I Love You, My Husband (21+)

4197 Kata
Pagi ini udara sangat sejuk karena sekarang sudah musim semi. Tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya bagi seorang wanita bernama Nuri Mariana. Tahun ini terasa berbeda karena tahun ini merupakan tahun pertama Ia menikmati musim bersama seorang suami. Nuri menikah dengan seorang pria kaya dan tampan 7 bulan yang lalu. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Iqbal Hamdani, suami Nuri merupakan namja berusian 32 tahun, terpaut 11 tahun dengan Nuri. Namun, Nuri akui jika Iqbal merupakan pria yang awet muda karena tidak akan ada yang menyangka jika Iqbal sudah berkepala 3. Bahkan teman-temannya dulu juga tidak menyangka jika usia Nuri dengan suaminya terpaut 11 tahun. Iqbal pria yang ramah dan pandai bergaul mungkin karena pekerjaannya sebagai bisnisman yang mengharuskannya selalu bersikap baik pada orang baru. Itu salah satu sifat g**g bertolak belakang dengan Nuri. Nuri merupakan wanita yang polos dan ceria. Namun Nuri bisa menjadi wanita yang pendiam jika berhadapan dengan orang baru termasuk suaminya. Suaminya yang sepertinya lembut dan supel membuat Nuri sedikit lega berharap Ia bisa bersikap santai terhadap suaminya itu. Tapi hingga 7 bulan usia pernikahan mereka Nuri nampak masih canggung dan seperti takut terhadap Iqbal membuat hubungan mereka tidak akrab seperti layaknya suami istri. Nuri akui Iqbal selalu bersabar menghadapinya selama ini. Iqbal selalu sabar dan perlahan mendekati Nuri hanya untuk sekedar melakukan skinship. Nuri juga sebenarnya sudah mulai nyaman dengan perlakuan Iqbal yang manis. Walau awal Nuri menikah tanpa ada rasa cinta, namun Nuri sudah berniat akan berusaha menjadi istri yang baik yang selalu memenuhi keinginan suaminya. Namun disaat Nuri sudah mulai nyaman, Iqbal berubah sikapnya menjadi suka mencari-cari alasan untuk memarahi Nuri membuat Nuri takut. Karena sikap Iqbal yang suka tanpa alasan jelas marah terhadap Nuri membuat Nuri takut dan selalu berfikir ulang untuk bersikap terhadap Iqbal. Nuri merasa banyak sekali perbedaan pola pikir antara Ia dan Iqbal namun Nuri selalu berusaha menerima segala keputusan Iqbal. Nuri berusaha menuruti semua kemauan suaminya, menyiapkan kebutuhan suaminya. Bahkan mungkin Iqbal kini akan kesulitan jika tidak ada Nuri yang selalu menyiapkan kebutuhannya. Namun yang sering kali membuat Iqbal kecewa adalah kemesraan dari Nuri. Iqbal selalu bersikap manis pada Nuri, menatap lembut, menggenggam tangannya, memeluk dan mencium mesra namun Nuri selalu sungkan membalas dan tidak pernah memulainya lebih dulu membuat Iqbal berfikir Nuri tidak pernah mencintainya. Dan kini sudah dua hari Iqbal marah terhadap Nuri bahkan tidak mau memakan makanan yang Nuri siapkan. Nuri sedih dengan kehidupan rumah tangganya namun Ia tidak tahu harus bagaimana. Iqbal dan Nuri sangat sulit berkomunikasi membahas masalah mereka karena Iqbal yang tegas sedangkan Nuri yang sensitif sehingga mudah sekali menangis. Iqbal yang tidak suka jika Nuri selalu menangis saat membahas suatu masalah jadi sering menyimpan rasa kesal dan marahnya sendiri. Hingga akhirnya seperti ini, Iqbal mengacuhkan Nuri dan segala yang Nuri lakukan. Nuri menangis sendiri dikala Iqbal tengah bekerja. Nuri mengingat kembali pertengkaran dengan suaminya. Flashback "Nur, kenapa setelah berbulan-bulan kita menikah kamu masih bersikap kaku dan canggung pada Mas?" "......." "Jawab Nur, kalau tidak masalah kita akan terus terulang.... Mas akan selalu kecewa denganmu yang tidak pernah mau bersikap mesra terhadap Mas..." "Nuri hanya belum....terlalu nyaman....hikz..." ucap Nuri menahan tangis. "Apa lagi yang harus Mas lakukan agar kamu bisa nyaman?..... Mas selalu bersikap manis dan lembut padamu....Apa itu kurang?" tanya Iqbal kesal. "Nuri juga sudah berusaha untuk bersikap mesra dan membalas perlakuan Mas hikz.....Walau Nuri belum berani mencium Mas terlebih dahulu tapi Nuri sudah berani memegang tangan Mas, menggandeng Mas, memeluk Mas... Nuri harap Mas bersabar.... Nuri sudah berusaha Mas...hikz..." "ini sudah 6 bulan Nur.... sampai kapan Mas harus bersabar?.... Mas ingin segera punya anak namun untuk melakukan 'itu' saja kita jarang karena kamu yang selalu malu....dan takut.... Apa kamu takut terhadap Mas karena itu kamu sulit nyaman bersama Mas?..." "........" "Jawab Nur....." teriak Iqbal kesal karena Nuri tidak menjawab dan hanya menangis. "Iya.... Nuri takut.... amas suka tiba-tiba menyeramkan tanpa Nuru tahu apa salah Nuri.... Mas juga terkadang berkata kasar....Selama Nuru bersama keluarga Nuri mereka tidak pernah kasar sehingga sikap Mas yang kasar membuat Nuri takut dan tidak nyaman....hikz" "Tapi itu hanya kemarahan sesaat dan Nuri seharusnya tidak terlalu mengingatnya.... Setelah Mas mengucapkan kekesalan Mas maka Mas bisa seperti biasa kembali.... Mas juga seperti itu kepada bawahan Mas jadi seharusnya Nuri tidak usah takut...." "........" "katakan apa lagi sebenarnya yang membuatmu sulit merasa nyaman bersama Mas?...." "Mas.... Mas selalu merasa hebat dan benar....tidak pernah salah....hikz....itu yang membuat Nuri selalu takut bersikap karena Nuri takut salah..." "Mas tidak menyangka Nuri selalu berfikir negatif tentang Mas....." ucap Iqbal lalu pergi ke ruang kerjanya meninggalkan Nuri yang menangis di kamar mereka. Flashback end "Mas bilang Nuri salah berfikir tentang Mas tapi Mas membuktikan omongan Nuri benar.... Mas bilang ingin kita saling bicara dan saling memperbaiki tapi Mas bahkan tidak menerima pendapat Nuri.... Nuri juga istri Mas... bukan bawahan Mas yang bisa kapan saja Mas marahi....Seharusnya perlakuan terhadap istri dan bawahan berbeda Mas....." gumam Nuri sambil menangis. ~oO0Oo~ Nuri yang bosan berada di apartemennya memutuskan untuk berjalan-jalan dan berbelanja keperluan bulanan. Tanpa sengaja Nuri bertemu dengan salah seorang kakak tingkatnya di SMA yang kebetulan juga merupakan mantan kekasihnya. Kini Nuri dan Doddy mantan kekasihnya dulu nampak asyik berbincang di sebuah cafe. Setelah pertemuan mereka tadi Nuri dan Doddy memutuskan untuk berbelanja bersama karena Doddy yang merasa kesulitan berbelanja sendiri. Setelah berbelanja mereka sepakat untuk makan siang bersama di sebuah cafe terdekat. Nuri nampak santai dan tertawa bersama Doddy sehingga tidak menyadari tatapan marah dari seorang pria yaitu Iqbal. Setelah pulang ke rumahnya Nuri bersiap untuk memasak berbagai makanan favorite suaminya walau Ia tidak tahu suaminya mau memakannya atau tidak. Namun setidaknya Nuri sudah berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan suaminya. Cklek.....suara pintu apartemen terbuka. Nuri berlari bersiap menyambut suaminya dengan senyum manis agar suaminya luluh. Nuri melihat suaminya sedang membuka sepatunya kemudian Nuri berinisiatif memeluk suaminya dan mengecup sekilas bibir Iqbal. Iqbam hanya diam tak percaya. Nuri hanya bisa menunduk malu saat Iqa terus menatapnya membuat suasana menjadi hening hingga terdengar suara wanita menginterupsi. "Nur...." ucap wanita memanggil Nuri. "Mbak Rina...." gumam Nuri kemudian bergantian menatap Rina dan Iqbal yang sedang tersenyum menatap Rina. "Kami tidak sengaja bertemu kemudian Mas mengajaknya kesini..." ucap Iqbal tersenyum. Senyum yang selama sebulan ini jarang Iqbal tunjukkan. Nuri hanya bisa tersenyum simpul kemudian mempersilakan Rina yang merupakan kakaknya itu masuk. Iqbal, Nuri dan Rina nampak makan bersama dengan canda tawa. Rina merupakan orang yang supel sehingga mudah akrab dengan siapapun. Rina dan Iqbal nampak masih bercanda bersama hingga malam. Nuri yang merasa tidak ingin mengganggu memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan menangis dalam diam. Nuri berfikir apa memang rumah tangganya akan berakhir. Nuri merasa Iqbal memang lebih nyaman dan cocok dengan Rina. Nuri tersenyum miris mengingat pembicaraan orang-orang dulu sebelum Ia menikah dengan Iqbal. Awal pernikahan terjadi karena Iqbal yang mulanya kagum terhadap kebijaksanaan Wiryawan, atasannya, berharap dapat menjadi bagian dari keluarga Wiryawan dengan menikahi salah satu dari ketiga putrinya. Namun karena Rina yang merupakan putri tertua belum ingin menikah maka akhirnya Nuri yang dinikahkan dengan Iqbal. Itulah awal mula yang menyebabkan adanya berita jika sebenarnya Iqbal menyukai Rina dan berharap Rina lah yang akan menikah dengan Iqbal. Karena itu sekarang Nuri benar-benar khawatir dengan pernikahannya. Rina sepertinya menyukai Iqbal karena beberapa bulan yang lalu Rina pernah berkata menyesal pernah menolak Iqbal melihat Iqbal merupakan pria yang sangat baik dan lembut. Nuri melihat jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 11 malam namun Iqbal belum juga memasuki kamarnya. 10 menit kemudian akhirnya Iqbal masuk ke kamarnya dengan wajah yang kembali datar seperti sebulan ini. Tidak ada lagi senyum dan tawa seperti ketika bersama Rina. Iqbal langsung berbaring memunggungi Nuri di ranjangnya tanpa sepatah kata pun terhadap Nuri. Selama seminggu Rina menginap di apartemen Iqbal dan Nuri. Selama itu juga segala keperluan Iqbal disiapkan oleh Rina dari pakaian, sarapan, hingga memakaikan dasi. Nuri hanya bisa menangis setiap harinya. Akhirnya Nuri memberanikan diri untuk meminta Rina pulang ke rumah orang tuanya karena merasa rumah tangganya semakin berantakan. "Aku pulang....." ucap Iqbal ketika baru sampai di apartemennya. "Maa.....semua lancar?..." ucap Nuri ragu dan mencoba memberanikan diri memeluk suaminya. "Mana Rina?..." tanya Iqbal heran saat tidak mendapati Rina yang biasanya menyambutnya kini tidak ada. "Aku memintanya pulang ke rumah..." ucap Nuri pelan takut Iqbal marah. "Apa?... Apa hakmu mengusirnya?..." tanya Iqbal kaget lalu melepaskan kasar pelukan Nuri. "Aku hanya tidak ingin suasana rumah tangga kita semakin berantakan karena kita tidak ada waktu untuk berbicara berdua..." "Rumah tangga kita memang sudah berantakan walau tidak ada dia....Dan itu penyebabnya adalah kamu sendiri..." Teriak Iqbal marah membuat Nuri mulai menangis. "Mas bisakah kita berbicara baik-baik....Aku tidak ingin rumah tangga kita berakhir karena Aku...." "Tidak ingin berakhir?... Tapi bukankah kamu justru menunggu perceraian kita agar kamu bisa bersama kekasihmu dulu?..." ucap Iqbal menatap tajam Nuri membuat Nuri menunduk takut. "Sepertinya kau hanya bisa nyaman bersama Dia bahkan kau bisa tertawa bersamanya.... sedangkan selama ini kau.... Sudahlah kau sebaiknya pulang ke rumahmu untuk sementara...Tunggulah surat perceraian dariku...." ucap Iqbal bergetar lalu bergegas pergi keluar apartemennya meninggalkan Nuri yang kini sudah terduduk di lantai dan menangis terisak. Keesokan paginya Iqbal pulang ke apartemennya dengan keadaan kacau, pakaian yang berantakan juga mata yang nampak sembab. Iqbal terus menyusuri apartemennya berharap masih ada seseorang yang selalu menunggunya dengan senyuman walau Ia bersikap jutek. Ternyata semua ruangan di apartemen Iqbal nampak rapi tak berpenghuni membuat Iqbal seketika berteriak histeris menyesali rumah tangganya yang berantakan. Selama seminggu Iqbal hidup sendiri di apartemennya. Walau Iqbal tetap melakukan rutinitasnya dan bekerja seperti biasa namun Iqbal nampak kehilangan separuh jiwanya. Kini Ia nampak memegang surat yang merupakan surat cerai. Iqbal ragu haruskah Ia benar-benar mengirimkannya kepada Nuri sementara Ia belum menjelaskan semuanya kepada Wiryawan, ayah mertuanya. Tapi Iqbal juga heran kenapa ayah mertuanya itu tidak menghubunginya padahal Nuri sudah pulang selama seminggu. Apa Wiryawan menyetujui perceraiannya. Selagi Iqbal berfikir, Iqbal memutuskan memeriksa lemari Nuri mengobati kerinduannya dan kemudian duduk di ayunan santai tempat biasa Nuri bersantai. Selama melihat pakaian dan barang-barang Nuri yang berada di kamarnya, Iqbal baru menyadari ternyata tidak ada barang baru atau barang mahal yang Nuri miliki. Semua milik Nuri hanya barang sederhana dan Nuri pun tidak pernah meminta Iqbal untuk membelikannya sesuatu. Sebagai istri dan Ibu rumah tangga Nuri hanya menerima uang bulanan dari Iqbal tanpa meminta tambahan. Sebenarnya sebagai istri , Nuri sangat baik dengan sifat sederhana, apa adanya, tidak pernah meminta apa pun, mengurus semuanya dengan rapi, pintar memasak, pokoknya seperti paket lengkap. Namun satu yang kurang bagi Iqbal dan itu sangat penting yaitu rasa saling mencintai dan kenyamanan bersama. Tapi itu sama sekali tidak dirasakan oleh Nuri. Nuri selalu berkata tidak nyaman bersama Iqbal. Iqbal juga bingung jarus bagaimana lagi padahal selama ini Iqbal sudah sangat sabar dan lembut terhadap Nuri. Iqbal akhirnya mencoba menghubungi Nuri yang selama seminggu ini tidak pernah Ia hubungi. Iqbal ingin tahu bagaimana perasaan Nuri sebenarnya, apakah Nuri benar-benar ingin bercerai atau tidak. "Hallo...." sahut seorang wanita dari seberang telephone. "Hallo?!..." ucap Iqbal ragu karena suara Nuri yang terasa berbeda. Namun apa itu hanya perasaan Iqbal karena sudah lama tidak mendengar suara Nuri, pikir Iqbal. Iqbal pun terdiam beberapa saat swmbari berfikir hingga akhirnya suara itu kembali menyadarkan Iqbal. "Mas Iqbal...? Ini Puji.... Nuri sedang tidak bisa menjawab telephone. Ada yang ingin Mas ucapkan?...." "Tidak.... ini hanya mengenai surat....per....ce....rai..an..." ucap Iqbal ragu. "Oo.... Kalau Mas ingin segera bercerai sebaiknya temui Om Wiryawan dulu.... Dan katakan kapan Mas akan menemuinya nanti Nuri juga akan ke sana...." ucap Puji ketus menyampaikan pesan Nuri yang saat ini tengah berbaring lemah. "Apa maksudnya?... Apa Nuri tidak dirumah orang tuanya?..." tanya Kim Bum heran. "Tidak....dia ada di rumahku.... Nuri masih menunggu Mas Iqbal menjemputnya dan berharap Mas Iqbal berubah pikiran tentang perceraian.... Setidaknya menunggu Mas mau berbicara dengannya menyelasaikan masalah dan kesalahpahaman kalian.... Setelah itu terserah Mas mau bagaimana?..." ucap Ara kesal. "Kalau begitu kenapa Ia tidak mau bicara denganku sekarang?... Apa aku mengganggunya bersama seseorang?..." ucap Iqbal mulai kesal. "Astaga... Mas Iqbal kekanakan sekali asal tuduh.... Itulah kenapa sering salah paham antara kalian karena Mas hanya bisa menuduh tanpa bertanya.... Pokoknya Nuri sedang tidak bisa bicara... Kalau Mas mau bicara dengannya temui Ia disini.... Tapi jika hanya ingin memberikan surat cerai katakan kapan maka Nuri akan ke sana... Pikirkan.... hubungi lagi nanti jika Mas sudah yakin...tutt" ucap Puji lalu memutuskan hubungan sepihak teleponenya. "AGHHKKK..." teriak Iqbal kesal tidak bisa berbicara dengan Nuri. ~oO0Oo~ Kini Iqbal tengah berada di ruang tamu apartemen Puji, sahabat Nuri. Setelah berfikir semalaman Iqbal merasa perlu berbicara menyelesaikan masalahnya dengan Nuri walau mungkin tetap berakhir dengan perceraian. Setelah beberapa menit menunggu Puji memanggil Nuri akhirnya Puji datang namun tanpa Nuri. "Mas Iqbal, ayo kuantar Mas ke tempat Nuri...." ajak Puji membuat Iqbal bingung kenapa bukan Nuri yang langsung turun menemuinya. Iqbal hanya terus mengikuti Puji tanpa bicara apapun hingga tiba di suatu kamar. Kamar tersebut merupakan kamar tidur namun kini dipasang sebuah gorden berwarna hitam di tengah-tengah kamar itu seolah membagi kamar menjadi dua ruangan. "Di sebelah gorden ada Nuri.... Tapi Mas tidak boleh membuka gorden tersebut hingga Mas mengambil keputusan.... Aku akan menunggu di luar..." ucap Puji lalu menutup pintu kamar meninggalkan Iqbal yang penuh keheranan. "Apa kabar Mas Iqbal?...." tanya Nuri dari sebelah gorden. "Nur...." ucap Iqbal kaget mendengar suara Nuri. Nuri sedikit terkekeh merasa Iqbal terkejut. "Maaf Mas harus seperti ini kita bicara.... Nuri hanya ingin leluasa mengungkapkan perasaan Nuri sehingga kita bisa menyelesaikan masalah kita.... Apa Mas keberatan kita berbicara seperti ini?... Nuri hanya tidak ingin Mas marah jika melihat Nuri menangis saat bicara" "Nur...." "Apa Mas hanya bisa menyebut namaku saja? Kekeke.....Katakanlah apa yang ingin Mas katakan?" "Nur..... Katakanlah apa yang ingin Nur katakan.....Mas sudah memikirkan selama kamu pergi bahwa Mas jarang sekali mendengarkan pendapatmu..." ucap Iqbal pelan. "Baiklah.... Mas, maafkan Nuri.... jika Nuri bukan seperti istri yang Mas harapkan..." "Nur...." "Mas.... biarkan Nuri menyelesaikan apa yang ingin Nuri katakan Ya?.... Mas sejak dulu Nuri merupakan orang yang pemalu.... Nuri merasa tidak percaya diri karena diantara semua anak perempuan Papa, Nuri merasa Nuri yang paling biasa saja.... Wajah, penampilan, kepintaran, semua biasa saja... Karena itu semua Nuri sejujurnya merasa Nuri kurang disayang oleh Mama dan Papa Nuri.... Papa Nuri mengerti bagaimana perasaan Nuri akhirnya mulai menunjukkan bahwa Papa juga sayang terhadap Nuri.... Karena itu Nuri sedikit-sedikit mulai percaya diri...." "Mungkin Mas belum tahu jika dulu bahkan orang-orang banyak yang tidak tahu bahwa Nuri adalah anaknya Papa Wirya karena Nuri yang lebih dekat dengan supir Papa... Dulu bahkan Nuri takut terhadap Papa....Tapi Papa perlahan-lahan mulai mendekati Nuri sehingga Nuri akhirnya mulai berani dan nyaman dekat bersama Papa... Sejujurnya itu yang Nuri harapkan dari Mas." "Nur.... maafkan Mas...." ucap Iqbal mulai bergetar merasa bersalah. "Nuri mengatakan ini semua bukan untuk pembelaan atas sikap Nuri selama ini terhadap Mas.... Nuri tahu Nuri salah... Tapi jika Mas mau sedikit saja memperhatikan seharusnya Mas tahu Nuri juga berusaha untuk berubah..... Nuri yang dulu malu-malu kini mulai berani memegang tangan Mas, menggandeng Mas dan memeluk Mas.... Itu karena Nuri mulai nyaman dengan kehangatan dan kelembutan yang Mas berikan.... Namun disaat Nuri mulai nyaman Mas bersikap jutek dan marah tanpa sebab ke Nuri.... Itu yang membuat Nuri takut... Nuri takut salah bersikap hingga Mas kembali marah kepada Nuri..."ucap Nuri mulai terisak. "Maaf jika Mas tidak suka dengan Nuri yang cengeng tapi inilah Nuri.... Nuri rasa Nuri tidak bisa mengubahnya.... Disaat Nuri bahagia, sedih, terharu dan dipuji Nuri pasti meneteskan airmata. Nuri tidak menangis jika hanya sedang sedih saja Mas...." "Nuri... maaf, jika Mas sering membuatmu takut.... Mas jutek bukan hanya karena ada masalah denganmu tapi juga mungkin karena masalah kantor...." "Karena itu.... Nuri harap Mas jangan membawa masalah kantot ke rumah.... Walau Mas mau memikirkan masalah kantor ke rumah Nuri harap Mas tidak bersikap jutek pada Nuri membuat Nuri sulit lebih mendekat kepada Mas.... Nuri bukan bawahan Mas.... Nuri istri Mas jadi maaf Nuri sulit bersikap biasa saja seperti bawahan Mas jika Maa habis memarahinya... Nuri sebagai istri menggunakan hati Mas...." "Nur...." Iqbal hanya bisa menyebut nama Nuri bergetar merasa bersalah atas sikapnya. Ingin sekali Iqbal segera memeluk Nuri dan meminta maaf. " Mas.... apa Mas benar-benar ingin menceraikan Nuri?...." "Nur.....Maaf.... Mas...." "Nuri akan menerima keputusan Mas....Tapi asal Mas tahu Nuri tidak pernah berharap kita bercerai.... Nuri tidak pernah ingin bersama Kak Doddy walau Nuri nyaman bersamanya karena sejak kita menikah Nuri sudah menghilangkan perasaan Nuri terhadap Kak Doddy.... Nuri sudah berniat menjadi istri yang baik untuk Suami Nuri.....walau awalnya tanpa cinta...." Iqbal tersenyum miris mendengar Nuri yang berkata ingin menjadi istri yang baik walau tanpa cinta... "Tapi Mas.... Nuri merasa mulai mencintai Mas sejak Mas menatap Nuri lembut pada malam pertama kita... Mas yang selalu lembut dan sabar membuat Nuru perlahan mencintai Mas...."ucapan Nuri selanjutnya sontak membuat Iqbal yang semula menunduk kini menegakkan kepala terkejut atas pengakuan istrinya. "Tapi maaf kan Nuri Mas yang masih bersikap malu dan sungkan untuk bersikap mesra terhadap Mas... Nuri hanya sedikit takut..." "Nur.... Mas sebenarnya...." "Nuri sadar.....Mbak Rina lebih baik dari Nuri.... Ia bisa bersikap mesra kapanpun Mas mau....Mungkin Mas lebih cocok dengan Mbak Rina....hikz...." "Nur....." "Nuri dengar dulu Maa berharap menikah dengan Mbak Rina.... tapi gagal karena Mbak Rina yang belum siap....Tapi sekarang Mbak Rinajuga menyukai Mas jadi...." "Nur cukup..... Mas rasa semua yang Nur katakan sudah selesai....Sekarang giliran Mas...." ucap Iqbal geram atas pemikiran Nuri. "Mas tidak tahu Nuri mendengar gosip itu darimana.... tapi yang perlu Nur tahu itu tidak benar.... Awalnya Mas melamar putri Papa Wirya hanya karena ingin lebih dekat dengan Papa Wirya karena Papa Mas sudah lama meninggal.... Tapi sejujurnya Mas bersyukur saat itu Rina menolak karena akhirnya Mas menikah denganmu.... Wanita polos yang apa adanya sederhana dan tidak banyak menuntut.... Mas sudah jatuh cinta denganmu saat Papa Wirya menjelaskan semua sifatmu.... Maafkan Mas melupakan semua yang Papa katakan tentang sifatmu yang sangat sensitif.... Karena keegoisan Mas membuat kita seperti ini... Karena Mas yang tidak bisa bersabar membuat Mas hampir kehilanganmu.... Maaf....." ucap Iqbal sembari berlutut di depan gorden menangis menyesali perbuatan dan keegoisannya. "Maa.... Mas tidak perlu minta maaf....jika Maa lebih bahagia bersama Mbak Rina....maka.." "Tidak.... Nur.... maafkan Maa.... Mas akan berubah.... jangan tinggalkan Maa.... Mas mencintaimu... Mas akan bersabar membuatmu nyaman dan mencintai Maa.... Mas mohon Nur..." "Tapi Mas.... Nuri melihat Mas sangat bahagia bersama Mbak Rina..." "Tidak Nur.... Mas hanya bekerja sama dengan Rina untuk membuatmu cemburu karena Mas cemburu saat kau tertawa bersama Doddy..." ucap Iqbal sedikit kesal mengingat keakraban Nuri dengan Doddy. "Mas...." ucap Nuri kaget dengan pengakuan Iqbal. "Jadi keputusannya... kita kembali bersama...Titik.... sekarang Mas boleh melihatmu kan?.." tanya Iqbal tegas. "Tapi Mas.... Nuri...." "Ayolah Nur.... Mas merindukanmu.... bersikap acuh denganmu selama ini membuat Maa menderita... Mas ingin mwnciummu secara diam-diam tapi takut kamu terbangun karena Mas tahu Nur sangat sensitif dan mudah terbangun..." ucap Iqbal sedikit malu mengakuinya yang juga membuat Nuri kaget sekaligus merona. Karena tidak juga ada jawaban dari Nuri membuat Iqbal penasaran dan perlahan memberanikan diri membuka gorden untuk melihat keadaaan istrinya yang Ia rindukan. Iqbal sangat terkejut mendapati istrinya terbaring di ranjang dengan kaki diperban dan kepala sedikit di plester. "Nur....? Apa yang terjadi denganmu...?" tanya Iqbal panik dan khawatir " Mas....Nuri...." "Kemarin Ia sangat bodoh.... karena selama seminggu Ia pergi Mas Iqbal tidak juga menghubunginya membuat Nuri takut.... Jadi ketika kemarin ku bilang Mas menelpon Ia langsung berlari sehingga terjatuh dari tangga..." jelas Puji yang entah kapan sudah masuk ke kamar itu lagi. "Nur...."lirih Iqbal merasa bersalah sekaligus senang ternyata Nuri juga merindukannya. Tanpa pikir panjang Iqbal segera menarik Nuri ke pelukannya. "Maaf Nur... Maa benar-benar minta maaf..." ucap Iqbal tulus dan dibalas pelukan hangat oleh Nuri. Setelah pembicaraan itu Iqbal langsung menggendong Nuri dan membawanya pulang ke apartemen mereka. Karena kaki Nuri yang sakit membuat Nuri sulit beraktivitas. Sebenarnya Iqbal sudah menawarkan pembantu namun Nuri menolaknya dengan halus. Kini hubungan mereka sudah membaik dan mereka sudah belajar saling mengerti dan memahami sifat pasangannya. Nur baru keluar kamar mandi dengan sedikit terpincang karena kakinya yang masih sakit walau sudah seminggu. Iqbal yang semula sedang berbaring di ranjang sembari membaca buku langsung menggendong Nuri dan.. membaringkannya di ranjang membuat Nuri merona malu. Melihat wajah merona Nuri membuat Iqbal lebih lekat memandang wajah istrinya itu. "Maa.... berhenti memandangku sepeerti itu..." ucap Nuri seraya menenggelamkan wajahnya di d**a Iqbal dan memeluknya mwlembuat Iqbal tersenyum senang. "Bukankah Nur bilang Nur mulai jatuh cinta pada Maa karena Mas memandangmu seperti tadi.... Jadi Mas akan terus melakukannya hingga Nur benar-benar jatuh cinta pada Maa..." ucap Iqbal kemudian memeluk erat Nuri. Iqbal melepaskan pelukannya mencoba menatap wajah Nuri yang sepertinya masih merona. Perlahan tapi pasti Iqbal mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nuri ingin segera mencium bibir mungil Nuri yang ingin selalu ia cium secara diam-diam tiap malam. Namun kini sepertinya Iqbal bisa menciumnya kapanpun karena kini Nuri sudah berani membalas ciuman Iqbal. Iqbal awalnya mengecup pelan bibir Nuri kemudian mulai menghisap bibir atas dan bawah Nuri bergantian. Nuri semula malu untuk membalas perbuatan Iqbal, namun Nuri sudah bertekad tidak ingin mengecewakan suaminya lagi maka Ia pun mulai membalasnya. Nuri mulai mengikuti cara Iqbal menghisap bibir atas dan bawah suaminya bergantian. Iqbal yang merasa mendapat lampu hijau mulai menekan tengkuk Nuri agar lebih memperdalam ciuman mereka. Nuri mulai membuka mulutnya untuk memberi ruang lidah Iqbal memasuki mulutnya saat Iqbal menggigit pelan bibir bawah Nuri. Iqbal tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Nuri berikan untuknya memasuki rongga mulut Nuri sehingga lidahnya terus bergerak menyentuh semua yang berada di mulut Nuri mencoba mencari lidah Nuri dan saling membelit. Bunyi kecapan terdengar mengiringi ciuman panas mereka. Selagi lidah dan bibir Iqbal sibuk bertautan dengan lidah dan bibir Nuri, tangan Iqbal tidak tinggal diam mencoba menyampirkan baju tidur Nuri dan mengelus paha serta area sensitif Nuri yang masih tertutup celana dalam. Iqbal melepaskan ciuman mereka disaat merasa Nuru membutuhkan oksigen untuk bernafas. Iqbal menatap Nuri lembut sembari terus mengelus paha dan area sensitif Nuru memberi kode bahwa Iqbal ingin lebih dan Nuri hanya mengangguk malu. Iqbal pun memulai aksinya mencium bibir mungil Nuri dan kedua tabgannya mencoba membuka piyama Nuri sesekali meremas lembut p******a Nuri yang mulai menegang membuat Nuri mendesah lembut dan seksi. Piyama Nuri akhirnya terlepas dan kini menyisakan b*a dan CD Nuri yang nampak pas ditubuhnya membuat Nuri nampak seksi. Iqbal sedikit menjauhkan tubuhnya dengan berdiri menggunakan lututnya di atas ranjang agar dapat menikmati tubuh indah Nuri membuat menelungkupkan tubuhnya malu. Iqbal terkekeh melihatnya dan mulai membuka pakaiannya dan menyisakan celana dalamnya. Iqbal mulai kembali menindih tubuh Nuru yang tengkurap dan menyingkirkan rambut Nuri yang menutupi punggungnya agar tidak mengganggu Iqbal yang ingin mencium dan mengecup punggung mulus itu. Iqbal memeluk Nuri dari belakang sesekali mencium tengkuk dan punggung Nuri dan tangannya meremas lembut p******a Nuru yang masih dibungkus oleh b*a. Iqbal pun berusaha melepas kaitan b*a Nuri dan melepaskannya agar lebih leluasa mempermainkan dua benda kenyal miliki Nuru itu. Nuru mendesah lemas dan fruatasi atas perlakuan suaminya. Iqbal membalikkan tubuh Nuri setelah puas bermain dan memberi tanda kepemilikan di punggung Nuri. Nuri menarik wajah Iqbal dan mencium bibir Iqbal lembut karena merasa malu Iqbal selalu menatapnya. Iqbaltentu membalas perbuatan Nuri dengan lebih ganas membuat Nuri benar-benar kalah dan terlena. Puas dengan bibir Nuri yang mulai membengkak kini Iqbal mulai menciumi leher jenjang Nuri menciptakan kiss mark kemudian turun hingga ke p******a Nuri. Nuri hanya diam pasrah menerima perlakuan Iqbal yang memanjakannya. Iqbal bergantian mengecup, m******t, dan menghisap p******a Nuri sebelah kanan dan kiri. Sementara mulut Iqbal sibuk dengan p******a kiri Nuri, tangan kiri Iqbal sibuk dengan p******a kanan Nuri dan tangan kanan Iqbal sibuk mengelus dan membelai paha bagian dalam Nuri sampai menemui lubang yang nanti akan Ia masuki. "Mas...aahhh...aahh...jangan...lam....ma...ahh....lam...ahh..." ucap Nuri diselingi dengan desahan. Iqbal pun tersenyum mendengarnya dan mulai memasuki Nuri. "Aah.....aaahhhh,,,.ahhh...." desah mereka setelah Iqbal mengeluarkan spermanya pada rahim Nuru berharap segera membuahi sel telur Nuri. Iqbal mencium sebentar bibir Nuri sebelum melepas kontak tubuh mereka dan membaringkan tubuhnya di sebelah Nuri. Iqbal tersenyum melihat Nuri yang masih terengah karena kegiatan mereka. Iqbalmembelai kepala Nuri kemudian menariknya kepelukannya dan menutupi tubuh polos mereka. "Ini malam terlama yang kulewati bersamamu...." "Iya Mas..." "Kegiatan yang penting setelah proses b******a adalah berpelukan, karena dengan berpelukan setelah b******a menunjukkan bahwa kita bukan hanya saling membutuhkan untuk b******a juga saling membutuhkan untuk kenyamanan dan kebahagiaan... Mas yakin Nuri belum tahu..." ucap Iqbal lembut membuat Nuri menatap terharu dengan penuturan suaminya. "Mas harap kita bisa terus bersama....Mas mencintaimu Nuri....I Love You, My Wife...." ucap Iqbal kemudian mengecup kening Nuri. "Nuri juga mencintaimu Mas.....I Love You, My Husband." ucap Nuri pelan kemudian memberanikan diri mengecup bibir suaminya membuat suaminya tersenyum senang. The End
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN