Aku mencintaimu... Sangat.... Selalu..." Ucap Robby menatap Dian yakin kemudian memeluk Dian erat sebelum akhirnya pergi. Dian terdiam merasakan ada suatu maksud dari ucapan Robby dan menurut Robby itu sesuatu yang tidak baik. ~o0O0o~ Seminggu berlalu, Robby dan Dian masih beraktivitas seperti biasa walau terkadang ikut mempersiapkan pernikahan mereka yang sebulan lagi. Semakin dekat dengan pernikahan namun ketakutan Dian bukannya berkurang namun sepertinya bertambah. Apalagi Robby yang nampaknya tidak seantusias saat awal dulu. Robby nampak banyak pikiran dan gelisah. Dian berfikir jika Robby mulai ragu dengan pernikahan mereka karena sikap Robby berubah. Robby sering menatapnya sendu. "Mungkinkah Robbh mulai ragu dengan pernikahan kami karena tidak adanya kepercayaan dariku..." Pikir Dian sedikit takut jika Robby membatalkan pernikahan mereka. Dian memang belum bis percaya 100% pada Robby. Namun Ia juga takut jika kehilangan Robby. "Apa yang Kamu fikirkan?..." Tanya Robby mengejutkan Dian. Robby memang datang untuk menjemput Dian karena mereka akan melihat tempat akan diadakannya pernikahan mereka. Robby tersenyum tipis melihat Dian yang mengelus dadanya sembari menatap Robby kesal karena sudah dikejutkan oleh Robby. " Kamu sudah siap?... Mau pergi sekarang?..." Tanya Robby sembari mengusap rambut Dian. " Kamu masih yakin untuk melanjutkan persiapan pernikahan kita?..." Tanya Dian lirih tanpa menatap Robby. Belaian tangan Robby di rambut Dian otomatis terhenti karena terkejut dengan pertanyaan Dian. "Apa maksudmu?... Kamu ingin membatalkannya?..." Tanya Robby terkejut sekaligus panik. Dian terdiam tidak tahu harus berucap apa. " Dian, Aku mencintaimu... Kamu pun mencintaiku... Kamu pun sudah menerimanya... kenapa tiba-tiba Kamu berubah pikiran?... Apa Aku melakukan kesalahan?..." Tanya Robby dengan emosi tertahan. " Bukankah Kamu juga sudah mulai ragu dengan rencana pernikahan kita?..." Ucap Dian masih tanpa menatap Robby. "Apa?... Bagaimana Kamu bisa berfikir begitu?... Setelah perjuanganku selama ini... setelah Aku menerima semua syarat pernikahan darimu... Kamu masih tidak bisa mempercayaiku?..." Tanya Robby marah, sedih dan kecewa. " Aku.... Aku lihat Kamu gelisah belakangan ini... Kamu seperti mulai ragu untuk melanjutkan rencana pernikahan.... Jika Kamu ragu... sebaiknya kita batalkan saja..." lirih Dian ragu. Robby membulatkan mata terkejut. "Aku tidak pernah ragu sedikitpun untuk menikah denganmu... Mungkin Aku terlihat gelisah belakangan ini karena memang ada masalah... masalah yang mungkin membuatmu akan membatalkan pernikahan ini... karena itu Aku tidak menceritakannya padamu... tapi Aku sedang berusaha menyelesaikannya... karena Aku sangat mencintaimu... Aku benar-benar ingin memilikimu dan bersamamu selamanya..." Ucap Robby meyakinkan. Ya, ada sebuah masalah yang terjadi. Itu pun karena kesalahan Robby yang dimanfaatkan orang lain. Robby benar-benar takut jika Dian mengetahuinya sebelum Robby berhasil membuktikannya maka rencana pernikahan mereka benar-benar batal. "Apa Kamu merasa tertekan dengan rencana pernikahan kita?... Aku tahu Kamu ragu menikah denganku, namun Kamu tidak ingin mengecewakan orang tuamu karena itu Kamu menerima lamaranku..." Gumam Robby sembari menghela nafas bimbang. Disatu sisi Ia ingin terus memperjuangkan Dian agar mau menikah dengannya. Tapi disisi lain Ia juga tidak ingin Dian merasa tertekan. "Aku selalu berjuang selama ini agar Kamu mencintaiku dan itu berhasil... Aku juga terus berjuang agar Kamu bisa mempercayaiku... Dan saat Kamu menerima lamaranku, Aku benar-benar bahagia walau Kamu memberikan perjanjian pranikah... Tapi Aku tetap menerimanya untuk membuktikan kesungguhanku..." Ucap Robby lagi. "Namun,... jika semua perjuanganku dan usahaku masih tidak bisa membuatmu percaya sepenuhnya padaku... dan rencana pernikahan kita justru membuatmu tertekan.... haruskah kita menundanya hingga kamu benar-benar siap?..." Ucap Robby pasrah. Dian terkesiap dan langsung menatap Robby. "Kamu... ingin menundanya?... Atau... membatalkannya?...." Tanya Robbh menatap Dian tidak yakin takut jika Dian memberikan jawaban yang mengecewakannya. "Aku...." So Eun berucap terbata-bata ragu. "Kamu bisa memikirkannya lagi... jangan pikirkan bagaimana keluargamu dan keluargaku... putuskanlah apa yang membuatmu bahagia..." Lirih Robby mencoba memberikan senyuman tipis menenangkan kepada Dian. "Aku pergi dulu...." Ucap Robby setelah mengecup lama pucuk kepala Dian dan kemudian pergi meninggalkan Dian yang hanya bisa terdiam. Namun setelah Robby benar-benar menghilang, airmata Dian pun langsung mengalir deras dan Dian menangis terisak sembari menepuk dadanya yang terasa sakit. ~o0O0o~ Robby sepertinya benar-benar ingin Dian memikirkan matang-matang tentang keinginannya karena itu Ia tidak ada menghubungi Dian sama sekali hingga 3 hari. Dian pun akhirnya memutuskan untuk menemui Robby dikantornya dan mengatakan keinginannya. "Kenapa kalian kemari?... " Suara Robby yang terdengar marah membuat Dian mengurungkan tangannya untuk mengetuk pintu karena Ia tidak melihat sekretaris Robby, Ardi. Sedangkan Cherly sudah berhenti beberapa bulan yang lalu tanpa Dian tahu alasannya. Tadinya Dian ingin mengurungkan niatnya menemui Robby karena tidak ingin mengganggu Robby yang mungkin sangat serius mendengar suara Robby yang penuh emosi. "Aku tidak akan berhenti menemuimu sebelum Kamu bertanggung jawab atas kehamilan Cherly..." Suara wanita paruh baya yang terdengar keras membuat langkah Dian terhenti sedangkan jantungnya berdegup cepat. "Aku tidak akan pernah bertanggung jawab atas apa yang bukan kesalahanku..." Tegas Robby. "Baiklah... Aku akan menyebarkan berita ini ke media..." Ancam wanita paruh baya yang ternyata Ibu Cherly. "Anda tidak bisa melakukannya... Karena kami akan menuntut anda atas pencemaran nama baik..." Ucap Ardi yang sepertinya juga mulai kesal. "Kalian tidak punya bukti untuk itu..." Sinis Ibu Cherly. "Kami akan melakukan tes DNA..." Tegas Ardi. "Ya... tapi sebelum itu terjadi Aku pastikan jika calon isterimu sudah pergi karena mendengar calon suaminya menghamili mantan sekeretarisnya..." Ancam Ibu Cherly. "AKU TIDAK MELAKUKANNYA... DAN JIKA AKU TAHU KALIAN MENYAKITI DIAN MAKA AKU PASTIKAN KALIAN AKAN MENDERITA..."Teriak Robby marah. "Maka dari itu Kamu bisa menikahi Cherly diam-diam... dan Kamu tetap bisa menikah dengan calon isterimu itu..." Ucap Ibu Cherly lagi, sementara Cherly hanya terdiam sambil menangis. Brakkk Pintu yang terbuka secara kasar berhasil menghentikan perdebatan mereka. "Dian..." Ucap Robby terkejut. Ardi pun terkejut dan merasa khawatir akan kelanjutan hubungan Robby dan Dian, sementara Ibu Cherly justru menyeringai senang. "Jadi Kamu calon isterinya?!... Hei, sebaiknya Kamu tinggalkan laki-laki pengecut dan tidak bertanggung jawab sepertinya..." Ucap Ibu Cherly memprovokasi Dian. Robby panik memdengar ucapan Ibu Cherly namun tidak tahu harus berkata apa. "Jadi ini alasan Kamu gelisah beberapa hari ini?..." Tanya Dian menatap intens Robby. "Iya.... tapi itu semua tidak benar..." lirih Robby merasa sakit dengan tatapan sendu Dian dan bekas airmata di pipi Dian yang menandakan Dian sudah menangis karena mendengar perdebatan mereka tadi. "Nona Dian, itu semua tidak benar... Saya berani menjamin... Saya sedang mengumpulkan buktinya..." Ucap Ardi mencoba meyakinkan Dian karena Robby hanya bisa terdiam seperti pesakitan yang siap dihukum mati. Dian berjalan mendekati Robby tanpa mengucapkan apapun. "Dian... beri Aku kesempatan... Aku akan membuktikannya... Aku berjanji..." Ucap Robby berusaha meyakinkan. Sedangkan Dian menggelengkan kepalanya dengan airmata yang mulai menetes lagi. Melihat Dian menggeleng membuat tubuh Robby lemas apalagi Dian juga memberikan map yang berisi surat perjanjian pranikah mereka. Robby pun hanya bisa terduduk lemas dikursinya. Ibu Cherly justru menyeringai senang. "Aku pasti sering menyakitimu..." lirih Dian sembari mengusap airmata di pipi Robby dengan perasaan bersalah. Robby menggeleng. "Kamu memberikan ini (map perjanjian pranikah) karena ingin membatalkan pernikahan kita?... tidak bisakah Kamu mempercayaiku dan memberikan satu lagi kesempatan... Aku bersumpah Aku tidak pernah melakukan apapun pada Cherly... " Ucap Robby berusaha merubah keputusan Dian. Dian kembali menggeleng dan menangis melihat Robby yang nampak sangat tersakiti. "Ya.... pria pengecut dan tidak bertanggung jawab sepertinya tidak pantas diberi kesempatan..." Sinis Ibu Robby puas namun tidak ada yang menanggapi baik Robby maupun Dian. "Aku kemari bukan untuk memberimu kesempatan... tetapi untuk meminta kesempatan..." Robby menatap Dian tidak mengerti. "Aku pasti sering menyakitimu karena ketidakpercayaanku padamu... padahal Kamu sudah sangat berjuang untukku... hingga Kamu sepertinya mulai lelah karena itu Kamu memintaku untuk memikirkan kembali rencana pernikahan kita... Aku tidak mau berpisah denganmu dan Aku pun tidak mau menunda ataupun membatalkan pernikahan kita... Karena itu, maukah Kamu memberiku kesempatan untuk tetap bersamamu dan menjadi lebih baik lagi nantinya?..." Ucap Dian menjelaskan sekaligus memohon. Robby terkejut dan terdiam tidak percaya sebelum akhirnya berdiri dan memeluk Dian erat. "Aku tidak pernah lelah... Aku akan terus berada disampingmu dan berjuang untukmu selama Kamu masih mengizinkanku...." Ucap Robby terharu dan bahagia. "Aku mencintaimu..." Ucap Robby menatap Dian masih dengan memeluk pinggang Dian sebelum akhirnya memberikan Dian ciuman lembut di bibir Dian. Hanya sebentar sebelum mereka saling berpandangan dan tersenyum bahagia penuh kelegaan. Ardi senang namun juga canggung melihat kedua orang yang sedang menyalurkan perasaan mereka itu hingga akhirnya Ia memutuskan keluar dari ruangan Robby sembari menggeret Ibu Cherly keluar ruangan dan diikuti oleh Cherly. "Jadi kita tidak menunda atau membatalkan rencana pernikahan kita kan?..." Tanya Robbymemastikan dengan mata yang berbinar bahagia. "Hmm.... Aku tidak mau kehilanganmu... Aku mencintaimu..." jawab Dian yakin walau malu-malu saat Ia menyatakan perasaannya yang mencintai Robby. Robby tersenyum lebar mendengar kalimat cinta dari Dian dan mereka pun kembali berciuman seolah menyalurkan seluruh perasaan rindu dan cinta mereka. "Aku bahagia tidak kehilanganmu... Dan Aku akan tetap berjuang agar Kamu bisa percaya sepenuhnya padaku dan selalu mencintaiku... Aku yakin surat perjanjian pernikahan itu tidak dibutuhkan karena selain menikahimu karena rasa cintaku,... Aku juga sudah berkomitmen dengan pernikahan ini bahwa Aku akan melakukan yang terbaik dalam pernikahan ini..." Bathin Robby. "Aku lega tidak kehilanganmu... Aku kira perasaan gelisahku selama ini karena Aku takut Kamu akan menyakitiku dan meninggalkanku... Namun ternyata perasaan gelisah ini karena rasa bersalah tidak bisa mempercayaimu setelah segala perjuangan yang Kamu lakukan... Tapi setelah Aku memutuskan untuk percaya padamu dan membatalkan surat perjanjian pernikahan itu Aku justru merasa lega, tenang dan bahagia... Selain cinta, Aku juga membutuhkan rasa percaya dalam pernikahan ini... Dan Aku pun akan terus menumbuhkan cinta dan juga percaya itu agar pernikahanku nantinya juga akan bertahan selamanya...." Batin So Eun. Perjuangkanlah orang yang menurutmu pantas untuk diperjuangkan... Dan jangan lepaskan orang yang sungguh- sungguh memperjuangkanmu... Selain cinta, kepercayaan juga dibutuhkan dalam sebuah hubungan jadi jagalah keduanya agar hubungan juga terjaga. The End
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN