Anrietta terkejut untuk kesekian kali. Dia baru sadar kalau tangannya bergerak sendiri. Menggenggam tangan Leo. "Gapapa, maaf," ujar Anrietta sembari menarik tangannya. Leo tidak membiarkan hal itu terjadi. Lelaki itu malah menggenggam tangan Anrietta dengan erat. Membuat pipi gadis itu jadi bersemu merah. Menatap kekasihnya lekat. "Udah, gini aja. Tambah hangat, 'kan?" Anrietta menelan saliva. Tatapan Leo membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Seolah memiliki kekuatan sihir. "Kamu nggak pernah kebut-kebutan di jalan, An?" selidik Leo sambil menggeser posisi duduknya. Lelaki itu merasa kurang nyaman menggenggam tangan Anrietta dengan jarak selebar ini. Rasanya, tubuh harus ekstra menahan posisi supaya tidak terjatuh. Oleng sedikit, dia bisa menimpa Anrietta. Nanti kalau ketahuan ora

