Seminggu berlalu, tapi belum ada titik terang mengenai kasus Alice. Meskipun tidak terlalu mencuri perhatian masyarakat, tetap saja hal tersebut menjadi perbincangan hangat di kampus.
"Barangkali Anrietta sewa orang buat bunuh Alice. Siapa tahu An cemburu," cibir orang-orang.
Anrietta tidak pernah merespon, malah Rio yang menanggapinya dengan emosi. Yang dibicarakan siapa, yang marah siapa? Lucu sebenarnya kalau dilogika.
Trevor tidak mau ambil pusing. Toh, kalau benar motif pembunuhan Alice adalah atas dasar cinta, hidup An pasti sudah dalam bahaya sejak dulu. Makanya ia yakin ada suatu hal lain yang tidak diketahui siapa pun selain Alice, pelaku/otak pembunuhan Alice, dan saingan tersangka utama bila ada.
"Terserahlah, yang penting bukan aku yang mengusir rohnya dari dunia. Aku jadi nggak diganggu dia lagi," ucap Trevor dalam hati.
Tiba-tiba, ponsel Anrietta berdering. Dengan cepat, ia mengangkatnya. Rio dan Trevor sama-sama menoleh, menatap gadis yang buru-buru keluar dari ruangan kelas.
"Sungguh? Nanti aku menemuimu kalau ada waktu. Tentu," balas An di tengah pembicaraan. Sebuah senyuman terbit setelah penelepon menutup panggilannya.
Rio Agrestar menghadang An di ambang pintu. "Ceria banget," komentar lelaki tersebut dengan ekspresi imut.
"Emang ga boleh?" balasnya seraya memanyunkan bibir. Rio tersenyum sinis, lalu pamit ke kantin.
"Mau titip sesuatu nggak?" tawar lelaki tersebut sebelum pergi.
Anrietta menggeleng. Hari ini, Trevor berpesan padanya untuk menunggu di atap universitas. Setelah ini, keduanya tidak ada jadwal kelas. Jadi, mereka bisa melakukan apa saja.
Sesaat setelah Rio pergi, Trevor berjalan di depan Anrietta. Gadis tersebut paham dan meraih tasnya yang ada di bangku belakang. Di atap, raut muka Tuan Muda Logdawn berubah serius.
"Daripada menyelidiki kasus wanita tak berguna itu, lebih baik kau menangani masalah yang satu ini," ujar Trevor sembari memperlihatkan sebuah berkas berisi hasil visum terhadap seorang wanita.
"Siapa ini?" tanya gadis tersebut sembari mengambil dokumen yang disodorkan Trevor.
"Kau ingat waktu membentur tembok? Ada beberapa orang yang ada di dalam ruangan, salah satunya dia. Sekilas, kupikir dia tewas karena lehernya patah. Namun, hasil visum menunjukkan jantungnya tersayat," jelas Trevor.
An terperangah. Diamatinya bagian d**a perempuan tersebut. Sama sekali tidak ada bekas sayatan dan hanya ada luka lebam. Mana mungkin manusia bisa menjangkau jantung tanpa membedahnya terlebih dahulu. Sungguh tidak masuk akal.
"Menurut Anda, kita harus menyelidiki Cornelia dan komplotannya?" tanya An.
Trevor mengangguk, "Hanya memastikan bahwa mereka benar-benar rekan. Aku khawatir dengan Papa. Beliau sangat mempercayai orang-orang ini."
Anrietta mengusap muka dengan kasar sembari menarik napas panjang. Dia semakin yakin kalau luka di lehernya pasti bukan ilusi.
"Mungkinkah mereka memiliki kekuatan super? Itu akan masuk akal bila memberiku obat bius sehingga aku tidak melihat pertempuran mereka," ujar An tiba-tiba.
"Berilah hipotesis yang lebih masuk akal daripada khayalan itu!" marah Trevor sembari memukul pelan dahi An menggunakan berlembar-lembar kertas.
"I-iya Tuan, maaf. Oh ya, apa Ellyn sudah ditemukan? Kudengar, dia menargetkanku karena cemburu," tanya Anrietta untuk mengalihkan topik.
Trevor menggeleng, entah kenapa wanita itu selicin belut. Kalau ketemu, habislah sudah Ellyn di tangan Celine Logdawn. Beliau tidak membiarkan siapa pun untuk menyakiti Anrietta.
Lelaki tersebut menjelaskan bahwa Hernandez dan Leon masih mengerahkan seluruh pasukan untuk memburunya. Lei sendiri bersikap acuh. Dia marah karena Ellyn berusaha melukai sahabat terbaiknya.
An mengangguk. Dia tidak memiliki dendam terhadap Ellyn meski wanita itu mencoba merenggut nyawanya. Entah karena An terlalu baik atau dia memang tidak memperdulikan keselamatannya sejak awal.
"Baiklah. Lantas, bila kita menemukan kebenaran tentang Cornelia, apa yang akan kita lakukan, Tuan?" tanya An lagi.
Lelaki tersebut berbisik di telinga, membuat Anrietta tertegun, "Tergantung apa yang akan kita temukan."
Trevor mengeluarkan foto lain, bergambar empat wanita sedang menyanyi di atas panggung. An mengernyit, dua di antara mereka adalah Cyning bersaudari. Sisanya bernama Jung Chul Yeon dan Embun Permatasari.
"Jadi, Kelly sungguh anggota girlband terkenal itu?" ujar An tidak percaya. Pantas dia merasa akrab dengan wajah tegas milik gadis bersurai biru yang membuatnya membentur tembok.
"Gotcha!" sahut suara yang mereka kenal.
Trevor dan An buru-buru menoleh ke sudut lain dari atap universitas. Dilihatnya Cornelia sedang duduk santai seraya menggelembungkan permen karet.
"Apa kau memata-matai kami?" tanya An, menodongkan pistol hitamnya.
Cornelia tersenyum, menghampiri keduanya yang membeku di tempat. Trevot mulai bersiaga, ditatapnya gadis cantik tersebut dengan tajam.
"Tuan Logdawn memintaku menemani kalian mengusut kasus Alice. Bagaimana pun, gadis tersebut bisa menghancurkan martabat keluarga Logdawn. Namun, sepertinya kalian berdua lebih tertarik untuk menyelidiki kami. Apakah kepercayaan Tuan Logdawn tidak cukup untuk membuktikan bahwa kami tidak berniat melukai beliau?" ujar Cornelia tanpa diminta.
Trevor melipat kedua tangannya di perut, menantang gadis bersurai pirang untuk membuktikan ucapannya. Cornelia tersenyum sinis. Dia tahu benar kalau orang di depannya tidak akan mundur sampai mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Ayahmu sudah mengorbankan segalanya demi menjalin hubungan dengan kami, dan kau ingin menghancurkannya begitu saja? Mau dicap anak durhaka?!" bentak Cornelia yang mulai termakan emosi.
An hanya terdiam. Gadis yang kemarin cuma cengar-cengir tidak karuan dan bertingkah tak pintar itu sekarang berubah menjadi sosok pemberani. Adakah dorongan tertentu yang membuatnya berubah seperti ini? Atau jangan-jangan ini versi iblisnya dan yang kemarin versi malaikat jatuh?
"Aku tidak berminat tentang Alice. Kau saja yang urus," ucap Trevor sembari melempar pandang pada Anrietta.
"Ba-baik, Tuan," ucapnya patuh.
"Pantas Tuan dan Nyonya Logdawn lebih menyayangi gadis itu daripada dirimu. Menarik," pancing Cornelia. Trevor pun melirik tajam, memperingatkan gadis tersebut untuk menjaga ucapannya.
Cornelia memilih tersenyum, lantas mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam saku. Perhatian Anrietta pun tertuju ke sana. Apakah isinya? Bom?
"Ada rekaman CCTV di dalamnya. Alice diculik karena menyembunyikan berkas penting," beritahunya seraya berjalan menuju ke Anrietta.
Anrietta hanya diam. Pistolnya masih ia genggam di telapak tangan, tidak bergerak satu milimeter pun.
Cornelia membuka ponsel, lantas menancapkan flashdisk tersebut. Anrietta bisa melihat mobil Alice yang melaju di sebuah gang sempit. Kelihatannya, ia dikejar puluhan pria berbaju hitam.
Trevor penasaran, tapi ia malu untuk melihat hasil pekerjaan Cornelia. Dia memilih sok sibuk dengan menghidupkan ponsel miliknya.
"Lihatlah Tuan Muda yang gengsi itu. Ck ck ck. Kuharap anak kalian tidak berperilaku seperti halnya dirimu," sindir gadis bersurai pirang yang dihadiahi tatapan terkejut dari Anrietta dan Trevor.
Sedetik kemudian, suara Trevor terdengar menggelegar di atap universitas. "Mau kusumpal mulutmu dengan paku?"
"Silakan saja. Rekan-rekanku akan menuntut balas dan keluargamu akan hancur!" timpal Cornelia.
"Memang kau cenayang?" remehnya sembari menggulung lengan kemeja.