“Jadi menurutmu begitu?” tanya Bapak pada anaknya sambil menyeka sudut bibir beliau dengan tisu.
Mas Aji mengangguk, lalu menjawab pertanyaan ayahnya, “Bayangkan kalau tidak begitu pak, apakah pemangku kebijakan bisa merasakan efek dari regulasinya?”
Aku dan Ibu hanya menonton diskusi mereka secara bergantian. Sampai ibu melihat tidak ada salah satu dari kami yang kembali menyentuh piring ataupun sendok. Saat itu ibu menganggap makan malam kami telah selesai dan beliau berdiri untuk mengemasi. Akupun ikut berdiri. Mengangkat piring-piring kotor dan wadah-wadah yang tidak terpakai lagi lalu membawanya ke belakang.
“Mari saya bantu bu,” kataku awalnya.
Aku membututi beliau. Dapur ada di samping ruangan tadi ternyata. Begitu meletakkan piring-piring kotor ke wastafel aku menyingsing lengan tunikku.
“Sudah Nay, biar Ibu saja. Kamu kemasi saja yang masih di sana,” kata ibu.
“Gak apa-apa Bu. Di rumah juga biasa kok.”
“Iya, bagus kalau begitu,” ibu membalas ucapanku sambil tersenyum.
Di luar bahwa ini adalah ajang penilaian seorang ibu pada calon menantunya, aku memang sudah terbiasa melakukannya. Daripada hidup sebagai wanita karir, aku lebih lama hidup sebagai nona rumah tangga. Aku terbiasa melakukan pekerjaan mengurus rumah, memasak, membersihkan dan menata seisi rumah.
Ibu lalu kembali ke ruang tengah, lalu kembali membawa wadah yang masih berisi sayur. Menuangkannya ke panci-panci dan menghangatkannya kembali. Sedangkan aku mencuci wadah-wadah kotor yang isinya sudah dipindahkan.
“Naya, Ibu boleh tanya sesuatu?”
“Silahkan Bu,” aku menolehnya sebentar.
“Naya betul janda?”
“Iya,”jawabku tanpa berhenti mencuci piring.
Ada rasa masygul tentang pertanyaan ibu. Mungkinkah itu akan merubah restu dan keramahan yang beliau berikan kepadaku sedari tadi? Tapi pertanyaan telah terjawab jujur. Aku tidak ingin menutupi apapun yang membuat aku menerima kenyataan pahit suatu hari.
“Kok Ibu ngeliat kamu kaya masih gadis ya?”
Aku tertawa, “apa ada bedanya bu?” tanyaku.
“Ah, penampilanmu, tubuhmu, seperti belum menikah sebelumnya”.
“Ibu bisa saja,” akhirnya aku kembali mencuci piring-piring kotor dan meletakkannya pada rak untuk meniris air yang masih menetes dari piring-piring itu.
“Ibu sudah pernah jadi gadis, walau belum pernah jadi janda, tapi ibu sudah menikah puluhan tahun, kakak perempuan Aji juga sudah menikah, tentu ibu lebih tahu meski hanya melihat bentuk tubuh,” goda ibu.
Perempuan yang kemudian memindahkan piring-piring juga panci yang sudah bersih ke tempatnya semula itu kemudian bertanya lagi padaku.
“Sudah punya anak?” kali ini aku menggeleng.
Bagaimana bisa punya anak, kalau disentuh pun belum pernah oleh almarhum suamiku dulu. Tapi menjelaskan hal itu kepada ibu tentu terlalu vulgar jadi aku merubah kalimat sedih itu kalimat lain yang lebih dapat diterima.
“Mungkin karena sudah lama menjanda dan saya belum punya anak bu,” jawabku.
“Ah iya.”
“Suamimu meninggal Nay?” tanya Ibu sambil mengelap tangannya dengan kain lap yang tergantung di sisi kulkas.
“Iya bu,” jawabku dengan nada yang datar.
Entahlah, tentang Mas Ikhsan, aku tak pernah bisa menunjukkan rasa rindu yang seharusnya ditunjukkan seorang istri kepada suaminya.
“Sudah lama? Ah, kenapa saya jadi menggugah rasa sedihmu,” ibu mengelus pundakku pelan sebelum kemudian menuang air dari cawan ke dalam gelas.
“Sudah dua tahun lebih bu, tapi kalau boleh saya jujur, maaf saya tidak sedih sama sekali,” aku menghadap kepada Ibu yang duduk dan telah menghabiskan sepertiga isi gelasnya.
“Kenapa?”
“Saya belum mengenal suami saya, saat kami menikah, pun saat dia akhirnya meninggal, jadi sebenarnya, saya tidak merasa kehilangan,” jawabku jujur.
“Perjodohan?”
“Iya.”
“Saya dulu dengan bapaknya Aji juga menikah karena dijodohkan, sama seperti katamu tadi, aku juga pernah tidak mencintai dia, hanya melakukan apa yang sebaiknya dilakukan seorang istri.”
“Berapa lama yang ibu butuhkan untuk jatuh cinta?”
“Cukup lama, harus berkali-kali berpikir untuk menyadari bahwa saya bersedih jika dia sedih, saya senang, bangga, jika dia meraih prestasi.”
“Saya hanya menikah dengan suami saya 2 hari sebelum dia pergi dan kembali sebagai jenazah di hadapan saya.”
Terlihat raut wajah ibu cukup terkejut. Tapi beliau lalu tersenyum. Mungkin akhirnya beliau menyadari mengapa belum ada cinta antara aku dan Mas Ikhsan.
Seolah menyadari aku terlalu lama di dapur, Mas Aji menyingkap tirai yang memisahkan dapur dengan lorong musholla. Dengan isyarat matanya dia bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku pun tersenyum untuk menunjukkan bahwa aku tak apa-apa.
“Gosipin apa ini ibu-ibu?” godanya.
“Ibu? Naya belum punya anak kok ibu?” seloroh Ibu.
“Dia ibu negaraku bu, calon ibunya anakku,” Mas Aji berdiri di sampingku dengan cara yang sama denganku, bersandar pada set kitchen.
“Ya sudah, ayo kembali ke depan saja, kita ngobrol di sana,” ajak ibu.
Ibu lalu keluar dari dapur ke ruang keluarga yang sudah bersih dari makanan. Bapak sudah duduk di atas sofa sambil merokok. Mas Aji membuntuti aku, tapi kemudian menarik tanganku dan menahanku sesaat.
“Ibu bilang apa? Kamu gak apa-apakan?” tanya Mas Aji.
“Gak apa-apa, kita bicarain nanti ya?” jawabku.
Mas Aji membawaku ke ruang tengah dengan menggandeng tanganku. Lalu kami duduk di sofa panjang yang menghadap ke televisi.
“Biasa nonton apa Nak?” tanya Bapak padaku.
“Sudah lama tidak menonton televisi Pak, lebih suka nonton film di youtube,” jawabku jujur.
“Film apa kesukaanmu?”
“Horor atau drama komedi Pak, tergantung suasana hati,” aku menatap beliau sekalipun beliau berkonsentrasi pada pertandingan voli di televisi.
“Kalau saya suka nonton olahraga,” aku beliau.
“Iya, saking sukanya sampe Ibu ga pernah dapat giliran nonton sinetron,” kata Ibu.
“Dulu sudah tak ijinin nonton tersanjung sampai berapa tahun toh bu?”
Ibu dan Bapak tertawa sedang aku hanya tersenyum saja.
“Kata Aji Nak Naya anak tunggal ya?” tanya Bapak lagi.
“Nggih Pak, saya anak tunggal,” jawabku jujur.
“Sepi apa ga kalau ga punya saudara?” tanya ibu.
“Hehehe, jadi putri di rumah sendiri Bu,” jawabku.
Kami lalu bercanda hal-hal ringan seperti kesukaan mas Aji atau masa kecil mas Aji. Dulu dengan ibunya Mas Ikhsan, aku tak pernah seperti ini. Kami hanya bertemu saat lamaran, selama prosesi pernikahan dan saat Mas Ikhsan meninggalkan kami selamanya. Apalagi saat pemakaman, aku masih mengingat tatapan mataya yang seolah mengatakan bahwa aku adalah pembawa sial, penyebab kematian anaknya. Padahal sekalipun aku tak pernah menyentuh anaknya.
Sangat berbeda dengan kali ini ketika Ibu Mas Aji meramahiku seperti anaknya sendiri. Beliau tanpa canggung meminta tolong, atau menepuk pundakku. Semuanya dilakukan seperti lama sudah saling mengenal. Bahkan aku tidak menyadari waktu yang berlalu dan semakin larut. Saat lonceng jam berbunyi sembilan kali, aku menatap Mas Aji, dan dia segera tahu harus berkata apa.
“Buk, kok sudah malam, saya antar menantumu pulang dulu ya? Dicari Papanya nanti,” kata Mas Aji.
“Woh iya, ga kerasa udah jam sembilan ya nak?”
“Naya pulang ya bu?” pamitku dengan mencium punggung tangan beliau.
“Iya, kantor kalian dekat sini kan, mampir saja kalau pulang kerja, atau sesempat kalian. Bapak sama ibu kan selalu di rumah,” kata bapak.
Kami kembali masuk ke dalam mobil dan Mas Aji mengantarku pulang. Di dalam mobil aku menceritakan kembali apa saja perbincanganku dengan ibu. Mungkin aku terlalu semangat atau tanpa sadar bahwa aku selalu tersenyum, Mas Aji ikut tersenyum padaku.
“Sudah kubilang kan? Orangtuaku tidak sehoror yang ada di sinetron. Mereka tidak akan mensinisimu. Mereka ramah,” kata Mas Aji sambil mencubit daguku.
“Ah iya,” jawabku lega lalu bersandar lebih santai.