Trust Me (Spesial Part)

2130 Kata
Robby kini sedang tersenyum simpul menatap wanita dihadapannya yang kini tengah cemberut karena ulah sang kekasih. "Hentikan wajahmu yang seperti itu... Kau semakin menggemaskan..." Ucap Robby santai tanpa peduli Dian semakin cemberut dan gugup. "Bisakah Kau tidak berkata seperti itu... Aku... Tidak suka..." Ucap Robby kesal dan diakhiri dengan suara semakin pelan. "Kenapa?... Apa ada yang salah?..." Tanya Robby. "Karena kalimat itu bisa terdengar negatif di telinga orang lain..." Ucap Dian dan Robby hanya bisa mengernyitkan keningnya heran. "Orang akan berfikir jika Kamu menggodaku... Dan itu tidak boleh... Aku tidak mau kekasihku marah dan cemburu..." Robby yang mulai sadar arah pembicaraan Dian pun mulai memasang kembali wajah datarnya. "Sandy kemana sih ?.... Kenapa belum datang?.... Seorang pria sejati seharusnya tidak membuat kekasihnya menunggu..." Gerutu Dian. Sedangkan Robby hanya bisa memejamkan mata dan menghela nafas mengingat kembali apa yang terjadi sebulan yang lalu setelah Dian pingsan tak sadarkan diri. Flashback Melihat Dian tak sadarkan diri, Robby pun dengan cepat membawanya ke rumah sakit disusul oleh Sandy yang melihat Robby ketika akan keluar parkiran. "Apa yang terjadi pada Dian?... Apa yang Kau lakukan padanya hingga Ia pingsan?..." Marah Sandy sembari mencengkeram kerah kemeja Robby ketika mereka bertemu di depan IGD. Robby hanya bisa terdiam dengan tatapan marah, khawatir dan rasa bersalahnya. Ia marah kepada dirinya sendiri yang bertindak gegebah tanpa mau mendengar penjelasan Dian. Dan Ia juga merasa khawatir sekaligus bersalah karena sudah membuat Dian merasa tersakiti. Walau Dian tidak pernah berkata mencintainya ataupun berkata bahwa Ia tersakiti melihat kebersamaan Robby dan Cherly namun tatapan Dian saat melihat Robby yang mencium Cherly tadi sudah jelas jika Dian merasa tersakiti. Dan kenapa Robby baru menyadari semuanya setelah semua terjadi. "Bagaimana keadaannya?..." Suara Sandy yang bertanya kepada seorang dokter membuat kesadaran Robby kembali dan ikut menghampiri sang dokter. "Hhh....sepertinya Dian terlalu stress dan... Ada kemungkinan traumanya kembali...." jawab Sang dokter dengan perasaan sedih dan prihatin. "Stress.....dan trauma?..." Tanya Robby tidak mengerti sembari menatap sang dokter yang nampaknya mengenal Dian dan juga Sandy yang tidak terkejut akan penyampaian sang dokter. Dokter yang sepertinya datang spesial untuk menangani Dian dengan terburu-buru hingga tidak memakai jas dokternya. "Kau....Robby?..." Tanya dokter itu setelah melirik Sandy sekilas. "Iya... Katakan apa yang terjadi?..." Tanya Robby tegas dan sedikit menuntut karena kekhawatirannya. "Saya Sandra... Sahabat sekaligus psikiater Dian... Kita akan membicarakannya setelah Dian dipindahkan ke ruang rawat..." Jelas Sandra kemudian mengikuti perawat yang membawa bangkar Dian menuju ruang rawat sementara Robby masih terdiam seolah mencerna kata 'psikiater' yang baru saja Ia dengar. "Ikutlah... Kau akan segera mengetahui jawabannya..." Ajak Sandy yang kini merasa prihatin melihat segala ekspresi sedih dan khawatir setelah mendengar kata-kata Sandra yang merupakan calon isterinya. "Dian memiliki trauma terhadap lelaki... Ia sulit mempercayai lelaki... Dulu Ayahnya meninggalkan Ibunya... Suami bibinya melakukan k*******n dan berujung perceraian... Terakhir sahabatnya mengalami gangguan mental setelah diperkosa secara bergilir oleh kekasihnya dan teman-teman kekasihnya... Semuanya terjadi dalam waktu berdekatan sehingga memorinya membuat itu sebagai suatu yang harus dihindari... " Jelas Sandra sembari melihat perawat menyiapkan keperluan Dian di ruang rawat. "Tapi selama ini Aku tidak pernah melihatnya ketakutan terhadap pria atau menghindari pria... Bahkan bukankah Dian pernah menjalin kasih dengannya?..." Robby berucap heran dan diakhiri lirikan sinis pada Sandy. "Hal itu berbeda... Dian merasa tidak perlu khawatir terhadapku jadi kami bisa bersama...." Yakin Sandy. "Trauma Dian bukan trauma ketakutan akan pria... Tetapi ketidakpercayaan dan ketakutan akan perasaan disakiti oleh pria yang Ia cintai..." Jelas Sandra memotong Robby yang siap membalas ucapan Sandy. "Lalu apakah traumanya semakin parah saat akhirnya Sandy yang merupakan mantan kekasihnya justru kini akan menikah dengan sahabatnya?...." Sinis Robby yang kini merasa tidak menyukai Sandra karena berfikir jika Sandra berselingkuh dengan Sandy di belakang Dian sewaktu Sandy masih berhubungan dengan Dian. "Sudah ku bilang... Dian tidak perlu khawatir padaku karena Aku tidak akan pernah membuat traumanya kembali...." Robby hanya mendengus sinis menanggapi ucapan Sandy. "Saat ini bukan itu yang harus dibahas... Karena saya rasa traumamya kini kembali... Padahal sudah bertahun-tahun kami pikir traumanya sudah hilang karena Dian tidak mengeluhkan apapun..." Jelas Sandra. "Iya... Baru beberapa bulan ini Dian sering mengeluh dan itu semua karena Kau Robby...." Sandy berujar marah. Robby hanya bisa terdiam tidak membalas karena mungkin yang Sandy katakan benar. Robby menjaga Dian seharian agar Ia tidak melewatkan apapun mengenai keadaan Dian. Hingga akhirnya Robby bisa bernafas lega ketika Dian mulai sadar. Namun hal yang lebih mengejutkan terjadi. Dian melupakan hubungan yang pernah terjalin dengan Robby selama 1 tahun ini. Dian hanya ingat bahwa Robby adalah salah seorang rekan kerjanya di kantor. Dan kini yang Dian ingat adalah Sandy masih menjadi kekasihnya. Flashback End "Dia tidak akan datang... Aku akan mengantarmu pulang..." Robby berucap datar. "Tidak.... Aku tidak mau..." Tolak Dian tegas. Dia pun langsung melangkahkan kakinya dari lobby perusahaan meninggalkan Robby. Robby hanya menghela nafas mencoba bersabar sebelum mengejar Dian dan menarik Dian menuju mobilnya. "Apa yang Kamu....?" Dian berucap terkejut saat Robby memaksanya masuk mobil walau tetap berusaha lembut dan melindungi kepala Diann agar tidak terhantuk pintu mobil. "Sandy yang memintaku mengantarmu pulang...." ucap Robby setelah duduk di kursi kemudi sebelah Dian. "Kenapa Dia menyuruhmu?... Dan sejak kapan kalian dekat?..." Tanya Dian tidak yakin. "Sejak Kamu sakit dan Dia sibuk sehingga tidak bisa menemanimu... Kalau Kamu tidak percaya, Kamu bisa menghubunginya..." Ucap Robby sedikit kesal. Dian hanya cemberut dan mencoba mengalah dan mempercayai Robby. "Kita makan malam dulu... Kau ingin makan di mana?...." tanya Robby santai. "Aku tidak-...." Ucapan penolakan Dian terhenti ketika Dian menatapnya tajam. Akhirnya Robby dan Dian pun tiba di restaurant barbeque. " Makanlah yang banyak... Daging baik untuk pemulihanmu...." Ucap Robby sembari memanggang daging. Awalnya Dian masih ingin memasang muka kesal pada Robby namun mendengar suara desisan daging ketika di panggang dan juga wangi daging panggangnya membuatnya tiba-tiba merasa sangat lapar. Dian pun akhirnya memakan makanan tersebut dengan lahap membuat Robby tersenyum tipis melihatnya. "Bagaimana keadaanmu sekarang?... Apakah Kamu sudah mulai mengingat sesuatu yang terjadi 2 tahun ini?..." Robby bertanya dengan penuh harap bahwa Dian sudah mulai mengingat tentang hubungan mereka karena tempat ini adalah tempat kencan pertama kali mereka setelah mereka dijodohkan. Dian terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Robby. "Masih sama saja... lagi pula Aku fikir tidak ada hal penting yang harus Aku ingat jadi Aku tidak mencoba untuk mengingatnya... kehidupanku selama ini datar-datar saja... jadi kurasa tidak masalah Aku melupakannya..." Ucap Dian santai kemudian melanjutkan kembali acara makannya. Sementara Robby langsung terdiam dan tidak memiliki selera makan lagi. "Begitukah?!..." Tanya Robby datar berusaha menutupi kesedihannya. Dian hanya tersenyum tipis dan mengangguk. ~o0O0o~ Dua bulan berlalu, dan hubungan Robby dan Dian sama sekali tidak ada perubahan. Bahkan Dian semakin pintar untuk menghindari Robby. Meskipun terkadang Robby bisa lebih pintar dari Dian. Tapi sepertinya Robby sudah mulai lelah ketika melihat Dian lebih memilih pulang bersama Rian ketika bahkan Robby sudah menunggunya selama 1 jam. Robby hanya menatap datar Dian dan Rian ketika bayangan kedua orang itu menghilang. Tidak ada usaha sama sekali untuk Robby memaksa Dian untuk bersamanya. "Haaaahh...." Robby menghela nafas dan tersenyum miris setelah beberapa menit terdiam ditempatnya. "Ini kah karmaku?!..." lirih Robby masih dengan senyuman mirisnya. Tepat saat itu nampak panggilan dari Sandy di ponselnya. "Hmmm.... Ada apa?...." "........................." " Dia tidak bersamaku...." Nadanya begitu lirih dan terdengar menyedihkan. "......................" "Aku menunggunya selama 1 jam.... dan Dia hanya melewatiku dan pergi bersama pria lain...." "....................." "Apa Aku harus selalu memaksanya?....." "........................" "Entahlah.... " "........................." "Jika Aku terus memaksanya mungkin saja Dia akan muak dan akan mengusirku dari hidupnya....kekeke..." Robby terkekeh walau Sandy dapat mendengar jelas nada bimbang dan pasrah dari suara Robby. "......................" "Apa Aku harus menyerah?....." Robby bertanya entah pada Sandy atau pada dirinya sendiri. ~o0O0o~ Keesokan paginya di hari sabtu, pagi-pagi sekali Robby sudah dikejutkan dengan kedatangan Sandy dan Sandra ke rumahnya karena memang Robby tidak bekerja pada hari ini. "Kalian.... Pagi sekali datang kemari... Ada apa?..." Tanya Robby langsung ketika Sandy dan Sandra memasuki rumahnya. "Rob, ajak mereka duduk dulu... Ibu akan menyiapkan minuman dan cemilan... Kalian duduklah...." Ucap Ibu Robby dan mempersilakan Sandy dan Sandra duduk. "Terima Kasih Tante...." ucap Sandra sopan. "Aku ingin memastikan pembicaraan kita kemarin..." Ucap Sandy to do point setelah dipastikan Ibu Robby tidak ada. Robby hanya mengangguk sekilas. "Kau serius akan menyerah?..." Kali ini Sandra yang bertanya penasaran. "Entahlah... " Gumam Robby. "Ku mohon bertahanlah Rob..." Pinta Sandra tulus. "Tapi.... Apakah itu lebih baik?... Bukankah keberadaanku yang terus memaksa mendekatinya disaat Dia punya kekasih akan semakin membuatnya tertekan...." Ucap Robby. "Dia tidak memiliki kekasih..." Ucap Sandy cepat. "Tapi Dian tidak mengingat itu..." Bantah Robby. "Tidak.... Sebenarnya-" Ucapan Sandy terhenti saat Sandra tiba-tiba meremas pelan tangannya pertanda memintanya berhenti bicara. "Kau tidak mencintainya lagi karena lelah mengejarnya?..." Tanya Sandra tegas. "Tentu saja Aku masih mencintainya..." Bantah Robby cepat. "Lalu tidak bisakah Kau terus berusaha..." Pinta Sandra kali ini lebih lembut. "Tapi bagaimana dengan Dian?... Dian memiliki gangguan-..." "Kamu mau mengatakan jika Dian mempunyai gangguan jiwa sehingga Kamu mau berhenti memperjuangkannya?..." Marah Sandy kemudian berdiri dan langsung mencengkeram kerah Robby. "Bukan.... lepas bodoh..." Robby kesal dan mencoba melepas serangan Sandy. "Sandy... hentikan..." Paksa Sandra. Sandy pun melepaskan Robby dañ kembali duduk disebelah Sandra saat Sandra menariknya. Setelah kembali tenang, Robby pun melanjutkan kalimatnya. "Dian punya gangguan psikis... Bukankah karena itu Dian tidak boleh tertekan... Sedikit saja pikirannya tertekan dan stress itu bisa mempengaruhi kesehatannya... Itu yang kalian katakan.... Aku tidak ingin keberadaanku membuatnya tertekan..." Jelas Robby. Sandy dan Sandra pun terdiam. "Aku mencintainya... Sangat... Apapun Aku lakukan asal Dian bahagia... Saat Aku mencium Cherly di depan Dian, Aku hanya ingin Dian tidak merasa bersalah padaku karena meninggalkanku demi pria lain... Walau sebenarnya itu hanya karena kesalahpahaman..." Ucap Robby lagi. "Tapi dampaknya membuat ingatan Dian terganggu seperti sekarang.... Aku tidak ingin apa yang Aku lakukan kembali menyakitinya... Jika Dian ingin Aku menjauh, maka Aku akan berusaha menurutinya... Mungkin itu usaha dari alam bawah sadarnya bahwa Ia harus menjauhiku agar Aku tidak menyakitinya dan membuat traumanya akan pria kembali.... " Ungkap Robby lagi, kali ini dengan suara miris. "Kau yakin Dian akan bahagia jika jauh darimu?...." Sandy seolah memastikan pemikiran Robby. "Entahlah... Tapi selama ini apa Ia juga pernah bahagia bersamaku?!..." Tanya Robby lebih kepada dirinya sendiri. Dian bersamanya hanya karena perjodohan. Jika orang tua Dian tidak ikut andil, mungkin hubungan antara Robby dan Dian tidak pernah terjalin. Yang Dian tidak tahu, bahwa perjodohan terjadi karena Robby yang melamar Dian kepada orang tuanya saat Ia mengetahui jika hubungan Sandy dan Dian berakhir. "Sepertinya Dian nyaman dengan pria lain saat ini.... Dian bisa tersenyum dan tampak santai saat bersama pria itu... Mungkin pria itu lebih baik dan Dia tidak akan membuat trauma Dian kembali..." Ucap Robby sembari mengingat saat Dian meninggalkannya bersama pria lain kemarin. "Kau benar.... Pria itu tidak akan menyakitinya atau pun membuat traumanya kembali... " Sahut Sandy yakin membuat Robby hanya mampu tersenyum miris. "Jadi..... Memang lebih baik Aku menyerah?!..." Gumam Robby menghela nafas kemudian memejamkan mata berusaha menghalau airmatanya yang berusaha keluar. ~o0O0o~ "Dian... bisa kita bicara...." Pinta Robby ketika Ia menemui Dian di ruang kerjanya pada hari senin. Sebenarnya Robby sudah menjemput Dian untuk berangkat kerja bersama, namun ternyata Dian sudah berangkat lebih dulu bersama Rian. "Aku sedang banyak kerjaan... Ini masih jam kantor..." Ucap Dian tanpa melihat Robby dan berusaha fokus pada layar monitor dan melanjutkan pekerjaannya. "Sebentar saja..." Bujuk Robby. Tidak ada lagi nada memaksa pada suara Robby. "Aku tidak bisa Rob.... Mengertilah... " Dian berucap tegas dan menatap Robby kesal. Robby menghela nafas pasrah. " Baiklah.... Aku pergi... Aku tidak akan mengganggumu lagi seperti keinginanmu... Jaga dirimu baik-baik..." Robby menepuk pelan kepala Dian sebelum akhirnya pergi. "Dian, Kamu jahat sekali.... Mungkin Pak Robby hanya ingin berpamitan... ku dengar Dia dipindah tugaskan ke Jepang...." Ucap Lisa rekan kerja Dian. Dian hanya menatapnya sejenak sedikit terkejut namun tidak mengatakan apapun. "Jadi Pak Robby menerimanya?... Aku kira Dia akan menolaknya, mengingat tawaran itu sudah dari beberapa bulan yang lalu...." Meli menimpali. Sedangkan Dian hanya terdiam setelah mendengar percakapan singkat kedua rekan kerjanya. Tanpa Dian sadari setetes air mata keluar dari matanya ketika bayangan Robby sudah benar-benar menghilang dari pandangannya. "Mau sampai Kapan Kau bersikap seperti itu pada Robby?....Sampai Robby lelah dan menyerah?...." Ucapan Sandy tadi malam kembali terngiang. "Dian, cobalah mempercayainya... Dia mencintaimu..." Kali ini Sandra yang bicara. "Jika Kamu yakin dengan menjauhi Robby Kamu akan baik-baik saja, semoga Kamu benar-benar akan baik-baik saja..." Sandy berucap kesal. "Pikirkan lagi agar Kamu tidak menyesal.... Kami pergi... Jaga dirimu baik-baik..." Sandra berucap lembut setelah melihat Dian terus diam seolah ingin menenangkan dirinya sendiri. "Aku berfikir.... Dan Aku akan mencobanya.... tapi semua terlambat...." lirih Dian dengan senyuman miris dan melangkahkan kakinya ke arah tempat yang menurutnya sangat menenangkan. "Ini keinginanku berpura-pura lupa ingatan... bersikap ketus padamu... menjauhimu... agar Kamu pergi dariku... Aku tidak bisa bersamamu karena Aku tidak ingin Kamu kembali menyakitiku...Aku belum bisa mempercayaimu walaupun Kamu bersumpah bahwa Kamu tidak akan menyakitiku...Tapi ketika Kamu pergi kenapa rasanya sangat menyakitkan... Dan Aku terlambat menyadarinya..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN