Insiden Kamar Mandi

1018 Kata
"Muat nggak?" tanya Anrietta dari balik pintu kamar mandi. Rio terkekeh. Sungguh pertanyaan lucu, mengingat An tahu benar ukuran bajunya. Padahal dia tidak pernah memberitahu. Gadis itu sungguh memiliki penglihatan yang tajam. Atau, memang sengaja menyelidik tentang Rio Agrestar? Tapi, apa hidupnya memang sebegitu menarik untuk diulik? "Muat, kok," balasnya lantas keluar dari kamar mandi. menjumpai Anrietta yang kini mengenakan dress putih bersih. Anrietta tersenyum senang, lantas mengajaknya untuk segera keluar dari kamar mandi. Rio mengekor, tak lupa membawa pulang bajunya yang sempat terguyur air. "Makasih, loh. Gue jadi punya kemeja baru. Mahal pula," ucap Rio di depan cermin. "Kok bilang makasih ke gue? Ke Mama Celine, dong," tolaknya seraya mengambil ikat rambut di saku. Mulanya, Anrietta hendak mengucir seluruh rambut, tapi ikat rambutnya terlalu kecil. Ia kecewa, lalu hendak memasukkannya kembali. "Jangan. Sini, gue dandanin," cegah Rio seraya merebut ikat rambut dari tangan Anrietta. Gadis itu terkejut, hanya bisa membiarkan Rio menjamah rambutnya. Lelaki itu cukup piawai, hasilnya pun memuaskan. An menoleh, mengucapkan terima kasih. "Sama-sama. Biar lo tambah cantik di depan Trevor. Jadi, gak ada siapa pun yang bisa rebut perhatiannya dia," goda pria berkemeja putih dengan celana jeans warna hitam. "Apa, sih?" sahut An dengan pipi yang mulai menampakkan semburat merah tomat. Rio terkekeh, lalu pamit pulang. Dia punya urusan yang belum terselesaikan. An ingin menahannya lebih lama. Rasanya, waktu berjalan menyenangkan bersama Rio Agrestar. "Nggak usah ngebut, lo. Lihat kiri-kanan juga," pesan An setelah Rio memakai helm. "Iya, Neng cantik," balasnya. Tangannya tak lupa menoel hidung Anrietta. "Ish," responnya kesal. Rio cuma tersenyum, lantas memacu motornya menuju gerbang kediaman keluarga Logdawn. Saat An melambaikan tangan, Rio membalasnya. Datanglah Lei yang mengamati gerak-gerik An sedari tadi. Tanpa basa-basi lagi, dia menanyakan perihal Rio. Mau tak mau, gadis tersebut menjelaskan secara panjang lebar. "Kirain pacarmu," kata Lei asal. "Sembarangan!" marah An. Malas berdebat, Anrietta memutuskan untuk kembali ke ruangan Trevor. Siapa tahu dia membutuhkannya. Benar saja, begitu An memasuki ruangan, Celine Logdawn menyambutnya dengan mata berbinar. "Kebetulan Trevor pingin ke kamar mandi. Kamu bantu, ya. Bisa, 'kan?" pintanya. Annrietta tidak sanggup menolak, ia cuma mengangguk dan tersenyum tulus. Celine pun pergi, An segera masuk untuk membantu Tuan Muda Logdawn. "Mama udah bilang. Anterin aku, cepetan!" perintahnya setelah An menutup pintu. "Baik, Tuan," sahut An patuh. "Eh iya, pintunya dikunci dulu. Barangkali nenek lampir itu datang lagi," katanya lagi. Anrietta menghela napas, mencoba bersabar menghadapi berbagai perintah yang diberikan Trevor. Saat akan memapah lelaki tersebut, pandangan An terfokus pada meja. Ada hamburger yang belum habis dimakan. Pasti Alice yang membawanya ke sini. "Liatin apa, sih?" bentak Trevor. Anrietta kaget, lantas meminta maaf seperti biasanya. Trevor cuma menghela napas, kesal punya pengawal yang lamban seperti An. Kalau tahu akan begini jadinya, dia lebih baik memilih orang lain sebagai pengawal utamanya. Sesampainya di kamar mandi, Trevor meminta An untuk membantu membukakan baju. Meski ragu dan malu, gadis itu melakukannya. d**a bidang milik Tuannya tidak memberi efek apa pun pada An, sebab ia tidak berminat pada hal semacam itu. "Jangan lupa turunkan celana panjangku juga. Kalau yang pendek, nggak usah," perintahnya lagi. "Baik, Tuan," balas Anrietta seraya membuka celana panjang yang dikenakan Trevor. Tanpa menunggu aba-aba lagi, dia menyiapkan air hangat dan menyapukannya menggunakan kain lembut ke seluruh tubuh Tuan Muda Logdawn. An sempat kehilangan fokus saat menatap luka yang ditimbulkan akibat peluru tempo hari. Dia merasa bersalah karena waktu itu dia tidak bisa membantu Trevor. "Tunggu dulu, kemana perginya luka di leherku? Seingatku, gadis bersurai merah menggoreskan pisaunya padaku. Aku juga lihat ada darah. Mana mungkin ini cuma ilusi," batin Anrietta seraya melihat ke arah kaca. Dia mengamati lehernya dengan seksama, tapi tidak menemukan luka apa pun jua. "Kamu tuh ngapain, sih?" omel lelaki tersebut. "Maaf, Tuan. Saya hanya mau bertanya. Apakah leher saya terluka saat kita menyerang markas Black Agent?" balas An balik bertanya. Dahi Trevor mengernyit sempurna. Dia ingat betul kalau An tidak memiliki luka apa pun di leher. Kalau ada, tentu Rindang sudah membalutkan kain di sana. "Tapi Tuan, saya ingat kalau gadis berambut merah menyayat saya menggunakan pisau," ujar gadis tersebut. "Ya mana kutahu. Udahlah, mungkin pas itu kamu kecapekan. Sekarang, mandiin aku sebelum airnya dingin!" titah Trevor, membuat Anrietta bungkam. Di dalam hati, lelaki itu sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi pada An. Ia berniat menyelidikinya dan berencana menghubungi Hernandez sesegera mungkin. Saat sudah selesai, An mengambilkan handuk. Trevor menerimanya dan meminta gadis tersebut mengambilkan pakaian. Ia mau mencoba mengeringkan dirinya sendiri. Takutnya tangannya jadi kaku karena tidak digerakkan. Usai memilih pakaian, Anrietta kembali memasuki kamar mandi. Di waktu yang bersamaan, Trevor hendak meraih gagang pintunya. Karena sudah dibuka Anrietta, tak ayal dia terjerembab ke depan. An yang tidak siap pun tertimpa tubuh besar Trevor. "Kamu gimana, sih?" omel lelaki kaya tersebut. "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau Tuan mau membuka pintu," sesalnya dengan napas terengah-engah. Trevor menggeser badannya ke kiri, menjauhi An. Beruntung mereka tidak mengalami luka serius. "Nasib, nasib. Baru belajar jalan, eh, malah jatuh," kesal Trevor dalam hati. Tuan Muda Logdawn berniat supaya bisa berjalan sendiri. Seperti saat menghampiri Alice untuk mencengkeram kerah bajunya. Jangan-jangan, itu keajaiban karena dia mau menolong ibundanya. Bisa jadi, bukan? "Mau saya bantu, Tuan?" tanya An. Kali ini, napasnya lebih tertata meski jantungnya dag dig dug tidak karuan. Trevor menerima uluran tangan dari gadis berbaju putih. Sulit baginya untuk bangkit tanpa bantuan orang lain. Memakai baju pun dibantu An. Rasanya, Trevor kembali menjadi bayi. "Habis ini, aku mau tidur. Terserah kau mau ngapain, asalkan nyahut pas kupanggil," pesan Trevor saat kantuk mulai menyergap dirinya. "Baik, Tuan," jawab An seraya pergi ke ruangan di sebelah dapur. Dia mengambil bantal dan meletakkannya di sofa. Rupanya, dia ikut merebahkan diri menuju alam mimpi. Sekujur tubuhnya pegal dan pikirannya tersita oleh luka di leher yang tiba-tiba menghilang. Ditatapnya Trevor yang sudah memejamkan mata. Sudah terlelap atau belum, An tidak tahu pasti. Celine Logdawn mengintip dari balik kaca jendela. Dia tidak bisa masuk karena An belum membuka kuncinya. Lalu, ditatapnya tangga tempat Alice jatuh. Entah apa yang ada di pikiran beliau. Namun, ada satu hal yang pasti. Alice tidak terlihat sejak saat itu. Tidak ada yang tahu kemana gadis itu pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN