Diusir dari rumah

1710 Kata
Zaara saat ini sudah berada di dalam taksi yang membawanya pulang ke Mansion. Ia dari tadi bersandar di punggung jok mobil seraya memejamkan kedua matanya. Pikirannya kini tengah flashback pada perbuatan dari pria yang sudah menciumnya tadi. "Daddy Arkan tadi menciumku. Aaarrhh ... itu adalah ciuman pertamaku, dan aku menyerahkannya pada pria yang baru pertama kali aku temui. Apakah aku terlalu bodoh? Akan tetapi, kenapa aku tidak merasa menyesal? Daddy Arkan sangat baik dan juga sangat tampan. Terbukti ia langsung memberikan aku kartu kredit no limit ini. Meski aku sebenarnya tidak membutuhkan ini, tapi aku akan menyimpannya. Oh ya, aku harus membeli ponsel dan nomor baru untuk menghubungi Daddy Arkan. Dasar bodoh, kenapa tadi aku tidak meminta nomor ponselnya ya?" gumam Zaara. Zaara terlihat tengah memegangi black card yang dari tadi ia pandangi berada di tangannya. "Sebenarnya Daddy Arkan sekaya apa ya? Hingga bisa memberikan aku kartu kredit luar biasa ini. Ah ... buat apa aku pusing-pusing memikirkan tentang hal ini, seharusnya aku merasa senang saat menemukan Daddy yang seperti aku harapkan." "Karena Daddy Arkan sangat memperdulikanku meski kami baru saja bertemu. Terbukti ia memberikan ini padaku. Tidak seperti Papa yang tidak pernah memperdulikan aku lagi setelah menikah dengan wanita ular itu." Zaara memasukkan kartu kredit berwarna hitam itu ke saku rok selutut berwarna abu-abu yang ia pakai. "Astaga, bagaimana dengan Papa! Seharusnya aku menjemputnya di bandara tadi. Pasti Papa akan murka padaku setelah dihasut oleh Mak lampir itu." "Bersiaplah Zaara, sepertinya hari ini akan sedikit melelahkan dan menguras emosimu," lirih Zaara dengan meremas kedua tangannya. Zaara beralih menatap ke arah samping kanan dan melihat lalu lalang kendaraan yang melintas hingga menimbulkan kemacetan. "Astaga, kenapa macet segala sih! Aku akan semakin terlambat sampai ke rumah." Dengan perasaan yang cemas, bisa terlihat bahwa saat ini Zaara sangat gugup. Selama berada di dalam mobil, ia berkali-kali menyebut mamanya berkali-kali. "Mama, lindungilah aku. Semoga Papa tidak berbuat kasar padaku nanti," gumam Zaara. Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 30 menit, taksi yang ditumpangi oleh Zaara akhirnya tiba di depan Mansion keluarganya. Ia buru-buru turun dari mobil setelah memberikan uang seratus ribu kepada sang supir. "Kembaliannya ambil saja Pak." "Terima kasih Nona," jawab pria paruh baya yang terlihat berbinar karena mendapatkan pelanggan yang menurutnya sangat murah hati. Zaara hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ungkapan terima kasih dari sang supir. Ia bertanya pada pria yang merupakan penjaga Mansion. "Pak, apakah Papa sudah tiba?" "Sudah 30 menit yang lalu Nona Zaara, dan Anda ditunggu Tuan besar di dalam," sahut Pak Bejo. "Terima kasih Pak," jawab Zaara dan langsung berjalan memasuki pintu gerbang utama yang sangat tinggi di depannya setelah security membukakan pintu. "Tamatlah riwayatmu Zaara," gumamnya dalam hati. Dengan langkah kaki cepat, Zaara memasuki pintu utama dan tatapan matanya langsung ber-sitatap dengan netra pekat dari sang papa yang sudah mengarahkan kilatan api dari matanya. Sedangkan mama tiri yang sangat dibencinya sedang duduk di sebelah papanya dan tersenyum sinis ke arahnya. "s****n, Mak lampir itu pasti sudah mencuci otak Papa agar menghukumku," batin Zaara. "Papa sudah pulang? Maafkan aku Pa, karena tadi aku mendapat masalah di bandara saat tidak sengaja merusakkan ponsel seseorang dan dibawa ke pihak keamanan. Setelah urusan selesai, aku mencari Papa, tapi sudah tidak ada. Maaf Pa," ujar Zaara yang mencoba untuk membela diri dengan melakukan sebuah kebohongan agar papanya tidak murka padanya. Hening untuk beberapa saat, dan suasana di ruang tamu yang berukuran sangat luas dengan sofa raksasa berwarna merah, serta ada guci-guci antik yang berada di sudut ruangan yang menambah kesan mewah di ruangan tersebut, tak lupa ada lemari kaca yang berisi barang-barang antik yang merupakan koleksi dari papanya menghiasi ruangan tersebut. Cakra Baihaqi yang sudah tidak kuasa untuk menahan kemarahannya lebih lama, membuatnya langsung berdiri dan berjalan menghampiri putrinya. "Apa kamu bilang Zaara? Kamu dibawa oleh pihak keamanan? Lalu, kenapa tidak menghubungi Papa atau Mamamu tadi? Atau kamu hanya sedang membohongi Papa, dan malah kelayapan tidak jelas tadi!" teriak Cakra dengan pandangan berapi-api. Zaara menggelengkan kepalanya, "Percayalah padaku, Pa. Aku tidak berbohong, dan aku tidak ingin membuat Papa malu atas kesalahanku. Karena itulah aku tidak menghubungi Papa tadi," sahut Zaara yang sudah menampilkan ekspresi memelas untuk merayu papanya agar mempercayai perkataannya. "Papa tahu kamu tengah berbohong pada Papa. Sekarang katakan, dengan siapa kamu pergi tadi?" teriak Cakra pada putrinya. "Maksud Papa apa?" jawab Zaara yang masih berpura-pura bodoh. "Apakah tadi, Paepa melihatku pergi dengan Daddy Arkan? Jika benar begitu, mati aku," gumam Zaara. "Supir tadi tidak sengaja melihatmu pergi bersama seorang pria, putriku. Lebih baik kamu jujur saja pada Papamu," jawab Rini seraya tersenyum mengejek pada Zaara Jantung Zaara seketika berdetak sangat kencang, seolah akan melompat dari tempatnya begitu mendengar perkataan dari wanita yang sangat dibencinya dan seolah sedang mengejeknya habis-habisan saat berada di belakang papanya. Karena mama tirinya tengah mengarahkan 2 jempol terbalik ke arahnya. "s****n, wanita ular itu benar-benar menyebalkan. Apa yang harus aku katakan pada Papa untuk menjelaskan tentang hal ini. Aku harus beralasan apa lagi?" batin Zaara. "Ehm ... jadi Papa sudah tahu? Sebenarnya aku tadi dibawa ke kantor polisi, Pa. Pria itu mau menjebloskan aku ke penjara, tapi aku tadi menangis dan memohon padanya untuk membebaskan aku. Karena merasa iba, akhirnya aku dibebaskan dan bisa pulang ke Mansion." Masih dengan perasaan yang gugup menunggu reaksi dari papanya, Zaara terlihat menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan tajam dari pria yang sangat disayanginya itu. "Papa tahu kamu hanya berbohong untuk menutupi kenakalanmu itu, Zaara. Sebenarnya apa maumu? Apakah kamu ingin menjadi w************n? Sehingga kamu sembarangan pergi bersama seorang pria? Bahkan Papa baru saja kembali dari perjalanan bisnis dan sangat capek, tapi kamu sudah membuat masalah. Seharusnya kamu menuruti semua perintah dari Mamamu dan menjadi anak yang baik dan penurut, bukan malah menjadi gadis nakal dan liar." "Kenapa kamu jadi berubah susah diatur semenjak Mama kandungmu meninggal? Jika Mamamu melihat kelakuanmu yang sekarang ini, pasti dia menyesal telah memiliki putri sepertimu yang sangat bandel dan keras kepala," geram Cakra pada putrinya. Kata-k********r dan penghinaan dari papanya, tentu saja bagaikan sebuah tombak tajam yang berhasil menembus jantung Zaara saat itu juga. Selama 5 tahun ia berusaha menahan diri agar papanya selalu hidup berbahagia bersama wanita yang selalu menyiksanya. Namun, bukan sebuah pujian atau pun kasih sayang dari papanya, tapi malah sebuah penghinaan yang sungguh sangat menyakitkan. Hingga ia sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk hanya diam saat mendapatkan hinaan dari pria yang sangat disayanginya. "Papa benar-benar sudah sangat berubah setelah menikah dengan wanita ular ini. Papa sudah tidak lagi memperdulikan Zaara, tapi sibuk sendiri dengan pekerjaan dan keluarga baru Papa. Bahkan aku seperti anak tiri di rumah ini, karena Papa lebih menyayangi putra Papa dari wanita iblis ini," hardik Zaara. Cakra Baihaqi merasa sangat murka dan berniat untuk mengarahkan tangannya ke pipi putrinya. "Dasar anak nakal!" "Jangan Mas!" teriak Rini yang berakting untuk menghentikan perbuatan suaminya. "Padahal aku sangat senang kamu menghukum anak tidak tahu diri ini, tapi aku harus bersikap baik, agar terlihat seperti sangat menyayangi gadis bandel ini. Sejujurnya aku sangat mual berbicara manis pada Zaara saat di depan Mas Cakra," gumam Rini. Cakra akhirnya menghempaskan tangannya ke udara dan mengurungkan niatnya untuk menampar putrinya yang sudah memejamkan kedua matanya dan menanti tamparannya. "Lihatlah, bahkan Mamamu masih membelamu karena sangat menyayangimu, Zaara." Refleks Zaara tertawa terbahak-bahak begitu mendengar perkataan dari papanya yang menurutnya benar-benar sangat konyol. "Astaga ... aku sudah muak dengan semua sandiwara ini. Istri kesayangan Papa ini adalah seorang aktris yang sangat pandai berakting. Dia selalu bersikap manis padaku saat di depan Papa, tapi menghinaku dan menyiksaku saat Papa tidak ada." "Diam kamu, Zaara! Bersikaplah yang sopan pada Mamamu. Bahkan Mamamu sudah bersusah payah untuk bersikap baik padamu selama 5 tahun terakhir ini, tapi kamu selalu bersikap buruk padanya. Bagaimana Papa tidak marah saat melihat sikapmu yang sangat tidak sopan pada orang yang lebih tua, terlebih Mamamu sendiri. Apakah ini balasan dari sebuah kebaikan? Kamu bahkan berusaha memfitnah Mamamu agar Papa membenci dan meragukannya bukan?" hardik Cakra yang masih berapi-api saat menatap ke arah putrinya yang berada tepat di depannya. "Sudah Mas, lebih baik kita hentikan saja perdebatan ini. Mungkin suasana hati Zaara sedang tidak baik, hingga bisa melampiaskan amarahnya kepadaku. Aku tidak apa-apa Mas, tenang saja karena aku selalu memaafkan kesalahan dari Zaara. Namanya juga masih anak-anak." Rini mengusap lembut lengan kekar pria yang sudah menikahinya selama 5 tahun belakangan. "Astaga, aku sebenarnya sangat jijik pada pria tua ini. Akan tetapi, aku harus bersikap baik dan manis di depannya hingga kekasihku kembali padaku. Aku tidak punya punya pilihan lain selain terpaksa melakukan ini," gumam Rini. "Berhentilah bersikap munafik wanita iblis! Aku sudah muak melihatnya!" teriak Zaara dengan tatapan penuh kebencian. "Zaara!" teriak Cakra dengan kilatan api yang seolah sudah membakar jiwanya. "Jika kamu sangat susah diatur oleh Papa dan Mama, lebih baik kamu pergi dari Mansion! Papa sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyadarkanmu. Jika kamu menjadi anak yang patuh, tetaplah tinggal. Akan tetapi, jika kamu ingin berbuat sesukamu, segera angkat kaki dari sini!" hardik Cakra dengan suara baritonnya. Kata-kata dari papanya yang mengusirnya dan lebih memilih mempercayai wanita yang sangat dibencinya, seolah sebuah sambaran petir yang membakar habis dirinya. Zaara yang merasa sangat hancur karena diusir oleh papa kandungnya sendiri, membuatnya tidak mampu berkata-kata lagi. Karena saat ini suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Bahkan tanpa seizinnya, bulir bening lolos dari bola matanya. Meski saat ini ia tidak terisak atau menangis tersedu-sedu, air mata Zaara sudah menganak sungai di wajahnya. Ia hanya mengamati setiap sudut Mansion yang selama ini menyimpan banyak kenangan. Bahkan bisa dilihatnya bayangan masa kecilnya yang berlarian di area ruang tamu itu bersama mamanya. "Mama, Zaara sangat merindukan Mama. Apa Mama bisa melihatnya? Papa telah mengusirku Ma, karena Papa lebih mempercayai perkataan dari wanita iblis ini," lirih Zaara seraya meremas kedua sisi roknya. Zaara yang masih berkaca-kaca, mengarahkan pandangannya ke arah sang papa. "Jadi, Papa sekarang mengusirku demi wanita ular itu? Baiklah, jika itu yang Papa inginkan, Zaara akan pergi dari sini. Suatu saat nanti, Papa akan menyesal karena lebih mempercayai wanita itu." Dengan langkah gontai dan bulir bening yang sudah menganak sungai di wajahnya, Zaara melangkah keluar dari Mansion dengan perasaan yang sangat hancur. "Kamu tidak akan bisa hidup di luar sana, Zaara. Papa yakin kamu akan pulang setelah mengetahui kerasnya hidup yang tidak semudah kamu pikirkan," ejek Cakra Baihaqi pada putrinya yang sudah berlalu pergi. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN