Dalam tidurnya pun Dipta merasa tidak tenang. Terbayang-bayang akan Tika yang pergi meninggalkannya. “Aku mohon jangan tinggalkan aku, Tik,” igau Dipta. Gelisah. Dipta serasa dihantui setiap tidur. Dihantui akan ucapannya yang telah menyakiti perasaan Tika. “Jangan pergi!” teriak Dipta. Napasnya tersengal-sengal. Dia terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi tubuh. Temperatur AC yang telah diatur pada suhu 27 derajat pun tidak mampu menghalangi keringat yang mengucur pada tubuh Dipta. Dipta mengatur napasnya. Suasana kamar yang gelap membuat Dipta semakin tidak tenang. Dia berjalan untuk menyalakan lampu kamar. Kemudian dia meneguk air dalam botol yang selalu dia siapkan pada nakas di sebelah kasurnya. Dia memilih tidur di kamar lantai satu agar t

