Skak mat. Lei tidak bisa menjawab apa pun lagi. Dibiarkannya Anrietta berjalan ke asrama. Menyimpan guratan kesedihan untuk dirinya sendiri.
Lei menghela napas. Dia ingat benar ketika Anrietta datang ke mari. Hari-hari masa kecilnya bersama Trevor sungguh menyenangkan.
Keberadaan Trevor menjadi hiburan tersendiri bagi Anrietta kecil yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Terlebih gadis itu harus mengikuti latihan. Trevor seolah menjadi penghilang lelahnya.
Ketika beranjak dewasa, sikap Trevor berubah. Tak hanya dingin terhadap perempuan, tapi juga mulai berlaku kasar terhadap Anrietta. Satu-satunya kaum hawa yang selalu kena omel, ya cuma dia.
"Semoga suatu saat nanti, ada seseorang berkedudukan tinggi yang membawamu pergi dari sini. Lelaki yang menjagamu sepenuh hati. Seperti halnya seperti kau mempertaruhkan nyawa demi melindungi Trevor," harap Lei disertai bisikan angin pagi hari.
***
Trevor mengulurkan tangan. Menyiapkan volume suara yang pas untuk memburu-burui Anrietta. Sebab, sudah hampir waktunya untuk berangkat.
Begitu akan mengetuk, pintu terbuka sempurna. Anrietta tidak menyadari keberadaan Trevor karena sedang menghapal bahan ujian besok pagi. Dengan santai, dia menutup pintu. Kemudian, membalikkan badan.
Tak ayal, Anrietta menabrak tubuh kekar Trevor. Lelaki itu tidak sempat menyingkir karena bengong melihat pengawalnya sangat sibuk hingga lupa daratan.
Memijit hidungnya yang sakit sembari mendongak. Gadis itu menelan saliva ketika melihat wajah Trevor. Dari jarak sedekat ini, memang terlihat lebih tampan. Tapi tetap saja menyeramkan.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ujar An sembari menundukkan kepala. Dia bahkan repot-repot mundur satu langkah.
Trevor tidak merespon. Memilih untuk melenggang pergi. Cornelia pasti sudah menunggu.
Kesal karena permintaan maafnya tidak digubris, Anrietta mengomel di dalam hati. Tapi, dia juga tidak menampik kalau insiden tadi membuat jantungnya berpesta. Merasa sedikit lebih dekat dengan lelaki itu dibandingkan hari-hari biasa.
Selangkah demi selangkah, dia akhirnya dapat mengejar ketertinggalannya. Menemukan Trevor yang bersandar di pintu mobil sembari memainkan ponsel. Sementara Cornelia sudah ada di dalam.
"Dasar siput! Duduk di depan sana!" perintah Trevor sembari memasukkan ponsel dalam saku.
Anrietta mengangguk patuh. Dia segera melakukan perintah Trevor tanpa membantah sedikit pun juga.
Begitu An selesai memakai sabuk pengaman, Cornelia mulai melajukan mobilnya. Roda kendaraan itu pun bergulir menjauhi kediaman. Memecah kesunyian malam hari.
Menurut informasi, markas Black Agent terletak di pinggiran kota. Berkedok sebuah bar. Tempat itu cukup terkenal di kalangan karyawan.
"Sepi sekali. Apa mereka tahu kalau kita akan datang?" tanya Anrietta selagi memindai keadaan.
Cornelia membalas, "Tidak mungkin. Lagipula, aku sengaja lewat jalan kecil. Wajar kalau sepi begini."
"Gitu aja nggak ngerti," timpal Trevor Logdawn sembari mendengus kesal.
Tak berapa lama, Cornelia memarkir mobil di dekat penampungan sampah. Baunya cukup menyengat. Namun, tak sampai menyurutkan semangat.
Ketiganya mengendap-endap di sebuah gang sempit. Memasuki bagian belakang sebuah klub malam yang minim penjagaan.
Cornelia memandu dua rekannya ke gudang yang terlihat tidak terawat. Sesekali, mengamati keadaan sekitar. Barangkali ada karyawan yang menaruh kecurigaan.
Menyodorkan masker putih untuk Trevor dan Anrietta. Lalu, membuka pintu yang tidak terkunci. Penjagaan di sini memang lemah. Bahkan mungkin, sudah terlupakan.
Anrietta batuk karena terlalu banyak menghirup debu. Apa tempat ini tidak pernah dibersihkan? Kotor sekali.
Gadis berambut pirang membuka jalan rahasia. Tersembunyi di balik dinding gudang. Mengarah ke bawah tanah.
Ketiganya berjalan pelan-pelan. Terdapat banyak sarang laba-laba bergelantungan di antara dinding. Sesekali, Anrietta berjengit ngeri ketika hewan berkaki delapan tersebut akan menghampiri.
"Penakut," ejek Trevor sembari menoleh ke arah belakang.
Meskipun demikian, perjalanan mereka sangat lancar. Hingga akhirnya tiba di sebuah jalan buntu. Trevor dan Anrietta mulai menaruh curiga ke Cornelia. Apa gadis itu sebenarnya anggota Black Agent yang menyamar?
Tanpa peduli dengan tatapan penuh kewaspadaan dari Trevor dan Anrietta, Cornelia menyalakan lilin yang menempel di dinding. Membuat sebuah pedang tajam menyembul dari dalam tembok.
"Aku datang kemarin malam. Kalian harusnya sadar kalau jaring laba-labanya rusak di beberapa tempat," beritahu gadis tersebut.
Trevor tidak menurunkan kewaspadaan sedikit pun. Dia bertanya, "Selanjutnya, apa yang akan kita lakukan?"
"Meruntuhkan dinding rapuh ini," balas Cornelia seraya menyentuhkan sarung pedangnya di tembok yang dimaksud.
"Serius?" tanya An memastikan.
Dengan optimis, Cornelia menyahut, "Yap. Sepuluh menit lagi, kekuatan musuh berkurang. Itu kesempatan emas bagi kita untuk menyerbu."
"Ada rencana B?" tanya Trevor yang biasanya penuh persiapan.
"Tempat ini dikelilingi rekan-rekanku. Seandainya terjadi masalah, mereka akan menanganinya," ujar gadis bersurai biru seraya bersandar di tembok.
"Kupikir hanya kita bertiga yang tahu rencana ini," sanggah Trevor.
"Apa kau pikir aku akan mengkhianatimu? Menyerang balik padamu? Lupakanlah! Aku tidak berminat mengusik keluarga baik sepertimu," debatnya lantas memejamkan mata.
Cornelia tidak mengantuk, hanya ingin menghindari adu mulut dengan Tuan Muda Logdawn. Malas berurusan dengan lelaki bermuka dua itu.
Trevor diam, memilih duduk di tempat berdebu tersebut. An mengikuti, tapi ia merasa tidak nyaman karena celananya jadi kotor. Ia mengibaskan debunya beberapa kali, membuat gadis berambut pirang membuka mata jingganya.
"Pfft. Ternyata kau pilih-pilih juga. Gunakan ini sebagai alas dudukmu," ujar Cornelia sembari menyodorkan jubah hitamnya untuk Anrietta.
"Eh, tapi—"
"Pakai!" paksanya, membuat An mengambil jubah tersebut.
"Serasa dikelilingi diktator, ih," batin Anrietta kesal. Namun ia bersyukur ada orang sebaik Cornelia.
Lima menit kemudian, Cornelia terlonjak kaget. Trevor dan An pun mendelik, lantas mendengarkan suara yang memancing debaran jantung mereka. Tepat di balik tembok, seorang lelaki dan perempuan bergelut manis. Bujuk rayu setan sudah mengalir di setiap sendi tubuh keduanya.
"Rencana B, rencana B!" komando Cornelia melalui jam digital yang berfungsi sebagai alat komunikasi.
Trevor dan Anrietta menatap heran pada gadis berambut panjang tersebut. Bukankah artinya mereka akan melihat dua orang yang sedang b******a?
"Apa kalian pernah melihat manusia dalam keadaan tanpa busana?" tanya Cornelia ketika melihat keraguan di netra keduanya. Mereka menggeleng serempak, membuat perempuan tersebut mendengus.
"Oke, jangan ikuti aku sampai aku menutupi mayat mereka. Paham?" titah gadis itu. Usulnya pun segera disetujui dan Trevor menggandeng An menjauh dari tempat tersebut.
Layaknya orang kesetanan, Cornelia mengambil ancang-ancang dan menendang tembok rapuh tersebut. Tanpa memberi jeda, ia menembak keduanya dengan pistol. Darah pun merembes di balik puing dinding. Ia mengambil jubah yang sempat diduduki Anrietta, lalu menaruhnya di atas jasad wanita tanpa busana.
"All clear," beritahunya, membuat An dan Trevor keluar dari tempat persembunyian.
***
Bagaimana cara membedakan kawan dan musuh?" tanya Trevor sebelum ketiganya melangkah lebih jauh.
Cornelia menoleh, "Kau tidak membaca dokumen yang kuberikan?"
Netra Anrietta membelalak sempurna. Dia ingat kalau Trevor meminta untuk membuang dokumen itu ke tempat sampah tanpa sempat melihat apa isinya. Sungguh tindakan gegebah dan merugikan.
Belum sempat membahas lebih jauh, sebuah peluru melesat. Menimbulkan percikan darah segar di lengan Anrietta Davine.