Pingsan

1043 Kata
Jantung An berpacu dengan waktu. Otaknya tidak bisa berpikir jernih, mengingat seorang lelaki yang begitu tampan berada di atasnya. Bahkan ia bisa merasakan embusan napas yang biasanya tak terjangkau. "Apa kau di pihak Agrestar? Kau menyukai lelaki itu?" tanya Trevor sembari meremas seprai putih di samping telinga Anrietta. Gadis tersebut tidak mampu menjawab. Ia ingin berkata, tapi takut kalau perbuatannya membuat bibir keduanya menempel. Ia belum siap kehilangan salah satu hal yang berharga dalam hidupnya. Karena An tidak kunjung mengatakan sesuatu, tangan kiri Trevor usil menyentuh rok pendek yang dikenakan gadis tersebut. Netra pemiliknya membelalak sekejap, lantas menutup rapat. Melihat hal seperti ini adalah hiburan tersendiri bagi Trevor, apalagi pipi An berubah kemerahan. Saat asyik memandangi wajah Anrietta, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Trevor menoleh dengan cepat, menjumpai sang Ibunda yang terlihat sumringah. Tanpa berucap suatu apa, beliau menutup pintunya lagi. Trevor buru-buru menjauh, membuat An menghirup napas lega. Gadis itu sempat melirik ke ambang pintu, menjumpai sosok Celine di sana. Duh, rasa malu An meresap sampai ke tulang. Lelaki itu sendiri mengacak-acak rambutnya. Harus bilang apa pada Mama? Mana bisa dia mengakui bahwa ia mengancam An. "Nggak usah bilang macem-macem ke Mama. Cukup ikutin apa yang aku bilang. Ngerti?" ucapnya pelan, supaya tidak didengar Celine Logdawn. An mengangguk patuh, lantas merapikan pakaiannya. Trevor mendengus, membuka pintu ruangan. Dilihatnya sang Ibunda tengah berdiri dengan tatapan mengejek. "Anak Mama udah nggak sabar nikah, ya?" goda beliau seraya membenarkan dasi Trevor. Anrietta meringis. Kalau mereka betulan nikah, sepertinya dia akan menderita. Trevor yang sekarang sungguh galak dan tidak berperasaan. Berbeda dengan Trevor kecil yang selalu memperhatikannya secara mendetail setiap hari. "Bukan gitu, Ma. Kebetulan tadi An lagi tidur—" "Terus kamu ambil kesempatan dalam kesempitan?" potong beliau. "Enggak, Ma. Serius. Ada nyamuk, jadi Trevor mau ngusir nyamuknya. Eh, Trevor enggak hati-hati. Jadinya jatuh," bohong lelaki tampan tersebut. Celine Logdawn tersenyum geli mendengar penuturan anaknya. Siapa sih yang sudah mengajarkannya berbohong seperti ini? "Kalau kalian memang mau nikah, sekarang juga boleh, kok," tawar beliau. "Enggak Ma, makasih," jawab keduanya bersamaan. Ini murni ketidaksengajaan, tapi malah membuat Celine tertawa. Sesaat, gadis dan lelaki tersebut bersitatap. Saling merutuki jawaban yang barusan mereka lontarkan. "Kompak bener. Mama gemes, deh," goda beliau lagi. "An mau ke kamar mandi, Ma." "Trevor pamit ke kamar mandi, Ma." Keduanya berkata bersamaan. Lagi-lagi Celine tertawa renyah. Wanita berbaju casual itu pun bertanya, "Mau ngapain ke kamar mandi bareng, hm?" Mereka tidak mampu menjawab, sehingga An memutuskan untuk pergi ke taman. Trevor sendiri tetap menuju kamar mandi. Celine hanya bisa memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. "Hari Anda menyenangkan, Nyonya?" sapa Cornelia yang datang dari arah kepergian Anrietta. Perempuan di hadapannya pun menoleh, tersenyum melihat kedatangan gadis berambut pirang. Tanpa berlama-lama lagi, Celine mengajaknya turun. Cornelia pun mengekor beliau. Tangannya membawa sejumlah barang bukti dan dokumen tertulis. *** Hari berikutnya, Lei dan Rheinna menghampiri Anrietta. Mereka memberitahu bahwa Ellyn telah ditemukan. "Entah apa yang akan terjadi padanya," ujar lelaki tersebut seraya meminum air mineral yang diberikan Rheinna. An tersenyum kecut. "Bagaimana pun, semua salahku. Aku minta maaf karena sudah membuat kekacauan." "Kekacauan apanya? Kau tidak salah sama sekali," kata Rheinna mengemukakan pendapatnya. "Pagi-pagi sudah ribut. Lebih baik, kau temani Trevor olahraga," saran Lei seraya pergi dari depan ruang kerja Rheinna. Anrietta pun pamit, menyusul kepergian Trevor yang sedang pemanasan di halaman. Melihat kedatangan pengawalnya, ia pun mengomel panjang. "Maaf, Tuan," balas Anrietta singkat. "Ck, sudahlah! Ayo pergi sebelum terbakar matahari. Oh ya, hari ini Leon cuti," perintah Trevor sembari meninggalkan Anrietta di belakang. Gadis itu berjalan pelan. Seolah-olah, tidak menghiraukan Tuannya yang bersemangat jogging. "Kami membayarmu untuk mengamankanku. Bagaimana kau bisa melakukan tugasmu jika seperti ini, hah?!" hardik pewaris tunggal keluarga Logdawn ketika menyadari bahwa Anrietta tertinggal cukup jauh. "Ma—" "Maaf, maaf terus. Apa sih yang membuatmu lelet begini?" selidik Trevor. Tidak biasanya An terlihat lesu saat berolahraga. Dia biasanya sangat energik, bahkan semangatnya melampaui Trevor. "Saya hanya malas, Tuan. Itu saja," jawab An penuh dusta. Lelaki di hadapannya mendengus tidak percaya, lantas menarik Anrietta untuk mendekat guna mengancam gadis tersebut. Saat itu pula, An kehilangan kesadarannya, wajahnya membentur tubuh Trevor Logdawn. "Kau itu biang masalah atau apa, sih?" gerutu lelaki berkaus hitam. Dia pun merengkuh gadis itu agar tidak terjatuh. Tangan kanannya sibuk mencari ponsel di saku. Setelah ketemu, dia menelepon Hernandez. Bermaksud meminta jemputan. Hening, tak ada sahutan. Lebih tepatnya, tidak diangkat. Entah apa yang sedang dikerjakan lelaki itu. Trevor menghela napas. Dia beralih menghubungi Lei. Hasilnya nihil. Lelaki tersebut tak menyahut. Dengan terpaksa, Trevor menggendong Anrietta. Jujur, dia malas membawanya ke kediaman. Namun, Mama pasti memarahinya jika ia tidak membawa pulang Anrietta sesegera mungkin. "Menyebalkan, memang," gerutu Trevor ketika berjalan di bawah pepohonan rimbun. Tidak lama berselang, dia melihat Cornelia yang asyik mengabadikan gambar seekor burung gereja. Tingkahnya mengingatkan Trevor akan masa lalunya yang indah bersama Anrietta. Dulu, gadis itu akan memotret apa pun yang ia jumpai selama perjalanan. Jadi kenang-kenangan katanya. "Oi, oi, kau apakan Anrietta?" teriak Cornelia setelah Trevor melaluinya tanpa mengucap sepatah kata pun. Lelaki tersebut menoleh, menggelengkan kepala, "Aku tidak melakukan apa pun." Cornelia tersenyum sinis, lantas mengikutinya kembali ke kediaman. Sepanjang perjalanan, mereka tidak membicarakan apa pun. Hanya saja, gadis berambut pirang sibuk mengambil gambar. "Ponselmu ada di kamarku. Mau ambil sekalian?" tawar Trevor saat tiba-tiba teringat. Gadis di sampingnya pun menoleh, "Untukmu saja. Keyboardnya terlalu keras bagiku. Aku sudah beli yang baru." "Baguslah kalau begitu," sahutnya asal. "Oh ya, kau sungguh tidak tahu mengapa An bisa pingsan?" tanyanya lagi ketika hampir mencapai gerbang masuk. Trevor menggeleng, membuat Cornelia memutar bola mata. Dia berkata bahwa An tidur larut malam, entah apa yang dikerjakannya. Selama ini, ia melihat lampu ruangan An yang tetap menyala meski jam menunjukkan pukul sebelas malam. "Biasanya, aku selesai laporan jam segitu. Lewatnya asrama pegawai," jelas Cornelia dengan tampang meyakinkan. Dahi Trevor pun mengernyit. Perasaan, dia tidak membebankan tugas apa pun. Begitu pun para dosen, tidak ada ulangan atau tagihan yang harus diselesaikan. Otak Trevor bekerja keras mencari jawabannya, tapi hasilnya nihil. "Tanyakan saja setelah dia siuman. Saranku, rawat dia dengan baik. Dia selalu menjagamu dengan sempurna," pesan Cornelia sebelum menghilang di balik pepohonan. "Aish, wanita satu itu. Kerjaannya menghilang. Untung bukan hantu," omel Trevor. Setelah memasuki gerbang, lelaki tersebut mengendap-endap. Bisa gawat kalau Mama mengetahui soal Anrietta yang pingsan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN