"Kau pernah dengar tentang keluarga yang hilang di negara seberang? Mereka tidak pernah ditemukan, bukan?" lirih Cornelia.
Trevor tertegun. Berita itu sempat menghiasi layar kaca televisi dan menjadi perbincangan dunia. Sampai sekarang, mereka tidak pernah ditemukan. Padahal mereka berasal dari kalangan atas, terkenal, dan banyak pihak yang membantu pencarian.
"Mereka mengkhianati kami. Katanya, mereka akan mendonasikan uang bagi organisasi sosial. Nyatanya? Uang tersebut untuk mengimpor n*****a dan menanam g***a. Anak yang ada di panti asuhan pun tak mereka beri makan sebelum menyelesaikan pekerjaannya. Tidakkah itu mengesalkan?" kisah gadis berambut pirang.
Mukanya merah padam, ingatan mengenai anak tak bersalah di panti asuhan tersebut berkelebat di ingatannya. Mereka kurus kering dan berpura-pura tegar. Padahal, sangat kelaparan. Hampir tak kuat menyongsong hari esok.
Anrietta meneguk saliva. Jari telunjuknya menghentikan rekaman CCTV yang sedang diputar. Trevor sendiri menatap tanpa kedip ke arah Cornelia.
"Kami tidak akan membantu orang yang terlibat tindak kejahatan. Harap camkan itu baik-baik!" pesan gadis bersurai pirang sebelum berlari, melompat dari atap universitas.
Baik Trevor mau pun Anrietta terkejut setengah mati. Cepat-cepat mereka meraih tangan Cornelia. Namun, sudah terlambat. Gadis bersurai pirang sudah terjun.
Trevor hendak menelpon petugas keamanan saat sebuah tawa menyita perhatian mereka berdua. Netra lelaki tersebut terpaku ke arah pohon yang menjulang tinggi. Cornelia duduk di dahan dan mengejek keduanya yang begitu khawatir.
Anrietta memberanikan diri untuk menatap ke bawah. Lokasinya bersih dan tidak ada noda darah setetes pun. Artinya, Cornelia melompat ke pohon, bukan untuk bunuh diri.
"Tonton saja videonya sampai habis. Bye," ledek gadis bersurai pirang sembari turun dari pohon yang tingginya hampir menyamai gedung enam tingkat.
Trevor mengusap mukanya dengan kasar. Dia tidak percaya kalau sudah dipermainkan gadis macam Cornelia. Anrietta sendiri merasa lega, setidaknya perempuan bersurai pirang tidak terluka sedikit pun.
"Sudahlah," omel Trevor sembari mendekati Anrietta.
Gadis tersebut diam membeku ketika Tuan Muda meraih tangannya. An bisa saja menghindar, tapi mata Trevor terlalu menakutkan. Jangan salah paham, Trevor tidak berniat menggandeng An, tapi merampas ponsel Cornelia.
"Dia bahkan tidak punya kontak satu orang pun," kata Trevor setelah mengecek ponsel berwarna putih s**u tersebut.
An tidak berani menjawab. Dia malu karena tadi sudah salah tingkah. Ia memilih untuk memalingkan muka ke selatan.
"Apa kau dengar?" bentak Trevor saat melihat An memunggungi dirinya.
Gadis itu berbalik, bermaksud meminta maaf. Namun, yang ia lakukan malah mengikis jarak yang hanya tersisa sejengkal. Embusan napas mereka beradu, memberi gelitik aneh di hati Anrietta.
"Saya dengar, Tuan. Akan tetapi, saya tidak tahu harus menjawab apa," jawab An setelah mengambil satu langkah ke belakang. Jantungnya bisa lepas kalau terlalu dekat dengan Trevor Logdawn.
"Oke, kita pulang sekarang," perintahnya.
Kali ini, tangan An digandeng dengan erat. Gadis itu merasa malu, tapi tidak punya hak untuk menghentikan perlakuan tersebut.
Hernandez dan Leon merasa aneh, tapi takut kena marah Trevor bila nekat menanyakannya. Kedua pengawal tersebut memilih diam dan memanaskan mobil yang akan mereka kendarai.
Beberapa saat setelah mobil hitam tersebut meninggalkan pelataran, Cornelia tersenyum. Tangannya menepuk bahu seorang pemuda.
"Gotcha! Mereka cocok, bukan?" tanya Cornelia.
"Tidak. Si-siapa kau?" kaget pemuda yang ternyata adalah Rio. Dia refleks bertanya karena penampilan perempuan tersebut tidak seperti mahasiswa Universitas Nebula.
Cornelia menyeringai, "Kenalkan, aku guru lesmu yang baru."
"Apa?" teriaknya kencang. Gadis bersurai pirang hanya tersenyum manis, tidak peduli dengan reaksi terkejut dari Rio Agrestar.
Di bawah langit yang sama, Anrietta mengekor Trevor menuju kamar nomor 72, tempat terakhir kali mereka bertemu dengan Alice. Rheinna hanya tersenyum saat memergoki keduanya menaiki tangga. Ia harap sesuatu yang bagus sedang terjadi.
Tak berapa lama, keduanya memasuki ruangan dan menutup pintunya. Lelaki tersebut memberi instruksi pada An untuk menyalakan televisi. Tentunya sambil marah-marah.
Terpampanglah adegan penculikan Alice dan pembuangan jasadnya. Di video lain, ada tayangan yang menjelaskan barang apa yang dibawa gadis malang tersebut.
"Apa dia memang cari mati?" komentar Trevor setelah melihat sebuah berlian berbentuk lingkaran di dalam tas Alice. Benda mahal tersebut terlihat berkilau di bawah terik matahari. Simbol warna emas yang terlukis permanen di dalam berlian pun turut bersinar, menambah kemewahannya.
Anrietta yang tidak paham itu hanya melirik ke arah Tuannya, meminta penjelasan lebih lanjut. Berlian yang dibawa Alice ternyata milik anak tunggal keluarga Trouffle. Ayahnya, Murghandy Trouffle merupakan salah satu penjahat yang diincar kepolisian. Dia berbahaya sekaligus ditakuti.
"Gitu aja nggak tahu!" omel Trevor untuk menutup penjelasannya.
"Ma-maaf Tuan," balas An sekenanya. Ia masih beruntung karena tangan Trevor tidak mampir ke pipi mulusnya.
Beberapa saat kemudian, dahi lelaki tersebut berkerut. Rumit urusannya bila menyangkut keluarga Trouffle. Toh masalahnya sudah jelas. Mereka bermaksud mengambil berlian tersebut dari Alice. Habis perkara.
"Kalau begini caranya, kebenaran tidak akan terungkap. Media mana yang berani mengusik keluarga Trouffle. Memberitakan hal buruk tentang mereka sama saja mencari mati," gumam Trevor dalam hati.
"Terserahlah, yang penting kita tahu kalau Alice bukan dihabisi Mama. Lagipula, kasusnya tidak menggemparkan publik," kata lelaki itu lagi.
Sontak, Anrietta memandang ke arahnya. Ingatannya melayang pada Alice yang bersikap baik padanya karena ingin mendekati Trevor. Kalau boleh dibilang, An sudah menganggapnya sebagai teman.
"Arwah Alice tidak akan tenang kalau kita tidak menghukum penjahat sesungguhnya!" tolak pengawal cantik tersebut.
Trevor tersenyum sinis, lalu mendekati Anrietta dengan tatapan menyeramkan. Gadis itu pun berjalan mundur, ketakutan dengan sikap Tuan Muda Logdawn.
An menoleh saat betisnya terantuk ranjang Trevor. Sudah tidak ada tempat untuk menjauh dan lelaki tersebut semakin mendekat.
Hal yang dikhawatirkan olehnya pun terjadi. Trevor berhenti tepat saat jarak mereka tersisa beberapa centimeter. Anrietta berusaha menguasai hatinya supaya tidak ketahuan kalau jantungnya berdetak sangat kencang.
"Kita bisa apa melawan keluarga Trouffle?" sarkas Trevor dengan nada rendah. Sungguh, An begidik ngeri mendengarnya.
"Ta-tapi, kita punya Cornelia dan teman-temannya. Mereka handal, bukan?" balas An memberanikan diri.
Lelaki di hadapannya tersenyum jahat, ingat perkataan An beberapa waktu lalu. Waktu itu, dia memperingatkan Rio untuk tidak mencari masalah dengan pewaris Logdawn. Alasannya, takut keluarga Agrestar hancur.
Sekarang? An malah mau menantang keluarga Trouffle. Sama artinya dengan menghancurkan keluarga Logdawn. Sebenarnya, dia membela Logdawn atau Agrestar, sih?
"Dulu, kau memberi peringatan pada Agrestar untuk tidak macam-macam denganku. Sekarang, kau malah mencari masalah dengan keluarga Trouffle. Kau ada di pihak mana?" tegasnya.
Lalu, Trevor mendorongnya ke ranjang. Kembali mengikis jarak antara mereka.
Anrietta tidak bisa berbuat apa-apa. Pikirannya seolah kosong. Hendak kabur pun percuma. Tangan Trevor menahan di samping tubuhnya.