"Kenapa kau jadi merepotkan begini, sih?" gumam Trevor sembari membaringkan Anrietta tersebut di kamar.
Pandangannya menyapu seluruh ruangan, mencari sesuatu yang mencurigakan. Dengan sedikit mengeluh, lelaki tersebut mencoba menyelidiki apa yang dikerjakan An hingga tidur larut malam. Pantas akhir-akhir ini dia tidak fokus dan mengantuk di kelas.
Tanpa sengaja, Trevor menyandung sebuah kaleng bekas. Ia membukanya, isinya cuma mainan tidak penting. Namun dia menyadari bahwa mereka pernah memainkan semua mainan tersebut.
"Apa bagusnya masa lalu jika ada masa depan?" lirih Trevor sembari menatap ke arah pengawal cantiknya.
Lalu, netra Tuan Muda tertuju pada bawah kasur. Mungkin saja Anrietta menyembunyikan sesuatu di sana, sama seperti beberapa tahun silam. Dengan penuh harap, tangannya membuka kotak kayu yang ia ambil dari bawah tempat tidur.
Trevor melongo, membuka setiap berkas yang tersimpan rapi. Diam-diam Anrietta menyelidiki tentang keluarga Trouffle. Pasti gadis itu berniat menuntut balas atas kematian Alice.
"Udah jelas Alice jahat padamu, tapi kau mau membantunya? Kau terlalu baik, An," kata Trevor seorang diri. Dikembalikannya semua berkas tersebut ke tempat semula.
Tangan kasar Trevor menyentuh dahi Anrietta, memastikan bahwa pengawalnya tersebut tidak demam. Syukurlah gadis itu hanya pingsan. Ia pun meraih minyak kayu putih dan mendekatkannya ke hidung An.
Gagal! Kesadaran Anrietta tidak kembali dengan mudah. Lelaki itu pun terlihat kesal dan menelepon Lei untuk merawat An.
"Tapi aku bukan dokter," tolak Lei begitu mendapat mandat dari Tuannya.
"Kalu nggak mau, cariin orang buat ngerawat An!" balas Trevor.
Lei mendengus. Kenapa harus dirinya? Trevor sempat meneleponnya, tapi tak punya waktu untuk menghubungi dokter. Lucu sekali.
"Biar aku saja," kata Cornelia yang tiba-tiba muncul dari arah kamar mandi.
Trevor melonjak ke depan, kursi yang tadi didudukinya sampai terjatuh ke belakang. Ia tidak menyangka kalau gadis tersebut ada di ruangan ini. Yang Trevor ingat, Cornelia pergi entah kemana sebelum masuk ke kediaman.
"Kenapa terkejut begitu? Aku mengambil jalan pintas," beritahu gadis berambut pirang seraya menuang air putih ke gelas.
Cornelia kehausan setelah berjalan-jalan di pagi hari ini. Terlebih, dia kesulitan memotret burung gereja. Butuh tenaga ekstra untuk mengambil gambar yang bagus.
"Mana ada jalan pintas," sergah Trevor cepat.
Cornelia menghabiskan minumnya, baru tersenyum sinis. Lalu, ia cepat-cepat mendorong Trevor keluar dari kamar. Katanya, tidak baik kalau laki-laki dan perempuan berdua lama-lama.
"Apa sih? Apa aku tipe orang yang mau gituan? Lagian aku nggak suka sama Anrietta. Dia cuma pengawalku," sangkal Trevor.
Gadis berambut pirang melipat kedua tangannya di d**a, tidak mempercayai perkataan seorang Trevor Logdawn. Dia bersikukuh pada pendiriannya, lelaki tersebut harus angkat kaki dari kamar An sekarang juga.
"Terserahlah," kata Trevor untuk yang terakhir kali sebelum pergi.
Cornelia tersenyum penuh kemenangan, lantas menutup pintunya rapat-rapat. Ia memasukkan sebutir obat berbentuk bundar. Meski Anrietta sedang tidak sadar, obat tersebut terkikis oleh salivanya.
Setelah tergerus sempurna, barulah efeknya terlihat. Cornelia hanya diam menunggu sembari menikmati secangkir kopi dingin dari kulkas.
"Gotcha! Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?" tanya Cornelia begitu An mengerjap-ngerjapkan kedua netranya.
"A-aku di mana?" jawabnya balas bertanya.
"Jangan khawatir. Ini kamarmu, kok. Asrama Logdawn, kau ingat, bukan?" balas Cornelia santai. Gadis di hadapannya mengangguk-angguk paham. Pantas ruangan ini terasa tidak asing.
"Trevor mana?" panik An tiba-tiba sembari bangkit dari tempat tidur.
Cornelia bertindak cepat dengan menahannya tetap ada di atas ranjang. Ia juga berkata bahwa Trevor baik-baik saja. Supaya An tidak penasaran, gadis bersurai pirang menjelaskan bahwa Anrietta pingsan.
"Terima kasih banyak. Maaf merepotkan," kata gadis bermandikan peluh tersebut.
Cornelia mengangguk sambil tersenyum. Kali ini, wajahnya terlihat bagaikan malaikat, "Trevor menggendongmu sampai sini. Pastikan kau berterima kasih dengan benar. Oke?"
Anrietta mengangguk pelan, menyadari bahwa dia sudah membebani banyak orang. Supaya hal serupa tidak terulang lagi, An bertekad untuk berusaha lebih keras lagi. Ia harus menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Tanpa mereka ketahui, ternyata Lei dan Trevor menguping dari luar. Pembicaraan keduanya cukup keras sehingga terdengar dengan jelas.
"Sok-sokan mau manggil dokter," cibir Lei.
Trevor tidak menyahut, hanya menatap malas, lalu pergi entah ke mana. Lei mengelus d**a, kemudian pergi untuk melihat Ellyn. Setidaknya, gadis bersurai jingga itu harus mendapatkan hukuman darinya.
"Lei, Lei! Selamatkan aku dari sini, aku mohon," pinta Ellyn dari balik sel.
Lelaki di hadapannya tersenyum sinis. Mana bisa dia memberi ampun pada orang yang berniat menyakiti An? Andai di sini tidak ada hukum, kemungkinan besar, Lei sudah membunuh Ellyn dengan kejam.
"Harusnya kau hidup bahagia dengan selingkuhanmu itu, bukan mengusik kehidupan orang lain," sindir Lei sembari menarik tangan Ellyn dari celah jeruji besi.
Tak ayal, tindakannya membuat gadis bersurai jingga merintih kesakitan. Lei tidak peduli, bahkan semakin memperkuat tarikannya.
"Kalau kamu berulah lagi, jangan salahkan aku untuk membunuhmu!" ancam lelaki berkaus abu-abu. Dia melangkah menjauhi sel Ellyn untuk menenangkan diri supaya tidak dikuasai oleh amarah.
***
Malam harinya, Trevor marah saat mendapati Anrietta yang sedang berjalan-jalan di taman. Gadis itu harusnya tidur dengan tenang di kamar.
"Oi, Siput! Kamu mau aku dimarahi Mama?" gertak Trevor, tepat di belakang Anrietta.
Gadis itu terkejut setengah mati, lalu meminta maaf dengan segera. Trevor berkacak pinggang. Selama ini, An selalu menjawabnya seperti itu. Bagaikan template yang menjadi ciri khas seorang Anrietta.
"Ada ya, orang yang mikirin musuhnya sampai sakit," sindir Tuan Muda Logdawn.
"Saya tidak sakit, Tuan. Hanya kehilangan kesadaran," dalihnya.
Trevor menarik kerah baju Anrietta, memperdekat jarak di antara keduanya. Lalu, dia berkata, "Kita akan selesaikan masalah Alice, tapi bukan sekarang."
Mendengar hal tersebut, netra An berbinar senang. Apakah itu berarti bahwa Trevor setuju membantunya? Ternyata Tuannya ini masih memiliki hati nurani.
"Terima kasih, Tuan," balasnya tipis seraya menyunggingkan senyum.
Trevor mendorongnya kasar, merasa geram dengan tingkah Anrietta. Apa gadis tersebut bermaksud menggodanya? Ia tidak suka bila An bertingkah seperti itu.
An mengerucutkan bibir, lalu kembali menuju kamar. Moodnya hancur berantakan. Kalau tahu begini jadinya, ia akan tetap terpejam.
"Kau bahkan mendorong gadis yang tersenyum padamu. Huh," geram An dalam hati. Dia sungguh menyesal sudah memberi senyuman untuk Tuan Muda Logdawn.
Trevor sendiri pergi menuju kamar Celine. Ada yang harus ia bicarakan dengan beliau.
"Mama pikir, kau akan membiarkannya bagai angin lalu," tanggap beliau setelah Trevor mengutarakan keinginannya.
"Kalau masalah ini belum selesai, An tidak akan beristirahat dengan tenang," balas putra tunggalnya tersebut.
"Khawatir banget sama An," goda sang Ibunda. Trevor hanya tersenyum, lalu pamit pergi. Hari sudah malam. Dia mengantuk dan ingin tidur.