I Cry

2888 Kata
You say goodbye I fell apart I fell from all we had To I never knew I needed you so bad Seorang wanita mungil nampak menutupi mulutnya yang sedang tertawa lebar karena lelucon sang pria berlesung pipi di depannya. Merasa gemas dengan sang wanita, sang pria pun mengusap lembut rambut lembut wanita itu. "Anggun Angelita.... Ikut pulang denganku..." ucap seorang pria yang baru datang dengan penuh amarah. Namun wanita yang bernama Anggun itu mengabaikannya dan lebih memilih menganggap seolah pria itu tidak ada. "Ikut pulang denganku sekarang..." paksa pria itu menarik lengan atas Anggun. "Hei... Kamu tidak bisa bertindak kasar pada wanita...Siapa Kamu?..." ucap pria yang sedari tadi bersama Anggun berusaha mencegah pemaksaan pria arogan di depannya ini. "Aku Dimas Prasetyo suaminya... Jadi Aku berhak membawa isteriku pulang..." Ucap Dimas menatap pria bernama Ardi itu dengan tatapan yang seolah ingin membunuhnya. "Ayo pulang..." Dimas kembali berucap seraya menarik lengan Anggun. "Baik... Tapi lepaskan Aku dulu...." Anggun menyerah melawan karena tidak ingin membuat kegaduhan di restaurant ini. "Sampai bertemu lagi... Cup..." Dengan santainya Anggun berucap menggoda dan mencium pipi Ardi kemudian berlalu melewati Dimas begitu saja. Sedangkan Dimas hanya bisa mengepalkan tangan menahan emosi kemudian mengikuti Anggun. Terjadi keheningan selama perjalanan menuju rumah pasangan itu. Sang pria berusaha fokus pada jalanan di depannya sedangkan sang wanita lebih memilih memejamkan matanya walau tidak tertidur. Ia hanya merasa tidak ingin melihat wajah sang suami. "Mau sampai kapan Kamu bersikap seperti ini Anggun?... Kamu tidak malu?.... Kamu pria bersuami namun bermesraan dengan pria lain?..." Dimas langsung bertanya tepat ketika sudah memasuki kamar mereka. "Aku tidak peduli... Mereka tidak mengenal atau mempedulikanku jadi untuk apa Aku peduli...." Santai Anggun sembari melepas blezernya. "Tapi Aku peduli.... Aku suamimu...." Geram Dimas. "Jika Kamu malu memiliki isteri sepertiku... Maka ceraikan Aku..." Ucap Anggun menatap tajam Kim Bum. "Tidak akan....TIDAK AKAN PERNAH ANGGUNIA..." Ucap Dimas marah sekaligus sedih. Anggun dapat mendengar jelas nada sedih dan putus asa pada kemarahan Dimas. Apalagi dengan mata Dimas yang menatapnya dengan berkaca-kaca. Namun Anggun seolah tidak peduli dan justru kembali melanjutkan kegiatannya melepaskan sepatu dan juga perhiasan yang melekat di tubuhnya. Jika kalian berfikir mereka menikah karena perjodohan atau paksaan sebelah pihak maka kalian salah. Mereka menikah karena cinta setelah selama 8 tahun menjalin kasih. Lalu kenapa mereka bisa berakhir seperti ini?.... "Aku mencintaimu Anggun... Tidakkah Kamu mengerti...." lirih Dimas yang nampak mulai lelah. Sudah sebulan ini Anggun bersikap aneh dan semaunya. Dan selama itu pula Dimas bersabar dan mencoba memahami Anggun. Namun bukankah sabar ada batasnya. "Lalu.... Apakah Kamu mengerti keinginanku?...." Sinis Anggun. "Aku akan memberikan apapun yang Kamu inginkan.... Tapi tidak berpisah..." Dimas kembali dengan sifat tegas dan tatapan tajamnya. "Baik.... Jika begitu.... Berikan Aku anak...." Ucap Anggun ketus penuh kemarahan. Sedangkan Dimas terdiam menatap Anggun sendu. Jika bisa Dimaa tentu akan memberikannya. Namun apa daya karena Dia... "Aku hanya ingin anak... Maka Aku akan kembali bersikap baik.... Jadi berikan Aku anak.... Aku ingin anak...." Anggun berucap penuh emosi dan mulai mengeluarkan airmata sembari mengguncang kemeja Dimas. Dimas memejamkan mata merasa teriris melihat kesedihan di mata Anggun. "Aku tidak bisa...." lirih Dimas. Anggun pun mulai melepas cengkraman tangannya di kemeja Dimaa kemudian menghapus airmatanya sembari tertawa miris. "Ya... Kamu tidak bisa... Karena Kamu mandul... " Sinis Anggun menatap Dimaa tajam. Ada rasa sakit tersendiri bagi Anggun saat Ia harus mengucapkan kalimat itu. Dimas pun menatap Anggun penuh kesakitan karena tidak bisa memberikan keinginan Anggun yang tidak pernah menuntut apapun padanya. "Aku ingin memiliki anak yang banyak agar tidak merasa kesepian.... " Ucapan Anggun 1 tahun yang lalu sebelum mereka menikah terngiang di telinga Dimas. Anggun yang hanya dua bersaudara merasa kesepian karena itu Ia ingin memiliki anak banyak agar anak-anaknya kelak tidak merasa kesepian sepertinya. Dimas yang merupakan anak tunggal pun tentu memahami hal itu dan Ia pun menyetujuinya. Dia sudah berjanji akan memenuhi keinginan wanita tercintanya itu dan juga membahagiakannya. Hingga harapannya pupus saat 2 seminggu sebelum menikah dokter mengatakan jika salah seorang dari mereka mandul. Saat itu Anggun dan Dimas terdiam hingga akhirnya Anggun menangis dalam pelukan Dimas. Begitu pun Dimas yang hanya bisa terdiam menahan tangis berusaha tegar. Dalam hati mereka sedikit menyesalkan kenapa harus ada pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan jika hasilnya mungkin saja akan membuat mereka membatalkan pernikahan. Namun Anggun tidak mempedulikan hasil pemeriksaan dokter itu dan Anggun memaksa Dimas tetap menikah dengannya. Akhirnya mereka pun menikah dan selama ini mereka tidak mengingat kembali vonis dokter itu. Mereka hanya berusaha menjalani hidup dengan bahagia. Jika mereka ingin memiliki anak maka mereka bisa mengadopsinya, pikir mereka saat itu. Hingga sebulan yang lalu sikap Anggun mulai berubah. "Kamu tahu kan apa keinginanku?... Karena Kamu tidak bisa memberikannya maka aku akan mendapatkannya dari pria lain....Aku sudah bersabar selama setahun ini... Namun kini Aku tidak bisa lagi..." Ucapan Anggun kembali menyadarkan Dimas dan membuat Dimas menatap Anggun lekat. "Aku tidak bisa menerimanya...itu menyakitiku Anggun..." Marah Dimas. "Jika begitu ceraikan Aku... Kemudian Kau bisa bersama wanita lain yang lebih baik dariku dan tidak akan menyakitimu...." "Tidak...." "Pilihanmu hanya dua... Melihatku bersama pria lain atau menceraikan Aku.... Mudah kan?" Ucap Anggun santai dan mulai beranjak untuk kekamar mandi. Greppp.... Brukk Tiba-tiba Dimas menarik lengan Anggun kemudian mendorongnya hingga mereka sama-sama jatuh ke atas ranjang. Dimas kini memerangkap tubuh Anggun di bawahnya. "Aku akan melakukan apapun asal tidak berpisah denganmu..." tegas Dimas menatap Anggun tajam. Sebelum Anggun membalas ucapannya, Dimas sudah terlebih dahulu membungkan mulut Anggun dengan ciumannya yang menggebu. Anggun terdiam sesaat kemudian mulai membalas ciuman Dimas dengan tidak kalah panasnya. Mmmmphhhhh....ahn.... Kini tidak ada lagi suara pertengkaran diruangan itu. Yang ada hanya suara desahan kedua insan yang berusaha untuk melupakan sejenak masalah diantara mereka. "Aku mencintaimu.... Sangat mencintaimu...." Gumam Dimas menatap Anggun sendu setelah melepas ciuman mereka. Anggun yang sudah meras b*******h hanya membalas tatapan Dimas dengan sama sendunya. Dimas kembali melancarkan ciumannya namun kali penuh kelembutan seperti biasa mereka melakukannya. Anggun hanya menerima dan membalas setiap cumbuan Dimas yang selalu bisa membuatnya melayang. "Aaakhhhh...Mas......" "Aahhh.... Hhh... Anggun...." Akhirnya merekapun sampai pada klimaksnya. Dimas mencium bibir Anggun sebelum akhirnya ambruk di atas tubuh Anggun. Dimas tersenyum merasa senang Anggun masih menerima dan membalas semua perlakuannya sama seperti sebelum hubungan mereka merenggang. Ia berharap semoga masalah ini selesai sampai di sini. Anggun yang memanggilnya 'Mas' membuatnya yakin jika Anggun masih mencintainya. "Jika Kamu berfikir dengan ini maka Kamu bisa mengikatku maka Kamu salah.... Karena Aku yakin apa yang kita lakukan saat ini tidak akan menghasilkan janin yang akan bisa mengikatku bersamamu... Karena Kamu mandul... Mandul...." ucapan Anggun memang lirih dan lemah namun itu tetap berhasil menghancurkan perasaan bahagia Dimas berkeping-keping. "Aku ingin egois saat ini....hikz... Apapun yang terjadi Aku tidak akan meninggalkanmu... Aku.... Mencintaimu.... Akan selalu mencintaimu...." balas Dimas lirih masih berada diatas tubuh Anggun dengan kepala di d**a Anggun. Airmata kembali mengalir dari mata Dimas. Tanpa Dimas sadari air mata pun menetes dari mata terpejam Anggun sebelum kembali terdengar kalimat penuh nada putus asa dari mulut Anggun. "Namun cinta tidak akan bisa memberimu keturunan..." Mereka pun kembali menangis dalam diam. ~o0O0o~ Seminggu pun berlalu namun tidak ada perubahan berarti dalam hubungan mereka. Dimas terus menyibukkan dirinya agar perhatiannya teralihkan dari Anggun yang mungkin saat ini sedang bersama pria lain. Mungkin hanya bersabarlah yang bisa Dimas lakukan saat ini dan berusaha untuk tidak melihat Anggun bermesraan dengan pria lain. Selama Anggun hanya bermesraan di depan umum maka Dimas akan berusaha menerimanya. Saat ini Dimas tidak bisa mengawasi Anggun karena harus bekerja. Walau pikirannya sedang kacau namun Dimas tetap harus profesional kerja karena Ia tidak ingin dipecat sebagai manager hotel. Baru saja Dimas berharap agar Anggun hanya bermesraan di depan umum dan tidak melampaui batas. Namun harapan Dimaa hanya tinggal harapan saat yang Ia lihat saat ini justru Anggun sedang memasuki hotel bersama seorang pria. Sepertinya Anggun memang ingin berpisah dari Dimas karena Anggun memasuki hotel dimana Dimas bekerja. Perasaan Dimas saat ini sangat hancur melihat Anggun dengan santai dan penuh mesra memasuki lift menuju kamar hotel yang mereka tuju. Dengan perlahan dan sebagian jiwa melayang entah kemana, Dimas memasuki lift setelah bertanya pada resepsionis letak kamar yang Anggun tempati. Saat Dimas keluar lift di lantai tepat kamar Anggun berada, Ia kembali melihat pemandangan yang menyakitinya. Anggun sedang membelai wajah Ardi kemudian mengalungkan tangannya ke leher Ardi sembari menunggu Ardi membuka pintu melalui sensor kartu. Dimas hanya bisa terdiam di depan lift ketika Anggun mencium leher Ardi sebelum memasuki kamar hotel itu. "Kamu benar-benar menyakitiku Anggun...." Batin Dimas menangis berteriak namun tubuhnya sudah tidak bertenaga untuk melangkah apalagi untuk mendobrak pintu itu. You need to let things go I know you told me so I've been through hell To break the spell Secara perlahan Dimas melangkah kembali memasuki lift beriringan dengan airmata yang terus mengalir. Dimas bahkan tidak mempedulikan rekan kerja atau pegawai hotel menatapnya penuh tanda tanya. Ada yang mendekati Dimas berniat membantu namun tidak dihiraukan oleh Dimas. Dimas hanya terus berjalan dengan jiwanya yang sudah entah kemana. Why did i ever to slip away? Can't stand another day without you Without the feeling i once knew Di tempat lain, tepat setelah Anggun dan Arsi memasuki kamar, Anggun langsung memeluk Ardi kuat yang dibalas oleh Ardi. Hal selanjutnya yang terjadi adalah Anggun menangis terisak bahkan meraung dalam pelukan Ardi sementara Ardi hanya bisa mengusap punggung Anggun untuk menenangkan Anggun. Ardi pun merasakan sakit saat melihat wanita pertama yang membuatnya jatuh cinta menangis karena pria lain. Namun Ia tau diri, Ia hanyalah cameo di cerita Anggun dan Dimas, dan Ia tidak bisa ikut campur atau pun memasuki kehidupan mereka lebih dalam lagi. "Maafkan Aku Mas Dimas....hikz.... Aku sungguh-sungguh minta maaf....hikz..." batin Anggun menangis. ~o0O0o~ I cry silently I cry inside of me I cry hopelessly Couse I know I'll never breathe your love again Ceklek Suara engsel pintu bergerak kemudian terbuka berhasil menarik perhatian seorang wanita paruh baya dari wajah sang putera yang kini tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Tidak lama kemudian muncullah wajah datar sang menantu memasuki kamar inap itu. Plakk Suara tamparan terdengar nyaring dan terasa menyakitkan diberikan kepada menantunya yang masih menunjukkan wajah datarnya. Tak terpengaruh oleh apa yang dilakukan sang mertua, wanita itu hanya melangkah mendekati ranjang sang suami. "Sudah puas Kamu dengan apa yang Kamu lakukan pada Dimas?.... Dasar wanita tidak tau diri...." Marah Ibunya Dimas, Ratih, pada wanita yang tidak lain adalah Anggun. Anggun masih diam tidak menanggapi segala makian dari mertuanya. "Kamu ingin meninggalkannya hanya karena Dia tidak bisa memberimu anak?.... Dimana hatimu?... Padahal Dimas sangat mencintaimu... Dasar isteri tidak tau di-.." "Bukankah ini yang Ibu inginkan?... Aku berpisah dengan Mas Dimas..." perkataan Ratih terpotong oleh nada sendu Anggun. Ratih menatap Anggun tidak mengerti. "Ibu ingin agar Aku berpisah dengan Mas Dimas.... Hanya karena Aku tidak bisa memberikan anak... Karena Aku....mandul...." tanpa bisa ditahan, airmata kini menghiasi wajah datar yang berusaha Anggun tunjukkan agar tidak terlihat lemah. "Bagaimana bisa Kamu?...." Ratih terkejut Anggun mengetahui rahasia yang Dimas sembunyikan. Flashback Hari ini tepat 1 tahun anniversary pernikahan Dimas dan Anggun. Anggun sudah menyiapkan makanan spesial untuk Ia bawa ke kantor Dimas sebagai perayaan sederhana anniversary mereka. Namun keinginannya berantakan saat Ia mendengar percakapan antara Dimas dan Ibu mertuanya. "Kenapa Kamu berbohong mengenai Kamu mandul, padahal Anggun yang mandul?..." Tanya Ratih marah setelah Ia mengetahui kebenarannya karena tanpa sengaja melihat catatan medis kesehatan Dimas dan Anggun yang Ia sembunyikan di rumah orangtuanya. "Itu tidak penting selama Anggun mau menerimaku..." Sahut Dimas kesal. "Tapi Ibu peduli... Ibu mau Kamu menceraikan Anggun...." Ucapan tegas Ratih berhasil mengejutkan Dimas dan juga Anggun yang masih menguping di luar ruangan. "Tidak... Aku tidak akan pernah meninggalkan Anggun apapun yang terjadi...." Kekeuh Dimas membuat Ibunya semakin emosi. "Kamu harus meninggalkan Anggun dan mencari wanita lain yang sempurna.... Kamu puteraku satu-satunya.... Kamu harus mempunyai keturunan untuk meneruskan keluarga Prasetyo... Tinggalkan wanita tidak berguna itu..." "IBUU..." teriak Dimas marah dan sakit hati atas penghinaan Ibunya pada Anggun. "Bagaimana bisa Ibu berubah begitu cepat... Dari menantu yang Ibu puja dan sayangi... Menjadi menantu yang Ibu anggap tidak berguna?.... Sedangkal itukah rasa sayang Ibu pada Anggun?..." "Aku tidak peduli.... Dia bukan.... puteriku..." Ratih berucap yakin walau terdengar sedikit tersendat. "Lalu bagaimana jika benar-benar Aku yang mandul?.... Saat Aku berkata Aku mandul, Anggun tetap menerimaku.... Dan Ibu bersujud mengucapkan terima kasih pada Anggun karena masih mau menikah denganku saat tahu Aku mandul.... Dan sekarang Ibu menghinanya?...." Marah Dimas membuat sang Ibu terdiam sesaat. "Ibu tidak peduli.... Sebaiknya Kau ceraikan Dia atau Ibu akan mengatakan yang sebenarnya pada Anggun bahwa Dialah yang mandul...." tegas Ratih sebelum meninggalkan ruangan Dimas. Saat itu Anggun langsung bersembunyi di pojok dekat tanaman sembari menahan isak tangisnya. Sedangkan di ruangannya Dimas berteriak frustasi. Flashback End "Saat Mas Dimas membohongiku dengan berkata bahwa kami tidak bisa memiliki anak karena Mas Dimas mandul.... Aku sedih namun menerimanya.... Aku tidak mempedulikan itu asal bisa bersama Mas Dimas... Karena itulah janji kami..." Gumam Anggun menjelaskan sedangkan Ratih hanya terdiam. "Saat Aku mendengar semuanya... Perasaanku hancur.... Aku tetap ingin bersama Mas Dimas karena Aku mencintainya.... Namun Ibu juga benar.... Kalian membutuhkan keturunan untuk melanjutkan keluarga Prasetyo...." Ratih sedikit merasa bersalah mendengar nada kesakitan dari suara Anggun. Anggun menatap Dimas yang masih belum sadarkan diri sebelum melangkah mendekati ranjang. "Namun jika Aku langsung meminta Mas Dimas untuk menceraikanku... Aku yakin Mas Dimas tidak akan mau melakukannya.... Karena itu Aku melakukan semua rencana ini.... Berselingkuh...." jelas Anggun berusaha agar airmatanya tidak bisa mengalir. "Aku berusaha sebisaku untuk membuat Mas Dimas merasa tersakiti dan akhirnya menceraikanku.... Namun Ia tetap kekeuh.... Bahkan hingga Aku sengaja memperlihatkan kemesraanku dengan seorang pria bahkan memasuki kamar hotel dengan seorang pria... Ia tetap tidak mau menceraikanku...hikz...." Anggun yang tidak bisa membendung perasaan bersalah dan sedihnya pun akhirnya menangis. "Maafkan Aku Ibu.... Hikz... Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu dan justru membuat Mas Dimas sakit....hikz..." Mendengar semua cerita Anggun membuat Ratih pun akhirnya menangis walau coba Ia tahan. "Kenapa Mas?.... Kenapa Kamu tidak menceraikanku saja?....hikz.... Kenapa Kamu justru menyiksa dirimu dengan segala pekerjaan dan tidak memperhatikan makanmu hingga Kamu terbaring begini.....hikz...." Anggun mulai menangis terisak hingga bersimpuh karena merasa lemah. I cry couse you're not here with me I cry couse I'm a lonely as can be I cry hopelessly Cause i know i'll never breathe your love again If you could see me now You would know just how... How hard i try not to wonder why I wish i could believe in something new Oh please somebody tell me it's not true Seminggu setelah adegan Ia memasuki kamar hotel dengan Ardi, Dimas tidak pulang atau menghubunginya membuat Ia merasa senang karena berfikir jika rencana berhasil. Namun Ia tidak bisa berbohong jika di dalam hatinya Ia merasa hancur. Selama seminggu itu pun Anggun hanya bisa berdiam diri di rumah Amora. Anggun sedikit beruntung karena Amora selalu memaksanya makan dan berusaha menghiburnya dengan selalu mendekatkan Anggun dengan anaknya yang berumur 5 bulan. Karena itu Anggun masih cukup kuat dan tidak terlalu terpuruk saat tidak bersama Dimaa. Berbeda dengan Dimas yang benar-benar menyiksa dirinya hingga akhirnya Ia tumbang setelah terserempet mobil saat Ia tidak fokus menyeberang jalan karena sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya. Anggun langsung bergegas menuju rumah sakit saat Bima yang merupakan dokter Dimas dan juga suami Amora mengabarkan padanya mengenai Dimas. "Anggun...." Tangisan Anggun berhenti saat mendengar suara Dimas yang memanggilnya terdengar lirih. "Mas Dimas...." Gumam Anggun memanggil Dimaa mencoba memastikan jika Dimas benar-benar sadar. "Aku Dimas Prasetyo.... Berjanji akan menerima....Anggun Angelita sebagai isteri.... Saat susah... Maupun senang... Saat sakit maupun sehat... Hingga maut memisahkan...." Dimas berucap terpatah-patah melafalkan janji pernikahannya bersama Anggun. Anggun menangis haru kemudian mendekati Dimas. Sementara Ratih keluar dari kamar inap Dimas. "Aku mencintaimu Anggun... Sangat mencintaimu....Ku mohon jangan tinggalkan Aku...." Lirih Dimas mengangkat tangannya berusaha menjangkau tangan Anggun. Anggun pun menyambut tangan Dimas kemudian memeluk Dimas. Oh girl, i'll never be over you Why did i ever let you slip away? Can't stand another day without you Without the feeling i once knew If i could have you back tomorrow If i could lose the pain and sorrow I would do just anything To make you see still love me "Maafkan Aku Mas .... Maafkan Aku....hikz.... Aku juga mencintaimu...hikz" Ucap Anggun. Melihat tekad Dimas untuk terus bersama membuat Anggun pun menguatkan tekadnya untuk egois kali ini. Ia tidak akan lagi memikirkan keinginan Ratih untuk bercerai dengan Dimas. "Jangan tinggalkan Aku.... Apapun yang terjadi.... Mungkin cinta tidak bisa memberi kita keturunan... Namun cinta bisa memberi kita kebahagiaan... Bukankah tujuan akhir kita adalah untuk bahagia...." Dimas berucap kembali untuk membuat Anggun tidak lagi memikirkan tentang bisa atau tidaknya mereka mempunyai keturunan. "Iya Mas.... Aku mencintaimu.... cup... cup...cup..." Anggun menunjukkan kebahagiaannnya dengan memberi Dimas kecupan-kecupan di seluruh wajahnya. "Maafkan Aku sudah sangat menyakitimu...." Anggun kembali meminta maaf dengan air mata masih menetes walau kali ini sudah tidak ada isakan. "Aku tidak peduli seberapa dalam Kamu menyakitiku.... Aku juga tahu jika Kamu juga tersakiti selama ini.... Jadi kita lupakan semua.... Aku tidak ingin mempedulikan apapun lagi selain Kamu yang akan terus bersamaku selamanya...." Anggun mengangguk dan tersenyum menyetujui keinginan Dimas. Anak merupakan pemberian dari Tuhan hanya untuk melengkapi sebuah keluarga..... Bukan untuk menyempurnakan keluarga... Karena keluarga yang sempurna adalah keluarga yang memiliki rasa saling menyayangi... Dengan ataupun tanpa pertalian darah.... Karena rasa saling menyayangilah yang akan membawa sebuah keluarga pada kebahagiaan. Note : Mulmed "I Cry - Westlif"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN