"Dian... Kita harus bicara...." Suara bass seorang pria berhasil menghentikan langkah sang wanita. Helaan nafas terdengar sebelum wanita bernama Dian Permata itu mendelikkan kepalanya menghadap pria yang kini menatapnya tajam.
"Apalagi?...." Nada malas terdengar dari Dian. Sejujurnya tubuhnya lelah dan Ia ingin cepat-cepat menuju ranjangnya untuk mengistirahatkan tubuhnya di pukul 1 dini hari itu. Namun langkahnya menuju pintu rumahnya harus terhenti karena panggilan pria itu.
"Seharusnya hari ini kita ke butik untuk fitting baju pengantin...." Ucap pria itu tajam.
"Aku sibuk..." Jawab Dian malas.
"Tapi Kau tidak sibuk saat mantan kekasihmu itu mengajakmu makan siang..." Ucap pria itu lagi.
"Sudahlah...Itu tidak penting...."
"Tapi itu penting bagiku Dian.... Aku calon suamimu..."
"Lalu apa masalahnya?.... Aku dan Dia hanya bertemu.... Bisakah Kau hentikan sifat cemburu butamu itu?!...."
"Lalu bisakah Kau menghargaiku?....Jika Aku yang mengajakmu bertemu Kau selalu menolak.....namun jika pria bernama Sandy itu yang mengajakmu bertemu Kau selalu ada waktu...."
"Iya.... Tapi pria bernama Sandy itu hanya mantan kekasihku sedangkan Kau adalah calon suamiku....jadi Kau tidak perlu khawatir.....karena pada akhirnya.....Aku akan menikah denganmu...." Nada malas dan geram terdengar dari suara Dian.
"Jika menjadi mantan kekasih jadi mudah bertemu denganmu dan melihat senyummu, maka Aku lebih memilih status sebagai mantan kekasih daripada calon suami...." Desis Robby syarat emosi dan kekecewaan. Dian menatap calon suaminya itu terkejut namun selanjutnya Ia hanya bisa menghela nafas lelah. Memang ini bukan pertengkaran pertama mereka, apalagi sejak tanggal pernikahan ditentukan. Mereka menjadi semakin sering bertengkar dan semua itu disebabkan oleh masalah yang sama.
"Hhhh.... Mantan kekasih bukan berarti harus bermusuhan....kami berteman.....tidak bisakah kau percaya padaku?...." Nada bicara Dian sudah terdengar lelah namun juga geram.
"Percaya apa?..... Percaya bahwa Kau mencintaiku seperti Aku mencintaimu?.... Tapi Kau bahkan tidak pernah mengatakannya atau pun menunjukkannya.... Apa yang harus Aku percayai?....." Robby nampak benar-benar emosi penuh kekecewaan bahkan nampak matanya sudah memerah. Dian menunduk sembari mengepalkan tangannya, mungkin Ia juga sudah mulai emosi menghadapi kemarahan Robby. Mereka memang dijodohkan namun Robby benar-benar mencintai Dian dan selalu berusaha menunjukkannya walau Dian jarang menanggapinya.
"Sudahlah.... Aku benar-benar lelah..... Sebaiknya kita akhiri-...." Geram Dian namun dengan nada lemah.
"Hahaha (tertawa hambar).... Aku sudah menduga cepat atau lambat Kau pasti mengakhirinya..... Namun ternyata rasanya tetap sakit...." Ucap Robby lirih penuh kesedihan dan keputusasaan dengan mata yang sudah memerah dan berkaca-kaca. Dian menatap Robby tidak percaya.
"Baiklah....jika Kau merasa ini yang terbaik untukmu...." Lanjut Robby berusaha meredakan emosinya.
"Aku akan mengakhiri dan membatalkan segala persiapan pernikahan kita...." Ucapan Robby kali ini berhasil membuat Dian membulatkan matanya menatap Robby. Mereka bertatapan sebentar sebelum Robby mengakhirnya dengan memalingkan wajahnya.
"Aku harap Kau bahagia....." Ucap Robby kemudian langsung meninggalkan Dian yang masih terdiam.
~o0O0o~
Lima hari berlalu sejak pertengkaran itu, dan selama itu pula mereka tidak lagi berhubungan. Kini Dian sedang menunggu Robby di rumahnya dan ditemani Ibunya Robby, Santi. Sekarang sudah pukul 10 malam namun Robby belum juga tiba padahal seharusnya pukul 7 Kim Bum sudah landing di bandara . Dian sudah meminta Santi untuk istirahat dan tidak perlu menemaninya namun Santi menolak dan berkeras menemani Dian.
Cklekk
Akhirnya orang yang ditunggu pun tiba. Robby terdiam sesaat ketika melihat Dian berdiri di sebelah Ibunya.
"Bunds....Kau belum tidur?...." Tanya Robby memeluk Bundanya dan mengabaikan Dian.
"Bunda menemani Dian-...."
"Untuk apa?....Seharusnya Bunda usir saja dia...." Sinis Robbh masih tanpa melihat Dian.
"Robby....Dian-...."
"Bunda Aku lelah....Aku ingin istirahat.....Sebaiknya Bunda juga istirahat....." Ajak Robby merangkul Santi agar mengikutinya.
"Tapi Di-...."
"Sebaiknya Kau pulang.... Bukankah tidak sopan bertamu di malam hari...." Sinis Robby membelakangi Dian.
"Robby,....sebaiknya kita makan dulu....Dian-...."
"Aku sudah makan malam bersama Cherly di apartemennya....karena itu Aku terlambat pulang...." Robby memotong ucapan Santi dan kembali mengajak Santi pergi menuju kamarnya.
"Kau berkata lebih baik menjadi mantan kekasihku asal mudah bertemu denganku.....tapi kini Kau justru tidak mau bahkan untuk hanya sekedar melihatku...." Ucapan Dian yang bernada datar berhasil menghentikan langkah Robby.
"Bunda....Dian pulang dulu....Terima kasih sudah menemani Dian...." Nada suara Dian terdengar lembut. Berbeda sekali dengan nada ketika berbicara dengan Robby. Setelah melihat senyuman Santi, Dian pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah sang mantan. Sedangkan Robby kembali melangkah menuju kamarnya mencoba untuk mengabaikan Dian.
Dian melangkah meninggalkan rumah Robby dengan tangis yang tertahan. Sering kali Ia menahan tangisnya dan bersikap ketus hanya agar orang tidak tahu bahwa dia lemah, termasuk Robby. Dian ke rumah Robby hanya ingin menjelaskan semuanya pada Robby namun sepertinya semua sudah terlambat, Robby sudah membencinya.
Dian sungguh menyesalinya. Hanya karena trauma dan takut, Ia menjaga jarak dari Robby hingga terjadilah pertengkaran dan kesalahpahaman. Sungguh Ia tidak bermaksud mengakhiri hubungannya dengan Robby. Yang ingin Ia akhiri saat itu hanya pembicaraannya karena Dian benar-benar sedang lelah. Terbukti keesokan harinya tubuhnya drop dan sakit hingga 5 hari. Baru hari inilah dia bisa dan diizinkan keluar dari rumah sakit. Dian langsung ke rumah Robby dengan harapan masih ada kesempatan untuknya, namun sepertinya itu hanyalah harapan kosong.
~oO0Oo~
Keesokanharinya Robby dan Dian kembali bertemu di kantor. Robby menatap datar Dian sedangkan Dian hanya menunduk hormat kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Robby dan Dian memang berada di perusahaan yang sama, Robby sebagai General Manager sementara Dian sebagai manager keuangan. Namun Robby dan Dian jarang bertemu yaitu hanya ketika rapat seperti saat ini.
Saat ini sedang diadakan rapat mengenai pengembangan usaha karena itu Robby dan Dian mengikuti rapat itu. Dan mereka pun akan sering bersama untuk meninjau tempat dan memperhitungkan pengeluaran yang dibutuhkan. Dian berusaha bersikap santai dan bersikap profesional pada Robby begitu pun sebaliknya.
Robby terdiam di depan restaurant ketika melihat Dian tengah tertawa bersama beberapa orang yang merupakan orang yang akan bekerja sama dengan mereka. Dian masih tersenyum ketika menyadari kehadiran Robby dan mempersilakan Robby duduk di sebelahnya. Ditengah rapat masih sesekali di selingi candaan yang terkadang tanpa sengaja membuat Dian tanpa sadar memegang lengan Robby yang tepat berada di sebelahnya.
Melihat senyum Dian yang ceria dan santai membuat Robby tanpa sadar pun tersenyum. Setelah kajadian hari itu Dian dan Robby pun tampak santai dan akrab ketika bertemu. Bagi Robby ini lebih baik, walau statusnya hanya sebagai rekan kerja namun Ia bisa sering melihat senyum Dian. Mungkin mereka memang tidak berjodoh selain hanya sebagai rekan kerja, pikir Robby.
Sedangkan bagi Dian ini merupakan awal baginya untuk kembali menjalin hubungan dengan Robby dan melupakan traumanya. Dian yang semula nampak dingin dan jarang tersenyum kini berusaha untuk lebih ceria dan sering tersenyum karena Robby yang sangat menyukai senyumnya.
Sebulan sudah kedekatan mereka dan kini Robby dan Dian sedang berjalan bersama untuk makan siang bersama saat berpapasan dengan Sandy di lobi. Suasana yang semula ceria pun tiba-tiba sunyi.
"Dian... Aku ingin bicara...bisakah?" ucap Sandy santai tanpa menyadari Robby menatapnya penuh emosi. Dian pun terdiam melirik Robby.
"Baiklah...kita-"
"Aku duluan... Kalian bisa makan berdua tanpa ada yang mengganggu..." ucap Robby ketus beranjak menjauh.
"Tunggu... Kita bisa makan bersama..." ucap Sandy menahan lengan Robby.
"Tidak perlu.... Aku tidak ingin mengganggu kencan kalian..." ucap Robby sinis melepaskan pegangan Sandy di lengannya.
"Tapi ...." Sebelum Dian melanjutkan ucapannya, Robby sudah berlalu cepat meninggalkan Dian dan Sandy.
"Tapi Ak ingin kita bicara agar Aku bisa menjelaskan tentang kesalahpahaman yang terjadi antara kita... " ucap Dian dalam hati sembari menatap kepergian Robby.
~oO0Oo~
"Kau sudah mengatakan padanya?..." tanya Sandy memecah keheningan setelah 15 menit melihat Dian terdiam. Dian hanya menggeleng lemah.
"Bukankah Kau sudah kembali dekat dengannya... Seharusnya Kau bisa mengatakan semuanya...." Heran Sandy.
"Rencananya saat makan siang bersamanya tadi Aku akan mengatakan semuanya tapi Kau mengacaukannya... " Kesal Dian dalam hati sembari menatap sinis Sandy. Sandy yang menyadari kesalahannya hanya bisa mengusap tengkuknya merasa tidak enak.
"Berikan undangan ini... Maka Kau tidak akan sulit menjelaskannya..." Ucap Sandy seraya menyerahkan undangan pernikahan yang Ia dan Dian rancang. Dian hanya memejamkan matanya pasrah dan berdoa semoga Ia masih memiliki waktu untuk menjelaskannya pada Robby.
~o0O0o~
Setelah selesai makan siang bersama Sandy, So Eun pun beranjak menuju ruangan Robby untuk menemui Yobby. Saat akan memasuki lift mata Dian bertatapan dengan mata tajam Robby yang sudah berada di dalam lift yang akan tertutup. Dian berlari berharap Robby menahan pintu lift namun Robby tidak melakukannya dan justru menarik Cherly ke dalam pelukannya.
Dian terdiam beberapa saat merasakan sakit di dadanya dan mulai menjalar ke kepalanya. Hampir saja Dian terjatuh jika tidak ada seorang OB yang membantunya. Setelah menenangkan diri dan menarik nafas Dian mencoba menguatkan langkahnya untuk tetap malanjutkan langkahnya menuju ruangan Robby masih dengan membawa undangan pernikahan.
Dada Dian sesak dan hati Dian kembali merasa sakit ketika Ia sudah berada di depan ruangan Robby dan melihat apa yang Robby dan Cherly lakukan. Mereka sedang berciuman mesra sambil berpelukan erat tanpa menutup pintu. Dian ingin melangkah menjauh dan tak ingin melihat kejadian menyakitkan itu namun tenaganya sudah terkuras habis sehingga Ia tidak mampu bergerak kemanapun dan hanya bisa memejamkan matanya hingga tanpa sadar setetes airmata menetes di pipinya.
"Dian... Apa yang Kau lakukan di situ?..." tanya Robby santai setelah menyelesaikan ciumannya dengan Cherly. Robby berjalan mendekati Dian sembari merangkul pinggang Cherly mesra. Sedangkan Cherly hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Ak....Aku....ingin....bicara...pada...mu..." Dian berbicara tergagap sedikit menunduk dengan tatapan tidak fokus. Robby sempat terdiam dan melihat wajah Dian yang nampak menderita sebelum tatapannya terfokus pada undangan yang berada di tangan Dian.
"Kau ingin memberikan undangan pernikahan itu?..." Tanya Robby dengan suara tertahan dan mata yang menatap tajam. Dian menatap sebentar undangan di tangannya sebelum memberikan pada Robby.
"Aku... permisi...." Ucap Dian setelah undangan itu berpindah tangan. Robby menerimanya tanpa menatap Dian dan mengacuhkan Dian yang berpamitan padanya.
~oO0Oo~
"Sudah terlambat Sandy... Walaupun Aku sudah menyerahkan undangan itu... Semua tidak akan berubah... Robby tidak akan kembali padaku... Dia sudah menemukan wanita lain dalam waktu sangat singkat... Mengalahkan rasa cintanya bertahun-tahun padaku... Nyatanya cinta memang tidak ada yang abadi..." Dian berucap miris sembari memegangi kepalanya yang kini dipenuhi berbagai kenangan yang membuat kepalanya serasa ingin pecah hingga akhirnya pandangannya gelap dan Ia pun terjatuh.
~o0O0o~
"Aku harus kuat.... Aku tidak boleh kalah... Jika Ia bahagia bersama pria lain Aku harus merelakannya... Dia sudah melihatku bersama wanita lain... Maka seharusnya Ia tidak perlu merasa bersalah dan bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang..." Setelah melafalkan kalimat itu dalam hatinya, Robby pun mulai mencoba membuka undangan berwarna gold yang nampak elegant itu.
Mata Robby membulat sempurna saat membaca bagian atas undangan itu.
Happy Wedding
Sandy Adipraja
&
Sandra Kumala
Belum sempat menelaah apa yang terjadi, Robby sudah mendengar bunyi disusul teriakan Cherlu ketika melihat Dian terjatuh.
"Diannn...." teriak Robby kemudian langsung berlari mendekati Dian.
"Tidak.... Apa yang sudah kulakukan Dian... Maafkan Aku... Kumohon sadarlah...." ucap Robby saat melihat Dian tak sadarkan diri.
"Aku mencintaimu Dian...hikz..." Robby berlari menggendong Dian sembari terus mengucapkan kata cinta dan juga doanya. Tanpa Ia ketahui di alam bawah sadarnya Dian sudah kembali pada traumanya dan juga ketidakpercayaannya pada cinta dari seorang pria.
The End