Pelamar Ketiga

1080 Kata
Seluruh rumah riuh dengan persiapan menyambut tamu. Makanan siap dihidangkan, keluarga besar berkumpul dan anak-anak kecil yang tidak peduli ini ada acara apa berlarian keluar masuk. Aku memang anak tunggal, tapi kedua orangtuaku adalah anak kesekian dari banyak bersaudara. “Jam berapa keluarga Aji datang Na?” tanya Mama sambil berlalu “Jam satu Ma,” aku masuk ke kamar dan bersiap. Meskipun aku anak satu-satunya. Tapi bagi keluarga kami, ini sudah lamaran ketiga yang pernah terselenggara di sini. Dan ketiganya tak lain untuk melamarku. Entahlah bagaimana Mama membangun komunikasi dengan tetangga. Di desaku, ini bukan hal yang bisa dibanggakan. Tapi yang kutahu, Mama sudah berusaha keras agar aku tak perlu mendengar gunjingan tetangga tentang khitbah ketigaku. Saat itu adalah ketika Yogi melamarku. Pertama kali keluargaku membuat persisapan besar untukku. Saat itu aku begitu antusias, begitu juga dengan keluargaku. Papa dan Mama membuat persiapan yang lama agar acara dapat berjalan dengan lancar. Laki-laki yang kucintai, kuidolakan, kudambakan akhirnya menjadi penyunting yang diterima dengan baik oleh keluargaku. Ketika dia dan keluarga besarnya akhirnya datang, aku sudah berdandan dengan cantik. Begitu dia memandangku, begitu dia memujiku. “Kamu cantik sekali Yank,” bisiknya saat kami berpapasan. Acara digelar meriah, kedua keluarga menerima dengan baik pinangan yang terselenggara ini. Tanggal pernikahan  memang belum dibicarakan, masih akan dicari dengan menghitung hari lahir kami berdasarkan kalender lunar. Tapi tak ada yang salah, hari lahir kami menghasilkan angka yang baik untuk kami dapat berumah tangga. Aku masih mengingat dengan baik saat cincin saling dipakaikan dengan sorak-sorai. Mamanya memakaikan cincin di jariku, lalu Papa memakaikannya di jari Yogi. Cincin itu pernah kupandangi sepanjang malam sebagai wujud rasa bahagiaku. Cincin itu pernah menjadi magis yang membesarkan hatiku. Aku masih terus menjaganya walaupun aku tahu Yogi menikahi perempuan lain. Aku masih berharap kedua cincin itu akan kembali bertemu suatu saat nanti. Meskipun akhirnya aku putus asa, kubuang cincinku di jalanan saat Papa memberi tahu bahwa ada laki-laki lain yang akan jadi suamiku. Lalu lamaran keduaku, hari saat pertama kalinya kulihat Mas Ikhsan. Tampan, berwibawa, terlihat cerdas, tapi ketika logikanya di atas segalanya, hatiku justru jauh dari kata logika. Dia berbicara sesuai teori yang dia pelajari. Bahwa kegagalanku bukan akhir dari segalanya. Aku harus berlalu menghadap masa depan yang akan kulewati bersamanya. “Aku sudah mendengar tentangmu, aku tahu ini bukan maumu, tapi bisakah kita mencoba untuk saling memahami?” “Seberapa dengar? Tahu apa saja anda tentang saya?” tanyaku siang itu. “Aku tahu ini bukan pertama kalinya di jarimu akan dipasangkan cincin,” dia menjawab pertanyaanku sambil menghadap lurus padaku. “Lalu seberapa berharap anda kepada saya untuk saling memahami,” tantangku padanya. “Tidak perlu mencintai saya, tapi cobalah untuk menerima takdir kita sama-sama kesulitan mendapatkan pasangan, dan kita terlanjur di tahap ini.” “Kesulitan mendapat pasangan?” kusimpan ejekan itu di dalam hatiku. Jika saja bukan demi kedua orangtuaku, aku sudah menolak lamaran itu mentah-mentah. Tapi kali itu aku bersabardan mencoba menerima takdir yang kuanggap pahit itu. Dan aku menyahut dalam hatiku dengan ungkapan yang paling jahat yang pernah didoakan calon istri kepada calon suaminya. “Tidak, ini bukan kegagalanku, maka tentu saja ini bukan akhir dari segalanya. Aku masih akan mencintai Yogi. Mendapatkan hatinya suatu hari nanti. Dan saat itu datang, kamu ataupun istrinya harus memaklumi karena pernah berada diantara kami.” Namun tentu saja aku diam saja. Aku mengeraskan hatiku. Aku tidak akan membiarkan laki-laki ini, membuatku mencintainya, dia akan kesulitan jika berusaha mendapatkan hatiku. Hiruk pikuk malam itu, segetir ketika beberapa bulan kemudian dia datang lagi padaku sebagai jenazah yang aku bahkan tak ingin membuka petinya untuk berkata selamat tinggal. Aku kasian padanya, tapi bagaimanapun, saat itu, ada letupan kegembiraan yang membumbung, seperti kembang api yang berbunyi pop pop. Mungkin letupan bahagia itu mengukir sebuah lengkung senyum di raut wajahku, sehingga mertuaku memandangku penuh kebencian. “Selamat tinggal Mas, silahkan menikmati banyak bidadari, tapi bukan aku bidadarimu,” begitulah ucapan selamat tinggal yang kuucapkan pelan saat tanah pekuburan itu mulai menutupi petinya. Sedangkan malam ini, tidak terlalu buruk. Setidaknya Mas Aji adalah laki-laki yang kuijinkan sendiri masuk ke kehidupanku, tidak ada yang memaksa. Meskipun aku masih terus menyangkal aku mencintainya, tapi tak bisa kupungkiri hatiku bergetar. Ada rasa yang serupa yang pernah terjadi antara aku dan Yogi. Ketika seluruh keluarganya akhirnya datang, aku menyalami ibunya juga kakak perempuannya kemudian mencium keponakannya. Merangkul sepupunya yang ternyata teman SMA. Aku secara tak sadar ternyata teramat bahagia siang itu. Padu padan kain dan kebaya warna birumudaku menyerasikan batik yang dikenakan Mas Aji siang itu. Sekali lagi, cincin melingkar di jariku. Jari yang sama yang memakai dua cincin lainnya dulu. Namun kali ini, aku dengan tulus berdoa dalam hati, “Tuhan, ini harus jadi yang terakhir.” Semua bercengkerama saling memperkenalkan diri. Dan karena bagaimanapun kami masih satu kota, maka tak jarang keluarga kami punya kenalan yang sama. Makin riuhlah rumahku hingga sore. Apakah dulu aku tertidur saat prosesi pertunangan anatara aku dan Mas Ikhsan? Mengapa kegembiraannya ataukah kesedihannya takbisa kuingat dengan baik. Aku dan Mas Aji menepi sejenak di taman samping rumah. Kami duduk di depan koleksi anggrek Mama. Dia membelai rambutku, mencium tanganku. Di depan acara masih berlangsung, keluarga sedang beramah tamah. Anak-anak kecil pun masih berlarian melewati kami. “Akhirnya kamu hampir jadi milikku,” katanya. “Jangan bilang hampir, aku baru saja berdoa semoga kamu jadi yang terakhir,” jawabku. “Iya.. Iya.. Aku akan jadi yang terakhir, yang akan menjadi imammu, yang akan menyelesaikan masalahmu, dan menghadapi masa tua bersamamu.” “Semoga memang begitu. Aamiin.” “Iya, aamiin.” Kami saling bertatapan mata. “Kamu cantik sekali, Nay,” dia menyibakkan rambut dari bahuku. Jantungku berhenti berdetak sekian detik, sesak. Kenapa harus kalimat yang sama bahkan nada yang sama yang kudapat darinya. Kalimat yang membuat seluruh memoar tentang Yogi menguar kembali, senyumnya, tatapan matanya, bahkan perasaan berharap bisa bersama… Tidak, ini tidak boleh hal yang sama. Aku tak mau kehilangan Mas Aji seperti aku kehilangan dia. “Nay, kenapa?” tanya Mas Aji saat merasakan genggaman tanganku menguat. “Eh, ga Mas,” aku mencoba menghindari pertanyaan yang mungkin akan sulit kujawab. Mas Aji lalu merangkul bahuku, kami kembali menikmati tangkai-tangkai anggrek yang berbunga. Di tangan kami, semangkuk es puding dan buah sesekali kami suapkan ke mulut, sampai Ibu menengok kami dan mengajak Mas Aji pulang. “Loh, dicariin Ibuk kok masih mojok di sini, ayo pulang dulu, besok ngapel sendiri lagi ya,” ajak ibu yang memancing tawa Mama yang tampak juga sudah akrab dengan calon besannya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN