Aku Nyaman Mas

1148 Kata
Setelah jalan selama 6 bulan bersama Mas Aji. Malam ini, Mas Aji mengajakku untuk diperkenalkan kepada orangtuanya. Tidak lagi di usia main-main aku pun tak menolak permintaan Mas Aji. Hanya saja sebenarnya aku masih teringat terakhir kali aku diperkenalkan sebagai calon menantu. Aku mematut diriku di depan kaca. Sudahkah celana jeans yang kupadu tunik maroon ini membuatku tampak menawan dan sopan untuk orangtua Mas Aji. Apakah harus berganti dengan celana bahan, ataukah tidak masalah toh ya tidak terlalu ketat. Make up yang soft dan tidak menyolok agar tidak terlalu berat jika nanti harus berkeringat ketika berhadapan dengan orangtua Mas Aji.  Sejak pertanyaan Papa malam itu, Mas Aji berkata telah mengkampanyekan aku kepada orangtuanya. Meyakinkan bahwa “janda” ini telah menarik hatinya dan tidak semua janda identik dengan yang negatif. “Yakin kamu akan membawa aku ke orangtuamu mas?” tanyaku. “Yakin, ibu pengen kenalan sama kamu,” jawab mas Aji. “Kamu bilang apa sama ibu?” “Aku bilang aku menemukan perempuan baik-baik untuk jadi menantunya,” jawabnya. “Tentang kejandaanku?” “Berapa kali aku harus mengatakan, aku sudah menceritakanmu kepada ibu,” Mas Aji meremas tanganku. “Aku tak yakin, aku takut saat ibu tahu lalu sikapnya akan berubah, aku trauma dengan ibu mertua yang begitu,” kusandarkan kepalaku di bahunya. Sejak bersamaku, Mas Aji seringkali membawa mobil untuk bekerja, dia akan menjemputku untuk berangkat bersama ke kantor. Lalu seringkali kami keluar sekedar makan malam sebelum pulang. Seperti halnya malam itu saat dia mengabarkan dia akan membawaku ke rumah orangtuanya. Tadi siang Mas Aji mengingatkan bahwa orangtuanya mengundangku makan malam dirumahnya. Aku berdebar akankah ini akan sama dengan adegan-adegan di sinetron. Ketika menantu dan calon mertuanya akan makan di satu meja. Akan saling menilai dan kemudian saling memulai menebar teror. Ketika calon istri mengatakan aku tidak mau tinggal dengan orangtuamu, atau ketika sang ibu mengatakan istrimu bukan perempuan yang baik, kayaknya ga pernah pegang pekerjaan rumah. Saat itu peran cinta calon suami memaksa keduanya untuk menerima bahwa mereka akan berubah, mereka akan berbeda ketika sudah saling mengetahui kesehariannya. Ayah? Ayah adalah tirani dominan yang selalu muncul belakangan karena nyatanya suaranya kalah garang dengan ibu. “Jangan lupa nanti malam ya?” begitu ingatnya tadi. Dia  mengatakan akan menjemputku setelah maghrib. Aku yang menganggap ini semua belum seharusnya terjadi, menjadi berdebar sepanjang jalan. Lalu lalang mobil menyalip atau tersalip tak ada yang membuatku tenang. Bahkan tulisan bak belakang truck yang acapkali menarik perhatian terlewatkan begitu saja. Aku berkutat dengan keresahanku sendiri. Mas Aji yang belum mendengar suaraku malam ini, akhirnya membuka obrolan lebih dlu. “Berdebar Na?” “Iya Mas,” jawabku bahkan tanpa menoleh ke arahnya. “Tidak akan semenyeramkan itu.” “Itukan katamu”. “Tenang saja, kamu sudah memenangkan hatiku, itu berarti kamu juga telah mendapatkan hati orangtuaku.” “Ibu suka perempuan seperti apa?” “Yang tulen, yang bukan hasil oplas, yang bisa menerima saya dan keluarga saya apa adanya,” jawabnya sambil fokus ke jalanan. “Apakah aku termasuk dalam menantu idaman ibu Mas?” “Kita akan tahu nanti,” jawabnya sambil sedikit tersenyum. Aku mendengus pelan. Teringat singkat tatapan orangtua Ikhsan, almarhum suamiku yang menatapku teramat tajam, seolah berkata, gara-gara menikahimu anakku mati muda. Aku yang kemudian hampir tak pernah berhubungan dengan keluarga itu lagi, masih menjadi musuh tak kasat mata jika tak sengaja bertemu. Di depan tampak baik. Basa basi saling mencium pipi, begitu saling berbalik, maka panah-panah dilesatkan untuk membunuh secara pelan. Hauuft. Tapi dulu, aku memang tak begitu mengenal suamiku itu. Tidak ada pembelaan atas sikap orangtuanya terhadapku. Karena akupun orang yang baru baginya. Sedikit berbeda dengan sikap Mas Aji malam ini yang tampak sudah siap membangun benteng untukku. Dia seolah sangat siap mempresentasikan aku sebagai progressnya yang akan terus melesat tanpa hambatan. Dan sangat jauh berbeda saat aku begitu bersemangat bertemu dengan orangtua Yogi dulu. Ketika di perjalanan pun sudah terbayang keramahan orangtuanya. Aku akan berbaur dengan mereka tanpa rasa segan, namun juga tidak memalukan membawakan diriku sebagai orang yang pantas mendampingi putranya kelak. Saat itu Yogi juga adalah laki-laki yang dengan begitu percaya diri memperkenalkan aku pada ibunya. Dia yakin akulah masa depannya, seyakin aku dialah masa depanku. Tapi lihatlah sekarang apa yang terjadi. Hah, duniatelah sedemikian bercanda sampai aku tak bisa menebak akan seperti kedepannya. “Sampai,” perkataan mas Aji membuat jantungku berdebar 2 kali lebih cepat. “Boleh jujur?” tanyaku. Mas Aji menatapku, menghentikan aktivitasnya melepas safety belt. “Rasanya aku pengen balik pulang.” kataku dengan senyum pengecut . “Hahaha, sudahlah. Kamu hanya korban sinetron yang terlalu drama dengan adegan makan malam. Everything will be okay, i promised,” Mas Aji menarik tengkukku. Mendekatkan wajahnya padaku dan mencium keningku. Dia tidak menenangkan hatiku. Dia justru menambah gelisahku. Itu pertama kalinya dia menciumku. Mas Aji membuka pintu mobil, mengajakku turun. Saat aku menahan diriku, dia mengangguk membujuk. Aku mengekor dibelakangnya memasuki rumah yang sebenarnya tak jauh dari tempatku bekerja. Sederhana tapi rapi. Rumah gaya perumahan lama yang tidak terlalu lebar tapi masih punya halaman untuk menanam pohon-pohon rindang. Kami memasukinya tanpa mengetuk pintu. Aku bersalam yang dijawab oleh Mas Aji. Menuju ke tengah rumah dimana ada sepasang orangtua bersila di lantai melihat sinetron. Mereka belum terlalu sepuh, mungkin malah sepantaran dengan Mama Papa. Ibu Mas Aji mengenakan daster panjang dengan jilbab instan, sedangkan bapak masih berkoko lengkap dengan sarungnya. Kesederhanaan mereka membuatku sedikit kikuk, jangan-jangan aku berpenampilan terlalu wah untuk mereka. Lalu mereka akan menilaiku minus dan tidak menyetujui hubungan ini. Wait, sejak kapan aku peduli hubungan ini seharusnya berlanjut. Benarkah aku sudah mencintai Mas Aji, ataukah hanya nyaman saja? Aku mematung melihat Mas Aji mendekat, lalu mencium tangan mereka. Keduanya lalu melihatku dan tersenyum. Aku mendekat dan menyalami keduanya. Mencium punggung tangan mereka. Mereka lalu mempersilahkan kami duduk. Aku pun semakin bingung, apakah harus duduk di bawah seperti yang mereka lakukan tadi ataukah seperti tanpa unggah-ungguh duduk di atas sofa. Dari ruang tengah itu ada satu set sofa yang nyaman menghadap televisi. Di depannya tidak ada meja, tapi menghampar karpet merah dengan ornamen bunga. Di kiri kanan sofa itu ada meja dengan warna senada. Di atas sofa itu ada ornamen sepasang merak diaplikasikan sehingga nuansa damai dan nyaman begitu terasa di ruangan itu. “Ayo duduk sini,” ibu Mas Aji mengajakku duduk di sofa itu. Aku mengiyakan ajakan beliau. Sedari datang aku mengembangkan senyum menyambut apapun yang mereka bicarakan. Meskipun semunya terkesan basa basi. Seperti ungkapan aku cantik, pintar atau apapun yang sebelumnya pernah dilaporkan Mas Aji. Tak lama kemudian, ibu masuk dan kembali dengan membawa beberapa mangkuk masakan, lauk juga sebakul nasi. Kami makan dengan santai. Tidak semenegangkan bayanganku. Keluarga Mas Aji tampak lebih demokratis. Semua boleh bicara. Semua bisa menunjukkan pendapat yang berbeda. Mas Aji pun bisa menunjukkan ketidaksetujuannya pada beberapa pendapat politik bapak namun tetap santun dan santai. Dan aku menyukai suasana pertama aku bertandang ke rumah ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN