Alarmku berbunyi, aku dan Bella pun bangun dari tidur, ia kembali ke kamarnya untuk mandi. Walaupun ia tidak bekerja, di pagi hari seperti ini ia tetap bangun dan produktif. Sudah hampir setahun ia menganggur, setelah kontraknya dipastikan telah berakhir, sementara Irgi masih bekerja disana karena statusnya sudah menjadi karyawan tetap. Ketika hendak mau mencari kerja lagi, Irgi tidak mengizinkan karena sebentar lagi pun ia akan menafkahi perempuan yang dicintanya itu.
Seusai mandi, seperti biasa aku langsung turun ke bawah untuk sarapan, ku lihat Bella sedang sibuk menaruh lauk pauk saat Mama, Papa dan Cila telah terduduk di atas kursinya masing-masing.
“Wiiih, tumben nih rajin siapin sarapan segala.” Aku duduk di kursi sambil membantu menata letak lauk pauk di atas meja.
“Ini Bella semua yang masak loh, Nyn.” Mama memberitahuku sambil melirik ke arah Bella yang telah selesai menyiapkan sarapan dan hendak duduk di kursinya.
“Curiga nih gue. Mau request kado buat nanti nikah ya? Bilang aja, Bell, nanti gue beliin kok.” Aku tertawa ke arahnya.
“Apaan sih, Kak. Gue malas diprotes, gue rajin masih diprotes juga.”
“Haha, bercanda kok bercandaaaa.”
“Udah, udah. Cepat makan nanti kesiangan berangkat kerjanya.”
Kami melanjutkan sarapan pagi masing-masing, tak lama kemudian suara kendaraan bermotor berhenti di depan gerbang rumahku, aku mencoba berjalan ke arah pintu depan untuk melihat siapa yang datang, dan ternyata, lagi-lagi Airin.
“Hai, Nyn. Selamat pagi.” Ia turun dari motornya sambil berjalan ke arahku.
“Pagi. Loh? Lo abis menginap di tempat tante lo lagi?”
“Yap. Hari ini kita akan berangkat bareng lagi, yeay!”
“Udah sarapan belum? Ayo sini, masuk dulu ke dalam.”
Aku mengajaknya masuk ke dalam untuk bergabung sarapan bersama keluargaku.
“Eh, Airin. Sini, sini masuk. Sarapan dulu” Mama yang melihat Airin datang langsung menyuruhnya untuk sarapan.
“Iya, Tante, Om. Terima kasih.”
Kami menikmati sarapan pagi kali ini bersama-sama. Setelah selesai, Papa, aku dan Airin pamit untuk berangkat ke kantor masing-masing.
Pagi ini jalanan tidak begitu padat meskipun kemarin kami berangkat lebih pagi dibandingkan hari ini. Tak memakan waktu lama, kami tiba di parkiran kantor. Seperti biasa Airin pergi menuju kantin sebelum benar-benar masuk ke kantor, sementara aku langsung menuju ke Lobby tanpa menemaninya ke kantin.
Aku teringat akan satu hal, aku belum sempat mengabarkan Andri jika hari ini aku berangkat dengan Airin (lagi).
“Halo?” Ucapku saat berhasil menghubunginya di telepon.
“Iya, Nyn?”
“Kamu dimana, Ndri?”
“Aku udah di jalan, kamu udah sampai di kantor? Hari ini berangkat sama Airin lagi, ya?”
“Iya, kamu udah sempat jemput ke rumah lagi ya? Maaf ya aku lupa untuk kabarin, baru ingat sewaktu aku dan Airin sudah sampai di parkiran kantor.”
“Gak apa-apa, kok. Nanti pulang ku jemput, ya? Selamat bekerja.”
“Iya, selamat bekerja juga.”
Aku menutup telepon sambil melanjutkan berjalan ke arah Lobby, senyum sapa yang hangat dari beberapa satpam dan resepsionis menyambutku bergantian ketika mereka melihatku yang hendak memasuki ruangan.
Airin datang dari pintu belakang, ia membawa dua botol air mineral dan memberikannya satu untukku.
“Kerjaan lo lagi banyak banget ya akhir-akhir ini?”
“Iya, nih. Sorry ya udah dua hari ini gue ngerepotin lo untuk datang lebih awal cuma buat nemenin gue.”
“Ya ampun, santai kali, Rin. Dulu juga kan lo pernah nemenin gue berangkat lebih awal sewaktu kerjaan gue lagi numpuk-numpuknya.”
Ia tertawa sambil mengangguk-anggukan kepalanya dan kembali menghadap ke depan monitornya lagi.
***
Waktu berjalan begitu cepat, sinar matahari yang mulai memasuki kamar berhasil membangunkanku dari tidur yang lelap. Huaaah, hari sabtu, entah kenapa rasanya hari ini aku malas sekali untuk mengunjungi toko buku.
Jam telah menunjukan pukul 11:15 WIB, aku tidak pernah bangun sesiang ini meskipun di hari libur, nampaknya aku begitu kelelahan hingga berhasil tidur sebegini lamanya. Saat hendak membangunkan tubuhku dari kasur dan mencoba beranjak menuju kamar mandi, tiba-tiba handphoneku berdering.
“Halo, Nyn?”
“Iya, Ndri. Ada apa?”
“Apa hari ini kamu sibuk?”
“Hmm, sepertinya tidak. Memangnya kenapa?”
“Abel dari kemarin nanyain kamu terus, aku disuruh bawa kamu main kesini.”
“Haha, Abel atau Kakaknya nih yang mau aku main kesana?”
“Yaaaa, dua-duanya.” Ia menjawabnya sambil tertawa.
“Iya, boleh, kapan mau jemput?”
“Abis Dzuhur aku kesana, ya? Sampai ketemu nanti.”
“Bye!”
Rasa malas yang menyelimuti hari sabtuku tiba-tiba hilang begitu saja saat Andri mengajakku untuk pergi mengunjungi rumahnya kembali, senang rasanya mendengar bahwa Abel merindukanku. Tanpa bermalas-malasan lagi, aku langsung bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
“Kak, ada Kak Andri.” Teriak Bella sambil menggedor pintu kamarku.
“Tunggu sebentar, lagi pakai sepatu.”
Setelah kedua tali sepatu sudah terikat dengan benar, aku melangkahkan kaki ke luar untuk menemui Andri. Saat berhasil menuruni anak tangga, aku melihat Andri duduk di sofa sedang bermain bersama Cila sambil melipat kertas origami.
“Ndri, mau berangkat sekarang?”
Ia menoleh ke arahku kemudian berdiri menghampiri, kami berpamitan dengan orang rumah dan langsung pergi menuju rumahnya.
“Nanti di depan ada Mini Market, berhenti disana sebentar, ya?” Ucapku saat kami telah berada di tengah-tengah perjalanan
“Oh, iya. Kamu ada keperluan apa? Mau beli sesuatu?”
“Iya, gak apa-apa kan?”
“Gak apa-apa dong.” Ia memarkirkan mobilnya di depan Mini Market ketika kami hendak sampai disana.
“Kamu tunggu disini saja, gak usah ikut turun.”
Ia mengangguk dan membiarkanku masuk ke dalam Mini Market sendiri. Beberapa menit kemudian aku keluar sambil menenteng sekantong pelastik dan bergegas kembali masuk ke dalam mobil.
“Kamu beli cokelat? Jangan bilang ini untuk Abel.” Tanyanya saat aku berhasil masuk ke dalam.
“Memang iya, aku udah janji kalau datang lagi akan bawain dia cokelat.”
“Nyn, lain kali gak usah repot-repot, Abel memang selalu begitu kalau ketemu orang baru.”
“Gak apa-apa, aku juga emang mau bawain sesuatu buat Abel, dan kebetulan aku ingat kalau Abel suka banget sama yang namanya cokelat. Yaudah yuk lanjut, nanti kesorean, lho.”
Andri hanya tersenyum ke arahku sambil mulai menjalankan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
Karena hari weekend, jalanan Jakarta menjadi lebih padat dari hari biasanya, hingga perjalanan menuju rumah Andri pun terasa lebih lama beberapa menit dari perjalanan semestinya.
Hingga akhirnya, tak lama kemudian kami sampai, terlihat Abel telah menunggu di halaman depan bersama Mochi dan Pekerja Rumah Tangganya.
“Kak Arnyyyyynn!!!” Ia berlari ke arahku saat aku membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.
“Abel sayangggg. Abel apa kabarnya?” Aku mengusap poninya yang tersisir dengan rapi.
“Baik, Kak. Kak Arnyn kenapa baru main kesini lagi? Abel kangen tahu sama Kakak.”
“Maaf ya, Sayang. Kakak kemarin-kemarin lagi sibuk kerja. Oh iya, Kak Arnyn punya sesuatu loh untuk Abel.”
“Apa tuh, Kak?” Tanyanya dengan penasaran.
“Taraaaaa!!!” Aku mengeluarkan sebatang cokelat yang kubeli tadi dari dalam tas.
“Wah, cokelaaaat! Kesukaan Abel.” Ucapnya dengan riang.
“Hayo, Abel harus bilang apa sama Kak Arnyn?” Ucap Andri yang baru turun dari mobil menghampiri aku dan Abel.
“Terima kasih, Kak Arnyn.”
“Sama-sama, Sayang.”
Kami berjalan masuk ke dalam dan duduk menuju sofa yang berada di ruang tengah.
“Mama kamu kemana?” Tanyaku sambil melihat-lihat sekitar.
“Biasa. Lagi ada acara arisan, sebentar lagi juga pulang.”
“Assalamualaikum.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucap salam dari arah luar.
“Nah, itu dia. Baru saja Arnyn nanyain Mama.” Ucap Andri saat melihat Tante Jo berjalan masuk menghampiri kami.
“Eh, ada tamu.”
Aku berdiri menghampiri untuk mencium tangannya.
“Kemana saja, Nyn? Baru kelihatan?”
“Iya, kebetulan kemarin-kemarin lagi sibuk sama kerjaan, Tante.”
“Emm gitu, ya sudah, Tante tinggal ke atas dulu ya, mau ganti baju, nih. Dah Abel, jangan nakal ya Sayang.” Tante Jo meninggalkan kami di ruang tengah dan berjalan menuju anak tangga.
Andri terlihat sedang asyik mengunyah beberapa cookies dari dalam toples yang ada di atas meja depan sofa tempat kami duduk, sementara aku bermain bersama Abel dan Mochi sambil melihatnya menyantap cokelat yang kubawa dengan begitu lahapnya.
Abel terlihat lebih ceria dibanding waktu pertama kali aku bertemu dengannya, melihatnya seperti ini, membuatku merasa selalu ingin berada di sampingnya dan mencoba untuk membahagiakannya. Umurnya dan Cila tidak jauh, hanya terpaut satu tahun, bermain bersamanya terasa seperti aku bermain bersama Cilaku.