Calon Menantu

1014 Kata
"Jarang-jarang kamu bawa teman, An," tegur seseorang dengan suara lembutnya yang khas. Anrietta pun menoleh, tidak menyadari keberadaan wanita yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya. Tanpa mengulur waktu, ia pun menjawab, "Iya, Ma. Mama juga pasti tahu alasan Rio datang kemari." Wanita berbaju sederhana itu pun tersenyum bangga, "Kenapa nggak cerita ke Mama kalau kamu hampir kecelakaan? Mikirin apa di tengah jalan?" "Mikirin anaknya Mama," ujar An dalam hati. Mana mungkin dia mau menjawabnya seperti itu. Malu kalau sampai ketahuan oleh Celine Logdawn. Nanti malah langsung dijodohkan. Ribet urusannya. "Channel-nya Mama banyak, sih. An nggak perlu susah-susah laporan ke Mama. Lagipula, An laper, Ma," balas gadis tersebut setengah berbohong. Celine Logdawn mengernyit heran. "Lho, bukanya di kamarnya Trevor ada dapur, ya?" Rio terkesiap mendengar penuturan wanita yang dipanggil Mama oleh Anrietta. Apakah Trevor dan Anrietta tinggal dalam satu kamar? Yang benar saja. "Ada tamu, Ma. An nggak mau ganggu mereka," ucapnya sembari memandang gedung di sampingnya itu. Wanita tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat itu pula Rio mendekat, dia merasa tidak sopan bila tidak menyapa beliau. Perempuan tersebut menyambut dengan hangat. Seketika, hati Rio meleleh. Wanita yang menyalaminya ialah Celine Logdawn. Rio merasa beruntung bisa bertemu beliau secara langsung. "Terima kasih ya, Nak Rio. Kalau nggak ada Nak Rio, Mama nggak sanggup bayanginnya," ucapnya penuh ketulusan. Lelaki yang ia ajak bicara cuma mengangguk seraya menunjukkan sederet giginya yang rapi. "Kalian temenin Mama ke kamarnya Trevor, yuk," paksa beliau sembari menggamit lengan Anrietta. Gadis tersebut tidak mampu melawan. Sekuat apa pun usahanya, pendirian Celine Logdawn tidak akan berubah. A akan tetap menjadi A sekali pun waktu berlalu seratus juta tahun. Rio memilih untuk mengikuti dari belakang. Rasanya canggung bila duduk sendiri di taman. Lebih baik menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya. *** Dari balik pintu, Celine tidak bisa menahan tawanya. Dia melihat Alice sedang berusaha membuka selimut yang melingkupi sekujur tubuh putranya. Wajah cemberut gadis berambut pirang pun tidak luput dari sorotan beliau. "Cantik-cantik tapi kok kaya w************n," sindir Celine setelah membuka pintu. Alice menoleh, mendapati perempuan yang asing baginya. Ditilik dari penampilannya, gadis tersebut mengira bahwa Celine hanyalah pelayan biasa. "Suka-suka gue, Bi," balas Alice dengan nada tinggi. Raut muka Nyonya Logdawn seolah mengejek Alice. Ia manggut-manggut dan tidak menjawab sahutan dari Alice. Rio hendak tertawa, tapi takut merusak suasana. Dia akhirnya membungkam mulutnya sendiri dan terus menonton kelanjutan drama tersebut. Canda drama. "Maaf, Non. Nyonya manggil Tuan Muda. Lebih baik Non pulang dulu, besok nggak usah kesini lagi," aktingnya lagi. "Bibi ngusir saya? Hello, mau reputasi keluarga Logdawn hancur gara-gara pelayan semacam bibi ngusir calon menantunya Nyonya Logdawn?" lagak Alice seraya menghampiri Celine. "Yang bakal hancur tuh lo," timpal Rio. Rupanya dia tidak bisa menahan keinginannya untuk segera mengakhiri perseteruan ini. "Apa sih? Ikut campur urusan orang," kesalnya seraya menatap tajam ke arah Rio Agrestar. "Sekadar informasi, wanita yang lo panggil Bibi itu superhero kuat. Sekali kena hantam, lo jadi perkedel! Lumat, ancur, ha ha!" sarkas Rio. Alice tersulut emosi, diraihnya botol air mineral yang ada di dalam tas. Dalam sekali guyuran, basahlah Rio Agrestar dan Anrietta Davine. Gadis berambut pirang hanya mampu melongo. Dia diam membeku menyaksikan kejadian tersebut. Niat hati menyiram pembantu tak tahu diri, eh malah kena dua mahasiswa Universitas Nebula. "Kamu minta ditampar apa gimana, sih?" marah Trevor seraya menarik kerah baju Alice. "A-apa sih? Lagian dia cuma pembantu lo doang," kilah Alice. Dia berusaha menghindar dari masalah. "Pembantu? Nggak ada pembantu di ruangan ini. Mereka lagi kerja di gedung sebelah," balas Trevor dengan emosi yang memuncak. Mana tega ia menyaksikan ibundanya dihina seperti itu oleh orang lain. Alice mulai gugup, diliriknya Rio yang tersenyum sinis dan Anrietta yang sibuk merapikan rambut basahnya. Perempuan di balik mereka tersenyum lembut, tapi tatapannya setajam elang. Nyali Alice jadi ciut. "An, kamu ganti baju dulu, sana. Rio juga, ya," pinta beliau lembut. "Iya, Ma. Oh ya, Rio mau dipinjami bajunya siapa?" tanyanya polos. "Beli, dong. Minta sama Hernandez suruh belikan baju," balas Celine sembari menepuk jidat. Rio buru-buru menyahut, "Eh, nggak usah, Tante. Rio pinjem baju aja." Ia merasa tidak enak dengan wanita cantik tersebut. "Enggak apa-apa. Hitung-hitung balas budi," cegah beliau seraya memberi kode pada An untuk segera melaksanakan perintah. Gadis itu pun berjalan meninggalkan ruangan. Rio tidak bisa membantah lagi, dia segera mengekor Anrietta. Segera setelah itu, wajah Alice berubah pucat pasi. Ia menelan salivanya berkali-laki. Akhirnya, kata yang ia takutkan pun keluar. "Aku Celine Logdawn," beritahu beliau dengan ekspresi datar. Alice bertambah gemetar, memohon maaf atas kesalahannya barusan. Gadis tersebut juga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. "Kami butuh bukti, bukan janji. Lagian kamu, sok-sokan jadi calon menantu saya. Jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Pergi!" bentak beliau seraya menunjuk ke arah pintu. Alice menyambar tas mahalnya, lantas pergi begitu saja. Karena tidak hati-hati, dia terjatuh berguling di tangga. Gadis tersebut merintih kesakitan, memijit kakinya yang sakit. Ia mengucapkan sumpah serapah, terutama untuk Anrietta. Celine dan Trevor tidak tahu, mereka hanya mendengar suara sesuatu yang jatuh. Kemudian, Trevor kembali merasakan nyeri di punggung, lalu ia mendudukkan diri perlahan-lahan. Celine tidak tinggal diam, beliau membantu putra semata wayangnya hingga dapat berbaring di atas ranjang. "Kamu itu gimana? Anrietta kok sampai beli sarapan di luar," marah Celine usai menyelimuti Trevor. "Yang pergi An, kenapa Trevor yang disalahin, Ma?" protes lelaki tersebut untuk menutupi kesalahannya. Dialah yang sudah menyuruh Anrietta untuk membeli sarapan. "Paling nggak, kamu harusnya bisa tolak perempuan yang tidak tahu adat dan sopan santun itu," ceramahnya lagi. Trevor tertawa, Celine pasti tidak tahu sudah berapa lama ia mencoba menghindari Alice. Namun selalu gagal, makanya ia lega dengan peristiwa ini. Semoga Alice tidak mengganggunya lagi. "Ma, Trevor udah nolak dia ribuan kali. Tanya saja sama Anrietta kalau Mama enggak percaya," ucapnya penuh percaya diri. Itulah fakta yang ada, ia tidak mau merubahnya sama sekali. Celine Logdawn menghela nafas. Dia tidak menyukai orang yang keras kepala tapi tujuannya salah. "Istirahat yang cukup, jangan bebani Anrietta dengan segala macam tugas berat. Kasihan dia baru siuman tadi malam," pesan Celine saat membaui aroma limun. Trevor mengangguk patuh, tapi entah mau dilaksanakan atau tidak. Yang penting mengambil kepercayaan dari Ibundanya terlebih dahulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN