I Love You, My Husband (Spesial Part)

3752 Kata
Hari-hari berlalu sejak masalah rumah tangga yang hampir membuat sepasang suami istri bercerai. Namun untungnya hal itu tidak terjadi karena sepasang insan itu akhirnya menyadari kesalahan masing-masing dan bahwa mereka saling mencintai. Walau terkadang masih ada masalah kecil dalam rumah tangga mereka namun kini mereka bisa mengatasinya dengan mencoba selalu memahami cara berfikir pasangannya. Contoh masalah yang sering terjadi antara mereka seperti Iqbal yang terkadang membawa masalah kantor ke rumah atau Nuri yang masih terlalu pendiam. Namun mereka selalu mencoba memahami. Di saat Iqbal yang memasang wajah juteknya karena pekerjaannya di kantor membuatnya kesal Nuri tetap tersenyum dan mencoba membuat makanan favorit suaminya itu karena Iqbal termasuk orang yang suka ngemil. Di saat Nuri hanya diam Iqbal mencoba memulai mengajak berbincang atau bercanda untuk mengakrabkan mereka atau kalau tidak ada bahan pembicaraan Iqbal hanya perlu sedikit melakukan skinship maka Nuri akan membalasnya dan tersenyum. Itu sudah cukup bagi Iqbal untuk menunjukkan bahwa Nuri sudah nyaman bersamanya. "Aku pulang...."ucap Iqbal dan memberi kecupan di pipi Nuri setelah berhasil memeluk Nuri dari belakang. "Mas....kau sudah pulang?"tanya Nuri setelah membalikkan tubuhnya menghadap Iqbal lalu memeluk Iqbal dan mencium pipi Iqbal. Itulah kebiasaan Nuri saat ini yaitu memeluk dan mencium pipi suaminya ketika Iqbal hendak berangkat kerja atau pulang kerja. Iqbal yang memulai hal itu dan perlahan Nuri mulai nyaman dan terbiasa sehingga kini Nuri yang mulai melakukannya tanpa dipinta oleh Iqbal. "Mas mencarimu...biasanya kau menyambut Mas di depan...."ucap Iqbal tetap memeluk erat Nuri. "Aku sedang mengganti seprai dan merapikan ranjang kita.... Mas pulang 10 menit lebih cepat....jadi Aku belum ke depan untuk menyambut Mas..."jawab Nuri kemudian melepas pelukan Iqbal untuk membantu melepaskan jas dan dasi Iqbal. "Kenapa Mas merasa kau tambah cantik ya?..." Goda Iqbal pada Nuri membuat Nuri merona namun tidak bisa berpaling karena Iqbal yang memeluk pinggang Nuri erat. "Sudahlah Mas....Aku akan menyiapkan air hangat untuk Mas mandi..."Ucap Nuri tersenyum mencoba melepaskan pelukan suaminya. Namun Iqbal tidak bergeming dan tetap tersenyum menatap Nuri. "Mas akan mandi setelah menciummu....Bolehkan?"tanya Iqbal dengan senyum menggoda. "Tidak...sebaiknya setelah Mas mandi..."ucap Nuri lembut dan mulai beranjak menuju kamar mandi. Iqbal tidak tinggal diam, dia menarik lengan Nuri kemudian mendorong Nuri ke ranjangnya. Perlahan Iqbal mulai mencium bibir Nuri. Iqbal mengecup bibir Nuri atas dan bawah bergantian dan mulai dibalas oleh Nuri. Perlahan ciuman itu berubah menjadi lumatan dan memanas. Tangan Iqbla mulai meraba tubuh Nuri yang hanya menggunakan dress selutut, menjalar dari paha, pinggul, pinggang dan terakhir di p******a Nuri. Iqbal mulai meremas pelan p******a Nuri mencoba untuk lebih merangsang Nuri karena Iqbal sudah merasa panas. Namun kegiatan itu terhenti saat Nuri tiba-tiba mendorong kuat Iqbal hingga aktivitas mereka berhenti. "Mas sebaiknya Mas mandi dulu..."Ucap Nuri sedikit berteriak membuat Iqbal terkejut. Nuri langsung beranjak ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk Iqbal lalu menyiapkan pakaian ganti Iqbal. "Air hangatnya sudah siap...Mas mandilah..."ucap Nuri pelan tanpa memandang Iqbal. Iqbal berjalan mendekati Nuri untuk meminta maaf karena membuat Nuri kesal namun Nuri langsung menghindar dan keluar dari kamar mereka. Selama makan malam pun terjadi keheningan antara Iqbal dan Nuri. Nuri sebenarnya merasa bersalah karena sudah berteriak tapi Ia juga tidak tahu harus menjelaskan alasannya berteriak bagaimana. Nuri hanya merasa sakit kepala dan benar-benar kesal dengan Iqbal tadi. Padahal biasanya Ia tidak menolak bahkan cenderung senang saat Iqbal bersikap mesra terhadapnya. Iqbal hanya merasa heran kenapa Nuri tiba-tiba kesal padahal biasanya Iqbal tidak pernah seperti itu. Pikiran-pikiran buruk pun mulai menghinggapi kepala Iqbal. Apa Iqbal melakukan kesalahan lagi sehingga Nuri kesal dan kembali merasa tidak nyaman lagi? Tapi Iqbal benar-benar tidak tahu apalagi salahnya kali ini. Iqbal sedikit lega saat Nuri masih mau memeluknya dan mencium pipinya sebelum bekerja walau tidak selama biasanya. Seminggu berlalu namun hubungan Iqbal dan Nuri tidak juga membaik. Nuri sekarang tidak lagi memberi pelukan untuk Iqbal, Ia hanya mengecup sekilas pipi Iqbal bahkan seperti tidak tulus karena tanpa senyuman. Pulang kerjapun seperti itu. Iqbal ingin bicara kepada Nuri namun setiap Iqbal ingin mengajaknya bicara seperti tidak ada waktu. Nuri selalu sudah tidur saat Iqbal selesai mandi. Sehingga Iqbal sering makan malam sendiri. Iqbal sering berfikir apa salahnya sehingga Nuri nampak selalu takut untuk dekat dengannya lagi. Namun Iqbal tetap mencoba bersabar. Kekesalan Iqbal dengan sikap Nuri semakin menjadi saat Nuri menolak ketika Iqbal mengajak untuk ikut ke Yogya bersamanya untuk urusan bisnis selama dua minggu. Padahal Iqbal juga ingin sekalian mengajak Nuri berlibur dan memperbaiki hubungan mereka yang kini mulai renggang kembali. Selama 5 hari kepergian Iqbal, Nuri merasa khawatir dan merasa bersalah. Apalagi Iqbal yang jarang menghubunginya. Padahal biasanya Iqbal selalu menghubungi Nuri diwaktu senggangnya. Apa Iqbal kali ini benar-benar marah dengan sikap Nuri, pikir Nuri. Akhirnya Nuri mencoba untuk mengirim pesan pada Iqbal. To : My Husband Mas Iqbal.... Aku merindukanmu .... Sangat merindukanmu.... Apa Oppa benar-benar marah padaku akan sikapku?... Kenapa Oppa jarang menghubungiku?.. Nuri mencoba memberanikan diri mengucapkan kata rindu. Padahal Nuri belum pernah mengucapkannya sebelumnya karena merasa malu dan takut Iqbal kepikiran. Nuri menunggu dengan cemas balasan pesan dari Iqbal. Setelah 1 jam akhirnya Iqbal membalasnya. From : My Husband Maaf.... Mas sibuk jadi jarang menghubungimu Jawaban Iqbal singkat tanpa balasan kata rindu. Nuri langsung merasa benar-benar sedih dan merasa bersalah. Yah ini memang salah Nuri yang bersikap seolah menjauhi Iqbal walau sebenarnya Iqbal sendiri tidak tahu alasannya. Hari ini akhirnya Iqbal kembali ke Jakarta namun Ia langsung pergi menemui Ibunya karena Nuri sedang ke rumah orang tuanya. Iqbal sedikit kecewa karena Nuri berada di rumah orang tuanya padahal Iqbal sudah mempercepat kepulangannya ke Jakarta karena merindukan Nuri dan ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Nuri. Setelah sehari berada di rumah orang tuanya Iqbal seperti mendapat pencerahan sehingga Ia dengan semangat menuju ke rumah keluarga Nuri. Kebetulan Nuri sedang bersama Ayahnya, maka Iqbal akan mencoba berbicara pada Ayah mertuanya untuk membantu menyelesaikan masalah mereka yang bahkan tidak Ia ketahui apa masalahnya. Iqbal tiba di rumah keluarga Nuri tepat sebelum makan malam. Nuru yang melihat kedatangan Iqbal ingin sekali langsung memeluk Iqbal namun saat berjarak 5 meter dari Iqbal Ia hanya bisa diam di tempat dan tersenyum tipis. Nuru tak berani menatap wajah Iqbal karena Ia tahu Iqbal pasti kecewa kepadanya. Untungnya Ayah Nuri segera datang dan mengajak Iqbal makan malam bersama. Setelah makan malam Iqbal bergegas mandi dan berganti pakaian santai kaus lengan panjang dan celana training. Iqbal mandi dengan cepat karena ingin segera bisa berbicara dengan Nuri dan memeluk Nuri. Tapi niat itu musnah seketika saat mendapati Nuri yang sudah tertidur. Iqbal menatap dan mengusap wajah wanita yang Ia cintai itu dengan tatapan yang sulit diartikan namun diakhiri senyum simpul dan kecupan lembut di kening Nuri. "Iqbal, Kemarilah....."panggil Ayah mertuanya saat melihat Iqbal memasuki ruang keluarga. Iqbal pun menghampiri mertuanya sekaligus orang yang Ia kagumi. Di ruang itu juga ada Ibu mertuanya. "Nuri sudah tidur?..." tanya Ibu mertauanya lembut yang dijawab oleh anggukan dan senyuman Iqbal. "Kau marah terhadap Nuri karena Ia kesini saat kau pulang dari Yogya?... Karena itu kau ke rumah Orang tuamu kemarin dan bukan menjemput ke sini?...." tanya Ibunya Nuri sedikit kecewa. "Saya minta maaf... Saya hanya kecewa tidak bisa langsung bertemu dengannya padahal saya merindukannya dan ingin menyelesaikan masalah antara kami... tapi...." "Kalau begitu seharusnya kau datang kemari...."ucap Ibu Nuri pelan namun dapat terdengar nada kekecewaan dan kemarahan dari kalimat itu. "Sudahlah...... Iqbal, Ibu mertuamu ini hanya merasa khawatir dengan keadaan Nuri karena itu dia sedikit kesal..... Beberapa hari yang lalu saat kami berkunjung ke rumahmu kami melihat Nuri nampak lemas dan sakit.... Dan Saat kami hendak pulang Nuri pingsan... Kami tidak tega meninggalkannya seorang diri karena itu kami membawanya...."ujar Ayah Nuri. "Apa...? Pingsan?... " tanya Iqbal kaget. "Iya.... dia merasa tidak enak badan namun dia tidak mau diperiksa dokter.... Di bilang mungkin dia hanya darah rendah saja.... Namun saat dimasakkan daging dia justru tidak mau memakannya.... Dia juga sepertinya banyak pikiran sehingga tidak nafsu makan...."ujar Ibu Nuri sudah mulai melembut. "Maafkan Saya.... itu salah saya.... kemarin saya sedikit kesal dengan Nuri yang terus menerus menghindari saya tapi saya tidak tahu alasannya.... Karena itu selama di Yogya saya sedikit mengacuhkannya agar dia sedikit merasakan bagaimana perasaan saya saat saya diacuhkan olehnya....." ucap Iqbal jujur. Iqbal selalu merasa nyaman jika mengungkapkan perasaannya kepada Ayah mertuanya karena Ayah Nuri itu sangat bijaksana jadi bisa memberinya masukan. "Seharusnya kau tidak seperti itu... Kalian sudah hampir berpisah hanya karena tidak memahami perasaan masing-masing.... Apa sekarang kalian ingin hal itu terjadi lagi?... Jika sesuatu yang keras dilawan dengan yang keras maka semuanya akan hancur.... Namun jika salah satu keras maka lawanlah dengan sesuatu yang lembut maka semua akan menjadi lembut dan menyatu..."ujar Ayah Nuri bijak. "Iya... Saya Mengerti.... Maafkan Saya ..... nanti saya akan mencoba membicarakannya baik-baik..."Ucap Iqbal. ~oO0Oo~ Setelah kedua mertuanya pergi ke kamar mereka, Iqbal pun menuju kamarnya bersama Nuri. Iqbal tersenyum melihat wajah istrinya yang sedang terlelap. Kalau diperhatikan memang wajah Nuri nampak sedikit tirus. Iqbal sedikit merasa bersalah karena masih belum bisa memahami sifat istrinya. Seharusnya Ia tidak mengacuhkan Nuri karena pasti Nuri juga tidak bermaksud mengacuhkannya. Iqbal naik ke ranjang untuk ikut berbaring di sebelah Nuri kemudian menarik selimut agar menutupi tubuhnya dan tubuh Nuri. Iqbal mencoba menarik Nuri mendekat agar Ia bisa memeluk Nuri. Iqbal sungguh sangat merindukan istrinya itu. "Mas...."Gumam Nuri sedikit membuka mata saat merasa ada yang menarik tubuhnya. "Maaf... Mas mengganggumu?... Mas hanya ingin memelukmu.... Mas sangat merindukanmu...." ucap Iqbal pelan. Nuri hanya tersenyum kemudian memeluk erat tubuh suaminya yang juga Ia rindukan. "Aku juga merindukan Mas.....Sangat merindukan mas...."ucap Nuri pelan dalam pelukan Iqbal membuat Iqbal tersenyum bahagia. Sinar matahari pagi nampak terik sehingga menyilaukan sepasang suami istri yang masih berbaring di ranjangnya. Sang suami nampak bergerak terlebih dahulu menutupi matanya dengan tangannya untuk menghalau sinar matahari mengenai langsung matanya. Setelah mulai terbiasa dengan terik sinar matahari Iqbal perlahan melihat sekelilingnya dan Ia nampak terkejut istrinya masih berbaring di sampingnya bahkan masih memeluk erat tubuhnya. Iqbal senang merasakan pelukan erat istrinya namun Ia juga heran mengapa istrinya belum bangun padahal sekarang matahari sudah terik dan pastinya sekarang sudah cukup siang bagi Nuri yang terbiasa bangun pagi. Iqbal mencoba memegang kening Nuri untuk mengetahui apakah istrinya itu sakit sehingga tidak bisa bangun pagi. "Aku baik-baik saja Mas..." ucap Nuri saat merasa Iqbal menyentuh keningnya. "Benarkah?... Lalu kenapa kamu masih tidur? Biasanya kamu sudah bangun pagi-pagi sekali..." ucap Iqbal lembut kemudian kembali memeluk Nuri. "Aku hanya ingin lebih lama memeluk Mas.... Aku sangat merindukan Mas..."ucap Nuri bergetar hampir menangis karena merasa bersalah sudah menghindari Iqbal belakangan ini. "Iya.... Mas juga merindukanmu...." "Maafkan Nuri....." "Baiklah..... tapi bisa kamu jelaskan salah Mas sehingga kamu menghindari Mas belakangan ini?..." "Aku tidak tahu....sungguh Aku tidak tahu Mas..." "Kalau begitu katakan saja perasaanmu.... apa kamu tidak nyaman dan takut lagi pada Mas?..." "Tidak...." "Lalu?" "Aku tidak tahu....setiap bangun pagi Aku merasa baik-baik saja berada di dekat Mas.... Tetapi jika Mas sudah rapi dengan pakaian kantor Mas Aku merasa pusing dan sakit kepala.... Awalnya masih bisa aku tahan namun semakin lama jika berada di dekat Mas Aku menjadi sangat pusing bahkan hingga ingin muntah...." Ucap Nuri sedikit bergetar takut membuat Iqbal tersinggung. "Benarkah?... Lalu kenapa sekarang baik-baik saja?..." Heran Iqbal. "Mungkin karena Mas hanya memakai pakaian biasa.... bukan pakaian kerja...." Tebak Nuri karena Ia juga tidak tahunjelas alasannya. "Jadi kau hanya tidak bisa mendekati Mas saat Mas memakai pakaian kerja?... Tapi yang Maz pakai kan hanya celana biasa, kemeja, jas dan dasi?..." Iqbal bertanya dengan lembut mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi. Dalam hati Ia berfikir apa ini berhubungan dengan apa yang ibunya katakan. "Aku juga tidak tahu...." "Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal?... Kamu takut Mas marah, hmm?" tanya Iqbal lembut. "Tidak.... awalnya hanya bingung menjelaskannya.... tapi setelah siap menjelaskannya justru tidak ada waktu...." "Karena kamu selalu sudah tidur saat Mas selesai mandi..."ucap Iqbal menggoda. Iqbal tidak marah dengan alasan Nuri menghindarinya, Iqbal justru senang Nuri sudah bisa menjelaskannya dan berarti sekarang Iqbal hanya tidak perlu memakai pakaian kerja saja saat ingin berada di dekat Nuri. Iqbal hanya perlu sedikit melakukan sesuatu untuk membuktikan perkiraannya benar. "Aku tidak tahu....hanya belakangan ini Aku sedang mudah mengantuk..." "Kamu yakin tidak apa-apa?... Sebaiknya diperiksa saja. Kalau tidak sebaiknya kamu makan lebih banyak makan daging... lihatlah istriku sekarang nampak kurus.... pipi chubbynya hampir menghilang...." ujar Iqbal yang kini sudah menatap wajah Nuri dengan sedikit menggoda. "Aku mau Mas.... tapi tidak bisa... menciumnya baunya saja Nuri tidak bisa...."ucap Nuri manja membuat Iqbal terkekeh. Dan sekarang saatnya membuktikan perkiraan Iqbal seperti kata-kata Ibunya. Setelah selesai berfikir Iqbal segera mengambil dompet dan ikat pinggangnya untuk diserahkan kepada Nuri. Nuri langsung mengambilnya namun kemudian membuangnya karena tiba-tiba mual. Setelah menyadari apa yang Ia lakukan Nuri segera menatap wajah Iqbal takut jika kini Iqbal kembali marah. Namun yang terlihat justru senyum lebar Iqbal dan nampak sangat bahagia. Sedetik kemudian Iqbal sudah memeluk Nuri erat. "Terima kasih ....Terima kasih. ... Aku mencintaimu....." ucap Iqbal senang saat memeluk erat Nuri kemudian segera mengambil dompetnya dan berlari kencang keluar kamar tanpa membersihkan diri. Keluarga Nuri yang saat itu tengah menonton televisi sangat terkejut melihat Iqbal yang berlari kencang menuruni tangga kemudian hanya membungkukkan badan dan tersenyum sebentar lalu melanjutkan lagi kegiatan larinya. Setelah 20 menit Iqbal kembali dengan membawa sesuatu dan berlari dengan nafas terengah-engah ke kamarnya dan mendapati Nuri baru akan ke kamar mandi. Iqbal segera memberikan yang Ia bawa kepada Nuri dengan senyum lebar walau nafasnya masih terengah. Iqbal langsung kembali keluar kamar tanpa peduli Nuri kini tengah bingung dengan apa yang Iqbal lakukan. Setelah 30 menit, Nuri akhirnya turun ke ruang keluarga dan menemui Iqbal yang sedang menunggu dengan gelisah. Sedangkan Ayah dan Ibu Nuri hanya menatap Iqbal heran karena Iqbal tidak menjelaskan apapun saat keluarga Nuri bertanya. Jadi mereka hanya ikut menunggu apa yang Iqbal tunggu. Nuri dengan tatapan kosongnya mendekati Iqbal lalu memberikan kantong belanjaan yang tadi Iqbal berikan. Iqbal segera membukanya. Di dalam kantong tersebut terdapat beberapa benda dengan bentuk berbeda namun fungsi yang sama dan juga hasil yang sama. Iqbal tersenyum senang melihat hasil yang terlihat pada benda-benda tersebut kemudian memeluk Nuri yang kini sudah menangis haru. "Aku.... hamil?!...."lirih Nuri sedikit tidak percaya. Ibu Nuri yang mendengarnya terkejut dan mulai membuka kantong yang dipegang Iqbal. Ibu Nuri pun menangis haru setelah melihat isi kantung itu yang ternyata berbagai jenis tespect yang menunjukkan hasil positif. Setelahnya Ia segera memeluk suaminya yang sedari tadi hanya mengerutkan keningnya tidak tahu apa yang terjadi. Setelah mendengar kabar yang membahagiakan itu merekapun merayakannya dengan makan malam bersama ke restoran tanpa menu daging. Ternyata bawaan kehamilan Nuri itu merupakan keturunan. Menurut cerita Iqbal yang baru diberitahukan Ibunya saat mendengar keanehan Nuri, bahwa menantu wanita di keluarga Iqbal sejak turun temurun akan mual dengan benda berbau daging ketika hamil. Bahkan mereka diyakini tidak boleh makan daging jika ingin anaknya terlahir pintar. (Percaya ga percaya ini asli karena keluarga saya sendiri yang mengalaminya lho). Dalam perayaan itu Iqbal menjelaskan kenapa Iqbal bisa berfikir bahwa Nuri hamil. Saat Iqbal mengingat Nuri yang tidak bisa makan daging dan tidak mau berdekatan dengan Iqbal saat Iqbal rapi membuat Iqbal berfikir apa yang terjadi. Akhirnya Iqbal ingat dengan apa yang dikatakan Ibunya bahwa jika saat Nuri hamil, Nuri akan sangat tidak suka dengan sesuatu yang berbau daging maupun benda dari kulit asli. Itu merupakan faktor keturunan karena saat Ibunya hamil Iqbal pun seperti itu. Karena itu Iqbal memberikan ikat pinggang dan dompetnya yang terbuat dari kulit asli kepada Nuri untuk menguji Nuri dan hasilnya Nuri merasa mual dan membuangnya begitu saja. Itulah yang membuat Iqbal yakin Nuri hamil. "Maaf kan Mas yang sudah mengacuhkanmu... lagi-lagi karena ketidakpekaan Mas dengan perasaanmu sehinggga Mas bertindak bodoh....huft " ujar Iqbal penuh penyesalan karena hampir saja Ia kehilangan istrinya dan calon anaknya karena tidak sabar menghadapi Nuri padahal baru sebentar. "Tidak... Nuri juga salah...seharusnya Nuri menjelaskannya lebih awal....tapi yang perlu Mas tahu... Nuri mencintai Mas.... sampai kapanpun.... Nuri harap Mas selalu mengingatnya sehingga tidak membuat Mas berfikir yang tidak-tidak lagi..."ujar Nuri lembut mengusap wajah Iqbal yang sedang menatapnya sendu. "Baiklah... Maafkan Mas.... mungkin karena Mas sudah terbiasa dengan sikap manis dan mesramu sehingga saat kamu menghindari Mas membuat Mas sedih dan kecewa...."ujar Iqbal memegang tangan Nuri yang mengusap wajahnya. "Mas merindukanmu.... sangat... apa boleh Mas menciummu...."tanya Iqbal lembut. "Iya.... tapi hanya ciuman.... karena Nuri takut akan melukainya jika kita melakukan hubungan suami istri.... setidaknya kita bertanya dulu pada dokter...."ujar Nuri pelan dan menunduk takut membuat Iqbal kembali kecewa. "Mas kan hanya bilang menciummu.....Apa Kamu sebenarnya berharap kita melakukannya?...." ujar Iqbal menggoda membuat Nuri menundukkan kepalanya merona dan Iqbal tersenyum gemas. Iqbal pun menarik dagu Nuri agar menghadapnya kemudian mulai mencium bibir Nuri lembut, dalam dan penuh cinta namun perlahan ciuman itu semakin panas dan terjadi berulang kali menyalurkan kerinduan mereka setelah 3 minggu tidak pernah melakukannya. Tapi sesuai kesepakatan, mereka hanya berciuman atau b******u dengan menjaga posisi agar tidak melukai janin yang dikandung Nuri. ~oO0Oo~ Bulan ke-1 kehamilan Nuri. Iqbal tidak lagi memakai semua yang terbuat dari kulit asli karena Ia tidak ingin Nuri menghindarinya lagi. Iqbal mengungsikan sepatu, tas, dompet, dan ikat pinggang mahalnya ke rumah orang tuanya dan kini Ia hanya memakai semua barang-barang lain yang tidak terbuat dari kulit asli. Kehidupan mulai berjalan seperti semula, Nuri memberikan pelukan dan ciuman pada Iqbal saat pergi ke kantor dan pulang dari kantor. Bahkan sekarang ciuman pun diberikan ke bibir Iqbal walau dengan malu-malu. Bulan ke-2 Iqbal menjadi manja layaknya anak kecil. Ia selalu meminta disuapi saat makan, dibacakan dongeng atau dinyanyikan lagu saat ingin tidur, bahkan Nuri pun harus ikut ke kantor jika Iqbal merasa tidak ingin jauh dari Nuri. Bulan ke-3 Nuri mulai ngidam namun ngidamnya juga sangat berbeda dari yang lain. Nuri selalu mengajak Iqbal untuk menonton film di bioskop yang menayangkan film horor padahal selama ini Nuri tidak suka film horor. Tapi itulah namanya bawaan bayi, suka aneh. Namun Iqbal tentu saja menurutinya disela kesibukannya karena tidak ingin Nuri menangis seharian karena permintaannya ditolak, walau dengan wajah super cemberut. Bulan ke-4 Iqbal mengajak Nuri untuk melihat konser Raisa dengan alasan agar anak yang dikandung Nuri secantik Raisa karena memang sebenarnya mereka belum mengetahui jenis kelamin anak yang berada di rahim Nuri itu. Nuri menolaknya karena cemburu melihat suaminya memuji wanita lain. Iqbal sebenarnya hanya menggoda Nuri agar Nuri cemburu. Iqbal merasa benar-benar dicintai saat Nuri cemburu padanya. Iqbal merasa saat hamil Nuri benar-benar manjadi wanita yang beda, banyak maunya dan manja. Berbeda sekali dengan sebelum Nuri hamil. Mungkin anak yang dikandung Nuri ingin menunjukkan bahwa Ibunya ingin juga diperhatikan walau tidak pernah meminta. Bulan ke-5, ke-6, ke-7 Nuri menjadi sangat manja ingin selalu dibelai, dipeluk, dan dicium Iqbal sehingga Nuri selalu ikut ke kantor. Iqbal sempat melarangnya karena Nuri menjadi posesif sehingga sering mengganggu saat Iqbal rapat bersama perempuan. Iqbal pun pergi diam-diam ke kantornya karena tidak ingin Nuti ikut karena akan ada rapat penting. Iqbal berfikir setelah pulang nanti Ia akan mengajak Nuri jalan-jalan untuk membujuk Nuri agar Nuri tidak marah. Namun ternyata Nuri bersikap dingin padanya berhari-hari membuat Iqbal sedih dan harus memohon. Sebenarnya Nuri tidak tega melihat wajah sedih suaminya itu, namun sepertinya anak yang dikandungnya itu memiliki gengsi yang besar sehingga baru bisa bersikap baik kepada Iqbal setelah 7 hari. Bulan ke-8 Sifat Nuri kembali normal menjadi wanita yang lembut, baik, pengertian. Namun setiap malam Iqbal harus mengusap perut Nuri sebelum tidur untuk menenangkan anak mereka yang sepertinya sangat lincah sehingga sering membuat perut Nuri tegang. Perut Nuri yang membesar membuat Nuri sulit beraktivitas dan mengerjakan semuanya akhirnya Iqbal meminta tolong Rina untuk menemani Nuri karena Nuri yang sulit akrab dengan orang baru. Namun yang terjadi Nuri menjadi pemurung dan merasa rendah diri. Ia merasa sangat jelek dengan perutnya yang gendut dan wajahnya yang bertambah chubby, sangat berbanding terbalik dengan Rina yang nampak langsing dan cantik. Akibatnya Nuri menjadi kurang semangat dan jarang tersenyum membuat Iqbal heran dan khawatir. "Aku mencintaimu....kau masih sangat cantik dimataku..."ujar Iqbal sambil memeluk tubuh Nuri dari belakang yang membuat Nuri terkejut, sangat-sangat terkejut. Karena saat ini Nuri hanya mengenakan b*a dan CD. Nuri baru selesai mandi sore dan memandangi tubuhnya di cermin sembari mengeluhakn penampilannya yang tidak menarik lagi menurutnya. Iqbal yang melihatnya melalui celah pintu hanya bisa meneguk ludahnya melihat penampilan istrinya. Iqbal tersenyum simpul dan mendekat perlahan ke arah Nuti saat mendengar ucapan Nuri yang kembali membandingkan dirinya dengan Rina. "Mas....."lirih Nuri yang mulai menangis. Iqbal segera membalikkan tubuh Nuri menghadapnya dan mengusap airmata Nuri. Untuk membuktikan kata-katanya Iqbal mulai mencium lembut bibir Nuri dan seluruh tubuh Nuri dengan perasaan dan tatapan memuja penuh cinta membuat Nuri bahagia. Mereka pun melakukan hubungan suami istri dengan lembut, perlahan dan penuh cinta agar tidak menyakiti anak mereka. Setelah kejadian itu Iqbal membicarakan masalah itu dengan Ayah mertuanya. Akhirnya Ayah Nuri itu meminta Ibu So Eun yang menggantikan posisi Rina untuk membantu Nuri. Nuri tentunya sangat senang karena bisa bersama Ibunya lagi. Bulan ke-9 Iqbal menjadi suami siaga, sehingga tidak pernah meninggalkan atau men-silent ponselnya agar tidak ketinggalan berita sedikit pun. Apalagi sekarang Nuri sering menelpon Iqbal untuk menenangkan anaknya yang selalu membuat Nuri tegang. Sepertinya anak mereka sangat menuruti perintah ayahnya itu. Akhirnya yang ditunggu satang juga, keluarga Iqbal dan Nuri sedang menunggu di ruang tunggu proses persalinan Nuri. Nuri melahirkan secara normal dan kini sedang ditemani Iqbal di ruang persalinan. Semua menunggu apakah jenis kelamin anaknya Iqbal dan Nuri yang akan lahir karena selama ini mereka sengaja tidak jngin mengetahuinya agar menjadi kejutan. "Oek...oeeekk..oeeekk" Akhirnya suara tangisan bayi mengema menandakan lahirnya anak mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Semua menyambut gembira kelahiran anak Iqbal dan Nuri yang diberi nama Yanuar Arkana. "Terima kasih sayang..... Aku mencintaimu.... Nuri Mariana.... isteriku...."ucap Iqbal lembut kemudian mencium kening Nuri dalam. "Aku juga mencintaimu Mas....Iqbal Hamdani .... Suamiku..." ucap Nuri tersenyum menatap Iqbal dengan tatapan haru penuh cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN