Selesaikan Bersama

1936 Kata
Mama dan Papa hanya tahu aku sakit. Aku Butuh istirahat. Maka begitu mereka menutup pintu aku kembali menyalakan laptopku, juga standby ponsel kembali. Menelpon dengan suara yang amat sangat kecil agar tak sampai terdengar Mama dan Papa. Aku kembali berkutat sampai lupa waktu. Tahu-tahu ayam mulai berkokok, adzan subuh terdengar. Suara Mama di dapur bergelut dengan segala peralatannya juga sampai ke telingaku yang belum tertidur dari tadi malam. Kepalaku kali ini benar-benar pusing. Mama terdengar membuka pintu dan menyalakan motornya. Lalu suara itu menghilang perlahan. Baru 10 akun yang bersedia menghapus postingan mereka. Dan dari 10 akun itu, hanya satu yang dengan tulus meminta maaf dan segera menghapus postingannya. Sisanya aku benar-benar harus berusaha keras. Aku menggeliat, merasakan otot-ototku memanjang berkontraksi. Ku kesampingkan laptop juga ponsel yang dari semalam belum pernah beristirahat sama sepertiku. Tanganku mulai kesemutan dan merasakan panasnya ponsel yang ada dalam genggamanku. Aku berpindah ke tempat tidur. Melihat jam berdetak dan ingatanku mulai hilang perlahan. Mataku menjadi sangat nyaman saat terpejam. Seolah dia begitu berterimakasih karena akhirnya tak perlu melihat cahaya eletronik lagi. Aku mendengar ketika Mama membuka pintu kamarku dengan kunci cadangan yang dia punya. “Na, sarapan dulu,” dia berusaha membangunkan aku yang baru saja lelap. Aku tak menyahut, tubuhku rasanya lelah sekali. Pun mataku enggan memmbuka. Aku memilih membatu seolah tak ingin bangun lagi. “Na,” merasa aku tak menyahut, Mama mulai menggoyangkan tubuhku. Aku begerak, sekedar menunjukkan keenggananku untuk bangun. Lalu Mama mulai menyadari aku masih ingin tidur. Terlihat beliau beranjak meninggalkan kamar. Otakku kembali lelap. “Efek obat mungkin Pa,” aku mendengar kalimat itu saat matahari mulai menerobos masuk melalui jendela kamarku. “Kamu tahu, whatsappnya terlihat jam berapa? Jam 4 lebih 10 tadi pagi,” kata Papa. “Menurut Papa dia semalaman ga tidur lagi?” “Apa lagi?” “Ada masalah apa anak ini?” “Sekarang biarin tidur dulu, nanti pulang kerja kita bahas lagi.” Aku berusaha tidur lagi, tapi melihat ponselku yang mulai mendapat banyak respon lagi aku merasa sayang untuk melewatkannya. Aku memaksa otakku untuk segera sadar dan kembali bernegosisasi. Di saat aku aku sedang menelpon, ada nada sela panggilan lain. Aku melihat sekilas, Rudi. Aku mengabaikannya. Aku terus bernegosiasi sampai bisa mendapatkan jawaban postingan itu akan segera dihapus. Setelah itu aku baru menghubungi Rudi. “Iya Rud?” “Sakit Na?” “Iya Rud,” jawabku. “Kenapa ga ijin?” tanya Rudi. “Maaf aku lupa,” acuhku. “Kamu dicariin Pak Broto, input datamu terabaikan,” kata Rudi. “He.em,” aku menjawab sekenaku. “Ijin dulu Na,” kata Rudi menyarankan. “Iya.” Panggilan itu lalu kuakhiri. Aku menghubungi Pak Broto, atasanku. Aku meminta maaf karena alpa selama dua hari. Tapi beliau justru memahami dan sudah tahu aku sakit dari Papa, katanya. Meskipun begitu dia menginginkan aku segera bergabung ke dalam tim karena ada pekerjaan yang terbengkalai. Aku mengiyakan dan berjanji segera masuk setelah masuk. Meskipun sebenarnya aku mulai berpikir, untuk berhenti bekerja. Masih terus menghubungi, mengirim pesan, merayu, aku dan kedua perangkatku kembali bekerja keras sampai terdengar ketukan pintu memanggil namaku. “Naya, buka pintu!” Aku membuka pintu, menunduk menyembunyikan mata sembab, mata  berkantung dan semua kelelahanku. Papa mengangkat daguku, lalu menunjukkan layar handphonenya di hadapanku. Akhirnya, sampai juga postingan itu ke tangan Papa. Aku tahu aku telah amat bersalah. Aku telah membohongi kedua orangtuaku dan ini mungkin balasanku. “Kamu ketemu Yogi Na?” pertanyaan itu meluncur dari mulut Papa. Aku mengangguk. Sungguh hanya bisa mengangguk. Aku bahkan lupa meminta Papa masuk. Kami hanya saling berdiri di ambang pintu kamarku yang berantakan seperti penghuninya. “Gara - gara ini kamu ga keluar kamar?” Sekali lagi aku mengangguk. Jika aku bisa, aku ingin tetiba berlutut memegang kaki Papa untuk meminta ampun. Tapi jangankan seperti itu, sekedar membuat gerakan lain selain mengangguk pun aku tak mampu. Tubuhku kaku, lidahku kelu. Aku mendadak bodoh dan tak tahu harus bagaimana. Papa masuk ke kamarku, melihat sudut-sudutnya sejenak lalu duduk di kursi belajarku. “Na, kamu harus keluar dari kehidupan Yogi, sudah nak. Cukup.” Lembut ucapan Papa membuatku menoleh ke arahnya. Aku ingin sekali menentangnya. Menjawabnya dengan lantang bahwa Papa tidak tahu seperti apa rasanya cinta yang masih utuh untuk Yogi. Tapi yang bisa memberontak hanya air mata yang terus menerjang pelupuk. “Mau sampai kapan kamu seperti ini? Papa bukannya ga merestui kamu, tapi ceritanya sudah beda Nak. Dan kita tidak bisa terus-terusan berdiri di tempat yang sama. Kamu harus berjalan maju seperti Yogi yang juga sudah mulai berjalan maju. Dia mulai bahagia dengan rumahtangganya. Kamu juga harus begitu. Papa ga maksa kamu buat mencintai orang lain lagi. Tapi jangan Yogi lah nak. Jangan suami orang.” Suara papa yang terdengar bergetar membuatku semakin mematung. Tentu saja semua orang ingin aku bahagia. Tapi sekarang tak hanya Yogi masalahnya. Tapi viralnya kisah cinta terlarang ini. Kurasa sulit membuatku bisa menegakkan kepalaku kembali. Apakah aku akan bisa menghadapinya? Aku berjalan ke arah Papa, lalu bersimpuh di bawahnya. Meletakkan kepalaku ke pangkuannya. Menangis sepuasnya. “Maafin Naya Pa,” kataku di sela isak tangis. “Tahu kan apa akibatnya ketika kamu salah melangkah?” Aku mengangguk, masih dengan bersimpuh, aku menghapus air mata yang memanas, sama halnya dengan ingus yang mencair dan berusaha keluar dari sesaknya hidung yang berair. “Yogi tahu tentang ini?” Aku menggeleng. Entah Papa membacanya sebagai ketidaktahuanku atau justru ketidaktahuan Yogi pada kasus ini. “Dua malam kamu ga tidur, mencoba menghentikan ini? Kamu sendirian?” Aku menggangguk. Papa menghela napas yang teramat panjang. “Butuh bantuan Papa?” Aku menggeleng, aku ga mau Papa harus kerepotan akan ulahku yang sudah melanggar ketentuan Papa. “Pekerjaanmu bagaimana?” tanya Papa akhirnya. “Aku… aku… resign boleh?” “Kenapa?” “Sama seperti alasan papa mengetuk pintu kamar Naya tadi,” kataku. “Teman kantormu tahu?” Aku mengangguk. Ga mudah jadi anak baru ditambah lagi jika berkasus. “Setahu Papa ini juga karena salah satu teman kantormu kan? Mau pindah bagian?” “Ga perlu Pa, aku hanya pengen resign,” jawabku. Besok ngantor ya? Ga akan seburuk yang kamu bayangin kok. Kamu ga kasian Papa toh nak udah capek-capek nyariin kamu pekerjaan?” Papa mengelus rambutku. “Naya malu Pa, kemarin ga sampe kayak gini kejadiannya” jawabku. “Ga usah malu, anggap aja ini sensasi selebriti, katanya mau jadi artis dari ngevlog,” Papa lalu mengusap pundakku. “Artis-artis di ibukota sana, sensasinya jauh lebih gede dari beginian, ini ga ada apa-apanya, dan mereka tetap harus kerja karena terikat kontrak. Papa mau kamu juga berpikir begitu, kamu harus profesional, bisa memisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Abaikan pandangan orang lain, bersikap apatis terhadap sesuatu yang menjatuhkanmu, paham?” Aku memandang mata Papa. Wajahnya mengerut menunjukkan lelah yang juga teramat sangat. Bekerja sebagai PNS dan membesarkan seorang anak perempuan tunggal yang dia gadang harus membanggakannya, nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kantung mata yang mulai menggantung, dahi yang tak lagi kencang selama beberapa tahun terakhir. Aku merasa sangat bersalah. Aku tahu beliau tidak akan berharap aku bisa memperkaya dirinya, tapi cukuplah menjadi anak baik, yang juga menjaga nama baiknya, yang dapat dia banggakan pada teman-teman kerjanya, pada teman-teman lamanya saat mereka bertemu dalam sesi reuni. Mungkin hanya sesederhana itu impiannya. Namun nyatanya mimpi yang sederhana itu membutuhkan perjuangan untuk diwujudkan. Ada aku yang terus menghalangi mimpi itu menjadi nyata. Aku dan sebuah rindu yang membelenggu. Rindu yang begitu sulit kuperlakukan dengan seharusnya. Ketika kupendam, dia menjadi semakin merongrong. Ketika kuluapkan rindu itu membuat konsekuensi yang aku kesulitan mengenedalikannya. “Paham Na?” pertanyaan itu diulangi Papa. Aku masih terdiam, bukan karena tak mengerti. Tapi Papa, bisakah aku menawar kembali tentang rasa hati yang tidak bisa kujual ataupun kubeli? Yogiku, aku melakukan apapun dua malam ini, bukan hanya tentang nama baikku sendiri, tapi aku berusaha dia tak tergangggu dengan kembalinya aku di kehidupannya. Aku ingin dia nyaman-nyaman saja bersamaku. “Papa tahu, kamu paham maksud Papa,” Papa berdiri dan bersiap meninggalkan aku saat ponselku berdering. “Iya Dris,” sapaku begitu panggilan saling terhubung. “Aku susdah ketemu postingan pertamanya, juga track akun siapa aja yang post gambar serupa, tapi..” suara Andris terhenti. “Tapi apa Dris?” Papa berhenti, memilih duduk kembali di kursi kerjaku. “Ribuan Na,” terdengar Andris berat mengatakannya. “Gak apa-apa, yang penting udah ketemu sumbernya.” “Oke aku kirim filenya ya?” “Iya, makasih ya Dris, how much?” “Free for you Na, kamu masih harus bekerja keras,” kata Andris. “Dris?” “Iya?” “Ada saran selain menghubungi satu pesatu? Aku sudah ga tidur dua malam,” kataku. “Biarkan berlalu, nanti pasti hilang sendiri begitu ada viral yang baru.” “Berapa lama Dris?” “Ga mesti, tergantung seberapa menarik kisahmu dan kisah baru yang harusnya menggantikan,” jawabnya. “Makasih ya?” Andris memberiku semangat, mengingatkanku untuk tidak lupa makan. Aku mendengarkan suaranya yang sopan sekali di telinga. Andris selain ahli IT juga seorang penyiar radio beberapa tahun lalu sebelum akhirnya memilih jadi vlogger juga. Banyak tutorial dia bagikan di channel youtubenya. Karena itu aku dan dia masih terjalin dalam komunitas yang sama. Sekalipun begitu, kami tidak saling menghubungi selain jika ada kepentingan mendesak. File sudah dikirimkannya ke emailku. Daftar ribuan akun yang juga mengepost tangkapan layar saling balas komentar itu. Papa ikut melihat dan ketika beliau kesulitan, beliau lalu mengambil kacamatanya. “Print!” perintahnya setelah mengamati sejenak. “Iya Pa,” kataku. Ribuan data post itu lalu kami sortir berdua, postingan mana yang sudah kuhubungi dan bersedia menghapus, mana yang hanya share segera kami hanya perlu mengejar postingan utamanya. Selagi kami mensortir, terdengar motor Mama datang. Melihat kesibukan kami di kamar, Mama mendekat. Dengan sedikit mengangkat alisnya, Mama bertanya apa yang dilakukan Papa di kamarku. Papa meletakkan kertas dan bolpoinnya lalu keluar kamar bersama Mama. Aku sudah tahu Papa akan menceritakannya, aku hanya berharap Mama cukup mengerti dengan tidak memberi ceramah tambahan. Kalau Papa cukup menasihatiku 10 menit, Mama bisa melakukannya 10 jam, dan terus berulang selama 10 hari kemudian. Aku mencoba menghubungi postingan pertama yang ternyata di post oleh followers ku yang juga merupakan orang yang terus berbalas chat dengan Indar. Tidak kusangka dia juga menghubungi Indar secara pribadi untuk mendapat info tentangku. “Ayolah mbak, pean sudah punya suami kan?” tanyaku. “Bagaimana kalau yang kalian bicarakan itu suami anda sendiri?” “Nyatanya kan itu bukan suami saya?” “Anda menyebarkan sesuatu yang harusnya menjadi privasi saya, hapus atau anda terlibat di jalur hukum. Saya tidak akan segan-segan melaporkan anda ke kantor polisi,” ancamku. “Makanya mbak Nay, lain kali kalau mau post-post itu dipikir dulu, mau konsepin apa,” aku mendengarkan tanpa menyela pembicaraannya. “Sudah mbak? Kalau sudah kembali ke tujuan awal saya menghubungi anda, hapus atau jalur hukum?” Aku ingin berputus asa dengan memutus telpon kami. Tapi rasanya aku adalah orang yang membutuhkan kepastian tindakannya dalam hal ini. Sehingga aku menunggu kesediannya menghapus postingannya tiga hari lalu. Begitu postingannya terhapus, Andris kembali mengirim file bahwa trend terhadap postingan tentangku menurun jauh. Papa dan Mama kembali ke kamar dengan membawa beberapa makanan ringan. Sesungging senyum dihadiahkan Papa padaku sebelum akhirnya Papa kembali berkutat dengan kertas yang sama. Aku menangis melihat Mama yang berdasater, dengan kacamatanya ikut menghubungi beberapa akun yang sudah bersedia kami telpon. Semua pekerjaan jadi lebih cepat dengan bantuan Papa dan Mama. Saat beberapa kertas yang sudah tercoret penuh, kami pisahkan. Tiba-tiba ponselku berdering. Aku menatap pada Mama dan Papa yang masih menunduk dengan spidol di tangan keduanya. Aku kembali menatap layar ponsel yang bertuliskan namanya. Yogi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN