Tidur Trevor terganggu karena suara bising yang entah dari mana asalnya. Amarahnya meluap, dia celingukan mencari sumber bunyi tersebut. Namun, tidak ada apa pun. Yang ia jumpai hanya Anrietta, tertidur lelap di sofa.
Rok putihnya sedikit tersingkap, membuat Trevor menelan salivanya. Dia buru-buru melemparkan selimut pada pengawal tersebut sebelum terjadi hal-hal yang paling ia hindari dalam hidupnya. Tapi sialnya, selimut yang masih terlipat rapi itu malah membuat rok Anrietta semakin terangkat.
Gadis itu tersentak hingga jatuh dari sofa empuk tersebut. Yang pertama ia lihat adalah selimut Trevor. Dia pun menoleh ke arah Tuan Muda Logdawn.
"Bisa-bisanya kamu nggak denger suara sekeras itu," omelnya.
"Maaf, Tuan. Apa Tuan tadi memanggil saya?" tanya An yang belum mendapatkan seluruh kesadarannya.
Trevor mendelik, lalu menjelaskan –dengan marah tentunya, mengenai suara bising seperti seseorang sedang mengebor dinding atau aspal. Anrietta mengernyit, dia benar-benar tidak mendengar apa pun.
Atas dasar inisiatifnya sendiri, An melongok ke luar dari jendela. Namun, tidak ada apa pun. Perlahan, dia mengendap-endap ke dapur, tapi hasilnya nihil. Meskipun demikian, gadis tersebut mencari ke segala penjuru. Hasilnya tetap sama.
"Cepat cari dan hentikan suara aneh itu! Kalau suara itu mulai lagi, aku tidak bisa tidur," perintah Trevor, diangguki oleh pengawal setianya.
Saat menuruni tangga, bulu roma Anrietta meremang. Ia tidak peduli dan segera mencari tahu asal muasal suara yang tadi didengar Trevor. Sudah setengah jam dan dia tidak menemukan apa pun.
"Kau sedang apa? Olahraga?" tanya Rheinna, atasannya Anrietta.
"Bukan, aku mencari suara orang yang mengebor dinding atau jalan. Apa kau mendengarnya?" jelas Anrietta Davine.
Rheinna menanggapinya dengan gelengan kepala. Sebab, dia tidak mendengar suara mencurigakan.
"Bisa mati aku kalau tidak menemukan sumber suara itu," keluh An sembari duduk di bangku, sekadar meluruskan kakinya yang pegal.
Rheinna ikut duduk, dia menaruh simpati pada An yang tetap berbesar hati menghadapi Tuan Muda Trevor. Disodorkannya air mineral yang belum ia sentuh sama sekali. An hendak menolak, tapi Rheinna memaksanya.
Dalam waktu singkat, air dalam botol mengalir ke tenggorokan Anrietta. Rasanya segar saat minum di cuaca panas. Beruntung sekali ia memiliki atasan seperti Rheinna. Dia baik, tidak kejam seperti Trevor.
"An!" panggil Lei dari kejauhan.
Kedua gadis itu menoleh, mendapati lelaki yang basah oleh peluh. Rheinna pun bertanya apa yang terjadi seraya melemparkan sebotol air minum mineral. Beruntung dia membawa tiga, jadi Lei bisa meneguknya hingga tandas.
"Aku dapet berita. Cewe cakep yang tadi ke sini naik mobil, dia ... uhuk," Lei terbatuk, membuat Rheinna tidak sabar mendengar kelanjutannya.
"Dia Alice, kenapa?" desak Anrietta.
"Dia jadi korban pembunuhan, barusan aku dapat kabar," jawab Lei sembari duduk di lantai. Anrietta tersentak, netranya membelalak.
"Jangan bercanda, ih. Nggak lucu, Lei," komentar Rheinna. Kebetulan dia sempat membantu gadis berambut pirang mengemasi barang dari dalam tasnya yang berserakan. Matanya juga sembab, seperti sehabis menangis.
Lei pun meletakkan ponsel pintarnya. Di layar, terpampang tubuh seorang wanita yang dipenuhi luka. Dari penampilannya, An dan Rheinna yakin kalau itu adalah Alice.
"Dugaan sementara, dia dirampok. Mobilnya dibawa kabur," celoteh Lei.
"Apa reporter akan kemari?" tanya An risau.
Jika iya, mereka harus menyembunyikan fakta mengenai Trevor yang tertembak. Memang, lukanya sudah menutup sempurna. Namun akan lebih baik bila mereka mengatakan bahwa Trevor terkena penyakit lain. Sakit perut misalnya.
"Bener, tuh. Ceritanya kamu bikin cilok atau apa, gitu. Nah, kalian makan terus sakit perut," dukung Rheinna.
Anrietta mengelus dadanya, bersabar dengan arahan dari gadis cantik bak artis India. Tanpa menunggu lama, mereka pun menghubungi Tuan dan Nyonya Logdawn. Mulanya mereka keberatan, tapi takut kehabisan waktu.
"Baiklah, sebarkan berita ini pada semua pegawai tanpa kecuali," setuju beliau seraya memberi pengumuman di grup chat khusus pegawai Logdawn. Beruntung semua orang tanggap, sehingga proses wawancara berjalan lancar.
"Masuk akalkah bila dia membolos berhari-hari karena sakit perut?" ungkap seorang lelaki yang berprofesi sebagai reporter Starlight News.
"Ayolah, ketua. Dia anak orang kaya, bisa melakukan apa saja. Lagipula, banyak mahasiswa yang tidak menghadiri kelas. Hal seperti itu tidak dapat dicurigai," komentar wanita berkacamata.
"Benar, dia bisa melakukan apa saja dan menggunakan uang agar kejahatannya tertutupi," balas sang ketua team reporter.
Setelah itu, beliau menghela napas, memandang ke arah kediaman sebelum pergi. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, lelaki bernama Charles tidak mengetahui apa yang tidak beres dari keluarga Logdawn.
Sementara itu, Anrietta disibukkan dengan pemeriksaan CCTV. Ia diminta menemani para petugas untuk mengecek rekamannya bersama-sama. Dari sana, mereka bisa melihat pertengkaran Alice dengan Celine Logdawn.
"Korban sempat jatuh di tangga kediaman Logdawn karena berlari. Tidak ada unsur kesengajaan. Korban juga kehilangan keseimbangan di tempat parkir. Seorang wanita membantunya membereskan barang-barang," lapor petugas bertopi hitam.
"Bagaimana dengan CCTV di dekat TKP?" tanya An memberanikan diri.
Petugas tersebut menggeleng. Rupanya tidak ada kamera pengawas di sekitar tempat kejadian. Warga juga tidak mendengar teriakan apa pun. Namun, melihat perangai buruknya itu, bisa jadi korban memiliki banyak musuh.
"Bukankah Alice menaiki mobil? Rasanya mustahil jika dia tidak berteriak. Kalau begini, bisa jadi Alice dihabisi di tempat lain," kata An menyampaikan pendapatnya. Mau bagaimana pun, dia merasa kasihan pada gadis berambut pirang tersebut.
Ketiga petugas terdiam dalam hening, membenarkan pendapat dari Anrietta. Sebagai bodyguard, tentu wanita tersebut paham hal semacam ini.
"Kami akan mendalami kasus ini. Terima kasih atas waktunya," pamit petugas bertopi hitam setelah loading file CCTV selesai sempurna.
Anrietta hanya bisa mengiyakan, kemudian mengantar mereka hingga tempat parkir. Entah apa yang merasuki gadis tersebut hingga ingin mampir ke tempat penemuan jasad Alice. Mungkinkah karena bisikan dari arwah Alice?
"Yang tenang di sana," harap Anrietta sembari memandang lazuardi.
Di bawah langit yang sama, kediaman keluarga Agrestar turut diliput media. Rio memberikan keterangan bahwa ia bertemu dengan An di perjalanan, sarapan di taman, berjumpa Celine Logdawn, dan membesuk Trevor di ruangan terpencil.
"Terima kasih atas kerja samanya," ucap seorang wartawan sebelum mengakhiri sesi tanya jawab.
Rio Agrestar sedikit membungkukkan badan, mempersilakan para tamu untuk pergi. Setelahnya, Brian Agrestar memandangnya sinis. Di matanya, semua perbuatan Rio selalu salah. Bernapas pun bisa membuatnya marah.
"Jauhi keluarga Logdawn! Contohlah kakak dan adikmu yang tidak pernah membuat masalah!" hardik Brian dengan suara tinggi.
"Maaf, Pa," balas Rio tanpa menunjukkan rasa penyesalan. Mentalnya sudah terlatih untuk hal semacam ini.
Selang lima detik, Brian pergi. Istrinya menyambutnya dengan hangat. Membuat hati Rio bergejolak.
Tangan lelaki itu terkepal sempurna. Amarah di hati itu kembali terasa. Ah, sekarang Rio butuh secangkir teh hangat untuk menenangkan diri.