Aku melangkahkan kaki ke luar pintu utama. Andri tengah duduk sambil menundukan kepalanya sembari memutar-mutarkan kunci mobil yang berada di tangannya. Ia bangkit dari duduknya dan langsung berdiri ketika melihatku mencoba berjalan mendekat ke arahnya. “Nyn, maaf. Aku minta maaf.” Diraih dan digenggamnya kedua tanganku dengan tangannya. “Aku, aku juga minta maaf.” Ia langsung memelukku dengan erat. Diusapnya kepalaku dengan lembut. “Nggak, kamu gak salah. Aku yang salah. Maaf telah menarik kasar tanganmu. Maaf telah membentakmu hanya karena kecemburuan yang sempat gak bisa aku kendalikan.” Nadanya terdengar begitu menyesal atas apa yang telah ia lakukan. “Aku janji gak akan seperti itu lagi.” Aku mencoba melepaskan pelukannya dengan perlahan. Ku tatap wajahnya, matanya be

