Seperti perjanjian baru yang telah disepakati oleh PT. Sugar Sweet dan Hotel Kejora, maka distributor PT. Sugar Sweet akan mengirimkan brown dan white sugar sore hari nanti. Jadwal pengiriman barang memang selalu dilakukan di sore hari setelah jam kantor selesai. Walaupun terkadang terdapat beberapa distributor produk yang akan mengirimkan barang pada jam kantor.
“Mbak Tika,” ucap seorang pria yang sedang berdiri di dekat kubikel Tika, membuat Tika mengalihkan fokusnya pada lembaran laporan yang sedang dia periksa.
“Ada apa, To?” tanya Tika pada Anto.
“Mohon maaf, mbak. Sore ini saya tidak bisa menemani Mbak Tika untuk menemui distributor dari PT. Sugar Sweet. Malam ini saya akan melangsungkan lamaran ke rumah kekasih saya bersama orang tua, jadi saya harus pulang lebih awal,” ujar Anto tak enak hati. Dia menunduk dalam. Takut jika Tika akan memarahinya. Namun hari ini memang dia dan keluarganya akan berkunjung ke rumah kekasihnya untuk melamar sang pujaan hati.
“Maaf jika terlalu mendadak, mbak. Kondisi calon mertua saya sedang tidak baik-baik saja sehingga kami akan mempercepat pelaksanaan lamaran,” lanjut Anto.
Tika mengangguk paham. Waktu yang ditunjukkan pada layar PC-nya masih pukul 10.17, masih ada waktu untuk mencari staff pengganti Anto yang akan menemaninya menemui distributor PT. Sugar Sweet.
“Kamu urus surat ijin bekerja setengah hari saja, To. Urusan lamaran tidak bisa dikebut hanya dalam beberapa jam saja. Kamu bisa minta ijin pulang saat jam makan siang. Saya tunggu suratnya ya,” jawab Tika. “Dan tolong panggilkan Andin untuk segera menemui saya.”
“Baik, mbak. Terima kasih.” Anto bernapas lega, dia bersyukur karena Tika mengijinkan dirinya tidak menemani Tika nanti sore dan dia lebih lega lagi ketika Tika memberikan ijin padanya untuk bekerja hanya setengah hari. Sang kekasih yang baru memberinya kabar tentang acara lamaran yang harus dimajukan tadi pagi membuat Anto kelabakan.
“Ada apa, mbak?” tanya Andin saat sudah berada tepat di pintu masuk kubikel Tika.
“Anto tidak bisa menemani saya untuk menemui distributor PT. Sugar Sweet, kamu bisa menggantikan Anto?” tanya Tika.
Andin tampak berpikir. Dia mengingat-ingat apakah hari ini ada jadwal mendesak atau tidak. Dia juga mencoba mengingat apakah akan ada pertemuan dengan klien yang bisa menghabiskan waktu hingga melebihi jam pulang kantor.
“Bisa, mbak. Saya juga sedang tidak ada jadwal mendesak apa pun nanti sore,” jawab Andin akhirnya.
Tika tersenyum lega. Tika pun mempersilakan Andin kembali ke kubikelnya setelah mereka sepakat untuk lembur nanti sore demi menemui distributor PT. Sugar Sweet.
Seperti yang sudah direncakan tadi pagi, Tika hari ini harus lembur. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, tapi Tika belum pulang ke kontrakan. Biasanya dia sudah rebahan di atas kasur sambil melihat sosial media, baik untuk melihat story w******p, i********:, melihat feed, video lucu, meme pada i********:, atau pun melihat video trending di youtube. Buang-buang waktu memang, tetapi dia menyukai hal-hal itu. Dia merasa terhibur dengan adanya sosial media yang semakin berkembang. Namun dia juga harus hati-hati jika bermain sosial media, banyak orang yang menyalahgunakan sosial media. Maka dia tidak ingin masuk dalam jajaran netizen yang suka menyalahgunakan sosial media.
Hari ini akan datang stok white sugar dan brown sugar dari PT. Sugar Sweet dengan tiap-tiap jenis gula sebanyak lima ton. Tika sebagai asisten penanggungjawab dari area pembelian untuk PT. Sugar Sweet harus menemani dan memantau barang dari PT. Sugar Sweet. Dia tidak ingin jika barang yang sampai ada kekurangan. Gula yang dikirim harus sesuai dengan kesepakatan yang dibuat. Tanpa ada kekurangan atau pun kelebihan serta kecacatan.
“Andin, distributor dari PT. Sugar Sweet sudah datang?” tanya Tika pada Andin—pegawai area pembelian yang menggantikan kehadiran Anto.
“Baru saja sampai di gudang, mbak. Ayo kita ke sana,” jawab Andin. “Ini saya ke sini soalnya mau bilang ke mbak kalau distributor dari SS sudah datang,” lanjut Andin.
Tika mengangguk paham. Tika dan Andin pun berjalan bersampingan untuk menuju ke gudang tempat menyimpan bahan makanan hotel. Mereka turun ke lantai dasar dengan lift. Dari lantai lima rasanya tidak mungkin mereka menggunakan tangga untuk turun, apalagi dengan sepatu yang tingginya mencapai tujuh centi meter. Mereka tidak ingin menyakiti kaki mereka dengan sepatu fantofel mereka.
“Sudah semua ya, pak?” tanya Andin kepada pihak distributor.
“Sudah, mbak. Kami timbang dulu ya,” jawab penanggungjawab distributor pihak SS sambil mengarahkan anak buahnya untuk membawa gula ke area penimbangan.
“Sudah pas ya, mbak,” ucap distributor sambil menunjukkan angka yang tertera pada timbangan besar.
Tika dan Andin pun membubuhkan tanda tangan pada surat penerimaan barang. Tika mengangguk puas. Ah, akhirnya hari ini selesai juga setelah drama yang terjadi dengan PT. Sugar Sweet. Dia sudah sangat ingin mandi dan istirahat lebih awal karena tubuhnya sangat lelah, terutama kakinya. Mandi air hangat sepertinya mampu membuat lelah pada tubuhnya menghilang.
Tika dan Andin mengucapkan terima kasih kepada pihak SS yang selalu memberikan pelayanan terbaik. Tidak pernah ingkar janji dengan jam pengiriman yang selalu sesuai dengan jadwal janji.
Tika dan Andin kembali ke lantai lima untuk mengambil tas kerja. “Tahu gitu tadi sekalian bawa tas ya, mbak,” ucap Andin saat melihat wajah Tika yang sudah tampak lelah.
“Kalau sekalian bawa tas ya rugi dong kita lembur, Ndin. Hotel ini kayaknya harus dikembangkan lagi fasilitasnya agar finger print untuk semua karyawan bisa diletakkan di lobi, deh. Kalau kayak ginikan kita ribet harus naik turun cuma buat absen aja,” jawab Tika dengan sedikit mencurahkan isi hati.
“Bener itu, mbak. Tapi ya mau gimana lagi, disyukuri saja,” jawab Andin sambil terkekeh. “Aku sih bersyukur banget lulus SMA perhotelan langsung bisa kerja di sini, mbak. Banyak temen-temenku yang pingin kerja di sini, mbak. Inikan hotel terbaik. Dan orang tuaku juga ikut seneng banget mbak waktu tahu aku lolos buat kerja di sini,” curhat Andin dengan senyum bahagianya. Binar matanya menunjukkan betapa dia sangat senang.
“Bener itu, Ndin. Makanya kamu harus bener-bener rajin kerja di sini. Yang semangat. Ya kadang memang capek, tapi kita harus semangat. Biar bisa cepet kaya,” jawab Tika sambil tertawa senang.
Andin pun ikut tertawa dan menyetujui ucapan Tika. Mereka masih terus membahas tentang uang. Uang yang cepat habis ketika awal bulan dan akan kebingungan jika di akhir bulan uang mulai menipis.
“Mbak, aku ke kubikelku dulu ya. Nanti mau turun bareng lagi?” tanya Andin. Kubikel Andin terdapat pada bagian yang lebih dalam dari ruangan divisi purchasing, sedangkan kubikel Tika terletak pada sebelah pintu dan tepat bersebelahan dengan ruangan kepala divisi purchasing.
“Kamu duluan saja, Ndin. Aku mau cuci muka sebentar di toilet. Aku gak mau nabrak di jalan karena ngantuk,” kekeh Tika.
“Oke deh, mbak. Hati-hati di jalan ya nanti.”
Andin pun masuk lebih ke dalam ruangan. Tika mengecek beberapa barang yang ada di dalam tasnya. Dirasa tidak ada barang yang tertinggal di mejanya, dia mematikan lampu meja yang terdapat pada kubikelnya dan segera keluar dari ruangan. Tika berjalan ke arah ujung lorong. Toilet untuk pegawai hotel memang diletakkan di ujung lorong.
Tika merasa lebih segar setelah mencuci wajahnya. Dia sudah tidak sabar untuk segera sampai di kontrakan. Tika kembali berjalan di lorong lantai lima. Dia sudah terbiasa lembur dan dia juga sudah terbiasa dengan kondisi sepi lantai lima ketika dia lembur. Jika menuju malam seperti ini lampu lorong nampak remang-remang karena cahaya lampu yang berwarna kuning.
Tika berjalan dengan tenang menuju ke arah lift. Beberapa langkah lagi kakinya akan mencapai lift, tetapi Tika tidak menduga saat tiba-tiba ada orang yang menarik tubuhnya hingga punggungnya menabrak dinding lorong. Tika meringis karena benturan pada punggungnya. Tika berusaha melepaskan orang yang tiba-tiba saja menarik tubuhnya itu.
Tika semakin terkejut saat melihat kepala divisi purchasing—Pak Yanuar yang menekan tubuhnya ke dinding. Tika ketakutan. Dia berusaha melepaskan diri dari kungkungan bosnya.
“Kenapa, Tik? Kenapa wajah kamu tampak takut?” tanya bosnya dengan tenang dan menampakkan seringai tajam. “Bukankah kamu selama ini sering menjadi pengganggu di hubungan orang lain. Pasti kamu sudah sering diapa-apakan kan sama mereka?” ucap pria itu dengan tangan yang berusaha membelai pipi Tika yang halus.
Tika menepis tangan pria itu. Dia berusaha melepaskan diri. Dia ingin berteriak tapi sulit rasanya, suaranya seperti tertelan dan tak bisa dikeluarkan. Tika berusaha memalingkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, tampaknya tidak ada orang lain selain dirinya dan Pak Yanuar. Andin juga sepertinya sudah turun.
Tika sudah putus asa. Dia ketakutan. Dia berusaha memalingkan wajahnya saat bibir bosnya mendekati wajahnya. Tika menangis. Dia semakin ketakutan. Dia menyesal karena dia tidak meminta Andin untuk menungguinya. Dan yang lebih membuatnya takut adalah bagaimana bisa Pak Yanuar tahu tabiatnya selama ini, w*************a hubungan orang lain.
“Kenapa kamu tidak mau saya cium? Bibir kamu pasti sudah sering dicicipi oleh laki-laki yang kamu dekati, bukan?” ucap pria itu dengan membelai bibir Tika yang sudah nampak sedikit pucat karena lipstiknya yang mulai luntur dan rasa takut yang menguasai dirinya.
Tika jijik dengan kelakukan bosnya. “Kenapa kamu menolak saya? Saya kurang apa, hah?” ucap bosnya dengan suara yang lebih tinggi dan marah. Tangan sang bos mencekal rahang Tika hingga pipi. Cekalan yang kuat membuat pipi dan rahangnya terasa sakit. Wajah Tika sudah pucat pasi. Air mata pun menetes dengan lancarnya pada pipi Tika.
Bosnya itu kemudian memegang kepala Tika kuat agar bisa mencium bibir Tika dan Tika tidak bisa menghindarinya lagi. Jarak wajah sang bos hanya tinggal beberapa centi saja. Tika sudah pasrah. Tidak pernah selama ini dia dilecehkan. Tika sadar bahwa risiko menjadi pengganggu hubungan orang lain akan dicap murahan. Namun tidak pernah dia sekali pun mau untuk disentuh. Dia hanya akan menghancurkan hubungan orang lain, lalu dia pergi begitu saja.
Sudah tidak ada rasa puas sebenarnya ketika dia telah berhasil menghancurkan hubungan orang lain. Hal itu membuatnya beberapa bulan ini sudah tidak memiliki target untuk mengganggu hubungan orang lain. Namun naas, malah dia yang akan dihancurkan oleh orang lain saat ini.
Jarak bibir sang bos dengan Tika hanya berjarak lima centi meter saat ini. Jantung Tika semakin berdebar. Bibir yang dia jaga selama hidupnya ini akan segera dilecehkan oleh orang yang paling dia hormati di kantornya. Wajah m***m dan marah sang bos semakin dekat. Wajah Tika sudah seperti mayat hidup. Putih dan pucat pasi.
Tika memejamkan matanya ketakutan. Air mata terus menetes semakin deras. Namun baru saja Tika akan menangis meraung, ternyata bibirnya tidak tersentuh oleh apa pun. Dia berusaha membuka matanya perlahan. Dia melihat sang bos dihajar habis-habisan oleh seorang pria. Tika tidak tahu siapa pria itu karena hanya tampak bagian belakang tubuhnya saja. Jujur saja dia lega, tapi rasa takut dalam dirinya masih menggelora.
Pria itu seakan sudah puas menghajar bosnya karena sang bos sudah terlihat tak berdaya. Wajah yang biasanya selalu dia hormati, malam ini begitu menyeramkan baginya. Menjijikkan. Wajah itu juga sudah berdarah dan lebam pada beberapa bagian.
Pria penyelamat itu menoleh ke arah Tika yang sudah terduduk di lantai lorong. Tika menelungkupkan wajahnya di atas pahanya. Dia menangis sesenggukan dan gemetar. Rasa takut masih menghantui. Dirinya tidak tenang.
“Mbak Tika, mbak sudah aman,” ucap pria itu dengan suaranya yang dalam menenangkan. Pria itu berjongkok di hadapan Tika, berjarak. Sebenarnya ingin rasanya dia menyentuh Tika, tapi melihat tubuh Tika yang bergetar ketakutan membuatnya mengurungkan niat itu.
“Mbak, Mbak Tika sudah aman sama saya,” ujar pria itu kalem. Dia berusaha meredam amarahnya yang masih bergejolak dalam diri. Tangannya terkepal erat di samping tubuhnya.
Beruntungnya tadi dia melamun dan malah menuju ke lantai lima dari pada ke lantai tiga, tempat ball room hotel yang mengadakan acara ulang tahun koleganya. Jika dia tidak sampai di lantai ini mungkin Tika sudah dilecehkan oleh pria yang baru saja dia hajar.
Tika berusaha mendongakkan kepalanya pelan. Dia terkejut saat melihat Dipta—laki-laki yang beberapa hari lalu dia cemooh habis-habisan karena sempat membuat kesalahan dan kecerobohan.
“Pak…. Dipta,” ujar Tika pelan dan terbata. Wajah Tika masih pucat, tapi tidak separah tadi saat dia hampir dilecehkan.
“Iya, ini saya. Kamu sudah aman. Ayo kita pulang,” ucap Dipta ringan. Dipta berdiri di hadapan Tika yang masih berjongkok. Tika memandang Dipta dari bawah. Dipta tampak rapi dan tampan dengan tuxedo dan celana kain yang pas di tubuhnya. Rambut yang diberikan gel semakin membuat tatanan rambutnya menjadi lebih rapi dan tampak berkilau tertimpa cahaya lampu lorong.
Dipta mengulurkan tangan ke arah Tika. Tika melongo dan tidak mengerti maksud dari uluran tangan Dipta. Dipta yang melihat itu tampak menahan senyum, wajahnya masih dingin seperti biasa. Dia tidak mungkin tertawa dalam kondisi seperti ini. Tika pasti marah karena menertawakan Tika. Tika belum sepenuhnya pulih dari rasa takutnya.
“Ayo berdiri. Kamu gak mau pulang?” tanya Dipta lagi. Kemudian dia menoleh ke arah bos Tika yang tampak kesusahan untuk berdiri. Tika pun ikut menoleh ke arah pandangan Dipta. Tubuhnya kembali bergetar. Takut dan jijik bercampur menjadi satu.
Akhirnya dia menerima uluran tangan Dipta, meskipun masih ada ragu dalam hatinya. Dia takut jika Dipta akan berbuat yang tidak-tidak padanya saat di dalam lift nanti.