“Tapi, rasanya akan tetap beda.”

1705 Kata
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku turun ke bawah untuk sarapan pagi. Aku mengigit sehelai roti yang telah ku oleskan selai cokelat di atasnya. Mama, Papa, Cila dan Bella pun sibuk mengunyah sarapannya masing-masing. Ketika hendak melahap gigitan terakhir, handphoneku kembali berdering.   “Nyn, gue udah di luar.” Airin memberitahu bahwa ia telah sampai di depan rumahku.   “Sebentaaaar.” Ku tutup teleponnya dan berjalan keluar menghampirinya.   “Ayo berangkat sekarang.” Ajaknya.   “Langsung? Sebentar, gue ambil tas dulu.” Aku kembali berjalan masuk ke dalam untuk mengambil tas yang ku letakan di kursi meja makan.   “Loh? Berangkat sekarang? Kok tumben?” Tanya Mama saat aku hendak berpamitan. Aku mengecek jam di handphone, dan benar saja, waktu baru menunjukan pukul 06:15 dimana yang biasanya jam berangkatku dari rumah adalah pukul 06:30. Fyuh anak itu, ada apa dengannya di hari ini? Apa memang jam berangkatnya selalu sepagi ini?   “Gak tahu tuh, Airin. Dah Ma, Pa.”   “Hati-hati di jalan.” Teriak Papa dari dalam saat melihat aku berjalan ke luar menghampiri Airin.   “Apa gak kepagian kita berangkat jam segini?” Tanyaku di sela-sela perjalanan kami menuju kantor.   “Gue lagi banyak kerjaan, harus datang pagi. Tapi malas kalau di kantor masih sepi, jadinya gue jemput lo.” Jawabnya sambil tertawa. Jalanan masih belum begitu ramai, meskipun beberapa pedagang telah menggelarkan dagangannya di pinggir jalan. Tapi udara pagi ini cukup dingin, mungkin karena bekas hujan kemarin. Ah, sayangnya aku lupa membawa jaket karena berangkat dengan terburu-buru.   “Lo masuk duluan aja, gue mau ke kantin depan dulu, beli sarapan. Lo mau nitip?” Tanyanya saat kami telah berhasil sampai di parkiran.   “Gak usah, udah kenyang. Gue titip air mineral aja. Yaudah kalau gitu gue duluan, ya?” Ia mengangguk sambil pergi berjalan ke arah kantin. Sementara aku mengambil langkah ke arah Lobby kantor.   “Pagi, Neng Arnyn.” Sapa seorang satpam yang membukakan pintu Lobby ketika aku hendak masuk ke dalam.”   “Pagi juga, Pak Mamat. Terima kasih.” Aku kembali melanjutkan langkah menuju mesin absen, benar saja, kondiri kantor masih begitu sepi, hanya terdapat beberapa orang saja yang sudah terduduk di atas kursi meja kerja mereka masing-masing. Tak lama kemudian handphone ku berdering saat aku telah berhasil duduk di meja kerjaku.   “Halo, Nyn? Kamu udah di kantor?”   “Udah, Ndri. Ya ampun, maaf ya aku lupa kabarin kamu kalau aku berangkat duluan. Kamu uda sempat jemput ke rumah ya?”   “Iya, kata Mama kamu sudah berangkat di jemput Airin. Aku cuma mastiin aja kalau kamu sudah sampai.”   “Aku udah sampai kok, baru saja. Kamu masih di jalan?”   “Iya, masih belum begitu jauh dari rumah kamu. Yaudah, selamat bekerja ya, nanti aku hubungi lagi.”   “Yaa, hati-hati di jalan.” Berangkat terburu-buru karena Airin menjemput, membuatku lupa untuk menghubungi Andiri. Aku mengecek kotak masuk, dan baru menyadari bahwa sudah lama sekali benar-benar tidak ada pesan dari Aldy. Biasanya jika hujan turun, ia selalu mengirimiku pesan singkat untuk memastikan keberadaanku, tapi hujan di siang hari kemarin saat kepulangan dari rumahnya untuk mengembalikan tumbler, ia tidak menghubungiku sama sekali setelah itu. Dan berita buruknya adalah; ia telah berhenti perduli.   “Nih minuman lo.” Airin memberikan sebotol air mineral yang dibelinya di kantin. Ia langsung duduk dan menatap monitornya dengan fokus, sepertinya, ia benar-benar sedang banyak kerjaan. ***   “Wuh akhirnya sebentar lagi pulang.” Ucapnya saat menyadari Bel pulang tinggal 8 menit lagi. “Btw, gimana hubungan lo sama Andri?” Lanjutnya.   “Kayak biasa.”   “Loh? Kalian belum jadian juga? Tunggu apa lagi?” Aku tidak menggubris pertanyaannya karena sedang sibuk membereskan meja kantorku yang terlihat sangat berantakan.   “Acaranya Bella kapan, Nyn?”   “Minggu depan, lo harus datang, gak boleh enggak!”   “Iya, gue pasti datang kok. Hmm, Nyn, gue mau nanya sesuatu.”   “Apa?”   “Tapi lo janji gak akan marah?” Aku menoleh seketika ke arahnya sebelum akhirnya mengangguk.   “Lo putus sama Aldy karena Bella mau nikah, kan? Nanti kalau Andri tiba-tiba nembak lo, apa lo bakal terima dia jadi pacarnya? Atau lo bakalan suruh Andri untuk langsung nikahin lo?” Aku menatap ke arah langit-langit sambil berfikir, benar juga apa yang di katakan Airin, aku putus dengan Aldy karena ia tidak bisa menikahiku dengan cepat, bagaimana bisa nantinya aku akan menerima Andri jika ia mengajakku hanya untuk berpacaran?   “Gue gak ada maksud apa-apa, kok. Dengan siapapun lo nantinya, gue selalu berharap yang terbaik buat lo. Gue cuma gak mau lo salah ambil keputusan dan menyesal di hari-hari berikutnya.” Sorot matanya terlihat begitu mengkhawatirkanku. “Nyn, cuma hati lo yang tahu apa yang lo inginin. Jangan bohongin hati lo sendiri, ya?” Aku hanya tersenyum sambil menganggukan kepala ke arahnya, sejujurnya, aku sudah tidak peduli dengan pernikahan, aku telah mengikhlaskan semuanya, membiarkan segalanya terjadi sesuai bagaimana semestinya, bukankah setiap orang telah mempunyai waktunya masing-masing? Dan aku pun masih berharap untuk kembali pada Aldy, meskipun semesta telah membawa Andri ke hidupku lagi, aku tetap akan memilih Aldy untuk menjadi seseorang yang akan menghabiskan waktuku hingga nanti. Tapi, kini Aldy telah menemukan kebahagiaannya, kurasa ia tak akan mungkin kembali pada sosok yang telah menyakitinya ini. Bel berbunyi, setelah mengantre di mesin absen, aku dan Airin berpisah disana, ia berjalan menuju parkiran, sementara aku melangkah ke depan gedung untuk menunggu Andri datang menjemput. ***   “Mau mampir?” Aku menawarkannya untuk masuk saat kami telah sampai di depan gerbang rumahku. Ia mengangguk, setelah berhasil memarkirkan mobil di halaman, kami berjalan masuk, kemudian terdengar suara dari dalam, sepertinya rumahku sedang ramai.   “Assalamualaikum.” Aku dan Andri mengucapkan salam saat berhasil masuk ke dalam rumah.   “Waalaikumsalam.” Jawab mereka serentak. Terlihat keluargaku serta Irgi sedang asyik melanjutkan beberapa hal yang masih dibutuhkan untuk kelangsungan mereka yang akan digelar di hari minggu depan.   “Hai, Cila. Cila lagi apa?” Andri menghampiri Cila yang sedang asyik bermain origami di sudut ruangan.   “Cila lagi mau buat sesuatu.” Jawabnya dengan lugu.   “Kak Andri udah bisa buat burung loh, mau dibuatin gak?”   “Mau, Kak. Yang banyak, ya?” Ia tersenyum sambil memberikan beberapa kertas origami dengan warna yang berbeda-beda ke hadapan Andri. Biasanya, sosok Aldy yang terlihat disana bermain bersama Cila, kini Andri menggantikan posisinya. Aku berjalan ke arah Irgi dan Bella yang sedang sibuk membungkus beberapa seserahan yang masih belum sempat mereka selesaikan.   “Nyn? Itu siapa?” Irgi bertanya dengan nada sedikit berbisik.   “Teman sekolah dulu.” Aku mengambil dan membungkus beberapa barang yang hendak dijadikan seserahan.   “Aldy?” Tanyanya lagi. Kemudian Bella menepuk bahunya dengan sedikit keras sambil berbisik sesuatu yang tidak berhasil aku dengar.   “Udah putus.” Irgi terdiam, ia tidak berbicara satu kata pun saat itu, wajahnya terlihat merasa tidak enak karena tidak sengaja melontarkan pertanyaan itu kepadaku. Aku kembali melanjutkan membungkus seserahan, tidak lama kemudian aku mendengar suara handphone Andri berdering, kemudian ia mengangkatnya. Setelah menutup telepon tersebut, ia menghampiriku.   “Aku pulang sekarang, ya? Mama suruh aku antar ke rumah temannya.”   “Oh, iya, gak apa-apa.” Ia dadah ke arah Cila yang sedang memegang 3 buah burung dari kertas origami yang ia buatkan untuknya tadi. Andri pun pamit kepada seisi rumah, lalu aku mengantarnya menuju mobilnya.   “Acara Bella dan Irgi kapan, Nyn?” Tanyanya sambil membuka pintu mobil.   “Minggu depan.”   “Are you, okay?”   “Sure.” Aku tersenyum ke arahnya untuk meyakinkan bahwa aku baik-baik saja. Ia pun ikut tersenyum, diusapnya rambutku dengan tangan lembutnya, setelah itu ia masuk ke dalam mobil dan melaju keluar dari rumahku. Fyuh, 13 hari lagi acara pernikahan Irgi dan Bella akan berlangsung. Bagimana caranya aku memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja? *** *tok.. tok.. tok..* terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku.   “Masuk, gak dikunci.” Teriakku dari dalam.   “Kak?” Ucap Bella saat hendak masuk ke dalam.   “Ya? Ada apa?” Ia berjalan mendekat ke arahku yang sedang terbaring di atas kasur sambil memeluk sebuah bantal dan selimut yang ia bawa dari kamarnya.   “Gue tidur disini, ya?” Pintanya saat berhasil duduk di kasurku.   “Ha? Tumben? Ada apa? Takut?”   “Ihhh, boleh gak?”   “Boleh. Sini.” Aku menggeser tubuhku ke pojok tembok untuk memberikannya ruang untuk berbaring. Ia membaringkan tubuhnya di sampingku, sambil tersenyum menatap langit-langit kamar.   “Ada apa sih? Serem deh lo malam ini.”   “Beberapa hari lagi gue nikah, gue cuma takut gak bisa kayak gini lagi sama lo, Kak. Karena nanti setiap bangun tidur, yang gue liat cuma wajahnya Irgi, bukan wajah kalian lagi.”   “Hey, jangan pancing gue untuk nangis, ya? Lo kan masih bisa berkunjung ke rumah ini kapan pun yang lo mau.”   “I know, tapi rasanya tetap akan beda.” Aku hanya terdiam, mengikutinya menatap langit-langit kamar sambil mengatur napas dan berusaha agar tidak menangis.   “Lo pernah benci sama gue gak sih, Kak?”   “Adik bodoh, Kakak macam apa yang bisa membenci Adiknya sendiri?! Meskipun lo terkadang menyebalkan, rasa sayang gue ke lo itu gak akan pernah berkurang tahu!” Aku menoleh ke arahnya yang masih asyik menatap langit-langit, matanya mulai meneteskan air mata dengan jumlah yang tidak begitu banyak.   “Siapa yang suruh lo untuk nangis?”   “Makasih ya Kak, maaf kalau gue selalu nyusahin dan ngerepotin lo.” Jawabnya tanpa menggubris pertanyaanku.   “Udah ah, gue ngantuk. Jangan lupa matikan lampunya.” Aku membalikan badan ku dengan posisi membelakanginya. Ia mematikan lampu dan menarik selimut yang tadi dibawa dan diletakannya di ujung kasur. Aku mulai menangis, dalam keadaan gelap, tanpa suara, tanpa aku mau ia ketahui. Bell, sepertinya yang membuatku berat untuk mengizinkanmu menikah bukan karena aku tidak rela kau menikah lebih dulu dibanding aku, tapi karena aku akan kehilangan wajahmu yang menyebalkan di setiap pagi saat aku melintasi kamarmu yang terkadang suka kau lupa untuk menguncinya, aku juga akan kehilangan tawa serta ocehan cerewetmu di rumah ini. Aku belum siap untuk melihat kursi meja makan dimana tempat kau biasa duduk akan kosong nantinya. Dan aku belum siap melewati depan kamarmu tanpa melihat ada kamu lagi di dalamnya. Benar katamu, semua akan terasa berbeda meskipun status kita tetap sama, sama sebagai seorang Adik dan Kakak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN