Aroma Laut

1991 Kata

Hanya selang dua minggu setelah keluarga Mas Aji ke kediaman kami, kini kami yang harus bertamu ke kediaman orangtua Mas Aji. Suguhan dan sambutan tak kalah mewah dan meriahnya. Lebih banyak keluarga besar Mas Aji yang dulu belum sempat ikut ke acara lamaran kami berkumpul di rumah itu. “Mana calonnya Aji,” terdengar suara sepuh yang membuat Ibu segera menggandengku dan mendekatkanku pada seorang nenek yang duduk di sofa tengah. “Ini Mbah, ini Naya, calon istrinya Aji, Na, ini neneknya Aji,” aku lalu duduk di hadapan beliau dan mengambil tangannya lalu kucium punggung tangannya. “Iya nak, semoga langgeng ya, berumah tangga yang baik,” beliau mencium keningku dan menepuk bahuku lembut. Setelah itu Ibu kembali membawaku ke ruang tamu, berkumpul bersama keluarga yang lain. Aku duduk dis

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN