Burung dari kertas origami

2396 Kata
  “Assalamualaikum.” Ucapku ketika membuka pintu saat hendak masuk ke dalam.   “Waalaikumsalam.” Rumah kali ini ramai dengan saudara-saudaraku yang tengah membantu untuk kelangsungan pernikahan Bella dan Irgi beberapa minggu lagi, Cila pun terlihat ikut sibuk layaknya dia telah mengerti apa yang sedang dikerjakan oleh orang-orang di rumah.   “Ciyeee, siapa tuh, Nyn?” Tanya Irgi yang sepertinya tahu jika aku diantar oleh teman lelakiku.   “Teman sekolah, hehe.”   “Pacar barunya.” Ledek Bella sambil sedikit membisik ke telinga Irgi hingga akhirnya Irgi tertawa.   “Pada sibuk nih kayaknya?” Aku berjalan menghampiri mereka untuk membantu. Banyak sekali barang-barang yang hendak dijadikan seserahan nantinya, ada sepatu, tas, alat make-up dan masih banyak lagi.   “Iya, nih. Bantuin dong.” Sahut Bella.   “Nyn, ayo kita foto dulu, perasaan kita gak punya foto bertiga, mumpung lagi pada rapi.” Pinta Irgi sambil mengeluarkan handphonenya dari dalam saku. Satu sampai tiga jepretan foto telah berhasil di abadikan. Tak lama Cila berjalan ke arahku, ia duduk di pangkuanku sambil menyandarkan tubuhnya.   “Kakak, Kak Aldy kok gak pernah kesini lagi?” Ia mendongakkan kepalanya ke arahku.   “Kenapa? Memangnya Cila kangen sama Kak Aldy?”   “Iya. Ayo kita ke kak Aldy, Kak.” Wajahnya kala itu muram sekali, ia terlihat seperti benar-benar merindukan Aldy. Karena pada dasarnya mereka berdua memang sangat dekat, seperti yang Andri tanyakan saat Cila berkata bahwa Aldy lah yang mengajarinya membuat burung dari kertas origami, banyak hal-hal baru yang sebelumnya tidak Cila ketahui hingga akhirnya ia ketahui berkat Aldy, tak hanya membuat beberapa bentuk dari kertas origami, Aldy pun pernah mengajari Cila bagaimana caranya bermain rubik hingga akhirnya sekarang Cila pandai memainkannya. Untuk anak kecil yang baru berusia 4 tahun, Cila terbilang anak yang pandai dan gampang mengingat hal yang telah dipelajarinya.   “Nanti ya, Sayang. Kakak lagi sibuk, jadi gak bisa main kemana-mana.” Ku usap rambut hitamnya dengan lembut, ia tampak kecewa oleh jawabanku, tapi ia tidak memaksaku sama sekali untuk menuruti kemauannya bertemu dengan Aldy, andai Cila tahu, bukan hanya ia yang merindukan Aldy, aku pun demikian. Cila pun beranjak dari pangkuanku, ia berjalan ke arah sepupuku yang usianya tidak jauh dengannya kemudian mereka bermain bersama. Aku pamit naik ke kamar kepada Bella dan Irgi untuk membersihkan badan sebelum melanjutkan membantu mereka kembali. Kalau di pikir-pikir, sudah seharusnya aku benar-benar berhasil melupakan Aldy, meskipun aku belum mengetahui kelanjutan hubunganku dengan Andri, setidaknya Ibunya telah menerimaku dengan baik sebagaimana dulu Tante Lidya menerimaku. Tapi, bagaimana kabarnya Aldy saat ini? Mendengar Cila menyebut namanya membuatku kembali merindukannya. ***   “Kamu hati-hati di jalan, ya?” Kataku saat telah sampai di depan kantorku. Seperti biasa, Andri mengantarku lagi, dan sepertinya ini akan menjadi rutinitas barunya.   “Iya. Nanti pulang aku jemput lagi, ya? See you!” Diusapnya rambutku dengan tangan lembutnya.   “Loh, Andri?” Ucap seseorang yang tiba-tiba datang dan berdiri di sampingku.   “Airin? Apa kabar?” Balas Andri yang menyadari jika ternyata yang menyapanya adalah sahabatnya sedari mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.   “Baik, kabar lo gimana? Udah lama banget baru ngeliat lo lagi.”   “Baik. Makin ganteng ya gue? Haha” Tawanya sambil melihat ke arahku yang juga ikut tertawa.   “Pede gila lo! Haha, eh By The Way kok kalian berdua...? Emmm, jangan-jangan kalian udah pacaran yaaa?” Tatap Airin ke arahku dan bergantian ke arah Andri dengan ekspresi meledeknya.   “Apaan sih, Rin? Enggak kok. Andri cuma antar gue aja.” Jawabku sambil menepuk bahunya dengan agak keras, ia pun tertawa kesakitan.   “Doain aja ya, Rin.” Sahut Andri.   “Ya gue sih pasti doain yang terbaik buat kalian, asal jangan berani-beraninya lo nyakitin Arnyn, lo bakalan berhadapan sama gue.” Ia menolak pinggangnya sambil menatap sinis ke arah Andri.   “Haha, masih aja meragukan gue. Yaudah, ah, gue mau ke kantor dulu, nanti kesiangan lagi. Bye.” Andri menyalakan motornya dan melaju meninggalkan kami.   “Huuu dasar.” Ucap Airin. “Nyn, lo beneran belum jadian sama Andri?” Lanjutnya.   “Beneraaaan. Lagian gue juga baru putus sama Aldy, gak mungkin lah secepat itu dapetin penggantinya.” Jawabku sambil berjalan masuk ke dalam kantor dan diikuti olehnya.   “Kenapa gak mungkin kalau Aldy juga bahkan secepat itu dapet pengganti lo.” Aku tetap melanjutkan langkahku menuju meja kantorku tanpa merespon ucapannya sama sekali.   “Nyn, sorry. Gue gak bermaksud. Jangan marah, ya?” Ia berlari mengejarku yang hendak duduk ke kursi meja kantor.   “Enggak kok, Rin. Gue cuma bingung aja mau jawab apaan, haha. Udah ah, gue lagi banyak kerjaan, lanjut lagi nanti ceritanya.”   “Wuh segitu semangatnya yang lagi kasmaran.” Ledeknya sambil menyolek daguku sebelum akhirnya dia berbalik fokus ke pekerjaannya juga.   “Nyn?” Tanyanya lagi.   “Hmm?”   “Nanti pulang antar gue ke toko kue, yuk? Adik gue ulang tahun, sekalian gue mau makan sushi.” Aku terdiam agak lama sebelum mengiyakan permintaannya.   “Ayolaaaah. Mau kan? Ya, ya, ya? Please.” Ia mengerengek sambil menarik-narik bajuku.   “Iya, bawel.” Ia tertawa sambil kembali memfokuskan pandangan ke pekerjaannya. Saat itu juga aku menghubungi Andri agar tidak menjemputku pulang di hari ini karena aku akan menemani Airin nantinya. Handphoneku bergetar, satu pesan masuk telah muncul dari Andri.   “Hmm, apa aku gak boleh ikut?” Balasnya. Aku menoleh ke arah Airin, ia masih fokus mengerjakan kerjaannya.   “Rin?” Sapaku. “Andri katanya mau ikut, boleh?”   “Gila, bisa-bisanya lo masih nanya boleh atau enggak? Ya boleh lah, Nyn. Kita kan sahabatan, udah lama juga kita gak keluar bareng. Ayo makan sushi sama-sama!” Jawabnya bersemangat. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, Airin memang tipikal teman yang sangat setia dan sayang sekali terhadap teman-temannya, diantara kami pula, ia lah yang paling sering mengajak aku dan Andri untuk makan di luar, Quality Time katanya.   “Hafh, baterai gue low, lagi.” Aku melihat persentase baterai di handphoneku tepat berada di 10%.   “Tumben?”   “Iya, gue semalam ketiduran.”   “Nih pakai charger gue.” Ia mengeluarkan chargernya dari dalam tas.   “Tapi kan charger kita beda.”   “Astaga, iya ya gue lupa.”   “Semoga cukup deh sampai nanti pas di rumah.”   “Lo chat Andri aja buat langsung ketemuan di resto Sushi yang biasa kita makan.” Aku mengangguk dan langsung mengabari Andri untuk bertemu disana, sementara aku dan Airin akan menyusul. Waktu terus berjalan, hingga akhirnya jam telah menunjukan pukul 15:50, 10 menit lagi bel pulang akan berbunyi.   “Halo? Kenapa, Ma?” Ucap Airin saat mengangkat telponnya yang berdering. “Oh yaudah, aku bakalan segera pulang.” Ia menutup telepon lalu memasukannya ke dalam tas dan lanjut berkemas.   “Nyn, kayaknya gak jadi deh makan Sushinya, nyokap gue barusan ngabarin kalau sepupu udah pada kumpul di rumah, dan ternyata kue juga udah dibeli tadi sama nyokap. Sorry, ya?”   “Iya gak apa-apa, santai aja. Happy birthday ya buat adik lo.” Bel pulang berbunyi, Airin langsung pamit pulang lebih dulu karena orang tuanya sedari tadi telah memintanya agar segera tiba di rumah. Aku meraih handphone di dalam tas, handphone ku mati total, aku tidak dapat menghubungin Andri untuk memberitahu bahwa kami tidak jadi makan Sushi bersama. Aku berlari keluar mengejar Airin berharap ia masih berada di parkiran. Tapi sayangnya, motornya sudah tidak berada disana, aku memutuskan kembali mempercepat langkahku menuju depan gedung kantor untuk mencari taksi. Beruntungnya, taksi lewat di saat aku telah sampai di depan gedung. Aku melambaikan tangan ke arahnya sebagai tanda bahwa aku memberhentikannya, taksi berhenti, aku pun langsung masuk ke dalam dan memberitahunya alamat menuju rumahku. Jalanan sore kali ini agak lebih macet dibandingkan biasanya, di tengah-tengah jalanan yang merayap, kami berhasil tahu penyebab dari kemacetan di sore hari ini, terjadi sebuah kecelakaan antara truk besar dan pengendara sepeda motor yang menyebabkan pengendara meninggal dunia di tempat karena terlindas ban, korban adalah seorang perempuan, mayatnya masih tergeletak di pinggir jalan dan dikerumuni oleh beberapa warga yang turut menyaksikan. Hampir kurang lebih sekitar 15 menit kami terjebak di dalam kemacetan, akhirnya aku tiba di rumah. Aku langsung membayar tarif kepada sang driver lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencharge handphone.   “Eh, buru-buru amat, Kak? Ada apa sih?” Tanya Bella yang saat itu sedang duduk di kursi halaman depan, ia tampak kebingungan melihatku masuk ke rumah dengan tergesa-gesa.   “Mau nge-charge, handphone gue mati.” Jawabku sambil setengah berlari menuju tangga.   “Astaga, kirain kenapa. Segitu khawatirnya handphone mati.” Tanpa menggubris ucapannya, aku tetap berlari menuju kamar. Sesampainya di kamar, aku mengambil charger yang biasa aku taruh di dalam laci dan langsung mencharge handphone. “Loh? Kok persentase baterainya masih 8%? Tapi kok tadi mati total ya? Hafh, handphoneku sudah minta diganti sepertinya.” Gumamku. Satu persatu notifikasi masuk, termasuk panggilan tak terjawab dan beberapa pesan singkat dari Andri. Aku langsung beranjak dari kasur dan turun ke bawah menuju telepon rumah untuk mengabarkan Andri.   “Halo?” Sapaku dari ujung telepon.   “Iya, halo?”   “Andri ini aku, Arnyn.”   “Oh, hey! Ada apa, Nyn? Kenapa nomor kamu gak aktif?”   “Aku lupa bawa charger, handphone aku mati total pas detik-detik jam pulang kantor, aku gak bisa ngehubungin kamu kalau makan sushinya gak jadi karena Airin ada acara. Kamu udah sempat nunggu disana, ya?”   “Belum, kok. Aku lembur hari ini, jadi gak bisa datang kesana, mangkannya aku hubungin kamu untuk kasih tahu.”   “Hmm, syukurlah kalau kamu belum sempat datang kesana.”   “Hey, sudah mandi belum?”   “Belum, aku sampai di rumah langsung telepon kamu.”   “Ya ampun senangnya jadi aku, haha. Sana mandi, langsung makan, ya? Nanti kalau pekerjaan aku sudah selesai dan aku sudah di rumah, aku kabarin lagi.”   “Haha kamu tuh yaaa. Oke, see you!” Kututup telepon lalu kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap makan malam. ***   “Kaaakk? Makan malam udah siap. Cepat turun!” Teriak Bella dari bawah.   “Sebentar.” Aku mempercepat menyisir rambutku yang belum kering dengan sempurna lalu bergegas turun ke bawah.   “Waaah, ada oseng cumiii.” Sebelum aku duduk untuk menyantapnya, lauk di sebelah cumi membuatku terdiam beberapa saat, ya, udang saus padang. Kenapa harus ada menu udang di hidangan makan malam kali ini?   “Kenapa kamu berdiam disana? Cepat duduk, lalu makan.” Mama yang datang dari arah dapur sambil membawa gelas berisi air putih memandangku dengan heran. Aku langsung duduk tanpa menjawabnya, ia memberikanku sepiring nasi dan membiarkan aku memilih sendiri lauk yang ingin ku makan, aku hanya mengambil cumi dan sepotong ayam goreng.   “Kamu gak mau udangnya, Nyn? Nanti keburu habis loh sama yang lain.” Tanya Mama yang sudah asik mengunyah suapan pertamanya.   “Enggak, Mama kan tahu aku gak begitu suka udang.” Ia hanya menatapku sambil menangkat kedua alis dan melanjutkan suapan berikutnya. Aku menyuap perlahan, sambil termenung sesekali, terbayang wajah Aldy saat memakan udang itu dengan lahapnya, mulutnya tidak ia izinkan untuk berhenti mengunyah sampai udang dan nasi yang ada di piringnya telah ia pastikan habis tak tersisa, dan saat itu aku hanya tersenyum melihatnya, bagaimana bisa wajahnya tetap telihat menawan meskipun saat sedang mengunyah, tetesan saus padang yang terkadang tertinggal di bibirnya, membuatku rindu ingin mengusapnya lagi.   “Kak, besok antar gue bisa gak?” Bella menyenggol lenganku di tengah-tengah lamunan.   “Emm? Ha? Kemana?” Balasku.   “Ke tempat souvenir, masih ada yang kurang ternyata.”   “Besok hari libur, waktunya gue buat ke toko buku.”   “Ayo lah, ke toko buku kan bisa hari minggunya.” Bujuknya.   “Minggu gue mau istirahat.”   “Kalau gitu berarti ke toko bukunya minggu depan, biar bisa anter gue.”   “Memangnya Irgi kemana?”   “Irgi besok harus lembur. Mau kan? Mau dong? Ya?” Mama menatap ke arahku dengan ekspresinya yang seakan memaksaku untuk menemani Bella.   “Iya. Lo yang nyetir.”   “Siap, Bos!” Ucapnya tersenyum sambil melanjutkan makan malamnya. Hari terasa cepat berlalu, pernikahan Bella dan Irgi sudah beberapa minggu lagi, tapi aku masih belum menemukan alasan untuk benar-benar bahagia di atas kebahagiaannya, semakin hari, aku malah semakin takut untuk melangkah menuju acara tersebut, segala hal yang telah aku bayangkan benar-benar membuatku enggan untuk ikut serta di acara adikku sendiri, bahkan ini lebih menakutkan dibandingkan mimpi buruk yang pernah terjadi dalam mimpiku. *** Keesokan harinya *** *tok.. tok.. tok..*   “Kak buruaaan, gue udah rapi.” Bella menggedor pintu kamarku yang masih terkunci.   “Sebentar, lagi keringin rambut.” Teriakku dari dalam. “Masih jam 08:25, mengapa dia begitu terburu-buru?” Gumamku saat melihat jam di layar ponsel.   “Gue tunggu di depan yaaa?” Terdengar langkah kakinya menuruni anak tangga dengan cepat, selesai mengeringkan rambut, aku mencabut handphone yang masih terhubung dengan charger lalu memasukannya ke dalam tas dan beranjak turun ke bawah menghampiri Bella.   “Ma, aku pamit dulu ya antar Bella.” Ku hampirinya yang sedang duduk di sofa depan televisi dan ku cium tangannya.   “Hati-hati nyetirnya!”   “Iyaaaa!” Aku berlari ke luar menghampiri Bella yang sedang memanaskan mobil.   “Eit, siapa yang suruh lo masuk lewat sana? Cepat kesini, kan gue udah bilang semalam kalau lo yang nyetir.” Ucapku saat melihatnya membuka pintu mobil bagian kiri.   “Dasar, Kakak yang kejam.” Aku hanya tertawa sambil berjalan masuk ke kursi depan sebelah kiri, dan kami melaju menuju tempat souvenir.   “Dimana sih tempatnya? Perasaan gak sampai-sampai dari tadi.” Sudah hampir lebih dari 5 kali aku mengecek jam di ponselku karena merasa telah menempuh jalan yang tidak berujung.   “Sebentar lagi, nanti di depan ada lampu merah, belok kanan, terus lurus sekitar 10 menitan, gak lama dari situ juga sampai.”   “Belok kanan?”   “Iya, kenapa?”   “Enggak.” Aku mengotak-atik Radio tape sambil mencari channel yang sedang menyiarkan lagu yang aku sukai. You don’t, you don’t care like you care like you used to You don’t want me there like you used to I keep wasting every night Waiting for you to say goodbye But if you won’t, you won’t, I’ll make the first move Seakan-akan mengerti masalah hidup yang telah aku jalani, lagu ini berputar begitu saja tanpa aku berkeinginan untuk menggantinya, aku memenjamkan mata dan ikut menyanyi di dalam hati. Rasanya ingin menangis, tapi tidak mungkin dalam keadaan seperti ini, ketika Bella berada persis di sampingku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN