Ungkapan Rio

1009 Kata
Seperti jarum jam di ruangan, waktu terus melaju tanpa memedulikan duka, nestapa, dan bahagia. Akhirnya, hari yang dinanti tibalah jua. Anrietta sengaja memakai celana jeans berwarna biru pudar dan kemeja putih berenda. "Tumben kau pergi di hari Sabtu," ucap Lei. Lelaki itu tengah menjemur pakaian. Kebetulan, antrian di tempat mencuci tidak banyak. Jadi dia bisa menjemur pakaiannya jam delapan. Anrietta tersenyum tipis, lalu berpamitan pergi. Dia tidak bilang kalau akan pergi ke Taman Araya. Gadis itu hanya berkata hendak menemani temannya. "Pastikan kau bisa dihubungi! Jangan harap kau bisa makan malam jika ponselmu tidak aktif!" pesan Lei, menirukan suara Trevor. Dia hanya ingin membuat Anrietta ceria. Sebab beberapa hari ini, dia memergoki rekannya sedang merenung. Gadis berbaju putih berbalik, tergelak ceria. Sudah lama sekali ia tidak mendengar kata-kata itu dari mulut Tuan Muda. Terlebih Lei mengatakannya dengan nada yang lucu. Tak ada alasan baginya untuk tidak tertawa. Tiba-tiba, Lei berhenti bersuara. Bibirnya terkatup rapat dan mukanya pucat pasi. An menoleh dengan hati-hati. Mulutnya terbuka sempurna saat melihat sosok Trevor berpakaian rapi. "Sa-saya pergi dulu, Tuan," pamit An supaya tidak kena marah. Anrietta menunduk saat berjalan melewati Trevor Logdawn. Setelah menjauh, barulah dia berlari kencang. Takut kalau kena marah. "Pastikan kau bisa dihubungi! Jangan harap kau bisa makan malam jika ponselmu tidak aktif!" kata Trevor dengan nada tinggi. Netranya melirik Lei, membuat pria itu meringis dan cepat-cepat menyingkir dari sana. Trevor mengeembuskan napas kesal. Masih pagi sudah ada masalah. Sungguh menyebalkan. Trevor melirik jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangan kirinya, menyesal sudah membuat janji di pagi buta. Agar tidak terlambat, dia berlari menuju mobil pribadi. Kali ini, hanya Leon yang menemani. Sesampainya di gerbang, Trevor memicingkan mata. Terlihat olehnya sosok Anrietta yang membonceng motor Rio. Ia tertegun, selama ini An tidak pernah bersikap baik dengan orang di luar selain pegawai Logdawn. Namun sekarang, ia bahkan pergi dengan Rio. Apakah An jatuh cinta? "Terserahlah. Lagipula Papa dan Mama pasti menyetujui siapa pun yang akan menjadi suaminya," ucap Trevor keceplosan. Leon menoleh, tidak percaya bahwa Tuan Muda mengatakan hal yang ada sangkut pautnya dengan Anrietta. Dia pikir lelaki itu membenci An setengah mati. "Maaf Tuan, apa saya salah dengar?" tanyanya sambil menghentikan laju kendaraan. "A-apa maksudmu?" balasnya gugup. Keringat dingin mulai menghiasi wajahnya. Trevor sama sekali tidak tahu bahwa dia keceplosan. Dia baru sadar saat sopirnya bertanya. "Anda mengkhawatirkan Anrietta?" tanya Leon lagi. Dia menuntut jawaban yang pasti. "Saya nggak khawatir sama dia," tepis Trevor angkuh. Kedua tangan ia silangkan di depan d**a. Pandangannya pun ke arah langit-langit mobil. Layaknya orang sombong. Mendengar kalimat tersebut, pecahlah tawa Leon. Baru kali ini Trevor berbicara formal padanya. Biasanya, beliau memakai aku-kamu. Sekarang, pakainya saya-Anda. "Bos ketahuan bohongnya. Masa bicara formal sama saya. Jangan-jangan, saya naik pangkat nih, bos?" goda Leon seraya menaikkan alis kanannya sebanyak dua kali. "Diam kamu! Mau kupotong gajimu yang seuprit itu?!" hardik Tuan Muda seraya menunjuk wajah Leon. Dia sangat kesal karena kebohongannya terungkap. "Bercanda, bos," kata pengawal tersebut, lalu kembali memacu mobil hitam favorit Tuan Muda Logdawn. Leon jadi tahu kalau Trevor memang memikirkan Anrietta. Rupanya, lelaki itu masih punya perasaan. Dia pribadi pernah berpikir kalau Trevor sungguh membenci Anrietta. Beberapa saat kemudian, sampailah Rio dan Anrietta di Taman Araya. Karena An tidak tahu mau menuju wahana apa, Rio mengajaknya ke ayunan di sudut taman. "Ih, cuma satu," balas An manja sambil memanyunkan bibir. Dia kecewa karena ingin menaikinya juga. Pasti seru kalau main ayunan berdua. Kalau sendiri, nggak asyik. Rio tertawa, baru membalas, "Emang kenapa kalau cuma satu?" Setelah itu, ia menarik tangan Anrietta. Gadis tersebut tidak bisa menolak hingga akhirnya Rio duduk di bangku ayunan. "Lo ngapain?" tanya An saat lelaki berkemeja putih menepuk-nepuk pahanya sendiri. "Loading lama," kata Rio seraya menarik Anrietta ke arahnya. Tubuh gadis itu mendarat sempurna di atas paha Rio. Bahkan, embusan napasnya terasa di leher dan telinga An. "Ngapain, sih?" komentar gadis berkemeja putih dengan pipi yang merah merona. Dia tidak bisa melihat ekspresi yang dibuat Rio, sebab ia memunggungi lelaki tersebut. An mencoba berontak, tapi pria berkemeja putih menggenggam tangan An dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya, "An, mau nggak kalau seharian ini, lo jadi adik gue?" Anrietta diam membisu. Sedari tadi, dia berusaha menormalkan detak jantungnya yang berantakan akibat ulah Rio. Sekarang, lelaki itu meminta suatu hal yang tidak masuk akal. Rio benar-benar pintar mengaduk-aduk suasana hatinya, seperti Trevor Logdawn. "Atau, lo tertarik jadi adik permanen gue?" goda lelaki berkemeja putih. Tangannya menepuk-nepuk pergelangan tangan Anrietta sembari menanti jawaban. Gadis di pangkuannya itu tetap diam membisu. Otaknya tidak bisa berpikir jernih. '"Kenapa lo mau gue jadi adik lo?" Kalimat itu akhirnya terlontar dari mulut Anrietta. Ia harus tahu alasan di balik permintaan Rio. Mana bisa ia mengiyakan sebelum mengetahui latar belakangnya. "Sederhana. Penyesalan masa lalu, gue nggak bisa ngelindungi mendiang Rania," balasnya pahit. Ia berharap dapat menebus kesalahan itu dengan menjaga Anrietta, orang yang dirasanya mirip dengan Rania Agrestar. "Ga-gapapa. Seharian ini aja, oke?" kata An menyetujui permintaan Rio. Lagipula, hari ini dia berulang tahun. Lumayan menjadi kado bagi Rio Agrestar. Dengan suara bergetar, lelaki itu mengucapkan terima kasih. Tak lupa Rio memeluknya dari belakang. "Le-lepasin. Malu dilihat orang," pinta An. Rio bergeming, sedangkan gadis berkemeja putih merasakan setetes air yang jatuh, membasahi punggungnya. Ditengoknya cakrawala, biru bersih tanpa adanya awan. "Artinya ...," batin An risau sembari menoleh. Namun, Rio sudah membaca pergerakannya. Akibatnya, lelaki itu menahan Anrietta agar tetap memandang ke depan. "Ada bunga cantik di depan, tuh," ucap Rio yang berusaha menahan Anriettta untuk tidak menoleh ke arahnya. Mana mau dia dilihat An saat menangis. Pasti memalukan sekali. Gadis itu menunduk, mengikuti permainan Rio Agrestar. Beruntung tidak banyak orang di taman. Jadi, An tidak perlu bersusah payah menutupi mukanya. Puas menangis, lelaki berkemeja putih mengusap sisa air mata dengan cara menempelkan wajahnya di punggung Anrietta. Gadis itu kaget, tapi berusaha menahan diri untuk tidak terbawa suasana. "Udah selesai?" tanya An ketika Rio mendorongnya perlahan. Benar saja, lelaki bersurai pirang itu bangkit dari ayunan. Tanpa banyak bicara, ia menyelimuti An menggunakan jaket hitam yang ia kenakan sedari tadi. "Aku sayang kamu," ucapnya tiba-tiba sembari menatap netra Anrietta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN