Menanggapi kode dari Christopher Logdawn –yang lebih tepat dikatakan sebagai perintah, Trevor pun pamit undur diri. Kepergiannya disusul Anrietta. Mengekor lelaki itu menuju halaman belakang kediaman.
Suasana terasa begitu sepi. Penjaga masih berada di posnya masing-masing. Tidak melakukan patroli keamanan karena jadwalnya belum tiba. Tak beberapa lama, keheningan itu terpecahkan oleh sebuah suara.
"Nyusahin orang aja. Apa sih, yang buat kamu dimusuhin orang? Sampai kita harus bertaruh nyawa di markas Black Agent?" gerutu Trevor ketika menyusuri lorong.
Anrietta terdiam. Gadis itu hanya bisa mengucapkan permohonan maaf. Tak dapat berkata-kata lagi.
Di dalam hati, hanya ada satu hal yang dapat dipikirkan oleh Anrietta. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Alice? Gadis cantik itu pasti cemburu melihat interaksi dirinya dengan Trevor di kantin. Salah Tuan Muda juga sih, sebenarnya. Mengumpankan An pada singa yang kelaparan.
Trevor mendengus kesal. Memutar bola mata, lantas menarik tangan gadis cantik itu. Sehingga tubuhnya terhuyung ke samping kiri.
Taka ayal, Anrietta refleks melayangkan tinju. Namun sebelum mendarat di pipi Trevor, dia terlebih dahulu menahan laju bogem mentahnya. Untung masih bisa direm.
"Ma-maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Anrietta begitu menyadari kesalahannya.
Trevor murka. "Punya mata nggak, sih? Tuanmu sendiri mau dihantam. Kamu mau kujadiin geprek, hah?!"
Anrietta menundukkan kepala. Sungguh takut bila mendapat ancaman seperti itu. Mau sampai kapan pun, hatinya tak akan pernah kuat menghadapi perkataan pedas Trevor. Dan lagi, cengkeraman lelaki itu mengencang. Semakin menambah penderitaan Anrietta.
"Lama-lama, kugeprek juga, kamu!" ancam Trevor sembari memelototkan mata.
Anrietta diam di tempat dengan kelopak mata yang memejam sempurna. Sudah menjadi kebiasaan baginya ketika terkena marah Trevor.
Lelaki itu sedikit terpesona dengan wajah imut Anrietta. Kecantikannya semakin terpancar saat memejamkan mata. Sungguh menyenangkan melihat Anrietta tak berkutik karenanya. Trevor merasa berkuasa.
"Percepat jalanmu! Aku nggak mau, orang suruhan Papa bosan nunggu gara-gara kamu," ucap Trevor sembari melepaskan cekalan tangannya.
Derap pantofel kembali menghiasi telinga Anrietta Davine. Sedangkan gadis itu sedang diam di tengah lorong sambil memijit lengan yang sakit. Trevor mencekal tangannya tidak kira-kira. Bodyguard sendiri, disamakan dengan kaleng minuman yang dapat dipenyokkan setelah isinya habis.
"Tapi yang aneh, saya tetap mencintai Anda, Tuan," batin Anrietta. Di saat kesakitan seperti ini pun, dia masih sempat membucin.
Tidak merasakan tanda-tanda langkah Anrietta, Trevor berbalik. Memandang pengawal utamanya yang sedang senyam-senyum sambil memijit lengan.
"Apa yang gadis itu pikirkan? Mana mungkin, dia menikmati rasa sakit yang kuberikan," batin Trevor dari tempatnya. Tak habis pikir dengan tingkah Anrietta.
"Hoi! Kau itu kusuruh jalan, bukan diam seperti patung!" bentak Trevor.
An terkesiap. Pandangan gadis itu langsung mengarah pada Tuannya yang berkacak pinggang dengan jarak sepuluh ubin di depan. Marah agaknya.
"Ma-maaf, Tuan," sahut Anrietta sembari berlari.
Trevor menghela napas panjang. Lama-kelamaan, wajahnya cepat menua karena selalu memarahi Anrietta. Kebetulan, selalu ada saja hal yang membuat Trevor gemas, sehingga emosinya membludak tak terkendali.
Anrietta tak berani menengadahkan wajah atau sekedar menatap lurus ke depan. Alasannya sederhana, takut kena tampar Trevor. Kebetulan, gadis itu sedang dalam mode malas menerima hukuman.
Setelah pengawal utamanya itu cukup dekat, Trevor pun berbalik. Jantungnya nyaris copot saat melihat seorang perempuan cantik yang berdiri beberapa meter dari arahnya. Sedang menampilkan sebuah senyuman, tapi akan lebih cocok bila disebut seringai.
"Pemarah, seperti yang dikatakan di daftar," ujar gadis berambut kuning itu tanpa ada keraguan sedikit pun.
Trevor naik pitam. Perempuan mana yang berani bersikap kurang ajar seperti dia? Didikan mana, sih?
"Daftar apa, heh?! Lagipula, aku nggak pemarah," semprot Trevor kemudian.
Gadis itu terkikik geli. Apa lelaki di hadapannya ini sedang membual? Sudah jelas kalau dia melihatnya memarahi Anrietta. Malah mencoba berkelit.
Menunjukkan sebuah notes bersampul biru dari balik rok ginghamnya. Di cover depan, tertulis sebuah nama yang cukup singkat karena terdiri dari satu kata, Cornelia. Ditulis menggunakan tinta hitam sehingga terlihat sangat kontras dengan background putih bersih.
"Dapat dari agen, dong," sombongnya seraya mengibaskan rambut bagaikan bintang iklan shampoo.
Trevor menghadiahinya tatapan setajam elang mencari mangsa. Siapa sih, gadis kurang ajar ini? Seolah sedang menantangnya untuk bertarung.
Anrietta takut kalau terjadi perkelahian di pagi hari yang cerah ini. Kelasnya agak siang, sih. Tapi sayang kalau diwarnai pertengkaran terlebih dahulu.
"Apa Anda adalah orang yang harus kami temui?" tanya gadis cantik itu dari belakang punggung Trevor.
Berbalik sembari menjitak dahi Anrietta. "Nggak usah ikut campur, An!"
"Ma-maaf, Tuan," sahut pengawal pribadinya sembari menundukkan kepala.
Cornelia mendengus kesal. "Ya. Aku orang yang dikirimkan Tuan Christopher Logdawn untuk mengusut kasus p*********n Anrietta Davine."
"Oh. Senang bertemu denganmu. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik," harap Trevor sembari menggulung lengan kemejanya.
Bola mata Anrietta nyaris copot karena tingkah Trevor. Bukankah tadi lelaki itu marah-marah pada Cornelia? Mengapa sekarang melunak?
Gadis dengan rok gingham itu menyodorkan sebuah dokumen pada Trevor. "Tolong dibaca dengan cermat. Kita akan berangkat pukul tujuh malam," pesannya, lalu melangkahkan kaki untuk pergi dari sini.
Anrietta memandang sosoknya yang begitu lincah. Dia cantik dan menawan. Sudah begitu, tidak dimusuhi oleh Trevor.
"Kenapa hatiku rasanya sakit, ya?" batin gadis itu.
Sedetik kemudian, An menjerit sembari memegang kepala. Menatap takut ke arah Trevor yang baru saja memukulnya menggunakan dokumen milik Cornelia. Jahat sekali sih, jadi cowok.
"Buang ini ke tempat sampah," pinta Trevor sembari melemparkan dokumen pada Anrietta.
Gadis itu buru-buru menangkapnya. "Tapi Tuan, kita harusnya mem—"
"Buang!" sentak Trevor garang sembari melayangkan tamparan. Memelototkan mata sebelum melanjutkan ceramahnya, "Aku ini Tuanmu. Jadi, patuhi perintahku! Kalau tidak suka, tinggalkan saja kediaman Logdawn!"
Anrietta bergetar ketika tangan lelaki tampan itu mendarat sempurna di pipi. Rasa sakitnya sungguh terasa. Menembus sampai ke hati.
"Baik, Tuan. Maaf," balas gadis tersebut sembari berbalik badan.
Air matanya jatuh perlahan. Seperti biasa, An menangis setelah dikasari oleh Trevor. Berulangkali pula, lelaki itu menyakitinya.
Lei yang tidak sengaja melihat An lewat dengan deraian air mata pun mendekat. Tanpa perlu bertanya, dia mengusap bulir kesedihan di pipi.
"Resign aja kenapa, sih?" omel Lei yang kesal.
Bukan kali ini saja dia memergoki Anrietta yang menangis karena ulah Tuannya. Lei jadi sebal. Andai dia memiliki kedudukan, pasti akan membawa Anrietta keluar dari kungkungan Trevor. Sayang, Lei hanya pengawal kediaman kepercayaan Celine Logdawn. Tidak bisa berbuat banyak.
Gadis cantik itu memaksakan diri untuk tersenyum walau hatinya sungguh pedih. "Kalau nggak di sini, An harus ke mana?"