Usai jam kuliahberakhir, jadilah Trevor membelikan hadiah untuk Anrietta. Agar tidak begitu kentara, ia juga memesan roti black forest untuk Hernandez, Leon, dan kedua orang tuanya. Mereka senang karena Tuan Muda membelikan makanan mahal tersebut. Padahal, sedang tidak ada misi yang berhasil mereka tuntaskan. Aneh saja. Kalau memang baru menyelesaikan misi sih, wajar bila mendapat hadiah seperti ini.
Saat Trevor membayar pesanan, netra Hernandez menatap curiga pada pengemudi motor yang akan menghampiri Anrietta. Setelah ia perhatikan dengan seksama, lelaki tersebut membawa pisau tajam. Sontak, ia pun mengeluarkan pistol.
Karena Hernandez tidak pandai menembak, pelurunya mengenai lantai. An terkejut dan menghindari lelaki berjaket hitam. Saat merogoh saku, gadis tersebut sadar bahwa ia meninggalkan pistolnya di mobil.
Mau tidak mau, dia pun berlari tanpa tujuan yang jelas. Hernandez ikut mengejar, sementara Leon diminta untuk mengamankan Tuan Muda. Jadilah mereka terpecah dalam dua fraksi.
Begitu mendapat kabar, Trevor naik pitam. Ia meminta kiriman bantuan, barangkali penyerang tersebut memiliki komplotan tersembunyi, tidak beraksi sendiri. Setelah itu, barulah keduanya mengejar arah pergi Anrietta.
"Siapa dia? Kenapa mengejarku? Bagaimana dengan Tuan Muda Trevor?" risau gadis yang masih berlari di kerumunan.
Saat melintas di toko pertanian, ia mendapat ide dan segera masuk. Pengejar berjaket hitam mengetahuinya dan segera berbelok. Kedatangannya disambut sebuah garpu taman yang melayang di udara.
Lelaki tersebut berkelit. Anrietta yang bersenjatakan sekop pun tersenyum mengejek. Dilemparkannya sekantung pupuk kandang yang baunya menyengat.
Pengejar bermasker hitam mencoba menghindar. Saat itu pula An mendekat, memukul punggungnya dengan sekop yang masih baru. Lelaki tersebut mengaduh dan mencoba menyerang balik.
An berputar dan menghadiahkan sebuah tendangan. Gerakan pivot yang dipelajari semasa SMP ternyata berguna dalam pertarungan ini. Tendangannya mengenai pinggang kanan pria berjaket hitam.
(Note: Pivot adalah gerakan berputar seraya menekuk sebelah kaki. Dalam pertarungan tersebut, An melakukan pivot terlebih dahulu, baru menendangkan kaki kirinya.)
Untuk memastikan kekalahan musuhnya, Anrietta memukulkan gagang sekop di alat vital milik pria berjaket hitam. Serangan yang tidak disangka-sangka itu pun membuatnya jatuh terduduk. Rintihan kesakitan terdengar di telinga gadis berkemeja putih, tapi ia tidak menaruh belas kasihan sedikit pun.
"Siapa yang membayarmu?" tanya Anrietta garang sembari menginjak d**a pemuda berjaket hitam.
Mulanya, penyerang itu bungkam. Namun, setelah An mendekatkan ujung sekop yang lancip ke leher, dia berubah pikiran. Lelaki berjaket hitam mengaku menerima perintah dari Black Agent.
"Pintar sedikit kalau cari pekerjaan," sindir Anrietta Davine.
"Ha-habisnya bayaranku besar," jawab lelaki yang masih merasakan sakit luar biasa.
Hernandez yang terlambat datang pun mengacungkan jempol pada gadis berkemeja putih. An hanya tersenyum, membiarkan pengawal itu memborgol lelaki berjaket hitam.
"Apa kau punya uang? Aku ingin membeli sekop ini," ucapnya pada Hernandez.
Lelaki kekar berbaju biru tua pun memberikan selembar uang merah. Anrietta menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. Berucap pelan seraya berlari memasuki toko, “Thanks.”
"Mana Anrietta?" tanya Trevor yang baru saja sampai.
Hernandez menatap ke arah toko bangunan."Dia baik-baik saja, Tuan.”
"Baguslah. Aku bisa dicincang Mama kalau dia kenapa-napa," ucapnya sembari menghadiahkan sebuah bogem mentah. Penyerang tersebut langsung pingsan, menyisakan kengerian di benak Leon dan Hernandez.
Mama Trevor yang mendengar kejadian itu pun langsung memanggil An dan putranya. Beliau sangat khawatir bila mereka terluka.
"Aku baik-baik saja Ma, sungguh. Trevor melindungiku sampai akhir. Rasanya, aku ini pengawal yang tidak berguna," bohong Anrietta demi menyelamatkan diri dari masalah.
Celine Logdawn bernapas lega. Dia senang karena Trevor membuktikan ucapannya. Sepertinya, putra semata wayangnya mulai bisa diandalkan.
"Beristirahatlah. Aku yakin kalian lelah. Papa akan mengurusnya," saran wanita cantik tersebut.
"Baik, Ma," sahut keduanya serempak. Kemudian, pamit undur diri.
***
Di depan kamar, Lei sudah menunggu kedatangan An. Seperti biasa, lelaki tersebut memberi selamat dan semangat pada gadis berkemeja putih. An menanggapinya dengan senyuman bahagia.
"Oh ya, ada kiriman untukmu. Nikmatilah," ujar Lei sebelum pergi.
Alis Anrietta pun bertaut. Kiriman apa yang dimaksud lelaki berkaus putih? Siapa pula yang memberinya hadiah?
Nampaklah sekotak kue black forest yang tadi dibawa Trevor. Ia terkekeh setelah membaca kartu ucapan yang ada di dekat kue.
Pertahankan aktingmu! Kalau kau membocorkannya pada Mama atau Alice, kepalamu jaminannya.
"Sudah lama aku tidak melihat tulisan tanganmu," desis gadis berkemeja putih seraya mengusapnya dengan lembut, lalu menyimpannya dalam laci.
***
Keesokan harinya, suara pintu yang diketuk membuat An terburu-buru memakai pakaian. Gadis tersebut baru saja mandi dan penampilannya masih berantakan.
"Tuan? Ada apa?" tanya Anrietta setelah melihat sosok yang mengetuk pintu.
"Dasar siput! Membuka pintu saja lamanya setengah abad!" omel Trevor untuk mengawali pagi hari yang dingin ini.
"Maaf, Tuan. Saya baru saja mandi," sesalnya.
Trevor mendengus, lalu memberitahu bahwa ayahnya meminta mereka datang ke ruangan beliau. Tuan Muda menduga kalau permintaan ini ada hubungannya dengan penyerang berjaket hitam.
Anrietta tidak bisa menolak dan mengikuti langkah kaki Trevor menuju kediaman utama Logdawn. Sapuan kenangan membelainya lembut, terbayang olehnya Trevor kecil yang bermain sepak bola di bawah pohon kenari. Dia sungguh jujur dan menggemaskan.
Ide nakal muncul di kepala Trevor yang menyadari bahwa Anrietta berjalan sambil melamun. Ia sengaja berhenti mendadak. Gadis yang tidak mengetahuinya pun menabrak Trevor. Akibatnya, ponsel milik lelaki tersebut terlempar ke depan.
Trevor berkacak pinggang, memasang wajah marah pada Anrietta yang ketakutan setengah mati. Dia meraih ponsel yang sempat terbanting akibat ulahnya sendiri.
"Jalan tuh yang benar, fokus! Apa kau mau mengganti ponselku?" ujarnya pelan. Jujur, Trevor takut kalau Papa atau Mamanya menguping dari suatu tempat.
"Ma-maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," cicit gadis tersebut.
Mengancam sembari kembali berjalan. "Dari dulu kau itu nggak becus melakukan apa pun. Semuanya jadi berantakan. Awas kalau kau mengacau lagi!"
Setelah sampai, Trevor memberi salam untuk ayahnya. Beliau menyunggingkan senyum, membuat Trevor dan Anrietta bertukar pandang. Jarang sekali bisa melihat lelaki tersebut tersenyum tanpa adanya tekanan bisnis.
"Papa lihat, kau memainkan trik lucu di luar sana," ujarnya, membuat Trevor gelagapan.
Christopher Logdawn terkekeh karena dugaannya benar. Sementara itu, An garuk-garuk kepala sebab tidak mengerti apa pun.
"Sulit mendapatkan informasi mengenai Black Agent. Papa mau kalian menyusup ke sana," titah beliau dengan nada tegas. Mengesampingkan lelucon Trevor yang tadi sempat membuat Anrietta ketakutan.
"Hanya kami berdua?" tanya An dengan netra melebar.
Bukannya takut atau apa, tapi khawatir bila Trevor menyuruhnya berangkat seorang diri. Dahulu, lelaki tersebut malah pergi makan saat An berjibaku dengan maut.
"Pergilah ke halaman belakang. Papa sudah menyiapkan teman untuk kalian," kata beliau tanpa memberitahu identitas orang tersebut.
Christopher Logdawn sengaja melakukannya. Dia ingin Anrietta dan Trevor bertanya-tanya mengenai siapa yang akan menemani mereka menyusup ke markas Black Agent.